Mabuk semalam di Singapura, Kirana menghabiskan malam terpanasnya dengan pria asing paling memukau yang pernah ia temui—lalu kabur subuh, meninggalkan selembar uang di nakas seolah pria itu cuma "bayaran satu malam".
Ia bersumpah takkan pernah bertemu lelaki itu lagi.
Sampai pagi harinya, pria itu berdiri di depan kelas sebagai **dosen pengganti** mata kuliah keuangannya. Prof. Arya Danuwangsa. Delapan tahun lebih tua, dingin, menyeringai seolah tahu persis apa yang mereka lakukan semalam.
*"Sepertinya malam itu kamu cukup puas, ya?"*
Astaga. Kirana baru saja tidur dengan dosennya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vyrkon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 28
Bab 38: Ketahuan Ortu
Seminggu setelah Fajar menyerah, Kirana menonton film horor di apartemen Arya dan membuktikan bahwa rumah hantu bukan satu-satunya kelemahannya.
Setiap kali musik menegang, ia menarik selimut sampai hidung. Arya duduk di sebelahnya dengan laptop, lebih banyak membaca laporan daripada menonton.
“Mas tidak takut?”
“Hantu di film tidak punya laporan keuangan.”
“Apa hubungannya?”
“Masalah nyata lebih menakutkan.”
Kirana melempar popcorn. Arya menangkap satu butir dan memakannya tanpa mengalihkan mata dari layar laptop.
Malam Sabtu itu seharusnya menjadi kencan tenang. Nilai akhir Kirana sudah dialihkan ke dosen kedua, pementasan selesai, dan untuk pertama kali mereka tidak punya jadwal pagi. Winda menginap di rumah sepupunya, sehingga lantai delapan terasa hanya milik mereka.
Sebelum film, mereka memasak bersama. Arya mengiris bawang terlalu rapi, sementara Kirana mencampur bumbu berdasarkan perasaan. Hasilnya adalah pasta pedas yang tidak punya hubungan dengan resep asli.
“Ini terlalu asin,” kata Arya setelah mencicipi.
“Mas yang menambah keju.”
“Kamu yang menuang kecap dua kali.”
“Berarti kesalahan bersama.”
Arya mengambil ponsel untuk memesan makanan, tetapi Kirana melarang. Mereka tetap menghabiskan masakan itu sambil minum terlalu banyak air. Kesederhanaan malam tersebut membuat Kirana membayangkan kehidupan yang berisi lebih banyak kegagalan kecil bersama, bukan hanya panggung, skandal, dan penyelamatan dramatis.
Saat film dimulai, Arya menyalakan lampu kecil karena tahu Kirana tidak nyaman dalam gelap. Ia juga meletakkan bantal di antara mereka sebagai batas bercanda. Batas itu bertahan tujuh menit sebelum Kirana memindahkannya dan menyandarkan kaki di paha Arya.
“Kita tidak akan selesai menonton kalau Mas bekerja,” keluhnya.
Arya menutup laporan selama satu adegan, lalu membukanya lagi ketika tokoh film mulai menjelajah rumah kosong sendirian.
“Orang ini membuat keputusan buruk,” katanya.
“Kalau semua orang pintar, filmnya selesai sepuluh menit.”
“Efisien.”
“Membosankan.”
Kirana mengambil laptop dan meletakkannya di meja. Arya membiarkan, kemudian menarik selimut menutupi kaki dinginnya.
Ketika film berakhir, Arya menutup laptop dan berdiri. “Saya mandi.”
“Aku pulang ke sebelah.”
“Takut melewati lorong sendiri?”
“Tidak.”
Petir berbunyi di luar. Kirana duduk lagi.
Arya tersenyum kecil dan masuk kamar mandi.
Kirana merapikan mangkuk popcorn, mematikan televisi, lalu memeriksa ponsel. Mama Ratih mengirim pesan menanyakan kegiatannya akhir pekan. Kirana menjawab sedang mengerjakan tugas bersama Winda. Kebohongan itu membuatnya tidak nyaman, tetapi ia belum siap menjelaskan hubungan sebelum Arya dan dirinya menyusun cara yang benar.
Pintu kamar mandi terbuka. Arya keluar dengan celana rumah dan handuk di leher. Rambutnya basah; tubuh bagian atasnya belum tertutup.
Kirana lupa pada rasa bersalah.
“Lihat apa?” tanya Arya.
“Tidak lihat.”
“Mata kamu tidak setuju.”
