NovelToon NovelToon
Epos Tak Berujung: Pedang Sampah Terbang

Epos Tak Berujung: Pedang Sampah Terbang

Status: sedang berlangsung
Genre:Sci-Fi / Action / Fantasi
Popularitas:107
Nilai: 5
Nama Author: Liam Harrison

Kaelen—seorang pendekar dengan pedang besi berkarat yang menyimpan misteri dimensi lain—bersama Lyra, seorang alkemis cerdas berdarah dingin, nekat menerobos reruntuhan kuil kuno peninggalan Mazhab Pedang Purba.

Diintai oleh bayangan mematikan dari Faksi Tengkorak Darah dan desakan ancaman dari pengkhianat faksi lokal bernama Vance, perjalanan mereka bukan sekadar pelarian, melainkan perburuan berbahaya demi menemukan Jiwa Artefak Reruntuhan Langit. Menghadapi entitas Qi gelap, formasi penjara kuno, dan bisikan purba yang menguji jiwa, Kaelen dan Lyra harus mempertaruhkan nyawa untuk mengungkap kebenaran di balik masa lalu yang terkubur, sebelum perangkap pengkhianatan merenggut nyawa mereka di ujung lorong yang sunyi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liam Harrison, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7: Benturan Kehampaan dan Pemurnian Jiwa

Udara menjerit, tebal dengan debu reruntuhan kuno dan aroma darah yang baru tumpah. Kaelen bergerak seperti bayangan terfragmentasi di antara pilar-pilar batu yang hancur; setiap ayunan Pedang Besi Berkarat miliknya mengukir garis cahaya hampa yang membelah kegelapan. Di bawah kuku-kuku kakinya yang berbalut sepatu bot usang, kerikil-kerikil kuno berderak, seolah meratapi kehancuran yang tak terelakkan. Musuh-musuh mereka—makhluk-makhluk bayangan yang dibentuk dari kabut pekat dan energi spiritual busuk—menyerbu tanpa henti, sementara mata mereka yang menyala merah memantulkan dendam abadi. Kaelen tahu, ini bukan sekadar pertarungan, melainkan tarian hidup dan mati di ambang jurang yang tak terukur.

Di sisi lain medan laga yang carut-marut, Lyra dengan cekatan melemparkan kantung-kantung kecil berisi ramuan, menciptakan semburan uap berasap yang membakar daging-daging bayangan itu, atau melepaskan gelombang racun api yang menguapkan mereka menjadi ketiadaan. Tangannya bergerak cepat; jari-jarinya yang ramping namun kuat menari-nari di udara, seolah sedang meracik simfoni penghancuran dan perlindungan. Energi alkimia dari Jurus Tangan Pemurni Racun Api memancar darinya, membentuk perisai tak kasat mata yang sesekali membelokkan serangan cakar bayangan yang datang. Namun, di tengah semua kekacauan ini, sebuah siluet anggun berdiri di atas salah satu menara runtuh yang masih tegak, dengan tatapan dingin yang mengamati mereka seperti mangsa terperangkap. Liliyana. Aura gelapnya memancar, meresap ke dalam setiap celah reruntuhan, seolah reruntuhan itu sendiri bernapas dengan kejahatan yang sama.

"Sungguh pemandangan yang menyedihkan," suara Liliyana mengalun, dingin dan menusuk, namun entah mengapa terdengar begitu dekat di tengah hiruk-pikuk pertempuran. "Dua serangga kecil yang berusaha menantang takdir. Kau, Kaelen, dengan pedang usangmu yang tak berguna itu. Dan kau, Lyra, dengan ramuan-ramuan murahanmu." Ia melompat turun, gerakannya sehalus embusan angin malam, mendarat tanpa suara di tengah barisan makhluk bayangannya yang segera minggir, membuka jalan baginya. "Apakah kalian benar-benar berpikir bisa melarikan diri dengan Jiwa Artefak Reruntuhan Langit? Itu milikku. Selalu milikku."

Kaelen mendengus, sementara keringat dingin membasahi pelipisnya. Pedang Besi Berkarat terasa berat di tangan, namun ia menggenggamnya erat. "Jiwa Artefak bukan milik siapa-siapa, Liliyana. Ia memilih jalannya sendiri. Dan kau, kau hanya boneka dari sekte kuno yang serakah itu."

Mata Liliyana menyipit; sorotnya tajam seperti bilah pisau. "Kurang ajar! Kau berani menuduhku? Aku adalah takdir itu sendiri!"

