Pernikahan megah di Katedral St. George menandai bersatunya Edmund Alistair Blackwood, calon Raja Inggris sekaligus perwira militer, dengan Baxeena Valerio Desmon, wanita independen asal Los Angeles. Bagi publik, ini aliansi sempurna. Namun bagi Baxeena, ini adalah neraka.
Pria yang dipaksa ia nikahi demi menyelamatkan ibunya adalah mantan kekasih masa high school yang paling ia benci. Satu dekade lalu, hubungan mereka hancur akibat tragedi one-night stand Edmund yang berujung kehamilan.
Kini, Baxeena tak hanya terjebak dengan pria yang menghancurkan hatinya, tetapi juga harus menjadi ibu tiri bagi putri Edmund yang berusia 13 tahun—anak hasil pengkhianatan masa lalu yang amat membencinya.
Di tengah dinginnya tembok istana modern, tugas militer Edmund yang kerap memanggilnya ke garis depan memaksa Baxeena menghadapi konspirasi kerajaan dan penolakan sang anak tiri seorang diri. Sebuah reuni emosional yang berbahaya antara luka masa lalu, dendam, dan takdir yang belum usai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#24
Malam kian melarut di atas Istana Buckingham. Keheningan yang dingin merayap di sepanjang koridor berkarpet tebal, seolah menyimpan jutaan rahasia di balik ukiran kayu tua dan pilar-pilar batu megah. Di dalam kamar utamanya yang luas dan hangat, Baxeena berdiri di dekat jendela kaca besar yang menghadap langsung ke arah taman istana yang gulita.
Ponsel tipis di genggamannya menempel di telinga. Cahaya layar membiaskan pendar redup di wajah cantiknya yang tenang namun penuh kewaspadaan.
"Kau masih mual di pagi hari, Sayang?" suara Zephyr—sang ibu—terdengar jelas dari seberang sambungan telepon di Los Angeles. Intonasi suaranya memancarkan kecemasan yang amat dari seorang ibu yang sangat mengenal putri Satu-satunya.
Baxeena memandangi bayangan dirinya di kaca jendela yang tertimpa pendar rembulan, lalu menghela napas pelan. "Tidak, Mom! Jangan khawatirkan aku," jawab Baxeena datar, berusaha sekuat tenaga meredam getar lemah di vokalnya.
Dari seberang samudra, Zephyr tidak langsung percaya.
"Herbal penyubur racikan keluarga yang Mommy kirim... apa masih harus Mommy kirimkan lagi stoknya dari Los Angeles? Mommy tidak mau kau—"
"Aku bisa mengatasinya, Mom," potong Baxeena cepat namun lembut. Ia menyandarkan dahinya di kaca jendela yang dingin. "Aku tidak mau suamiku terlalu memikirkan banyak hal di daerah konflik sana. Cukup beban militer dan kerajaan yang ada di pundaknya."
Zephyr menghela napas panjang, suara gesekan kain terdengar dari seberang. "Mommy hanya berharap ibu mertuamu tidak tahu kalau obat penunda kehamilan yang ia perintahkan melalui maid kepercayaannya telah gagal. Pelayan itu berkhianat pada sang Ratu dan berpihak padamu, Sayang. Mommy sungguh khawatir kau dalam bahaya besar jika Ratu Lizzeebeeth menyadarinya. Apalagi mual-mualmu beberapa hari ini... Mommy menduga kau memang sedang hamil, Baxeena."
"Tidak, Mom. Mungkin aku hanya terlalu lelah karena kurangnya istirahat," balas Baxeena dengan sangat cepat, mengelak bukan karena takut, melainkan untuk membentengi dirinya dari spekulasi yang bisa membocorkan pertahanannya di istana ini.
"Baiklah, jika kau berkata begitu," pasrah Zephyr di seberang sana. "Mommy akhiri dulu teleponnya. Jangan lupa kabari Mommy jika ada kabar baik, ya?"
"Tentu, Mom," gumam Baxeena mengangguk pelan, walau ia tahu sang ibu tidak mungkin melihat anggukan tersebut.
Tut.
Sambungan telepon terputus. Baxeena menurunkan ponselnya, membiarkan keheningan kamar kembali menyelimuti dirinya.
Ia memutar tubuhnya perlahan, berjalan mendekati meja rias berukir emas. Matanya tertuju pada dua bingkai foto berlis perak yang berdiri berdampingan. Salah satunya adalah foto pernikahan resminya dengan Alistair, dan yang satu lagi adalah foto suaminya dalam seragam militer lengkap.
