NovelToon NovelToon
AKU MILIKMU

AKU MILIKMU

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Bad Boy
Popularitas:422
Nilai: 5
Nama Author: MR1991

Di masa perkuliahan, di sela petualangan dan kebersamaan, benih cinta tumbuh tulus di antara Doni dan Kristin. Hati mereka saling tertaut, menyusun janji dan harapan akan masa depan. Namun setelah lulus, takdir masing-masing membawa mereka berdua ke jalan yang berbeda. Cinta yang sempat bersemi indah pun terpaksa terhenti, dan mereka berpisah — membiarkan waktu dan jarak memisahkan raga, meski perasaan itu tak sepenuhnya hilang. Beberapa tahun kemudian, takdir kembali menyatukan mereka. Saat mata mereka saling bertemu, kenangan lama bangkit seketika. Perasaan yang sempat terpendam seakan kembali menyapa, utuh seperti sedia kala. Namun kini keduanya bukan lagi anak muda yang dulu tanpa beban. Banyak hal telah berubah, banyak hal telah mengisi hidup mereka masing-masing. Di hadapan perasaan yang kembali menyapa, satu pertanyaan menggantung di udara: apakah kali ini mereka akan bersatu, atau justru kembali melanjutkan jalan masing-masing dengan kenangan yang tersimpan rapi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MR1991, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

NYATA ATAU TIDAK

Melihat luapan air yang semakin meninggi dan tak kunjung surut, Billy segera berbalik menatap Rangga dengan wajah yang tampak tegang namun tetap berusaha tenang. Dengan suara yang tegas namun terdengar berat dibalik deru hujan, Billy pun menyampaikan perintahnya.

"Rangga, segera bawa keempat peserta baru kembali ke lokasi tenda kita. Setelah itu, kau dan Kevin segera kembali ke sini membawa senter dan perlengkapan darurat. Aku tetap berada di sini untuk terus memantau keadaan. Sampai saat ini, belum terlihat sedikit pun sosok Ari maupun Kristin di dasar jurang yang kini sepenuhnya tertutup air bah itu. Aku tidak akan pergi dari tempat ini. Aku berencana melakukan pencarian dan tetap berjaga hingga malam tiba, siapa pun yang ditemukan terlebih dahulu."

Rangga mengangguk mantap, meski hatinya terasa berat meninggalkan tempat itu. "Siap, Kak Billy. Aku akan segera kembali secepat mungkin."

Rangga pun segera berbalik menghadap keempat peserta baru yang masih berdiri terpaku dengan wajah pucat dan penuh ketakutan. Dengan suara yang lantang agar terdengar di tengah suara hujan dan gemuruh air, Rangga berseru.

"Semuanya, ikuti aku! Kita segera kembali ke tempat tenda! Jangan tertinggal satu pun, dan tetap berjalan berdekatan agar tidak tersesat!"

Mereka pun segera berjalan beriringan mengikuti jejak Rangga, melawan rintik hujan yang semakin deras membasahi tubuh. Langkah mereka terasa berat dan tergesa-gesa, namun tak satu pun dari mereka mengeluh. Hati mereka dipenuhi kekhawatiran yang mendalam akan keselamatan Ari dan Kristin yang tertinggal di bawah sana. Setelah berjalan cukup lama dengan napas yang tersengal-sengal, akhirnya mereka tiba kembali di kawasan tempat tenda mereka didirikan. Tanpa menunggu lagi, Rangga segera bergegas masuk ke dalam salah satu tenda untuk mengambil senter dan perlengkapan yang dibutuhkan. Sambil meraba-raba di dalam kegelapan tenda yang remang itu, Rangga pun menceritakan dengan suara tercekat kepada Kevin yang sedang menunggu di dalam, mengenai hal buruk yang baru saja menimpa Ari dan Kristin saat mereka melakukan kegiatan di tepi jurang.

Kevin yang mendengar penjelasan itu seketika berdiri dengan wajah yang berubah pucat. Tanpa banyak bicara, ia pun segera bersiap dan melengkapi dirinya untuk ikut berangkat bersama Rangga menyusul Billy. Sebelum beranjak, Kevin melangkah menghampiri Nisa yang tampak cemas menunggu di luar tenda, lalu memohon kepadanya dengan nada penuh permohonan.

"Kak Nisa, tolong bantu aku. Sementara aku dan Rangga berangkat menyusul Kak Billy, aku mohon agar Kak Nisa yang mengarahkan dan memantau keempat peserta lainnya di sini. Jauhkan mereka dari bahaya dan pastikan semuanya tetap dalam keadaan aman."