Tiba-tiba, bayangan di sekelilingnya memanjang dan meliuk-liuk, membentuk cakar-cakar raksasa yang menerjang Kaelen dengan kecepatan kilat. Jurus Telapak Bayangan Iblis miliknya adalah tarian maut yang indah sekaligus mengerikan. Kaelen bereaksi instan, mengaktifkan Jurus Teknik Jiwa Pedang Hampa, menciptakan pusaran kehampaan di sekitar pedangnya. Setiap cakar bayangan yang menyentuh pusaran itu hancur menjadi partikel-partikel gelap, namun kekuatan serangan Liliyana begitu dahsyat, mendorong Kaelen mundur beberapa langkah hingga kakinya menggores lantai batu.

"Kaelen, hati-hati! Kekuatannya meningkat!" teriak Lyra, sembari melemparkan sebuah bola cahaya pekat yang meledak di antara Liliyana dan Kaelen, menciptakan tirai asap tebal yang membingungkan.

Lyra memanfaatkan momen itu untuk melesat maju, sebuah botol kecil berisi cairan kehijauan di tangannya. "Ini bukan ramuan biasa, Liliyana!"

Liliyana tertawa sinis, suaranya menggema di antara reruntuhan. "Ramuanmu tidak akan mempan. Aku telah berenang dalam racun selama berabad-abad!"

Ia mengayunkan tangan, dan tirai asap itu tersapu seperti kain tipis, memperlihatkan Lyra yang sudah dekat. Dengan kecepatan tak terduga, Liliyana melancarkan serangan balasan; telapak tangannya menyambar Lyra dan memancarkan energi bayangan yang menghanguskan. Lyra mengelak dengan cekatan, namun sebagian kecil dari jubahnya hangus, meninggalkan lubang berasap. Cairan di botolnya terpercik ke tanah, mendidih dan menguapkan batu di sekitar.

"Kau terlalu naif, Lyra," ejek Liliyana, senyum sinis tersungging di bibir. "Apakah ini semua yang bisa kalian berikan? Kekuatan Jiwa Artefak Reruntuhan Langit akan segera menjadi milikku. Dengan itu, aku akan mencapai keabadian, dan kalian hanyalah korban pertama yang merayakan kebangkitanku."

Ia melayang sedikit di atas tanah. Di sekelilingnya, energi bayangan berputar-putar, mulai membentuk wujud yang lebih mengerikan, seperti pusaran badai yang siap menelan segalanya. Tekanan spiritual yang dilepaskannya begitu masif, membuat Kaelen dan Lyra merasa seolah ada gunung yang menindih dada mereka.

Kaelen merasakan kekuatan Pedang Besi Berkarat berdenyut lemah di tangan, seolah merespons ancaman yang tak tertandingi ini. Ia tahu, tekniknya saat ini tidak cukup. Liliyana bukan sekadar kultivator kuat; ia adalah entitas yang telah lama menyatu dengan kegelapan dan ambisi. Mengalahkannya membutuhkan lebih dari sekadar keberanian atau keterampilan. Ia membutuhkan sesuatu yang lebih... hampa. Pada saat itulah, sebuah bisikan kuno berdesir di benaknya—sebuah getaran samar dari inti Pedang Besi Berkarat. Bukan kata-kata, melainkan sensasi: dorongan untuk melepaskan segala batasan, untuk membiarkan kehampaan di dalam pedang menyatu dengan kehampaan di dalam dirinya.

"Jangan hanya berdiri di sana, Kaelen! Dia akan menyelesaikan ritualnya!" seru Lyra, matanya memancarkan tekad membara. Ia tahu, jika Liliyana berhasil menyatukan Jiwa Artefak sepenuhnya, tidak ada harapan bagi mereka. Lyra mulai menyalurkan energi ke telapak tangan; aura hijau kebiruan dari Jurus Tangan Pemurni Racun Api berpendar terang, menyiapkan sesuatu yang belum pernah ia gunakan sebelumnya—sebuah ramuan yang hanya bisa diaktifkan dengan mengorbankan sebagian besar kekuatan spiritualnya sendiri. Risiko itu sangat besar, namun itu adalah satu-satunya pilihan.

Kaelen memejamkan mata sesaat, menarik napas dalam-dalam, dan merasakan setiap pori tubuhnya berdenyut. Ia membiarkan kekesalan, kemarahan, dan ketakutannya menguap, digantikan oleh kekosongan yang damai namun mengerikan. Pedang Besi Berkarat di tangannya tiba-tiba terasa seringan bulu, dan pada saat yang sama, seberat alam semesta. Retakan-retakan karat di bilahnya mulai bersinar redup, memancarkan cahaya kehitaman yang tipis namun pekat. Ini bukan lagi sekadar pedang usang; ini adalah manifestasi dari ketiadaan, perwujudan dari Jurus Teknik Jiwa Pedang Hampa yang sebenarnya.