Di dalam foto pernikahan itu, Baxeena memperhatikan raut wajahnya sendiri. Tampak di sana dirinya sama sekali tidak tersenyum. Tatapan matanya tajam dan dingin.
Tentu saja—saat foto itu diambil, ia sangat membenci Alistair. Ia menganggap pria itu adalah pengkhianat yang telah menodai kenangan indah masa muda mereka hingga menghasilkan seorang anak.
Namun... semua persepsi itu runtuh sepenuhnya. Setelah mendengar pengakuan jujur dan keputusasaan Alistair soal malam kelam belasan tahun lalu yang menghasilkan Violet—malam di mana Alistair dalam pengaruh obat bius dan sesuatu yang janggal soal meniduri Katherine—Baxeena tidak bisa tinggal diam begitu saja.
Ia curiga ada sesuatu yang sangat tidak beres di dalam dinasti ini. Ada tangan-tangan kotor di balik layar yang memanipulasi takdir suaminya. Dan Baxeena bersumpah, ia tidak akan pernah membiarkan Alistair menjadi boneka atau alat politik siapapun—bahkan oleh Ratu Inggris sekalipun!
Alistair adalah suaminya. Pria itu milik Baxeena. Dan hanya Baxeena yang berhak mengatur, mengendalikan, dan menyetir jalan hidup pria tegap itu ke arah yang benar.
Baxeena bukanlah wanita muda yang polos atau naif. Ia adalah wanita dewasa yang sangat cerdas, dingin, dan berdarah dingin jika menyangkut keselamatan orang-orang yang dicintainya. Ia memiliki pengamatan yang teramat jeli terhadap lingkungan sekitar.
Pikirannya kembali melayang ke peristiwa tersembunyi–Hari pertamanya beberapa minggu lalu di dapur khusus sayap istana.
Malam itu, Baxeena secara pribadi menangkap basah pelayan kepercayaan sang Ratu yang berniat memasukkan serbuk halus ke dalam sup malamnya.
Tanpa suara dan tanpa kepanikan, Baxeena menodongkan belati kecil tepat di leher pelayan tersebut di sudut koridor yang gelap, mengintimidasi pelayan itu hingga berlutut gemetar dan mengakui seluruh perintah rahasia dari Ratu Lizzeebeeth untuk mencampurkan serbuk penunda kehamilan dosis tinggi ke dalam makanan Baxeena.
Sejak awal melangkah ke istana ini, Baxeena sudah menebaknya. Ibu mertuanya—Ratu Lizzeebeeth—terlalu over dalam berdrama. Sang Ratu over tersenyum manis di depan kamera media, dan terlalu sempurna membanggakan keagungan dirinya sendiri di hadapan publik.
Walaupun AJ–Daddy Baxeena di Los Angeles selalu mengatakan bahwa Ratu Lizzeebeeth adalah orang baik dan kenalan lama keluarga mereka, mata tajam Baxeena tidak bisa dibohongi. Ia berulang kali menangkap kilatan sorot mata sinis dan penuh kebencian yang dilayangkan sang Ratu ke arahnya setiap kali Alistair atau para pejabat tidak memperhatikan.
Dan kecurigaannya terbukti mutlak.
Hari itu juga, alih-alih meledakkan kemarahan yang bisa memicu perang terbuka saat Alistair masih di istana, Baxeena memilih bermain halus. Ia membeli kesetiaan pelayan kepercayaan sang Ratu dengan jaminan keamanan dan jumlah uang yang tak terbatas dari rekening pribadinya.
Seluruh serbuk penunda kehamilan buatan Ratu dibuang ke saluran pembuangan, dan diganti secara berkala dengan racikan herbal penyubur rahim murni yang dikirimkan ibunya dari Los Angeles.
Baxeena sengaja tidak menceritakan sedikit pun mengenai konspirasi obat dan manipulasi sang Ratu ini kepada Alistair. Ia tahu betul betapa beratnya beban militer dan tekanan mental yang dipikul suaminya di garis depan pertempuran. Biarlah ini menjadi perang dingin yang ia hadapi sendiri di dalam dinding istana.
Jemari halus Baxeena bergerak perlahan, meraba perut ratanya di balik gaun malam. Rasa mual tipis yang menyerangnya sejak pagi menyulut sepercik harapan di dalam dadanya.