Rangga ikut menambahkan dengan nada penuh hormat, "Kak Nisa, kami titipkan semuanya kepada Kakak. Mohon tetap pantau keadaan di sini sampai kami kembali."

Nisa tersenyum tipis berusaha menenangkan mereka, lalu berkata kepada Rangga, "Pergilah segera. Aku akan menjaga mereka di sini. Hati-hatilah kalian."

Tiba-tiba, Joel, Bobi, dan Jeki melangkah maju menghadang langkah mereka. Wajah ketiga pemuda itu tampak teguh dan penuh tekad.

"Kak Kevin, Kak Rangga," ucap Joel mewakili mereka berdua, "Izinkan kami ikut bersama Kakak. Kami juga ingin ikut mencari Ari dan Kristin. Kami tidak ingin hanya berdiri diam menunggu di sini sementara teman kami berada dalam bahaya."

Mendengar permintaan itu, seketika hati Kevin dan Rangga terasa terharu. Mereka merasa bangga melihat kekompakan dan kebersamaan yang begitu tulus terpancar dari wajah ketiga pemuda itu. Namun Kevin segera menegaskan sikapnya dengan tegas namun tetap lembut.

"Kami sangat bangga memiliki kalian yang begitu peduli pada teman. Namun untuk saat ini, kalian tidak boleh ikut serta. Keadaan di sana sangat berbahaya dan belum tentu aman. Kalian tetaplah berada di sini bersama Kak Nisa dan Cintya. Kalian bertugas menjaga mereka berdua yang perempuan, pastikan mereka tetap aman dan tidak kekurangan apa pun. Dan yang paling penting, teruslah berdoa. Mohon kepada Tuhan agar tidak terjadi hal buruk apa pun kepada Ari dan Kristin, dan semoga mereka berdua selamat ditemukan."

Rangga pun ikut menambahkan dengan nada tegas namun penuh kehangatan, "Dengarkan kata Kak Kevin. Jangan membuat Kak Nisa khawatir karena tingkah laku kalian. Tetaplah berada di sini dan patuhi segala arahan dari Kak Nisa. Kami berjanji akan membawa mereka berdua kembali dengan selamat."

Ketiga pemuda itu pun terdiam menunduk, namun akhirnya mereka mengangguk patuh. "Baik, Kak. Hati-hatilah Kakak berdua."

Kevin dan Rangga pun segera berlari menyusuri hutan yang kini tampak gelap dan licin, menembus derasnya hujan yang seakan tak berhenti turun. Napas mereka tersengal-sengal, namun langkah kaki mereka tak pernah melambat demi keselamatan kedua teman mereka. Setelah berjuang melawan jarak dan cuaca yang buruk, akhirnya mereka tiba kembali di tepi jurang tempat kejadian itu berlangsung. Billy masih berdiri di tempat yang sama, memandang ke bawah dengan pandangan yang tak lepas sedetik pun.

Melihat kedatangan mereka berdua, Billy pun segera membuka suaranya dengan nada yang penuh pertimbangan. "Kevin, Rangga, berdasarkan logika dan perhitungan aliran air, jika Ari dan Kristin memang hanyut terbawa arus banjir tadi, maka kita harus segera menyusuri aliran sungai yang mengalir di dasar jurang ini. Itulah satu-satunya arah yang harus kita tuju."

Namun sebelum beranjak, Billy kembali menengadahkan kepalanya dan berteriak sekuat tenaga memanggil nama mereka berdua, berharap ada jawaban yang terdengar dari bawah. "Ari! Kristin! Apakah kalian ada di bawah sana? Jawablah!"

Namun tak ada jawaban yang terdengar. Hanya suara gemuruh air dan deru hujan yang menyahut. Dengan hati yang semakin cemas namun tetap teguh, ketiga pemuda itu pun segera melanjutkan perjalanan pencarian mereka menelusuri aliran sungai yang mengalir di bawah jurang yang dalam itu.

Padahal, tanpa mereka ketahui, Ari dan Kristin ternyata masih berada di dasar jurang itu. Mereka berdua berdiri merapat sekuat tenaga pada dinding tebing yang menjorok ke dalam, tempat yang sama sekali tidak terlihat oleh siapa pun yang berdiri di tepi atas. Sejak tadi, keduanya tak henti-hentinya berteriak meminta tolong. Namun suara teriakan mereka seketika hilang tertelan derasnya hujan dan gemuruh air bah yang mengamuk di sekeliling mereka. Tak satu pun suara mereka mampu menembus ke atas hingga terdengar oleh siapa pun.