"Kau benar, Lyra," ucap Kaelen. Suaranya kini terdengar tenang, namun mengandung kekuatan yang menggetarkan reruntuhan. "Ini saatnya untuk mengakhiri sandiwara ini."

Ia membuka mata. Kedua bola matanya kini memancarkan cahaya kehampaan yang sama dengan pedangnya, seolah jiwanya telah menyatu dengan kehampaan itu sendiri. Dengan satu langkah maju, ia bukan lagi Kaelen yang sama. Ia adalah badai kehampaan, siap menelan kegelapan Liliyana. Titik balik pertempuran telah tiba, bukan dengan gemuruh dahsyat, melainkan dengan keheningan yang mengancam—sebuah kehampaan yang siap melenyapkan segalanya.

Kaelen melangkah. Bukan dengan gegabah, melainkan dengan keanggunan seorang predator purba yang baru terbangun dari tidur. Setiap gerakan kakinya memancarkan riak kehampaan, seolah udara di sekelilingnya terhisap ke dalam pusaran ketiadaan. Pedang Besi Berkarat di genggamannya tidak lagi hanya memancarkan cahaya, melainkan menelan cahaya. Bilahnya yang dulu kusam kini memantulkan bayangan yang lebih gelap dari malam terpekat, mencerminkan ketiadaan di mata Kaelen. Aura yang memancar darinya bukan tekanan berat, melainkan kekosongan yang dingin, menusuk hingga ke inti jiwa, mengancam untuk menghapus eksistensi itu sendiri. Ia tidak menyerbu dengan raungan perang, melainkan dengan keheningan mematikan, menembus lingkaran energi gelap yang mengelilingi Liliyana seolah lingkaran itu hanyalah fatamorgana.

Liliyana, yang tengah menggenjot ritualnya hingga puncaknya, merasakan anomali ini. Senyum tipisnya menguap, digantikan oleh kerutan jijik. Ia telah menyaksikan banyak kultivator yang melampaui batas mereka, namun kehampaan yang dipancarkan Kaelen adalah sesuatu yang berbeda, sesuatu yang mengganggu keseimbangan primordial.

"Dasar pecundang rendahan," desisnya, suaranya mengandung nada kekejaman yang tak terhingga. "Kau pikir dengan menggali sedikit kehampaan, kau bisa menandingi kekuatan yang telah kutempa dari ribuan jiwa?"

Ia mengayunkan tangan. Lima bayangan mengerikan, terbentuk dari kabut gelap pekat, melesat ke arah Kaelen—masing-masing membawa cakar tajam yang mampu merobek dimensi. Jurus Telapak Bayangan Iblis miliknya adalah manifestasi dari kehancuran, namun di hadapan kehampaan Kaelen, mereka tampak seperti gelembung sabun yang akan pecah.

Lyra tidak membuang waktu. Dengan raungan yang hampir tak terdengar di tengah gelombang energi, ia melontarkan botol kristal kecil yang berisikan cairan hijau kebiruan pekat. Cairan itu bukan melesat, melainkan melayang perlahan, memancarkan pendaran mistis yang kontras dengan kegelapan di sekelilingnya.

"Terimalah pemurnianku, iblis!" teriak Lyra. Bibirnya bergetar, energinya terkuras cepat. Ramuan itu—hasil penyulingan dari esensi tanaman suci dan racun spiritual paling mematikan—dirancang bukan untuk membunuh fisik, melainkan untuk mengurai dan membersihkan energi spiritual yang tercemar, membakar kegelapan dari dalam. Ini adalah Jurus Tangan Pemurni Racun Api dalam wujudnya yang paling ekstrem, sebuah pengorbanan yang bisa merenggut jiwanya sendiri jika gagal.

Bayangan-bayangan iblis yang dikirim Liliyana, yang seharusnya merobek dan melahap, tiba-tiba limbung saat mendekati aura kehampaan Kaelen. Mereka tidak hancur; mereka lenyap, seolah energi pembentuk mereka ditarik ke dalam jurang ketiadaan tanpa bekas. Kaelen tidak mengayunkan pedangnya secara frontal. Ia hanya mengangkat Pedang Besi Berkarat, dan dari bilahnya memancar gelombang kejut kehampaan yang tak terlihat namun terasa, menghantam langsung ke lingkaran energi gelap Liliyana. Gelombang itu tidak meledak, melainkan menyerap. Lubang hitam kecil mulai terbentuk di beberapa titik lingkaran, menggerogoti energi hitam dengan kelaparan tak terpuaskan. Pada saat yang sama, ramuan Lyra mencapai targetnya—bukan langsung pada Liliyana, melainkan pada jantung ritual: pusaran energi di sekitar Jiwa Artefak.

