Sejak kecil Karina terbiasa melihat ibunya bekerja keras ditambah lagi setelah sang Ayah memilih pergi dengan wanita lain, oleh karena itu, Karina berjanji pada dirinya sendiri dimana dia ingin bebas dari kemiskinan, Sampai suatu hari, Karina bertemu dengan Adrian Mahardika pemuda Tampan. Berpendidikan. Pewaris keluarga konglomerat yang memiliki segalanya. Bagi Karina, Adrian bukan sekadar lelaki. Ia adalah jalan keluar dari kehidupan yang selama ini ia inginkan, yaitu kemewahan. Sejak saat itu, Adrian menjadi obsesinya. Akankah Karina mampu memenangkan Obsesinya atau malah membuat Hidupnya hancur dengan Obsesinya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pencari Cerita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 5
Adrian berbalik meninggalkan taman dengan langkah sedikit kesal, Tomy dan Dokter Hans yang berada disana saling berpandangan sebelum akhirnya mereka pun ikut meninggalkan taman, namun sebelum Tomy melangkah pergi, pak Surya memanggil nya
"Tomy, tolong kau panggil kan Hasto, aku ingin dia mengantarkan Karina."
Dengan langkah ragu, tomy mengikuti perintah tuanya, sementara Karina dibuat kaget dengan pernyataan nya.
Malam itu, saat tiba Karina untuk pulang sebuah sedan hitam mewah sudah siap untuk mengantar nya pulang, Karina sempat merasa sedikit canggung, seumur hidup baru pertama kali nya ia diperlakukan layaknya nyonya besar, sementara itu dari balkon lantai dua, Adrian menyaksikan supir pribadi sang Ayah membuka kan pintu mobil belakang bagi wanita yang baru saja dikenal sang Ayah tatapan nya berubah tajam, kemudian langsung keluat dari kamarnya menghampiri sang Ayah.
"Ayah....., kenapa Ayah menyuruh Hasto mengantar Karina pulang."
"Karena dia bekerja untuk Ayah."
"Tapi Ayah terlalu memanjakan nya."
"Ayah rasa tidak, dia sudah bekerja dengan baik untuk Ayah, apa Ayah salah bila memberikan kemudahan transportasi baginya?"
"Tapi Ayah lihat kan, dia berbeda, dia tidak ada pendidikan, bahkan penampilanya tidak meyakinkan, aku juga heran kenapa tomy bisa membawa wanita itu kerumah dan anehnya Ayah cepat sekali percaya."
sang Ayah tersenyum lebar,
"Adrian...apa kamu hanya melihat orang dari penampilan dan pendidikan nya saja?"
"Ya itu harus, keduanya adalah besik yan harus dimiliki bila ingin mendapatkan pekerjaan."
"Justru disitulah, kenapa Tomy membawa Karina pada Ayah, dia mengerti wanita seperti apa yang ayah mau untuk menjaga Ayah."
"Apa maksud Ayah?"
"Nanti juga kamu akan tau Adrian."
Sang Ayah kemudian meninggalkan Adrian dengan seribu pertanyaan dibenaknya, dia tak yakin Ayahnya bisa dengan mudah percaya pada Karina.
Sementara mobil yang ditumpangi Karina, kini sudah tiba disebuah gang kecil tempat karina tinggal
"Sudah disini saja pak, rumah saya masih masuk gang."
Pak Hasto menghentikan mobilnya
"Bearti besok pagi saya jemput mba Karina disini saja?"
"Apa harus dijemput?"
"Iya mba Karina, ini perintah tuan."
supir itu kemudian turun lebih dulu dan membuka kan pintu belakang mobil, Karina turun dengan senyuman merekah di bibir nya. Terlihat tak jauh dari sana, Dimas yang memang sengaja menunggu Karina pulang menatapnya kaget ketika melihat wanita yang dikenal nya malah turun dari sebuah mobil mewah, matanya membelalak tajam saat ada pria lain yang membukakan pintu mobil itu, Dimas hanya mampu memandangi mobil itu hingga menghilang di tikungan.
Keesokan hari nya, pagi pagi sekali Karina sudah datang lebih awal, disusul jono yang datang lima menit setelah dirinya,
"Kamu mau pergi lagi karin?, baju mu kaya bukan mau kerja dibengkel."
"Iya, aku mau pergi."
"Memangnya kamu mau pergi kemana Karin? Dimas kemarin khawatir banget, sampe dia gak fokus kerja."
Saat Karina hendak bicara, pak Hendra dan dimas sudah dekat menuju bengkel, Karina langsung menghampiri mereka bahkan sebelum pak Hendra
memasuki bengkelnya
"Pak...., Karin bisa bicara sebentar?"
Ayah dan anak saling pandang, kenapa tiba - tiba Karin mendadak terlihat serius di wajahnya
Dimas akhirnya menjauh dari mereka, dan mencoba bertanya pada Jono, namun jono pun hanya menggelengkan kepalanya.
"Coba kamu pikirkan lagi.., Karin."
"Saya sudah memikirkan semua sejak kemarin, dan mungkin jalan saya ada dirumah itu."