Kirana berdiri dan menyentuh garis otot perutnya dengan satu jari. “Aku hanya memastikan Prof Arya manusia.”
Arya menangkap tangannya. “Hasil pemeriksaan?”
“Belum cukup data.”
Dalam satu gerakan, Arya menarik Kirana dan menjatuhkannya perlahan ke sofa. Ia menopang berat tubuh dengan lengan agar tidak menekan. Tatapannya meminta jawaban sebelum bibirnya mendekat.
Kirana mengangguk.
Ciuman mereka bermula lambat, lalu berubah ketika Kirana meraih tengkuknya. Arya menahan pinggang, menyusuri sisi tubuh di atas kain, dan selalu berhenti setiap kali napas Kirana berubah.
“Mas,” bisik Kirana.
“Kita berhenti?”
“Tidak.”
Arya menatapnya lebih lama. “Yakin?”
Kirana sudah memikirkan momen ini sejak malam di lounge, bahkan sejak Singapura. Kali ini ia sadar, aman, dan tahu persis siapa yang dipilihnya.
“Aku mau, bukan karena takut Mas kecewa,” ucapnya. “Kalau aku berubah pikiran, kita berhenti.”
“Kapan pun.”
“Dan jangan menganggap siap malam ini berarti selalu siap.”
“Saya mengerti.”
Arya mencium keningnya lebih dahulu. Gerakan lembut itu membedakan malam ini dari Singapura, ketika mereka hampir tidak mengenal nama satu sama lain. Kini Kirana tahu bagaimana pria itu minum kopi, bagaimana ia diam saat cemas, dan bagaimana tangannya selalu berhenti sebelum batas.
“Aku sudah siap,” katanya.
Kendali di wajah Arya menipis. Ia mencium Kirana lagi dan mengangkatnya menuju kamar. Namun baru dua langkah, kram tajam menusuk perut bawah Kirana.
Ia menegang.
Arya langsung berhenti. “Sakit?”
“Tunggu.”
Kirana merasakan sesuatu yang familier, lalu melihat noda kecil pada celana rumahnya. Wajahnya berubah merah.
“Aku haid.”
Arya menurunkannya hati-hati. “Kamar mandi di sana. Saya ambil pakaianmu dari 803.”
“Sekalian pembalut. Di laci bawah lemari.”
“Kode tetap 1103?”
Kirana menutup wajah. “Mas jangan mengatakannya seperti kita sudah menikah.”
“Saya hanya memastikan.”
Arya memberikan handuk gelap dan menunggu Kirana masuk kamar mandi. Setelah pintu terkunci, ia mengenakan kaus, mengambil kunci cadangan, lalu menuju apartemen sebelah.
Kode 1103 membuka pintu 803. Arya menyalakan lampu, mencari laci yang dimaksud, dan menemukan berbagai jenis pembalut. Ia memotret tanpa merekam barang lain.
Yang mana?
Jawaban Kirana datang cepat.
Paket ungu. Ambil celana hitam dan pakaian dalam dari laci kedua. Jangan lihat yang lain.
Saya tidak tertarik menggeledah.
Mas tadi memotret semua pembalutku.
Untuk instruksi.
Ia memasukkan barang ke kantong kain agar tidak terlihat penghuni lain. Saat hendak keluar, ia mendengar lift berhenti. Suara sepasang orang dewasa berbicara di lorong.
“Nomornya 803, kan?” tanya suara perempuan.
“Kirana bilang tinggal di sini,” jawab laki-laki.
Arya mengenali nama itu dan berhenti.
Di luar, Papa Gunawan membawa koper kecil dan dua kantong makanan. Mama Ratih memegang ponsel dengan alamat apartemen Kirana. Mereka baru kembali dari acara keluarga di Depok dan memutuskan menginap tanpa memberi kabar, ingin mengejutkan putri mereka.
Keputusan mendadak itu berasal dari Papa Gunawan. Ia melihat video Fajar menyatakan cinta dan mendengar Kirana mengaku sudah memiliki seseorang. Putrinya tidak menjawab ketika ditanya melalui telepon, sehingga naluri ayahnya memutuskan inspeksi lebih berguna daripada pesan.
“Kita seharusnya memberi kabar,” kata Mama Ratih di lift.
“Kalau diberi kabar, dia sempat menyembunyikan sesuatu.”
“Kirana bukan tersangka.”
“Lalu kenapa jawabannya aneh sepekan ini?”
