NovelToon NovelToon
Dibuang Ke Danau, Aku Bangkit Dengan Sistem Memancing

Dibuang Ke Danau, Aku Bangkit Dengan Sistem Memancing

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Sistem / Balas Dendam
Popularitas:7.6k
Nilai: 5
Nama Author: kiyoe

Amir adalah seorang pemuda yatim piatu yang selama bertahun-tahun hidup menderita sebagai menantu yang sama sekali tidak dianggap oleh keluarga istrinya, meskipun ia sudah bekerja keras banting tulang dari pagi hingga larut malam setiap harinya. Kesabarannya diuji hingga batas maksimal ketika ibu mertua dan adik iparnya dengan kejam menendangnya ke dalam danau saat ia sedang memancing, hanya demi memaksanya menceraikan istrinya yang hendak dijodohkan dengan pria kaya. Namun, di saat Amir tenggelam dan hampir kehilangan nyawanya, ia justru membangkitkan [Sistem Check-in Memancing] yang akan mengubah jalan hidupnya yang menyedihkan menjadi seorang legenda yang bergelimang harta dan kekuatan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28

Cicit cuit cicit.

Suara kicauan burung terdengar sangat merdu dari taman belakang rumah mewah Amir.

Sinar matahari pagi yang hangat menembus kaca jendela kamar utama yang berlapis gorden sutra tebal.

Amir terbangun dari tidurnya yang sangat nyenyak di atas ranjang king size yang empuk.

Tidak ada lagi rasa lelah atau pegal di tubuhnya berkat kebugaran fisik yang diberikan oleh sistem.

Tok tok tok.

"Permisi Tuan Besar Amir, saya membawakan teh pagi dan perlengkapan mandi Anda."

Suara Sebastian terdengar sangat sopan dari balik pintu kayu jati yang kokoh.

"Masuklah Sebastian."

Amir duduk bersandar di kepala ranjang sambil merenggangkan kedua lengannya.

Ceklek.

Sebastian masuk membawa nampan perak berisi secangkir teh kamomil dan sebuah handuk hangat yang bersih.

Amir meminum teh itu perlahan sambil menatap sebuah benda antik yang ia letakkan di atas meja nakas semalam.

Itu adalah patung Teratai Perunggu yang ia menangkan dari lelang dengan harga lima puluh miliar rupiah.

Benda itu kini sudah bersih dari kerak karang dan memancarkan kilau perunggu yang sangat mistis dan kuno.

"Sebastian, tolong ambilkan aku satu teko kaca berisi air mineral murni."

Amir memberikan perintah sambil meletakkan cangkir tehnya kembali ke atas nampan.

"Baik Tuan Besar, akan segera saya bawakan."

Sebastian membungkuk hormat dan keluar dari kamar tanpa banyak bertanya.

Beberapa menit kemudian, pelayan biologis itu kembali membawa teko kaca kristal berisi air putih.

Amir mengambil teko itu dan perlahan mencelupkan patung Teratai Perunggu miliknya ke dalam air.

Sring!

Seketika itu juga, air di dalam teko kristal itu memancarkan pendaran cahaya hijau keemasan yang sangat redup.

Warna airnya berubah menjadi sedikit kebiruan sebening kristal es di pegunungan salju.

"Ini benar-benar keajaiban magis dari zaman kuno yang tidak bisa dijelaskan oleh ilmu sains modern."

Amir bergumam kagum melihat proses pemurnian air penyembuh itu terjadi di depan matanya.

Ia menuangkan air dari teko itu ke dalam sebuah gelas kecil dan meminumnya sampai habis.

Glek glek glek.

Sensasi dingin yang luar biasa nyaman langsung mengalir menyusuri tenggorokannya menuju ke seluruh pembuluh darah.

Amir merasa paru-parunya menjadi jauh lebih bersih dan setiap sel di tubuhnya seolah beregenerasi menjadi lebih muda.

"Sekarang mari kita uji kemampuan penyembuhan instan dari air ini."

Amir mengambil sebuah pisau cukur tajam dari nampan yang dibawa Sebastian.

Srek.

Amir menggores telapak tangan kirinya dengan pisau cukur itu hingga darah segar menetes keluar.

Sebastian yang melihat itu hanya diam berdiri tegap karena kesetiaannya yang mutlak tidak mengizinkannya mempertanyakan tindakan tuannya.

Amir meneteskan sedikit air dari teko kristal itu tepat di atas luka sayatan yang menganga di telapak tangannya.

Cesss.

Hanya dalam hitungan tiga detik, daging yang terbelah itu menyatu kembali dan kulitnya menutup sempurna tanpa menyisakan bekas luka sedikit pun.

Mata Amir berbinar terang melihat khasiat gila dari Teratai Penyembuh Abadi tersebut.

"Luar biasa, dengan ini aku memiliki nyawa cadangan dan kekebalan mutlak dari segala jenis racun atau penyakit mematikan."

"Lima puluh miliar rupiah sangatlah murah untuk membeli keabadian fisik seperti ini."

Amir tersenyum puas dan menyimpan kembali patung perunggu itu ke dalam inventaris sistemnya agar aman.

Ia kemudian berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan bersiap untuk kegiatan hari ini.

Setelah mandi dan berpakaian rapi, Amir memanggil panel sistem di dalam pikirannya.

"Sistem, tampilkan sisa saldo poinku saat ini."

[Sisa Saldo Poin Tuan saat ini adalah 11.850 Poin]

Amir menghela nafas panjang melihat angka poinnya yang menipis drastis.

"Aku terlalu banyak menukarkan poin menjadi uang tunai miliaran kemarin untuk membeli rumah dan pamer di acara lelang."

