NovelToon NovelToon
TAKDIR DI BALIK SORBAN

TAKDIR DI BALIK SORBAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak
Popularitas:739
Nilai: 5
Nama Author: Secret A

Aurel Nathania tidak pernah percaya bahwa hidup harus berjalan sesuai aturan orang lain. Di usia dua puluh satu tahun, ia menikmati kebebasan, sahabat, perjalanan spontan, dan kehidupan yang jauh dari lingkungan pesantren. Sampai ayahnya tiba-tiba menjodohkannya dengan Rasyid, ustadz muda sekaligus putra seorang kiai. Bagi Aurel, Rasyid adalah simbol segala sesuatu yang ingin ia hindari: aturan, nasihat, dan kehidupan yang terkekang. Namun Rasyid tidak pernah berniat mengubah istrinya dengan paksaan. Ia hanya berusaha menjadi teladan sambil memberinya ruang untuk memilih. Pernikahan yang dimulai dengan penolakan perlahan mempertemukan dua manusia berbeda yang sama-sama menyimpan luka, rahasia, dan ketakutan tentang arti sebuah keluarga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Secret A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4 — “SATU BULAN SEBELUM PERNIKAHAN”

Tiga minggu menuju hari pernikahan berlalu seperti angin ribut yang merobohkan seluruh tatanan hidup Aurel. Rumah megah milik Hamdan yang biasanya hening seperti kuburan mendadak berubah sibuk. Perancang busana, panitia penyelenggara acara, hingga tumpukan katering bergantian memenuhi ruang tamu.

Bagi Hamdan, pernikahan ini adalah pertaruhan reputasi. Bagi Aurel, ini adalah mimpi buruk dalam balutan kain sutra dan janji manis pameran keluarga.

"Mbak Aurel, tolong dicoba dulu kebaya untuk resepsi keduanya ya. Bagian pinggangnya perlu dikecilkan setengah senti lagi," pinta wanita perancang busana dengan meteran melingkar di lehernya.

Aurel berdiri di atas podium bulat kayu di tengah ruang keluarga, membiarkan jemari asisten desainer menyematkan jarum pentul di pinggang kebayanya. Ia menatap pantulan dirinya di cermin berbingkai emas. Kebaya brokat warna krem bermotif payet halus itu memang tampak anggun melekat di tubuhnya, tapi bagi Aurel, gaun itu terasa tak ubahnya baju besi yang menghimpit pernapasannya.

"Cukup, Mba. Aku mau lepas," kata Aurel singkat dengan nada datar.

"Tapi Mbak, bagian bawahnya belum—"

"Aku bilang cukup!" suara Aurel meninggi, membuat suasana ruang tamu mendadak hening seketika.

Asisten desainer itu menyurutkan tangannya, bertukar pandang cemas dengan atasannya. Tanpa memedulikan tatapan heran orang-orang di ruangan itu, Aurel melepas pin dengan kasar, melepas kebaya itu setengah memaksa, lalu menyambar jaket kulit hitam dan kunci mobilnya dari atas meja kaca.

Ia butuh keluar dari rumah ini. Sekarang juga. Sebelum kepalanya benar-benar meledak.

Pukul sembilan malam.

Suara dentum bass musik elektro berpadu riuh rendah gelak tawa mengisi sudut lounge terbuka di kawasan Arunika Heights. Tempat nongkrong bergaya modern dengan pemandangan kelap-kelip lampu kota dari ketinggian itu adalah tempat pelarian favorit Aurel.

Di atas sofa lingkaran bahan beludru ungu, Aurel duduk berdampingan dengan Maya dan Dito. Di meja kaca di depan mereka, cangkir-cangkir kopi dingin dan piring makanan ringan berserakan.

"Santai, Rel... minum dulu es tehnya," bujuk Dito seraya menggeser gelas ke arah Aurel. Dito Pratama, kawan seangkatan Aurel yang selalu santai dengan kaus oblong dan rambut acak-acakannya, menatap Aurel dengan prihatin. "Muka kamu makin hari makin mirip orang kurang tidur lima tahun."