Mama Ratih membawa rendang dan kue buatan rumah. Ia berharap dugaan suaminya berlebihan. Namun saat lift membuka ke lantai delapan dan ia melihat dua pintu berhadapan dengan sandal laki-laki di satu sisi, ia mulai curiga Papa mungkin benar.
“Coba bel,” kata Mama Ratih.
Papa Gunawan baru mengangkat tangan ketika pintu 803 terbuka.
Arya melangkah keluar.
Ia mengenakan kaus rumah, rambut masih lembap, dan memegang kantong yang tidak tertutup sempurna. Paket pembalut ungu menyembul dari atas bersama pakaian Kirana.
Keempat mata bertemu.
Papa Gunawan melihat nomor apartemen, lalu barang di tangan Arya. Wajahnya berubah perlahan.
“Kamu siapa?”
Arya yang bisa menghadapi dewan direksi tanpa berkedip mendadak tidak menemukan jawaban yang aman.
“Saya Arya.”
“Kenapa keluar dari apartemen anak saya?”
“Saya mengambil sesuatu untuk Kirana.”
Tatapan Papa turun ke pembalut.
Mama Ratih lebih cepat memahami. “Kirana di mana?”
“Di apartemen sebelah. Dia baik-baik saja, hanya sedang haid.”
“Apartemen sebelah?” ulang Papa.
Pintu 805 terbuka dari dalam. Kirana muncul dengan handuk di pinggang dan kaus panjang milik Arya yang ditemukan di kamar mandi. Ia membeku saat melihat orang tuanya.
“Papa? Mama?”
Papa Gunawan menoleh dari putrinya ke Arya, lalu ke pembalut, kemudian kembali pada pakaian Kirana.
“Katanya mengerjakan tugas sama Winda.”
“Aku bisa jelaskan.”
“Jelaskan kenapa laki-laki ini tahu kode rumahmu, tahu letak pakaian dalammu, dan tinggal di apartemen sebelah.”
Tidak ada jawaban yang terdengar sederhana.
Arya berdiri lebih tegak. “Pak, Bu, silakan masuk. Saya akan menjelaskan semuanya.”
“Saya tidak mau masuk ke rumah kamu,” kata Papa Gunawan. “Kita bicara di rumah anak saya.”
“Pa, jangan teriak di lorong,” pinta Kirana.
“Papa belum teriak.”
Seorang tetangga membuka pintu sedikit. Papa Gunawan menoleh, dan pintu itu segera menutup lagi. Mama Ratih mengusap pelipis.
“Masuk dulu. Apa pun penjelasannya, tidak perlu satu lantai ikut mendengar.”
Di ruang tamu 803, Papa memeriksa dua cangkir di rak, sepasang sandal Arya yang pernah tertinggal, dan foto teater di meja. Setiap benda tampak menambah daftar dakwaan.
Arya menawarkan minum. Papa menolak. Mama Ratih menerima air dan bertanya apakah Kirana perlu obat nyeri. Arya menjawab bahwa obat tersedia di 805, lalu terdiam karena jawaban itu kembali membuktikan betapa dekat kehidupan mereka.
“Kamu tahu obat anak saya juga?” tanya Papa.
“Dia pernah sakit. Saya mengantarnya ke rumah sakit.”
Kirana menutup mata. Penjelasan malam ini akan jauh lebih panjang daripada yang ia bayangkan.
Arya menyerahkan kantong kepada Kirana tanpa menyentuhnya di depan orang tua. Mama Ratih mengamati gerakan hati-hati itu, juga cara Arya memastikan putrinya tidak kedinginan.
“Ganti pakaian dulu,” katanya kepada Kirana. “Kami tunggu.”
Kirana masuk ke 803 dengan lutut lemas. Semua rencana untuk memperkenalkan Arya secara baik-baik menghilang. Di luar kamar, Papa Gunawan berjalan mondar-mandir, sedangkan Arya menunggu berdiri tanpa mencoba pergi.
Ketika Kirana keluar, pembalut yang dibawa Arya masih terletak di meja seperti barang bukti.
Papa Gunawan menunjuk kursi. “Duduk. Sekarang jelaskan siapa dia dan sejak kapan kalian hidup seperti ini.”
Kirana duduk di samping Arya. Di bawah meja, jari pria itu menyentuh tangannya sebentar, meminta izin sebelum menggenggam.
Ia membalas genggaman tersebut.
Malam itu, rahasia mereka tidak lagi berada di balik kaca gelap. Rahasia itu duduk tepat di depan orang tua Kirana, bersama sebuah paket pembalut yang membuat semua upaya menyembunyikannya tidak mungkin lagi.