Valencia Florence mengira penderitaannya telah usai setelah palu hakim meresmikan perceraiannya dengan Julian Edgar. Namun, sebuah fenomena misterius justru melempar jiwanya melakukan time travel kembali ke tiga tahun lalu—tepat di tahun kedua pernikahan mereka yang dingin.
Kembali menjadi Nyonya Edgar berarti Valencia harus mengulang fajar pernikahan tanpa cinta. Dia kembali menghadapi Julian, suami sedingin es yang menguburnya dalam kemewahan finansial dan fasilitas jet pribadi, namun memperlakukannya tak lebih dari sekadar pajangan rumah. Valencia sadar diri, dia hanyalah pengantin pengganti untuk mendiang saudara kembarnya, Gracia Florence, yang tewas menjelang pernikahan. Di kesempatan kedua ini, Valencia bersumpah tidak akan lagi mengemis cinta yang tidak pernah ada. Dia akan menjalani sisa waktu pernikahan ini dengan caranya sendiri, bersiap untuk pergi sebelum hatinya hancur untuk kedua kalinya.
#by_Parkha
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Park ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MENGULANG LUKA Bab 6: Meja Makan dan Kanvas Kosong.Bayangan Bibir yang Tercemar
...MENGULANG LUKA...
Bab 6: Meja Makan dan Kanvas Kosong.
Bayangan Bibir yang Tercemar
Kamar tamu yang sepi dan dingin itu sama sekali tidak membantu menenangkan kepala Julian yang panas. Suara pintu yang dibanting keras beberapa menit lalu masih bergema di pikirannya, namun yang jauh lebih mengganggu adalah rasa aneh yang tertinggal di bibirnya.
Julian berdiri di depan cermin kamar mandi, menyalakan keran, lalu membasuh wajah serta bibirnya berulang kali dengan air dingin. Dia mengusap mulutnya menggunakan handuk secara kasar, berharap bisa menghapus jejak sentuhan yang terjadi tanpa izin tadi. Namun, tidak peduli seberapa keras dia mengusapnya, ingatan tentang detik-detik singkat itu justru semakin terpatri jelas di otaknya.
Tekstur bibir Valencia yang teramat lembut. Kehangatan napas wanita itu yang berhembus tiba-tiba. Sentuhan secepat kilat yang mampu membuat seluruh tubuhnya membeku seketika.
Julian mengepalkan tangannya di tepi wastafel. "Sialan," umpatnya lirih dengan suara serak.
Dia berjalan menuju ranjang kamar tamu dan menghempaskan tubuhnya yang tegap. Mata elangnya menatap langit-langit kamar yang gelap. Dia mencoba memejamkan mata, berniat untuk segera tidur agar besok bisa beraktivitas seperti biasa. Namun, setiap kali memejamkan mata, memori itu kembali memutar ulang adegan di kamar utama.
Dia mengingat bagaimana jemari Valencia mencengkeram kerah jubah mandinya dengan begitu nekat. Dia mengingat kilatan keberanian yang tidak pernah ada sebelumnya di mata wanita itu. Bagaimana bisa seorang Valencia—istri yang biasanya selalu menunduk ketakutan, menuruti setiap perkataannya tanpa bantahan—berani menariknya dan mendaratkan ciuman seberani itu?
Lebih mengesalkan lagi, kalimat ancaman Valencia terus terngiang di telinganya. 'Aku tidak bisa menjamin kesucian Anda masih utuh jika masih ngotot tinggal.'
Rahang Julian kembali mengeras. Kata-kata itu rasanya seperti tamparan keras yang menghancurkan seluruh harga diri dan egonya sebagai seorang pria. Dia merasa dimainkan. Dia merasa diremehkan oleh wanita yang selama ini diangapnya lemah dan tidak berdaya.
Julian berbalik ke sisi kiri, lalu berbalik lagi ke sisi kanan. Posisi tidurnya tidak pernah terasa begitu tidak nyaman. Selimut yang membalut tubuhnya terasa terlalu panas, sementara pendingin udara di kamar rasanya terlalu dingin. Napasnya masih samar-samar terengah setiap kali ingatan tentang sensasi bibir Valencia menyentuh bibirnya kembali melintas.
Pria itu mendudukkan tubuhnya dengan kasar, mengacak rambut hitamnya yang lembap karena rasa frustrasi yang memuncak. Malam baru saja dimulai, tetapi Julian Edgar tahu pasti bahwa malam ini dia tidak akan bisa tidur sedetik pun. Dan semua itu gara-gara keberanian gila dari istrinya sendiri.
......................
Sinar matahari pagi menerobos masuk melalui celah gorden kamar utama, menerangi sisa-sisa ketegangan semalam. Valencia terbangun dengan perasaan yang jauh lebih segar. Setelah membersihkan diri, dia berjalan menuju ruang kerjanya yang merangkap sebagai studio lukis pribadi di sudut lantai dua.