"Yahhh, bapak sebenarnya ikut senang, tapi pasti kami akan kehilangan kamu karin, jika nanti kamu merasa tidak cocok bekerja disana, pintu bengkel bapak, masih tetap terbuka buat kamu."
Setelah itu karin pun berpamitan dengan semua yang ada dibengkel, lalu pergi menuju gang tempat semalam dirinya turun dari mobil. Dimas yang penasaran mengikuti Karina, dan benar saja, mobil yang semalam dilihatnya mengantar karina, pagi ini pun menjemput karina, Dimas terus mengikuti mobil didepanya hingga tak lama kemudian, mobil mulai berjalan lambat didepan rumah mewah bak istana, Matanya membelalak lebar ketika pintu pagar itu mulai terbuka lebar, dan mobil itu pun memasuki halaman rumah mewah itu, Dimas hanya melihatnya dari kejauhan sampai pintu itu kembali tertutup.
Saat Karina tiba dirumah mahardika, dia mulai menyiapkan sarapan untuk pak Surya yang sebelum itu dia sudah memastikan sarapan apa yang disukai tuan nya. Adrian turun berjalan menunu meja makan, karina melirik sekilas dan entah kenapa jantung nya berdegup cepat, karina berpura pura tak melihat dan menyibukan dirinya
"Sarapan untuk siapa yang sedang kamu buat?"kata Adrian sambil duduk dikursinya
"Untuk pak surya." jawab karina tanpa menatap Adrian
Adrian malah terus memperhatikan Karina tanpa henti, sementara karina yang merasa diawasi, terasa sedikit gugup namun berusaha tetap tenang. Setelah sempat beberapa detik memperhatikan Karina, kini Adrian mulai bertanya kembali sambil berdehem kecil "Kenapa hanya sarapan Ayah yang kamu siapkan?"
"Maaf pak Adrian, bukan kah tugas saya hanya untuk melayani pak surya?"
Dimas mulai kaget dengan jawabanya, tampak Tomy sedang berada tak jauh dari meja makan pun ikut tersenyum mendengar jawaban Karina.
"Karina.... kamu tau kan siapa yang menggaji mu?"
"Iya...saya tau pak Adrian."
"lalu kenapa kamu hanya menyiapkan sarapan untuk Ayah, sementara aku yang akan memberikan kamu gaji?"
"Maaf pak Adrian, tapi saya hanya bekerja khusus untuk melayani pak surya, dan saya percaya pak Surya tidak akan membiarkan orang yang bekerja untuknya tidak mendapatkan hak nya."
"Karina...kamu jangan terlalu berbesar hati, kamu harus pahami bahwa di rumah ini, kamu hanya pelayan sama seperti yang lain, jadi Jangan pernah lupa posisi kamu."
Tomy yang berada disana, langsung cepat mendekat untuk mencairkan suasana ketegangan diantara mereka
"Waaah, mba karina menu apa yang mba karina buat, sepertinya sangat enak."
"Ini roti gandum utuh dengan alpukat yang dihaluskan dan sedikit perasan lemon, khusus untuk pak Surya."
"Kalau begitu, apa mba Karina bisa membuatkan satu untuk saya?"
Belum sempat karina menjawab, sang bos muda itu langsung melemparkan kekesalan pada asisten nya."
"Ayo Tomy, kita sudah telat." kata Adrian sambil berjalan meninggalkan meja makan tanpa menyentuh sarapan ya.
Tomy yang merasa perubahan raut bos nya langsung ikut berjalan dibelakangnya denga diam-diam mengacungkan jempol sambil tersenyum geli pada Karina, sementara Karina memberi senyum tipis pada tomy, meski luar tampak tenang, di dalam dadanya perasaan nya bergejolak setiap kali berhadapan dengan Adrian, jantungnya selalu berdetak tidak beraturan. Namun ia menggenggam kedua tangannya erat.
"Aku harus bertahan. Cepat atau lambat... hati pria itu pasti akan berubah."
Sementara itu dibawah anak tangga sang Ayah bediri memperhatikan semua keributan kecil pagi ini, lalu berusaha menghentikan langkah Putranya
"Adrian, kamu ingat kan kalau nanti malam ada jamuan makan malam keluarga, Ayah ingin kamu membawa Karina."
Adrian langsung tersentak kaget, sementara Tomy hanya bisa menahan nafasnya.
"Apa Ayah serius?"
"Sangat serius."
"Mana mungkin aku datang bersama pelayan."
"Karina bukan pelayan, Dia orang yang mendampingi Ayah."
"Kalau begitu Ayah saja yang membawanya."
"Tidak....kamulah yang harus membawanya."
Adrian mengepalkan tangan dan terpaksa pergi dengan perasaan masih dalam emosi yang memuncak, dirinya tak bisa menerima keinginan sang Ayah yang harus membawa Karina dalam acara jamuan nanti malam, dia tidak yakin Karina mampu bersanding dengan wanita lain dalam jamuan makan tersebut. sementara karina hanya berdiri mematung, jantungnya terus berdegup semakin kencang, apa yang harus dia lakukan jika benar - benar Adrian membawa nya pergi dalam jamuan makan malam nanti.