NovelToon NovelToon
Syarat Dan Ketentuan Berlaku

Syarat Dan Ketentuan Berlaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / CEO
Popularitas:465
Nilai: 5
Nama Author: Lady Airen

Gwen Aditya cuma butuh kerja keras dan logika buat sukses. Urusan siapa yang naksir? Itu di luar spreadsheet-nya.

Sialnya, atasannya sendiri gak masuk kalkulasi.

Madoc Rhydian Kane—CEO Kane Group yang bikin ruang rapat sunyi—gak pernah nyangka bisa jatuh gara-gara satu manajer operasional yang rapi, blak-blakan, dan sama sekali gak keder dihadapannya.

Madoc jatuh duluan. Jatuh lebih dalam. Sementara Gwen bahkan gak sadar sedang diperhatikan, sampai seluruh kantor tahu lebih dulu.

Di antara laporan kuartalan, kopi yang selalu "kebetulan" ada di meja, dan satu papan catur, mereka belajar bahwa dua orang paling kompeten pun bisa gagap soal cinta.

Bukan sekadar "aku terima kamu", tapi tentang terus memilih satu sama lain—bahkan setelah semua syarat dan ketentuan terpenuhi.

📌 Workplace romance | Slow burn | Oblivious female lead | CEO x Manager

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lady Airen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Presentasi ke Board

Dashboard itu selesai dua hari sebelum deadline, dan Gwen tidak sempat merayakannya karena langsung tenggelam dalam persiapan presentasi ke board yang akan menentukan apakah tiga bulan kerja keras timnya berbuah hasil atau tidak.

"Ini udah final?" tanya Reza, memeriksa slide terakhir yang ditampilkan di layar laptop Gwen, Selasa sore, sehari sebelum presentasi resmi ke seluruh jajaran direksi Kane Group.

"Final," kata Gwen, matanya sudah agak sembab karena kurang tidur tiga hari terakhir. "Dashboard-nya udah bisa narik data real-time dari tiga divisi sekaligus. Finance, operasional, marketing, semua kesambung."

"Ini bakal jadi standar baru buat semua divisi kalau board setuju."

"Semoga," kata Gwen, menutup laptopnya, menyandarkan punggung ke kursi dengan lelah yang jujur. "Tiga bulan ini berat banget, tapi worth it kalau hasilnya beneran dipake."

---

Ruang rapat board Kane Group jauh lebih formal dari ruang kaca lantai lima belas yang biasa dipakai untuk rapat internal—meja kayu solid berbentuk oval, kursi kulit yang lebih mewah, delapan anggota direksi duduk mengelilingi meja dengan ekspresi yang sulit ditebak.

Gwen berdiri di depan, laptop tersambung ke layar besar, tangannya sedikit gemetar meski dia sudah berlatih presentasi ini berkali-kali sejak semalam.

"Selamat pagi," katanya, membuka presentasi. "Saya akan menyampaikan hasil Proyek Sintesis, inisiatif integrasi data lintas divisi yang berjalan selama tiga bulan terakhir."

Dia melanjutkan, menjelaskan struktur dashboard yang sudah dia bangun bersama timnya, menunjukkan demo langsung bagaimana data dari finance, operasional, dan marketing bisa ditarik dalam satu layar, memberikan gambaran menyeluruh yang sebelumnya butuh berjam-jam kompilasi manual dari berbagai divisi terpisah.

"Dengan sistem ini," katanya, menunjuk grafik yang menampilkan perbandingan waktu, "proses analisis lintas divisi yang biasanya butuh tiga sampai lima hari kerja, sekarang bisa selesai dalam hitungan jam."

Salah satu anggota board, seorang pria berusia enam puluhan bernama Pak Wibowo, mengangkat tangan. "Bisa kasih contoh konkret penggunaannya?"

"Bisa, Pak." Gwen mengganti slide, menunjukkan data kasus Aditama yang sudah mereka hadapi beberapa bulan lalu. "Waktu kompetitor mulai ekspansi agresif kemarin, kita bisa langsung tarik data burn rate mereka, bandingin sama proyeksi finansial kita, dan susun strategi bertahan dalam waktu kurang dari sehari. Kalau pake sistem lama, prosesnya bisa makan waktu seminggu lebih."

Pak Wibowo mengangguk, terlihat cukup terkesan.

---

Madoc duduk di ujung meja, tempat biasa CEO memimpin rapat board, tapi kali ini dia sengaja tidak mengambil alih presentasi—membiarkan Gwen sepenuhnya memimpin diskusi, cuma sesekali menambahkan konteks kalau diperlukan.

Dia memperhatikan setiap detik presentasi itu dengan perhatian yang jauh melampaui sekadar mendengarkan laporan kerja biasa—cara Gwen menjawab setiap pertanyaan dengan tenang, cara dia tidak gentar sedikit pun menghadapi delapan pasang mata yang menilai setiap kata yang keluar dari mulutnya, cara dia mempertahankan analisisnya dengan data konkret setiap kali ada yang meragukan.

Ada kebanggaan yang tumbuh di dadanya, semakin besar setiap menit presentasi itu berlangsung—bukan cuma bangga karena proyek yang dia setujui berjalan sukses, tapi bangga secara personal terhadap orang yang berdiri di depan sana, membuktikan lagi dan lagi betapa dia sebenarnya jauh lebih kompeten dari apa pun yang bisa dijelaskan lewat angka-angka di laporan kerja.

