NovelToon NovelToon
Mantan Oh Mantan

Mantan Oh Mantan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Penyelamat / Dunia Masa Depan
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Eureka Irene

Valerie menyukai kakak sahabatnya Tiara sejak awal semester 1 semasa kuliah. membutuhkan 1 tahun usaha akhirnya meluluhkan hati Dean yang selalu bersikap kaku dan dingin. Akhirnya setahun sudah mereka berpacaran namun tidak ada dari sikap Dean yang berubah tetap dingin, kaku, tidak romantis, tidak inisiatif namun tidak pernah menolak perlakuan dan permintaan Valerie. masalah mulai muncul setelah setahun hubungan mereka. Dania adik sahabat Dean timoty hadir di tengah hubungan mereka. Bagaimana akhir kisah mereka? Apakah badai sanggup meruntuhkannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eureka Irene, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rencana Cadangan dan Benih Sabotase

Langkah kaki Valerie yang meninggalkan gedung perkantoran Dean terasa begitu berat, seolah setiap jengkal lantai marmer itu menahan bebannya. Di dalam taksi yang membawa mereka menjauh dari pusat kota, keheningan mencekam menyelimuti kabin. Tiara yang duduk di sebelah Valerie berulang kali melirik sahabatnya dengan cemas. Wajah Valerie pucat, matanya sembap, dan jemarinya meremas tali tas kuliahnya begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih.

"Val..." panggil Tiara pelan, memecah keheningan dengan nada suara yang teramat halus. "Kamu nggak apa-apa? Maafkan Kak Dean, ya. Dia kalau sudah pakai mode bos kaku begitu, otaknya seperti diganti mesin."

Valerie tidak langsung menjawab. Dia menatap ke luar jendela, memperhatikan deretan gedung pencakar langit yang kabur karena sisa air mata yang menggenang. "Aku sudah biasa dibanding-bandingkan dan disalahkan di rumah, Ra. Tapi mendengar kata-kata Kak Dean tadi... rasanya seperti dia menegaskan kalau aku ini memang produk gagal yang tidak punya akal sehat."

"Jangan bicara begitu!" sergah Tiara cepat, memegang bahu Valerie untuk memaksa gadis itu menatapnya. "Kamu tidak salah. Perempuan ular itu yang memancingmu. Aku yang saksinya. Mulai hari ini, aku tidak akan membiarkan dia bertingkah seenaknya lagi. Kita harus susun strategi untuk mengawasi dia."

Valerie menghela napas panjang, merosot di sandaran kursi taksi. "Mengawasi bagaimana, Ra? Dia ada di dalam kantor setiap hari di dekat Kak Dean. Sementara aku? Aku cuma anak kuliah luar yang bahkan tidak punya hak untuk menginjakkan kaki di sana lagi setelah keributan tadi."

"Tapi aku punya hak," ucap Tiara dengan mata yang berkilat penuh tekad. "Aku adiknya Dean. Dan yang lebih penting, aku tahu betul bagaimana isi rumah kami. Dania mungkin bisa berakting di depan Kak Dean, tapi dia tidak akan bisa mengelabui aku. Aku akan mencari cara untuk mengawasi setiap gerak-geriknya melalui staf kantor yang dekat denganku, dan aku akan pastikan Kak Dean tahu siapa wajah asli adiknya Kak Timoty itu."

Sore harinya, taksi menurunkan mereka di lobi gedung apartemen Valerie. Tiara menolak untuk pulang ke rumahnya dan memilih untuk menemani Valerie di unit apartemennya. Dia tidak ingin meninggalkan sahabatnya sendirian dalam kondisi mental yang rapuh seperti ini.

Unit apartemen studio milik Valerie yang biasanya terasa ceria dengan bantal-bantal sofa berwarna cerah, kini terasa sunyi dan dingin. Valerie langsung melempar tasnya ke lantai, berjalan menuju balkon, dan menatap pemandangan kota dari lantai lima belas. Angin sore yang berembus kencang menerbangkan beberapa helai rambutnya yang berantakan.

Tiara datang dari arah dapur kecil, membawa dua cangkir teh kamomil hangat dan meletakkannya di atas meja kecil di balkon. Dia duduk di kursi rotan di samping Valerie.

"Kita tidak boleh kalah dari dia, Val. Ingat, kamu sudah berjuang satu tahun penuh untuk bisa mengetuk pintu es Kak Dean sampai dia menerimamu," ujar Tiara, mencoba menyalakan kembali percikan semangat di hati Valerie. "Kalau kamu menyerah sekarang, si ular Dania itu yang akan bertepuk tangan paling keras."

Valerie menatap uap yang mengepul dari cangkir tehnya. "Dulu aku mengira, setelah setahun berpacaran, tembok kaku Kak Dean setidaknya akan retak sedikit untuk memberiku ruang. Tapi ternyata tidak, Ra. Status pacar itu tidak mengubah apa pun. Dia tetap memandangku dari atas, seolah aku ini anak kecil yang merepotkan dan mengganggu efisiensi kerjanya. Aku lelah harus selalu menjadi pihak yang mengemis perhatian, sementara dia menganggap semua pengorbanannya sebagai 'kewajiban' kontrak."

Tiara terdiam sejenak. Dia tahu watak kakaknya dengan sangat baik. Dean memang tidak pernah diajarkan untuk memahami emosi; sejak remaja, pria itu sudah dididik untuk memimpin dan menggunakan angka serta logika sebagai kompas hidup. Namun, melihat Valerie yang begitu tulus hancur perlahan, Tiara merasa sangat terpukul.