"Gimana nggak stres, Dit?!" sahut Maya berapi-api dari samping Aurel. Tangannya sibuk mengaduk minuman dinginnya. "Satu bulan ini urusan nikahan doang yang dibahas! Aurel sampai dipaksa bikin daftar undangan sendiri padahal temennya yang diundang cuma kita-kita doang!"

Aurel tidak menyahut. Ia menyandarkan kepalanya ke sandaran sofa, menatap langit malam Kota Arunika yang pekat tanpa bintang.

"Aku cuma berasa... kehilang kontrol atas hidupku sendiri," bisik Aurel pelan. Suaranya hampir tenggelam di antara dentum musik. "Ayah ngatur semuanya. Pihak katering, konsep acara, sampai siapa aja yang boleh duduk di barisan depan. Aku cuma kayak patung yang tinggal dipajang."

Dito menepuk bahu Aurel pelan, memberi dorongan semangat ala sahabat. "Kalau kamu beneran nggak sanggup, kita kabur aja malam ini ke Malang. Naik mobilku. Gimana?"

Aurel terkekeh tipis. Sebuah senyum getir terukir di bibirnya. "Nggak bisa, Dit. Kalau aku kabur, Ayah bakal makin ngamuk dan Rasyid... Rasyid yang bakal kena getahnya."

Maya mengerutkan dahi. "Tunggu, kamu peduli sama si ustadz itu?"

"Bukan peduli," potong Aurel cepat, berusaha menepis kesan lemah. "Aku cuma nggak mau punya utang rasa kasihan sama orang. Dia udah pasang badan pas makan malam kemarin. Kalau aku kabur sekarang, aku yang jahat."

"Baguslah kalau kamu sadar," goda Dito, memunculkan cengiran khasnya. "Biar bagaimanapun, ustadz ganteng itu calon suamimu, Mbak."

"Dito, shut up!" ancam Aurel seraya mengarahkan kentang goreng ke arah wajah Dito.

Di tengah gelak tawa kecil ketiga sahabat itu, Aurel merasakan tenggorokannya haus dan kering. "Aku mau ambil minum lagi ke konter bar ya. Kalian mau nitip apa?"

"Kopi dingin satu lagi, Rel!" seru Maya.

Aurel berdiri dari sofa, mengibas-ibaskan bagian belakang celana jinsnya, lalu melangkah menyusuri lorong temaram menuju area konter pemesanan yang berada di lantai dasar.

Lantai dasar lounge tersebut menyatu dengan area kafe terbuka dan taman kecil yang dipenuhi lampu-lampu gantung temaram. Tempat itu lebih tenang dibandingkan area lounge atas.

Saat menunggu pesanannya disiapkan di konter, pandangan mata Aurel tak sengaja tertambat pada sebuah sudut tenang dekat air mancur taman.

Di atas kursi kayu bawah naungan pohon kamboja, duduk seorang pria muda.

Pria itu mengenakan kemeja katun bergaris biru muda yang lengannya tergulung rapi sampai siku. Tidak ada peci hitam atau sorban malam ini. Pria itu sedang duduk memangku sebuah tablet digital, jemarinya mengetik sesuatu dengan tekun, sementara di depannya duduk seorang pria paruh baya yang tampak sedang berkonsultasi seraya membawa beberapa lembar berkas.

Rasyid.

Aurel terpaku di tempatnya berdiri.

Ia seperti melihat dua realitas yang bertabrakan. Apa yang dilakukan seorang calon kiai muda, pengajar pesantren, di tempat kumpul anak muda yang riuh dan modern seperti ini pada pukul sembilan malam?

Selesai menerima cup minumannya dari barista, Aurel bukannya kembali ke lantai atas, melainkan melangkah perlahan mendekati sudut taman tersebut.

Pria paruh baya yang diajak bicara Rasyid baru saja berdiri, bersalaman dengan Rasyid dengan gesture penuh rasa hormat, lalu melangkah pergi. Rasyid mengeser tabletnya ke tepi meja, lalu mendesah pelan seraya memijat pangkal hidungnya yang mancung. Ada raut lelah yang amat samar terpatri di wajah tegasnya.

Aurel sengaja menghentakkan kakinya keras-keras di atas ubin kayu taman. "Sejak kapan ustadz nongkrong di tempat kayak gini?"