Saat ramuan itu menyentuh pusaran, ia meledak, bukan dengan api fisik, melainkan dengan kobaran api spiritual berwarna hijau kebiruan yang langsung melahap energi gelap di sekitarnya. Jeritan nyaring dan tidak manusiawi menyayat udara. Jeritan itu bukan berasal dari Liliyana, melainkan dari Jiwa Artefak Reruntuhan Langit itu sendiri, yang kini terpapar dan menderita di bawah sentuhan pemurni. Kaelen merasakan gema dari Pedang Besi Berkarat, seolah pedang itu bersorak gembira, atau mungkin merasakan koneksi dengan sesuatu yang baru saja terbebaskan. Kekuatan Liliyana goyah; ritualnya terganggu parah. Cahaya kehampaan di mata Kaelen semakin terang, memantulkan keterkejutan dan kemarahan yang kini terpancar jelas dari mata Liliyana.

"Tidak mungkin! Ramuan busuk itu..." Liliyana menderu, giginya bergemeletuk.

Wajah cantiknya kini berkerut horor, menyaksikan api pemurnian Lyra membakar bagian vital ritualnya. Energi hitam yang mengelilingi Jiwa Artefak mulai memudar, mengungkapkan kilauan keemasan samar dari inti artefak yang seharusnya sepenuhnya ia serap. Ia melirik Lyra, matanya memancarkan niat membunuh yang pekat. "Kau akan mati dengan cara yang paling menyakitkan, kultivator rendahan!"

Namun, sebelum ia bisa berbalik sepenuhnya, Kaelen sudah berada di depannya dengan pedang kehampaan yang teracung.

Kaelen tidak berbicara. Di alam kesadarannya yang telah menyatu dengan kehampaan, setiap gerakan dan setiap niat terasa seperti keabadian yang mengalir. Ia melihat celah dalam pertahanan Liliyana—sebuah kerentanan yang tercipta dari kepanikan sesaat. Pedang Besi Berkarat bukan lagi sekadar senjata, melainkan perpanjangan dari ketiadaan itu sendiri. Ia mengayunkan pedangnya. Ayunan itu tidak memiliki bobot, tidak ada resistensi udara. Itu adalah ayunan yang melewati ruang dan waktu—sebuah tebasan yang tidak bertujuan untuk memotong daging atau tulang, melainkan untuk melenyapkan apa pun yang dilewatinya. Jurus Teknik Jiwa Pedang Hampa: Puncak tebasan tanpa bentuk, yang menargetkan bukan tubuh, melainkan esensi.

Liliyana, dengan naluri bertahan hidup yang kejam, merasakan bahaya yang jauh melampaui ancaman fisik. Ini adalah ancaman terhadap keberadaannya. Dengan geraman, ia mengumpulkan sisa-sisa energi spiritualnya yang belum terkuras oleh ritual yang terganggu, memanifestasikan perisai bayangan paling tebal yang pernah ia ciptakan. Perisai itu berkedip dengan simbol-simbol kuno yang berdenyut, seolah mencoba menahan kehampaan yang mendekat. Namun, tebasan Kaelen bukan untuk ditahan. Ketika Pedang Besi Berkarat menyentuh perisai itu, tidak ada suara denting logam, tidak ada percikan energi. Yang ada hanyalah keheningan yang mengancam, dan perisai bayangan Liliyana mulai memudar—bukan pecah, melainkan terserap dan terhapus seolah tidak pernah ada.

Wajah Liliyana memucat drastis. Ia merasakan sebagian dari dirinya, sebagian dari energi spiritualnya, terkoyak dan lenyap, diseret ke dalam jurang ketiadaan oleh Pedang Besi Berkarat. Sebuah luka tak terlihat, namun terasa sangat nyata, menganga di inti kultivasinya. Ia terhuyung mundur dengan napas tersengal. Ini adalah pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama ia merasakan ketakutan yang sesungguhnya.

Kaelen tidak berhenti. Dengan mata kehampaan yang terus menatapnya, ia mengangkat pedangnya lagi, siap untuk tebasan berikutnya—tebasan yang mungkin akan menjadi akhir bagi Liliyana. Lyra, terengah-engah dan hampir pingsan di belakang, melihat momen itu. Pengorbanannya dan rasa sakitnya terbayar lunas. Titik balik itu bukan hanya tentang bertahan, melainkan tentang menyerang balik, mengukir takdir baru dari kehampaan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!