"Aku tahu Kak Dean keterlaluan," bisik Tiara, menggenggam tangan Valerie yang terasa sedingin es. "Tapi tolong, beri aku waktu. Aku akan menyelidiki tentang Dania. Aku yakin perempuan yang tiba-tiba melamar jadi sekretaris dengan membawa-bawa nama Kak Timoty di saat bisnis keluarganya sedang goyang, pasti punya motif tersembunyi yang lebih besar daripada sekadar merebut Kak Dean."

Di bawah temaram lampu balkon apartemen yang mulai menyala, kedua gadis muda itu sepakat untuk memperketat pertahanan mereka. Tiara berjanji akan menjadi mata dan telinga bagi Valerie di dalam lingkaran keluarga dan bisnis Dean. Namun, mereka berdua terlalu naif untuk menyadari bahwa Dania bergerak jauh lebih taktis dan kejam daripada yang bisa mereka bayangkan.

Sementara itu, di seberang kota, di dalam ruang kerja sekretaris junior yang sudah sepi, Dania masih duduk di depan layar komputernya. Jam dinding sudah menunjukkan pukul tujuh malam, dan sebagian besar karyawan sudah pulang. Ruangan CEO di sebelahnya masih memancarkan berkas cahaya dari bawah pintu, menandakan Dean masih bekerja lembur di dalam.

Dania tidak sedang mengerjakan laporan inventaris. Matanya fokus menatap sebuah berkas folder digital yang berisi dokumen rahasia mengenai proyek pengembangan infrastruktur gabungan senilai miliaran rupiah yang akan ditandatangani oleh Dean dan pihak investor asing minggu depan. Dokumen ini adalah jantung dari stabilitas keuangan perusahaan Dean untuk satu semester ke depan.

"Satu kesalahan kecil di sini, dan perusahaan ini bisa mengalami kerugian besar," bisik Dania pada dirinya sendiri, seulas senyum sinis yang mengerikan terukir di wajahnya yang biasa tampak polos.

Dania meraih ponsel pribadinya dari dalam tas. Dia membuka ruang obrolan rahasia dengan seseorang yang kontaknya hanya dinamai dengan inisial 'X'—seorang peretas bayaran yang biasa mengaburkan jejak digital log sistem komputer.

“Persiapkan skrip manipulasi log untuk komputer utama koridor dan meja depan. Aku akan mengeksekusi rencana utama minggu depan saat si gadis kuliah itu datang lagi,” ketik Dania dengan cepat.

“Dimengerti. Pastikan target berada di posisi yang tepat agar semua bukti mengarah padanya,” balas nomor asing tersebut sesaat kemudian.

Dania memasukkan ponselnya kembali dengan gerakan tenang. Rencana cadangannya sudah matang. Dia tahu bahwa Tiara dan Valerie pasti sedang menyusun rencana untuk menjatuhkannya atau mengawasinya. Maka dari itu, dia harus bergerak lebih cepat. Melabrak di koridor kantor hari ini hanyalah permulaan untuk mematangkan penilaian Dean bahwa Valerie adalah perempuan yang tidak stabil dan penuh prasangka buruk.

Langkah selanjutnya adalah sabotase finansial. Dania akan dengan sengaja menghilangkan berkas proyek penting ini dan memanipulasi sistem seolah-olah data tersebut dihapus dari perangkat eksternal yang terhubung saat Valerie berkunjung ke kantor untuk mengantarkan sesuatu. Dengan begitu, Dean tidak akan hanya menganggap Valerie kekanak-kanakan, melainkan sebagai ancaman nyata bagi bisnis dan logikanya.

Dania berdiri dari kursinya, merapikan rok pensil hitamnya, lalu berjalan menuju pintu ruangan Dean dengan membawa secangkir teh herbal hangat. Dia mengetuk pintu dengan kelembutan yang biasa dia tunjukkan.

"Masuk," terdengar suara Dean dari dalam, terdengar sangat lelah.

Dania melangkah masuk, meletakkan teh itu di ujung meja kerja Dean dengan sangat sopan. "Pak Dean, ini teh herbal untuk membantu Anda lebih rileks. Anda sudah bekerja terlalu keras hari ini setelah kejadian tadi siang." Dania menunduk, memasang wajah penuh penyesalan. "Saya... saya sekali lagi minta maaf karena kehadiran saya justru membawa masalah bagi hubungan Anda dan Kak Valerie."

Dean mendongak dari tumpukan berkasnya, menatap Dania sejenak. Di mata logis Dean saat ini, Dania adalah staf yang sangat berdedikasi; dia tetap bekerja lembur tanpa mengeluh dan bahkan masih memikirkan kesehatan atasannya meskipun baru saja dilabrak secara tidak adil di depan umum.

"Ini bukan salahmu, Dania. Kamu tidak perlu meminta maaf atas tindakan orang lain yang tidak bisa mengontrol emosinya," jawab Dean datar, meskipun ada nada keletihan yang pekat dalam suaranya. "Pulanglah, ini sudah larut. Saya akan menyuruh sopir kantor mengantarmu."

"Terima kasih banyak, Pak Dean. Selamat beristirahat," ucap Dania lembut sebelum membalikkan tubuhnya dan keluar dari ruangan.

Saat pintu jati tebal itu tertutup kembali, Dania berdiri di koridor yang remang-remang dengan binar mata yang penuh kemenangan. Benih sabotase telah berhasil dia tanam dengan sangat rapi di dalam pikiran Dean. Blokade emosional antara Dean dan Valerie kini telah terbangun kokoh, dan Dania hanya perlu menunggu satu minggu lagi untuk memicu badai besar yang akan menghancurkan hubungan dua tahun mereka hingga tak bersisa sama sekali.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!