NovelToon NovelToon
LINGKARAN TAKDIR YANG KEMBALI

LINGKARAN TAKDIR YANG KEMBALI

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Reinkarnasi / Mengubah Takdir
Popularitas:405
Nilai: 5
Nama Author: Anggi Septianti

Kisah ini mengikuti perjalanan jiwa seorang wanita yang terjebak dalam siklus reinkarnasi lintas zaman demi mengejar satu cinta sejati yang selalu berujung tragis.
Pada kehidupan pertama (Era Romawi), ia adalah wanita dari kasta rendah yang mencintai seorang putra mahkota. Cinta mereka terhalang status sosial dan berakhir tragis dengan kematian.
Terlahir kembali di era kolonial (kehidupan kedua) sebagai putri gangster kaya raya, ia membawa ingatan masa lalunya dan berhasil menemukan kembali cinta pertamanya. Namun, takdir kembali merenggut kebahagiaan mereka akibat permusuhan darah antar keluarga besar.
Merasa lelah dengan takdir yang selalu menyakitkan, pada kehidupan ketiga (Era Modern) ia terlahir di keluarga biasa yang harmonis dan bertekad untuk menyerah serta menghindari cinta masa lalunya. Sialnya, semesta mempertemukannya kembali dengan pria tersebut yang kini menjadi CEO dingin di perusahaannya. Terikat kontrak kerja tiga tahun dengan penalti besar, ia mati-matian menghindar. Namun, tingkah lucunya justru meluluhkan hati sang CEO. Seiring berjalannya waktu, sang pria juga mulai mengingat kembali memori masa lalu mereka. Dan badai tidak di restu itu kembali menghatam cinta mereka, akan mereka kembali berpisah ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anggi Septianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 26 : Ancaman Senjata Api

Suara deru mesin truk militer kolonial yang memecah malam di kawasan Pelabuhan Sunda Kelapa mendadak mengubah dinamika ketegangan di atas dermaga kayu tua itu dalam sekejap. Lampu sorot sorotan besar berwarna putih terang benderang menyembur dari arah gerbang masuk, menyorot tajam langsung ke arah kumpulan orang yang berdiri di ujung dermaga. Cahaya menyilaukan itu membuat siapa pun harus menyipitkan mata, sementara suara sepatu bot lars panjang yang menghentak tanah secara serempak terdengar mendekat dengan cepat.

"Tutup semua akses keluar! Jangan biarkan satu pun dari mereka lolos!" teriak sebuah suara komando berbahasa Belanda dengan intonasi tegas dan arogan dari balik barisan cahaya lampu truk.

Seketika itu juga, selusin serdadu kolonial berseragam lengkap dengan senapan laras panjang teracung siap tembak, berlari menyebar dan mengepung area dermaga timur. Kehadiran aparat militer bentukan pemerintah Hindia Belanda ini jelas di luar dugaan siapa pun—baik bagi anak buah sindikat keluarga Liem di bawah pimpinan Tuan Besar Ho, maupun bagi kubu Julian van Houten.

Tuan Besar Ho menggeram rendah di dalam tenggorokannya. Pria paruh baya itu dengan refleks gesit mengalihkan pandangannya dari Julian dan Clara, lalu mengarahkan revolver peraknya ke arah barisan serdadu kolonial yang baru datang. Di dunia bawah tanah Batavia, pihak militer kompeni adalah musuh terselubung yang selalu mencari celah untuk menghancurkan otonomi sindikat lokal. Kehadiran mereka malam ini di pelabuhan rahasia berarti hanya ada satu hal: jebakan.

"Sial..." desis Tuan Besar Ho penuh amarah, sementara Bang Jafar langsung melompat mundur untuk mengambil posisi berlindung di balik tumpukan peti kemas, mengarahkan senjatanya ke arah pasukan serdadu. "Rencana ini sudah bocor. Seseorang di antara lingkaran kita telah menjual informasi ini kepada kompeni!"

Di sisi lain, Julian van Houten merasakan otot-otot di seluruh tubuhnya menegang hebat. Manik mata hazelnya menatap tajam ke arah perwira tinggi militer Belanda yang berjalan paling depan—seorang kapten kolonial berwajah dingin dengan bekas luka di pipi kiri, mengenakan topi kemiliteran yang dimiringkan arogan. Pria itu adalah Kapten Von Klaus, kepala divisi intelijen militer kolonial yang selama ini dikenal paling ambisius menghancurkan pengaruh keluarga Van Houten dan sindikat Liem sekaligus agar pemerintah kolonial bisa memonopoli penuh seluruh jalur perdagangan pelabuhan di Batavia.

Kapten Von Klaus berhenti beberapa meter dari tempat Julian dan Clara berdiri. Ia tersenyum miring, memperlihatkan deretan gigi putih di balik kumis tipisnya yang dicukur rapi. Tangannya dengan santai memegang gagang pedang kehormatan di pinggangnya, sementara matanya menatap mengejek ke arah Tuan Besar Ho dan Julian.