Rasyid tersentak pelan. Pria itu mendongak.

Saat matanya menangkap sosok Aurel yang berdiri anggun dengan jaket kulit hitam dan dua cup kopi di tangan, rasa terkejut melintas sekejap di netra cokelat gelap milik Rasyid. Namun, seperti biasa, ketenangannya kembali terinstal dengan sangat cepat.

"Assalamu'alaikum, Mbak Aurel," Rasyid berdiri dari kursinya, menyapa dengan nada halus seperti biasa.

"Wa'alaikumsalam," jawab Aurel pendek. Ia melipat tangan di dada, memandangi meja Rasyid yang hanya berisi segelas air mineral dan tablet digital. "Kamu ngapain di sini? Lagi cari hiburan? Atau mau razia tempat maksiat?"

Rasyid tersenyum tipis—kurva halus yang membuat matanya sedikit menyipit. "Saya baru selesai menemui salah satu wali murid pesantren yang kebetulan menginap di hotel sebelah. Beliau minta bertemu di sini karena lokasinya di tengah kota."

"Oh... kirain," Aurel memutar bola matanya, namun rasa ingin tahunya terpuaskan. Ia melirik kursi kosong di seberang Rasyid. "Boleh duduk?"

"Silakan."

Aurel menarik kursi kayu itu dan duduk. Ia meletakkan dua cup kopi di meja, lalu bersandar pada sandaran kursi. Rasyid ikut duduk kembali, merapikan tablet digitalnya ke dalam tas laptop kulit cokelat yang tergeletak di kursi sebelah.

"Kamu kelihatan capek," celetuk Aurel tanpa tenda teduh-teduh.

Rasyid menatap Aurel sejenak, lalu terkekeh pelan. "Persiapan pernikahan memang menguras energi, Mbak Aurel. Tapi saya kira, Mbak yang jauh lebih lelah."

Aurel menaikkan sebelah alisnya. "Tahu dari mana?"

"Mata Mbak kelihatan sangat lelah. Dan... Mbak ada di sini jam sembilan malam bersama dua cup kopi. Saya berasumsi Mbak sedang melarikan diri dari rumah."

Aurel tertahan. Ia mendengus kasar, lalu membuang muka ke arah air mancur. "Ya. Aku emang lagi kabur. Rumahku berasa kayak pasar. Semua orang sibuk ngatur hidupku dan aku berasa kayak pajangan gratisan."

"Kenapa tidak bilang pada Pak Hamdan kalau Mbak butuh istirahat?"

"Bercanda kamu?" Aurel menoleh cepat, menatap Rasyid dengan tatapan tajam. "Ayah mana pernah mau dengerin! Buat Ayah, semua harus sempurna. Semua harus sesuai jadwal. Perasaan aku tuh nomor belakangan, Rasyid!"

Amarah yang terpendam seharian itu mendadak meletup kembali. Aurel mencengkeram erat cup kopinya hingga plastiknya sedikit berderit.

Rasyid tidak memotong. Pria itu hanya mendengarkan dengan tatapan teduh, membiarkan Aurel meluapkan kekesalannya sampai tuntas. Tidak ada kalimat penghakiman, tidak ada nasihat agama berbelit-belit yang keluar dari bibirnya.

"Kenapa sih kamu nggak pernah marah?" sergah Aurel tiba-tiba. Suaranya penuh nada frustrasi.

Rasyid mengerutkan dahi pelan. "Marah untuk apa?"

"Untuk semuanya!" Aurel memajukan tubuhnya ke depan meja. "Untuk aku yang pulang malam! Untuk aku yang datang dengan baju kayak gini! Untuk aku yang selalu ngomong ketus sama kamu! Kenapa kamu selalu tenang banget?! Apa kamu nggak punya emosi, Rasyid?!"

Pertanyaan itu melayang kencang di udara malam, menantang ketenangan yang selama ini menjadi perisai Rasyid.

Rasyid menatap Aurel dalam-dalam. Keheningan merayap di antara mereka selama beberapa detik yang terasa panjang. Suara gemericik air mancur menjadi satu-satunya latar belakang.