Ari berdiri tak jauh dari Kristin, menatap gadis itu yang terus merapatkan seluruh tubuhnya pada dinding tebing yang dingin dan basah, berusaha agar tidak tergelincir jatuh ke dalam air yang terus meninggi. Melihat keadaan Kristin yang tampak gemetar hebat dan ketakutan luar biasa, Ari pun berusaha menenangkannya dengan suara yang berusaha terdengar tegas dan tenang.

"Kristin, bertahanlah sebentar lagi. Jangan lepaskan peganganmu. Aku akan bergerak mendekat ke tempatmu. Tetaplah di sana dan jangan beranjak. Setelah aku sampai di sisimu, kita akan bersama-sama memanjat tebing ini dan naik ke atas. Percayalah padaku."

Kristin yang mendengar itu hanya sanggup menatap Ari dengan mata yang memerah dan penuh air mata. Ia tak menyangka sama sekali bahwa kegiatan perkemahan yang ia ikuti dengan penuh semangat itu nyaris merenggut nyawanya. Air mata bercampur dengan air hujan membasahi wajahnya, membuatnya semakin sulit untuk melihat ke depan. Dengan suara yang terisak, Kristin pun berusaha membalas. "Aku takut, Ari... Aku sungguh takut..."

Ari pun mulai bergerak perlahan. Ia merapatkan tubuhnya pada dinding tebing yang curam, tangannya memegang erat batu-batu yang menonjol di dinding tebing itu sebagai pegangan. Setiap langkah yang diambil terasa sangat berisiko dan berbahaya. Satu langkah yang salah saja dapat membuatnya tergelincir jatuh ke dalam arus air yang menderu deras di bawahnya. Namun demi keselamatan Kristin, Ari tak menyerah. Ia terus berusaha sekuat tenaga melawan rasa takut dan bahaya yang mengancam di setiap langkahnya. Hingga akhirnya, setelah berjuang dengan sangat keras dan penuh kewaspadaan, Ari berhasil melangkah berdiri tepat di samping Kristin.

Ari segera menatap wajah Kristin yang tampak begitu ketakutan dan lelah. Dengan lembut namun tegas, Ari pun berkata kembali. "Kristin, dengarkan aku. Sekarang kita akan bersama-sama memanjat tebing ini dan naik ke atas. Ikuti setiap gerakanku, dan jangan pernah melepaskan peganganmu."

Kristin menggeleng lemah sambil menatap dinding tebing yang tinggi dan licin itu. "Aku tidak sanggup, Ari... Aku takut sekali..."

Ari menatapnya lekat-lekat, lalu berkata dengan suara yang begitu tulus dan menguatkan hati gadis itu. "Kristin, bukankah kau masih memiliki seseorang yang sangat ingin kau temui lagi di atas sana? Bukankah kau masih harus bertemu dengan Kak Doni? Jangan menyerah sekarang. Tetaplah kuat dan peganglah batu-batu itu dengan sekuat tenaga. Demi orang yang kau sayangi, jangan menyerah."

Mendengar nama itu disebut, seketika hati Kristin terasa bergetar. Bayangan sosok yang selalu ia panggil Kak Doni melintas seketika di benaknya. Kata-kata itu seakan menjadi kekuatan baru yang mengalir masuk ke dalam dirinya. Perlahan Kristin mengangguk pelan, lalu menarik napas panjang berusaha mengumpulkan sisa-sisa keberanian yang ada.

Kristin pun mulai memanjat dinding tebing itu perlahan-lahan, jari-jemarinya mencengkeram erat batu-batu yang menonjol. Tak lama kemudian, matanya menangkap sesuatu yang terpasang di dinding tebing itu. Sesuatu yang dipasang sebagai bantuan bagi mereka yang hendak memanjat. Dengan suara yang sedikit bergetar namun penuh harapan, Kristin pun berseru pelan. "Ari... Aku menemukannya. Ini adalah peralatan dan pegangan yang dipasang Kak Rangga tadi untuk memudahkan kita memanjat tebing ini."