"Wah, wah, wah... tontonan yang sangat luar biasa malam ini," ucap Kapten Von Klaus dengan logat bahasa Melayu yang bercampur aksen Belanda kental dan terdengar sangat meremehkan. Ia melirik sekilas ke arah Clara yang berdiri di samping Julian. "Pewaris sah keluarga Van Houten berdampingan mesra dengan putri kesayangan penguasa sindikat keluarga Liem. Sungguh sebuah kisah roman tragis yang pantas ditulis di koran pagi Java-bode besok."

Julian melangkah setengah badan ke depan, menempatkan dirinya sebagai perisai pelindung bagi Clara. Wajahnya mengeras dingin, menatap tajam perwira kolonial tersebut dengan sorot mata membunuh.

"Apa urusanmu datang menginjakkan kaki di dermaga teritorial swasta ini, Von Klaus?" suara Julian terdengar rendah, berat, dan penuh wibawa, memancarkan aura seorang bangsawan muda yang tidak gentar menghadapi ancaman militer. "Wilayah ini berada di bawah yurisdiksi konsesi dagang keluarga kami dan mitra kami. Pasukanmu tidak punya hak untuk melakukan penyergapan tanpa surat perintah resmi dari gubernur jenderal."

Kapten Von Klaus tertawa kecil, suara tawa yang terdengar sangat menyebalkan dan penuh kepalsuan. Ia melambaikan tangan kanannya pelan ke udara.

"Surat perintah? Oh, Tuan Muda Julian yang terhormat, di malam jahanam seperti ini, hukum formal tidak lagi berlaku di pelabuhan kumuh ini," jawab Von Klaus dengan senyuman sinis. Matanya kini beralih menatap tajam ke arah gulungan dokumen arsip yang masih digenggam erat di tangan Clara. "Yang kami butuhkan hanyalah dokumen kecil berharga yang ada di tangan nona muda itu—bukti arsip perjanjian damai masa lalu yang selama ini kalian cari-cari untuk menyatukan kembali kekuatan pribumi dan sindikat melawan pemerintahan kami."

Mendengar ucapan tersebut, Clara dan Julian tersentak kaget. Jadi, selama ini pergerakan mereka tidak pernah luput dari pengawasan intelijen militer kolonial. Kompeni sengaja membiarkan mereka mencari arsip tersebut agar dokumen rahasia itu bisa direbut sekaligus menghabisi dua keluarga paling berpengaruh di Batavia dalam satu malam malam berdarah.

"Jadi... kalianlah dalang di balik adu domba keluarga kami selama puluhan tahun?!" teriak Tuan Besar Ho dengan suara menggelegar penuh kemurkaan yang luar biasa. Urat-urat di leher pria paruh baya itu menonjol keluar, menahan amarah yang sudah mencapai puncaknya. "Kalian membunuh leluhur kami, memfitnah keluarga kami, dan menjadikan tanah ini sebagai ladang perbudakan kalian!"

Kapten Von Klaus berhenti tersenyum. Wajahnya berubah dingin dan kejam. Ia mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi ke udara, lalu memberi aba-aba tegas kepada seluruh pasukan serdadu kolonial di sekeliling dermaga.

"Terserah apa anggapan kalian, Tuan-tuan yang malang," ucap Von Klaus dengan suara dingin tanpa ampun. "Mulai malam ini, riwayat keluarga Liem dan keluarga Van Houten akan resmi dihapus dari sejarah Batavia. Habisi mereka semua! Amankan dokumen arsip itu!"

DOR! DOR! DOR!

Suara letusan senjata api beruntun menggelegar membelah keheningan malam Pelabuhan Sunda Kelapa. Peluru-peluru berhamburan menembus udara, menghantam peti kemas dan kayu dermaga dengan suara berdentum keras. Suasana berubah menjadi medan perang sungguhan dalam hitungan detik. Anak buah Tuan Besar Ho langsung membalas tembakan dengan membabi buta, menciptakan kekacauan dan kepulan asap mesiu yang tebal di seluruh penjuru dermaga.

Di tengah hujan peluru dan kekacauan maut tersebut, Julian langsung menarik tubuh Clara erat-erat ke dalam dekapannya, membanting tubuh mereka berdua jatuh berlindung di balik tumpukan karung-karung goni besar yang ada di tepi dermaga.

"Clara! Tetap dekat denganku! Jangan lepaskan peganganmu!" seru Julian di tengah bisingnya suara tembakan dan teriakan kesakitan dari para serdadu yang tumbang.

Clara memejamkan matanya rapat-rapat, debaran jantungnya bergemuruh hebat di dalam dada. Di balik kepulan asap mesiu dan kilatan cahaya senjata api yang menyambar-nyambar, bayangan masa lalu di Roma mendadak berkelebat cepat di kepala Clara—momen ketika ia dan pangeran Marcus dikepung oleh pasukan Senat di ruang bawah tanah istana. Sejarah seolah terulang dengan akurasi yang menakutkan, memaksa mereka berjuang sekali lagi melewati malam jahanam yang dipenuhi darah dan peluru demi mempertahankan cinta abadi yang telah melintasi dimensi waktu.

*•*

*•*

*•*

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!