"Pertanyaan terakhir," kata salah satu anggota board lain, seorang wanita bernama Ibu Ratna yang dikenal cukup kritis dalam setiap rapat, "berapa lama sistem ini bisa dipertahankan tanpa maintenance besar?"

"Sistemnya dirancang buat self-updating," jawab Gwen, "tapi tetap butuh review kuartalan buat mastiin akurasi datanya. Saya udah susun protokol maintenance-nya, ada di lampiran dokumen yang saya kirim tadi pagi."

Ibu Ratna membolak-balik dokumen di depannya, menemukan bagian yang dimaksud, dan mengangguk puas. "Detail banget. Bagus."

---

Presentasi berakhir dengan persetujuan bulat dari seluruh anggota board—Proyek Sintesis resmi jadi standar baru yang akan diterapkan di seluruh divisi Kane Group, dengan tim Gwen ditunjuk untuk memimpin implementasi lebih lanjut ke divisi-divisi lain.

"Kerja bagus," kata Madoc, akhirnya angkat bicara setelah keputusan resmi diambil, matanya tertuju ke arah Gwen yang masih berdiri di depan, terlihat lega meski jelas kelelahan. "Ini bakal jadi salah satu inisiatif paling berdampak tahun ini buat efisiensi operasional perusahaan."

Dia berhenti sebentar, mempertimbangkan kata-kata berikutnya dengan hati-hati—ingin menyampaikan lebih dari sekadar pujian formal, tapi tetap sadar dia sedang berdiri di depan seluruh jajaran direksi, bukan di ruangan pribadi tempat dia biasa lebih terbuka.

"Tim yang dipimpin Gwen udah nunjukin standar kerja yang luar biasa," lanjutnya, "dan saya harap ini jadi contoh buat proyek-proyek besar lain ke depannya."

Kalimat itu terdengar sepenuhnya formal, sepenuhnya profesional—pujian yang wajar diberikan CEO untuk proyek besar yang berhasil. Tapi bagi siapa pun yang cukup memperhatikan, ada sesuatu di nada suaranya, di cara matanya tidak sepenuhnya bisa lepas dari sosok Gwen selama dia bicara, yang terasa sedikit berbeda dari cara dia biasa memuji pencapaian tim lain.

---

Ibu Ratna, yang duduk di sisi kanan meja, memperhatikan itu dengan seksama, lalu melirik ke arah Pak Wibowo di sebelahnya.

"Kamu notice gak," bisiknya, cukup pelan supaya tidak terdengar oleh yang lain, "cara Pak Kane muji manajer operasional ini beda?"

"Beda gimana?" bisik Pak Wibowo balik.

"Biasanya kalau dia puji tim, dia sebut nama proyeknya, atau tim secara keseluruhan. Ini dia sebut nama orangnya langsung, dua kali, sambil natap dia terus dari tadi."

Pak Wibowo mengamati lebih seksama, mencoba mengonfirmasi observasi itu, dan memang menemukan sesuatu yang menarik—cara Madoc, yang biasanya cukup datar dan formal dalam menyampaikan evaluasi kinerja, kali ini terlihat lebih antusias dari biasanya, matanya terus kembali ke arah Gwen bahkan ketika sedang bicara ke seluruh ruangan.

"Menarik," gumam Pak Wibowo, tersenyum tipis, memilih untuk tidak berkomentar lebih jauh di forum resmi ini, tapi menyimpan observasi itu untuk dirinya sendiri.

---

Gwen sendiri, begitu presentasi selesai dan dia bisa duduk kembali, hanya merasakan kelegaan yang murni—kerja kerasnya diakui, proyek yang dia pimpin resmi disetujui, dan tanggung jawab besar untuk implementasi lebih lanjut sudah menunggu di depan.

Dia mendengar pujian Madoc tadi dengan rasa terima kasih yang tulus, tapi menganggapnya sebagai apresiasi standar yang wajar diterima siapa pun yang berhasil menyelesaikan proyek besar dengan baik—tidak menangkap nuansa berbeda dalam nada suaranya, tidak menyadari betapa berbedanya cara dia disebutkan dibanding cara Madoc biasa memuji pencapaian tim lain di forum yang sama.

"Makasih, Pak," katanya, sederhana, setelah rapat resmi ditutup. "Tim saya kerja keras banget buat ini."

"Kamu yang paling kerja keras," kata Madoc, mendekat setelah sebagian besar anggota board sudah keluar ruangan. "Saya liat sendiri betapa banyak malam yang kamu habisin buat nyelesein ini."

"Ya kan tanggung jawab saya, Pak."

"Tetep aja," katanya, tersenyum, "hasil kayak gini gak muncul cuma dari tanggung jawab doang. Butuh dedikasi yang jauh lebih dari itu."

Gwen tersenyum, menerima kalimat itu sebagai bagian dari evaluasi kinerja yang wajar, sepenuhnya tidak menangkap betapa jujurnya kalimat itu diucapkan, betapa dalamnya kekaguman yang tersembunyi di balik kata-kata sederhana tentang dedikasi dan kerja keras.

Dia berjalan keluar ruangan bersama Reza, membicarakan langkah selanjutnya untuk implementasi ke divisi lain, sepenuhnya tidak menyadari bahwa di belakangnya, dua anggota board sudah mulai bertukar tatapan penuh arti, dan CEO perusahaan itu sendiri masih berdiri diam di tempatnya, menatap kepergiannya dengan ekspresi yang, kalau saja dia sadar, jauh lebih transparan dari yang seharusnya dia perlihatkan di depan orang-orang paling berpengaruh di perusahaannya sendiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!