Sebelum terikat dalam pernikahan yang mencekik ini, Valencia adalah seorang seniman. Melukis adalah jiwanya, satu-satunya ruang di mana dia bisa menjadi dirinya sendiri tanpa bayang-bayang Gracia. Di kehidupan pertamanya dulu, dia sempat meninggalkan kuas dan kanvas karena terlalu sibuk meratapi nasib dan mencari perhatian Julian. Kini, melihat kanvas putih yang masih kosong di atas tripod kayu, Valencia tersenyum tipis. Dia bersumpah akan kembali menghidupkan jemarinya di atas palet warna.
Namun, perutnya yang keroncongan memaksa Valencia untuk turun ke lantai bawah.
Begitu kakinya menginjak undakan terakhir tangga menuju ruang makan, langkah Valencia melambat. Di ujung meja makan marmer yang panjang, sosok tegap berbalut kemeja kerja abu-abu tua sedang duduk dengan formal. Julian Edgar belum berangkat. Pria itu sedang menyesap kopi hitamnya sambil membaca tablet bisnis di tangannya.
Suasana di ruang makan seketika terasa canggung dan membeku. Para pelayan yang menyadari kehadiran Valencia segera bergerak mundur secara teratur, seolah tahu ada bom waktu yang siap meledak di antara sepasang suami istri itu.
Valencia menarik napas dalam-dalam, menguasai dirinya sendiri. Dia berjalan dengan anggun, lalu duduk di kursi yang berjarak cukup jauh dari Julian. Tanpa melirik suaminya sedikit pun, Valencia mengambil sepotong roti panggang dan mulai mengolesinya dengan selai kacang. Sikapnya begitu santai dan acuh tak acuh, seolah-olah ciuman panas dan ancaman nekat di atas ranjang semalam tidak pernah terjadi.
Julian menurunkan tabletnya perlahan. Sepasang manik mata elangnya menatap Valencia dengan sisa kejengkelan yang masih membekas jelas dari semalam. Rahangnya tampak mengeras melihat betapa tenangnya wanita di depannya ini setelah berhasil mengacaukan harga dirinya sebagai seorang pria.
"Kau tampak sangat tenang pagi ini, Nyonya Edgar," suara bariton Julian memecah keheningan, sengaja menekankan panggilan formal itu untuk menyindir sekaligus mengingatkan Valencia akan statusnya. Menguar nada dingin yang tajam dari balik suaranya.
Valencia mengunyah rotinya dengan perlahan, lalu menyesap teh hangatnya sebelum menanggapi. Dia menatap Julian dengan tatapan jernih yang kosong. "Tidak ada alasan bagi saya untuk tidak tenang, Tuan Edgar. Sarapan pagi ini cukup enak."
Julian mendengus sinis, merasa kembali ditantang karena Valencia membalasnya dengan panggilan formal yang tak kalah berjarak. "Sandiwara apa lagi yang sedang kau rencanakan dengan beralih menjadi wanita sedingin es? Apa ini taktik baru agar aku tidak pergi ke Paris?"
Valencia meletakkan cangkir tehnya tanpa menimbulkan suara sedikit pun. Dia menatap lurus ke dalam mata Julian. "Anda terlalu tinggi menilai diri Anda sendiri. Pergi saja ke Paris, atau ke ujung dunia sekalipun. Saya tidak peduli. Dan oh—seperti yang Anda katakan semalam, kartu debit hitam yang baru sudah saya ambil. Saya butuh membeli banyak cat minyak dan kanvas baru untuk studio lukis saya."
Julian menyipitkan matanya. Dia tahu Valencia suka melukis, tetapi biasanya wanita itu hanya akan melukis potret dirinya secara diam-diam atau lukisan melankolis yang menyedihkan. Mendengar Valencia berbicara tentang hobinya dengan nada menantang dan mandiri seperti ini membuat Julian merasa seolah sedang menghadapi orang asing.
"Pakai sesukamu," sahut Julian dingin, mencoba mengembalikan kendali emosinya. Dia berdiri dari kursi, merapikan jam tangan mewahnya. "Aku akan pergi selama tiga bulan. Kuharap saat aku kembali, kau sudah menghentikan eksperimen sikap konyolmu ini."
Valencia hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman misterius yang membuat Julian semakin dongkol. "Semoga perjalanan Anda menyenangkan, Tuan Edgar. Jangan terburu-buru untuk pulang."
Julian menatapnya tajam untuk terakhir kali sebelum berbalik dan melangkah pergi meninggalkan ruang makan dengan aura kekesalan yang pekat. Valencia memandangi punggung tegap itu menjauh dengan perasaan lega yang luar biasa. Sangkar emas ini sekarang menjadi miliknya sendiri untuk tiga bulan ke depan, dan dia tahu persis bagaimana cara mengisinya: dengan warna-warni cat di atas kanvas kosongnya.