Rasyid menarik napas dalam, lalu mengembuskannya perlahan.

"Karena marah tidak selalu membuat seseorang mengerti, Mbak Aurel," jawab Rasyid dengan nada yang sangat rendah, namun sarat akan kedalaman makna.

Aurel tertegun.

"Jika saya marah pada Mbak saat Mbak sedang terluka dan tertekan," lanjut Rasyid pelan, "saya hanya akan menjadi beban tambahan dalam hidup Mbak. Saya tidak ingin menjadi orang yang Mbak benci hanya karena saya menuruti emosi saya sendiri."

Jantung Aurel seperti melewatkan satu detakan.

Pria di depannya ini... bagaimana bisa ia berpikir seperti itu? Di saat seluruh orang di dunia Aurel—terutama ayahnya—menggunakan amarah dan otoritas untuk membentuk dirinya, Rasyid justru memilih untuk menurunkan egonya secara total hanya agar tidak menambah beban pikiran Aurel.

Aurel kehilangan kata-kata. Ketajaman yang biasanya menjadi senjata utamanya mendadak tumpul tak berbekas.

"Lagipula," tambah Rasyid seraya menyandarkan punggungnya ke kursi, "Mbak Aurel tidak melakukan kesalahan apa pun malam ini. Mbak hanya sedang lelah dan butuh ruang. Itu hal yang manusiawi."

Aurel menggigit bibir bawahnya, menundukkan kepala menatap cangkir kopinya yang mulai berembun. Ada rasa hangat yang aneh namun menjalar cepat di dadanya. Sebuah bentuk pengakuan yang belum pernah ia dapatkan dari siapa pun.

"Aku... aku tadi cuma kesel aja sama tukang jahit kebayanya," gumam Aurel pelan, suaranya berubah drastis menjadi sangat halus, hampir tidak terdengar.

"Saya tahu," balas Rasyid lembut. "Pernikahan ini berat buat Mbak. Tapi tolong ingat... Mbak tidak menghadapinya sendirian. Jika ada hal yang terlalu memberatkan dalam persiapan ini, katakan pada saya. Biar saya yang bicarakan pada Pak Hamdan."

Aurel mendongak, menatap mata cokelat gelap Rasyid.

Di bawah pendar lampu taman yang temaram, ia melihat ketulusan yang polos. Tidak ada rahasia, tidak ada niat terselubung. Hanya seorang pria yang berusaha sebisa mungkin untuk menjadi pelindung yang aman, meski mereka berdiri di atas tanah pernikahan yang berawal dari keterpaksaan.

Aurel mengusap leher belakangnya yang terasa agak kaku, lalu mengalihkan pandangan seraya berdehem pelan.

"Ya udah... makasih," bisik Aurel kaku.

Rasyid tersenyum tipis. Pria itu melihat jam tangan kulit di pergelangan tangan kirinya. "Sudah hampir pukul setengah sepuluh. Teman-teman Mbak pasti sudah menunggu di atas."

Aurel berdiri dari kursinya, menyambar dua cup kopi yang mulai mendingin. Ia menatap Rasyid sejenak, merasa ada sesuatu dalam dirinya yang bergeser malam ini—sebuah dinding pertahanan yang retak sangat halus.

"Kamu... mau langsung pulang?" tanya Aurel.

"Iya. Saya harus kembali ke pesantren sebelum jam sepuluh," Rasyid ikut berdiri, merapikan letak kemejanya. "Hati-hati saat pulang nanti, Mbak Aurel. Jangan menyetir terlalu kencang."

Aurel mengangguk pelan. "Kamu juga. Hati-hati di jalan, Ustadz."

Aurel berbalik dan melangkah meninggalkan area taman menuju tangga lantai atas. Namun sepanjang langkahnya, kalimat Rasyid terus bergema di kepalanya seperti ritme lagu yang tak bisa dilupakan:

Karena marah tidak selalu membuat seseorang mengerti.

Dan untuk pertama kalinya sejak garis perjodohan ini ditarik dalam hidupnya, Aurel mendapati dirinya tidak lagi merasa terancam oleh kehadiran pria bernama Muhammad Rasyid Al-Faruqi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!