"Uang di rekeningku memang masih sisa dua miliar, tapi poin sistem adalah mata uang yang jauh lebih berharga untuk membeli kekuatan magis."

"Aku harus memancing hari ini untuk mengisi ulang pundi-pundi poinku yang kosong."

Amir berpikir sejenak mencari lokasi memancing yang paling berbahaya dan belum pernah dijamah.

Semakin ekstrim lokasinya, hadiah poin dan barang langka dari sistem pasti akan semakin besar.

"Di ujung utara kota ini ada sebuah gunung berapi aktif bernama Gunung Merah."

"Di puncaknya terdapat sebuah danau kawah vulkanik yang airnya mendidih dan dipenuhi gas belerang beracun."

"Tidak ada manusia waras yang mau memancing di sana, itu adalah tempat yang paling sempurna untukku hari ini."

Amir memantapkan rencananya dan segera menyuruh Maria menyiapkan bekal makan siang untuknya.

Sementara Amir sedang merencanakan petualangan barunya dengan penuh semangat, pemandangan neraka sedang terjadi di sebuah gudang kumuh di pinggiran kota.

Pagi itu hujan rintik-rintik masih turun menyisakan hawa dingin yang menusuk tulang.

Bu Rina terbangun dari tidurnya di lantai semen beralaskan kardus bekas yang lembab.

Tubuhnya menggigil hebat dan kepalanya terasa sangat berat seperti ditimpa balok batu.

"Siska... Siska di mana kau nak."

Bu Rina memanggil nama anak perempuannya dengan suara yang sangat lemah dan serak.

Namun ruangan sempit dua kali dua meter itu kosong melompong.

Hanya ada Rendy yang tergolek lemah di sudut ruangan, merintih kesakitan karena luka infeksi di tangannya yang terpotong.

"Siska belum pulang dari semalam, ke mana anak bodoh itu pergi mencari makan."

Bu Rina memaksakan dirinya untuk berdiri dengan kaki yang gemetar menahan demam tinggi.

Ia berjalan terhuyung-huyung keluar dari gudang kumuh itu menuju pos ronda di mulut gang.

Beberapa warga kampung yang sedang minum kopi menatap Bu Rina dengan pandangan jijik dan kasihan.

Di pos ronda itu, sebuah televisi tabung berukuran kecil sedang menyiarkan acara berita kriminal pagi.

Suara pembawa acara berita terdengar sangat jelas di telinga Bu Rina yang sedang kebingungan.

"Berita pagi ini datang dari kasus penipuan dan penggelapan dana bank senilai puluhan miliar rupiah yang melibatkan perusahaan Adiningrat palsu."

"Pihak kepolisian tadi malam telah resmi menahan seorang tersangka wanita bernama Siska Anindya."

"Tersangka diduga kuat memalsukan dokumen jaminan atas perintah tunangannya yang saat ini masih berstatus buron."

Kamera televisi menampilkan rekaman Siska yang memakai baju tahanan berwarna oranye.

Wajah Siska terlihat sangat berantakan, pucat, dan matanya bengkak karena terus menangis saat digiring masuk ke ruang sel.

Mata Bu Rina terbelalak selebar-lebarnya melihat putri kesayangannya yang selalu ia banggakan kini menjadi tahanan polisi.

Jantung Bu Rina seolah berhenti berdetak saat itu juga.

Bruk!

Tubuh renta Bu Rina ambruk menabrak tiang kayu pos ronda dan jatuh tak sadarkan diri ke atas tanah berlumpur.

"Eh ya ampun, nenek gelandangan baru itu pingsan!"

"Biarin aja, paling juga pura-pura sakit mau minta sumbangan, jangan ada yang nolongin nanti kita yang repot!"

Warga kampung yang tidak punya empati itu membiarkan tubuh Bu Rina tergeletak di tengah rintik hujan yang dingin.

1
Wega Luna
mir jangan jauh jauh ke segitiga Bermuda,laut selatan menunggumu tuh🤭🤭
💫Penjelajah Novel💫
Thor. kolo bisa jangan 1× mancing 1× dapet langsung balik. kolo bisa banyakin mancingnya
kiyoe: terimakasih atas masukan nya kak
total 1 replies
Author Melda
Gilaak bab 1 nya langsung nyesek kak 😭 Amir yatim piatu jadi menantu gak dianggap, eh dibuang ke danau pula. Tapi pas bangkit sama sistem mancingnya itu keren banget plot twistnya! Semangat terus kak kiyoe, mancing mania mantap! 🎣
kiyoe: heheh terimakasih kak author Selpi atas dukungan nya
total 1 replies
Wega Luna
mir ,mancing ditempat ku ada danau ajaibnya,danau pasir putih yg keluar dari tanah seperti lumpur Lapindo,, dikelilingi bukit ular dan perumahan Citraland Surabaya, pemandangan keren,
kiyoe: wuih keren
total 3 replies
Wega Luna
banyakin saldo mancing nya terus ditukar dengan uang beli Bugatti ,,,direalita Buggati lebih mahal dari Lamborghini🤣🤣🤣🤣kalo perlu beli Ferrari yg konon belinya ribet banget tapi berkelas karena belum tentu setiap pengusaha bisa beli Ferrari,,,🤭🤭🤭🤭
Wega Luna
💪💪💪 semangat para mancing mania,🏃🏃🏃tau GK Thor aku baca novel mu ini sambil mancing di kolam pemancingan😄
kiyoe: nanti kalau udah Mateng kabarin othor yak kak 🤣🤣
total 4 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!