[ Fantasi Barat+ Misteri+ Sistem+ Ksatria+ Penyihir+ Abad Pertengahan ]
Agus yang terlibat pinjol akhirnya mati karena kecelakaan, jiwanya terseret ke dalam dunia lain dan menjadi Simon Blake di dunia pedang dan sihir, Simon bangkit dari budak bandit hingga menjadi penyihir terkuat, dengan sistem kemahirannya ia akan mencapai puncak!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arya Walker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Adegan 18++++
"Aku lupa menguncinya?" gumam Simon dalam hati saat mendapati Lana di depan pintu kayunya.
Melihat tubuhnya yang masih bertelanjang dada sehabis latihan berat, Simon buru-buru memutar badan bersiap menyambar bajunya di atas meja.
"Tunggu, aku pakai baju dulu. Kamu di luar sebentar," kata Simon.
Namun, Lana tidak mendengarkan instruksi tersebut.
Sebelum Simon sempat menyentuh pakaiannya, gadis berambut pirang itu justru melangkah maju dan langsung memeluk punggung Simon dari belakang dengan erat.
Srat!
Simon mematung seketika.
Di punggungnya yang hangat dan berotot, ia bisa merasakan kelembutan dari buah terlarang Lana menekan pas di kulitnya.
Sentuhan mendadak itu mengejutkan indranya dan memicu reaksi biologis alami dari tubuh remajanya.
'bro, bertahanlah!' bisik Simon penuh perjuangan dalam hatinya, berusaha keras menenangkan "teman kecilnya" di bawah selangkangan agar tetap terkendali.
Dari balik punggungnya, Lana menyandarkan pipinya yang hangat pada belikat Simon.
Suaranya terdengar bergetar penuh emosi di tengah keheningan kamar.
"Maafkan aku, Simon... Aku hanya... aku benar-benar ingin mengucapkan terima kasih," bisik Lana pelan, deru napasnya terasa hangat di kulit punggung Simon.
"Saat di bukit salju itu, ketika kamu datang memakai topeng dan jubah hitam lalu membebaskan kami semua... kamu terlihat sangat keren dan luar biasa.
Kalau tidak ada kamu, aku tidak tahu nasib buruk apa yang akan menimpaku di tangan sekte sesat itu."
Simon menarik napas dalam-dalam, menggunakan ketahanan mentalnya untuk menguasai dirinya kembali.
Ia memegang pelan jemari Lana di perutnya, lalu perlahan memutar tubuhnya.
Memperlihatkan otot dada Simon yang atletik dan indah! Membuat pipi lana memerah.
"Duduklah dulu di kasur," ucap Simon sambil membawa Lana duduk bersama di kasur.
Wajah Lana kini merona merah padam karena baru menyadari keberanian impulsifnya, menunduk malu lalu berjalan pelan untuk duduk di tepi kasur kayu milik Simon.
Simon menyusul dan duduk di sisi lain kasur, memberikan jarak yang sopan agar suasana kembali tenang.
"Lana, soal kejadian di altar itu... kamu tidak perlu merasa berutang nyawa padaku," kata Simon dengan suara yang tenang.
"Aku hanya melakukan apa yang perlu dilakukan. Lagi pula, jika rekan-rekanku seperti Gogo dan Kapten Jon tidak datang menerobos tepat waktu, aku sendiri juga berada dalam posisi berbahaya."
Lana mendongak, matanya yang bening menatap sepasang mata merah milik Simon.
"Mungkin bagimu itu hal biasa, Simon. Tapi bagiku dan gadis-gadis desa lainnya, kamu adalah sosok pahlawan yang menyelamatkan kami," seru Lana dengan nada tulus.
"Melihatmu bertarung demi kami di tengah api pengorbanan itu... aku tidak akan pernah melupakannya." Kata Lana sambil memikirkan pemandangan Simon bertarung.
Simon menatap Lana sejenak, lalu merogoh sakunya dan memperlihatkan sapu tangan yang di berikan oleh Lana.
"Aku senang kamu menyimpannya, Simon." Kata Lana sambil mengambil sapu tangan itu untuk membilas air matanya.
"Kamu tau, ini adalah sapu tangan yang aku buat sendiri, dan sapu tangan ini sebenarnya akan di berikan kepada calon suamiku." Kata Lana sambil tersenyum menatap Simon.
"Jadii..." Simon sedikit binggung.
"Aku mencintaimu Simon, aku menyukaimu pada pandangan pertama." Kata Lana sambil memberanikan diri.
"Haaa? Menyukaiku? Apa hebatnya diriku untuk di sukai kamu?" Sambil menunjuk dirinya sendiri.
"Kamu tidak mengerti seberharga apa dirimu" kata Lana.
"Aku yakin dengan wajahmu yang tampan, cepat atau lambat banyak gadis lain yang mendekatimu."
"Aku sungguh tidak mau, aku mau ingin menjadi yang pertama, Simon" tatap Lana dengan mata yang terlihat lembab.