"Bertahanlah di sana, Alistair..." bisik Baxeena lirih pada foto suaminya. Ia mengelus perutnya dengan penuh kelembutan. "Kembalilah dengan selamat. Aku berharap enam bulan ini berlalu dengan sangat cepat."
****
Sementara itu, di sudut lain sayap utara istana, kondisi di dalam kamar tidur Violet berbanding terbalik secara drastis dari ketenangan kamar Baxeena.
Di bawah pendar lampu dinding yang temaram, Ratu Lizzeebeeth berdiri tegap di tengah kamar cucunya. Wajah tua yang biasanya dipoles keanggunan diplomatik itu kini tampak menyeramkan oleh kemarahan yang tertahan.
Di hadapan sang Ratu, Violet berdiri menunduk kaku di tepi tempat tidur. Tubuh mungil remaja tiga belas tahun itu gemetar tipis.
"Kau benar-benar mengecewakan, Violet!" desis Ratu Lizzeebeeth dengan suara rendah namun tajam menusuk bagai jarum. "Lihat dirimu! Kau makin tak terkendali, persis seperti ibumu, Katherine! Tidak tahu berterima kasih dan mudah sekali goyah!"
Violet mengepalkan jemarinya di balik piyama, tidak berani mendongak menatap mata sang Nenek.
Ratu Lizzeebeeth melangkah mendekat, "Kau harus ingat satu hal di dalam otak kecilmu itu, Violet! Hanya Nenek yang menginginkan kehadiranmu di dunia ini! Hanya aku! Ayahmu sendiri—Alistair—bahkan sama sekali tidak pernah menginginkanmu atau mengakuimu saat kau lahir! Tapi berkat Grandma... berkat aku yang menekan seluruh dewan kerajaan, kau bisa memiliki nama bangsawan dan berdiri di istana ini!"
Setetes air mata ketakutan menetes dari pelupuk mata Violet. Kalimat yang berulang kali ditanamkan oleh sang Nenek sejak ia kecil kembali merobek perasaannya. Violet mengangguk pelan dalam kepatuhan yang dipaksakan. "I-iya, Grandma..."
Ratu Lizzeebeeth memicingkan matanya yang dingin, memajukan tubuhnya menatap Violet dengan penuh selidik. "Lalu kenapa belakangan ini aku melihatmu makin menempel pada wanita itu?! Kenapa kau begitu patuh dan terus bersama Baxeena, hah?!"
Violet mendongak sedikit, menyapu air matanya dengan punggung tangan. Mengingat bagaimana Baxeena mendekapnya hangat saat ia ketakutan menangisi menstruasi pertamanya tadi sore, sepercik keberanian muncul di dada remaja itu.
"Mommy... Mommy Baxeena bukan orang jahat, Grandma," bisik Violet dengan suara bergetar, mencoba membela sosok yang telah memberikan kehangatan ibu dalam hidupnya. "Mommy sangat baik padaku, dia—"
"TUTUP MULUTMU!" potong Ratu Lizzeebeeth dengan bentakan tajam yang membuat Violet terlonjak kaget.
Sang Ratu menunjuk wajah Violet dengan telunjuknya yang kurus dan keriput. Matanya berkilat penuh racun dan manipulasi.
"Dengar dan ingat baik-baik kata-kataku ini, Violet!" desis sang Ratu, menanamkan doktrin kejam ke dalam kepala cucunya yang masih rentan. "Mommy Baxeena-mu itu datang ke istana ini bukan karena dia menyayangimu! Dia datang semata-mata untuk merampas ayahmu dari kita! Dia ingin menguasai ayahmu sepenuhnya, menyingkirkanmu, dan merebut seluruh posisi di istana ini dari tanganku dan darimu!"
Ratu Lizzeebeeth menunduk lebih dalam, menekankan setiap kata dengan nada ancaman yang dingin. "Wanita Los Angeles itu ingin menguasai Istana Buckingham dan menghancurkan kita semua. Jika kau terus lengah dan membuka hatimu padanya, dialah yang akan pertama kali membuangmu dari istana ini saat ayahmu tidak ada!"
Violet membisu sepenuhnya. Pernyataan tajam sang Nenek menghantam dadanya hingga terasa sesak.
Di antara kehangatan tulus yang ia rasakan dari Baxeena tadi sore dan doktrin mengerikan yang baru saja dimuntahkan oleh sang Ratu malam ini, pikiran remaja tiga belas tahun itu mendadak terombang-ambing di dalam kegelapan konspirasi istana yang kian pekat.
ayolah baxenna tundukkan si bocil tantrum itu🤭🤭🤭