Kristin pun berusaha dengan hati-hati meraih tali pengaman dan pegangan yang telah dipasang Rangga itu. Dengan perlahan dan penuh kehati-hatian, ia mulai memanjat naik menuju tepi atas jurang, sementara Ari berada tepat di belakangnya, menjaga dan memastikan setiap langkah Kristin tetap aman dan tak tergelincir. Hujan masih turun deras membasahi tubuh mereka, angin bertiup kencang menerpa wajah mereka, namun tak satu pun dari mereka berhenti melangkah. Satu per satu pegangan diraih, selangkah demi selangkah kaki berpijak, hingga akhirnya, setelah perjuangan yang begitu panjang dan melelahkan, mereka berdua berhasil melangkahkan kaki kembali ke tepi atas jurang yang aman.

Sesampainya di atas, keduanya pun terjatuh berlutut sambil menahan napas yang terasa tersengal hebat. Ari segera berbalik menatap Kristin dengan wajah penuh kekhawatiran dan kelegaan yang tak terlukiskan. "Kristin... Apakah kau tidak apa-apa? Apakah ada bagian tubuhmu yang terluka?"

Mendengar pertanyaan itu, Kristin tak lagi sanggup menahan tangisnya. Ia langsung memeluk erat tubuh Ari sambil menangis sejadi-jadinya, seakan melepaskan seluruh rasa takut dan cemas yang sedari tadi menyesakkan dadanya. Tubuhnya masih gemetar hebat, dan pelukan itu seakan menjadi satu-satunya tempat perlindungan yang tersisa baginya saat itu.

"Ari... Aku takut sekali... Aku sungguh takut... Aku tak sanggup membayangkan jika tadi aku hanyut terbawa oleh air bah itu..."

Tiba-tiba, di tengah derasnya hujan yang turun, terdengar suara seseorang yang memecah tangisan dan kelegaan mereka berdua. Suara itu terdengar berat namun penuh perasaan, yang sama sekali tak pernah mereka duga akan muncul di tempat itu pada saat seperti itu.

"Lepaskan pelukan kalian."

Suara itu begitu jelas terdengar di telinga mereka, membuat Ari dan Kristin seketika membeku di tempat. Perlahan namun penuh ketakutan, keduanya melepaskan pelukan mereka dan menoleh serentak ke arah sumber suara itu. Di tengah rintik hujan yang menyamarkan pandangan, berdiri sesosok pemuda yang menatap mereka dengan tatapan yang sulit diartikan. Ia mengenakan jaket parasut yang menutupi seluruh tubuhnya. Di kepalanya terpasang sebuah topi yang ditarik cukup rendah hingga menutupi sebagian dahi, menyembunyikan perban yang melilit kepalanya akibat luka yang ia derita. Wajahnya sebagian tertutup bayangan, namun sepasang matanya yang tajam tetap menatap lekat ke arah mereka berdua.

Betapa terkejutnya hati mereka berdua saat menyadari siapa sosok itu. Wajah itu, tatapan itu, dan sosok itu — adalah Doni.

Kristin terbelalak tak percaya. Matanya membelalak lebar, napasnya seakan berhenti seketika. Ia mengucek matanya pelan, berusaha meyakinkan dirinya bahwa apa yang dilihatnya bukanlah bayangan semata. Namun sosok itu tetap berdiri tegak di sana, tak beranjak sedikit pun. Jaket parasut yang dikenakan menempel pada tubuhnya karena basah, topi di kepalanya tetap menutupi perban yang melilit kepalanya, seakan tak ingin memperlihatkan luka di kepalanya itu.

Ari pun tak kalah terkejutnya. Ia menatap lekat-lekat sosok itu, lalu mengerjap berkali-kali seakan tak percaya dengan apa yang dilihat matanya sendiri. Ia menatap ke kiri dan ke kanan, berharap ada orang lain yang berdiri di dekatnya, namun tak ada siapa pun selain mereka berdua dan sosok itu.

Kristin bergumam pelan dengan suara yang masih bergetar, matanya tak lepas dari sosok Doni yang berdiri di sana. "Kak Doni...? Tidak mungkin... Mustahil... Bagaimana mungkin Kak Doni bisa ada di sini... Bukankah seharusnya Kak Doni sedang beristirahat karena terluka di kepala...?"

Ari pun ikut bersuara dengan nada penuh keraguan, matanya masih menatap tak berpaling. "Benarkah itu... Kak Doni?"

Kristin masih menatap tak percaya, bibirnya bergetar pelan. "Ini pasti halusinasi... Aku pasti masih belum sadar... Tidak mungkin... Tidak mungkin Kak Doni bisa ada di sini dalam keadaan terluka seperti itu..."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!