"Akuu...." Ucap Simon sambil melihat balik mata Lana yang berwarna biru muda yang indah seperti laut.
Tunggu mengapa wajahmu mendekat? Pikir Simon.
Lana mendekati wajah Simon yang membuat nafas masing-masing terlihat oleh mereka berdua, adegan ini terlihat aneh.
Lana langsung mencium bibir Simon yang membuat Simon terkejut dan menegang seketika.
Lana mencoba menggapai ke dalam bibir Simon mengunakan lidah merahnya yang lembut, membuat Simon merasakan hal aneh.
Ini ciuman pertamaku! Apakah akhirnya hari ini datang juga? Status perjaka ku selamat tinggal!.
Simon mulai mengikuti ritme Lana dia menjelahi kedalaman mulut Lana dengan lidahnya yang membuat lidah mereka terjalin.
Meraka berciuman di tengah cahaya lembut lampu minyak di kamar Simon.
Sambil ciuman, Lana melepaskan pakaian logarnya, memperlihatkan lekuakan tubuh yang montok dan ukuran dada yang besar.
Melihat hal ini Simon menyentuh dada itu dengan tangannya sambil mencium leher Lana dengan lembut.
Ahh~!" Desah Lana.
Simon menyelimuti leher Lana dengan ciumannya sampai ciumannya turun ke bagian dada lana, dia membuat jejak merah di bagian buah Lana.
Lana mengikat leher Simon dengan tangannya dengan kuat sambil mendesah.
Setelah itu Simon dengan pelan menurunkan lama ke kasur.
Simon..." Kata Lana.
Simon menerjang bagian selangkangan Lana dan mulai menjilat lubang itu yang kini diselimuti rumput² kecil.
"Jangan di bagian situ Simon...itu kotor...ahh~" Lana mencoba mendorong kepala Simon dari bagian sana, namun ia tidak kuat karena merasa tersengat listrik.
Simon tidak menghentikan jilatannya dia melanjutkannnya dengan cepat yang membuat lana menjadi gila di kasur membuatnya menjambak kain kasur.
Ahh~ Simon hentikan kumohon!"
Ituu....keluar! Kyaa~ yamete~
Simon mengabaikannya dan melanjutkannnya hingga air mancur keluar dari lubang berlumut itu.
Ah~ banyak sekali yang keluar tidakk!~
Tubuh Lana di kasur bergetar-getar tak terkendali ketika air mancur itu keluar.
Simon menatapnya sambil membuka bagian celana panjangnya, memperlihatkan sebuah belalai yang besar dan berotot di hadapan lana.
Lana menatapnya dengan kaget, dia tidak menyangka bahwa milik Simon akan sebesar ini.
Sangat besar dan kuat~ ucap Lana dengan mata yang menyipit.
Simon segera menindih Lana dan menatapnya wajahnya.
Kyaa~
"Lana, kamu masih ingin lanjut? Jika tidak mau, aku bisa menghentikan ini sekarang." Ucap Simon kepada Lana.
"Lanjutkan Simon, jika itu kamu aku akan merasa senang!" Balas Lana dengan senyuman.
Imutnya~ pikir Simon.
"Baiklah tidak ada kata mundur lagi lana, aku akan membuatmu merasa di surga!" Tegas Simon.
Simon segera memasangkan belalai ke dalam gua berlumut dengan pelan.
Uhh sulit juga ya?
Ahhh~ desah Lana merasakan benda asing yang masuk.
Simon mencoba menancapkan hal itu dengan presisi namun agak licin, untungnya dengam persepsi dari teknik pernafasan laba-laba dia tidak membutuhkan waktu lama.
Akhirnya masuk! Tinggal di dorong aja.
Simon mulai mendorong secara perlahan-lahan.
"Ahh, sakit!" Kata Lana sambil memeluk Simon.
Simon mengabaikannya dan mulai mendorongnya maju secara brutal yang membuat Lana tersentak!
"Hiks ~ sakit Simon tapi aku senang akhirnya aku bisa menyatu dengan Simon.~" ucap Lana sambil menyentuh wajah dada Simon.
Astaga aku gak kuat lagi!
"Lana!!" Teriak Simon sambil mendorong pinggulnya.
Ahhh~ Ahhh~
Ahhh~ Ahhh~
Ahhh~ Ahhh~
Mereka menikmati malam yang indah seperti angsa dan ular yang saling mengikat, di temani suara kasur yang berdenyit Simon dan Lana bertarung habis-habisan.
Zen yang sedang makan di kandangnya menjadi terkejut, kupingnya bergetar. Suara lana yang mendesah masuk ke telinga Zen.
Tuan, pelan-pelan lah, suara anda mencapai sini loh, aku penasaran seberapa brutal adegan di dalam sana ya?
Zen melanjutkan makannya sambil mendengar desahan Lana.
Aku harap tuan akan mencarikan aku kuda betina yang baik! Bersenang-senang lah tuan aku pastikan tidak ada yang mengangumu!
Suara rengekan Zen menakuti kuda lainnya.