NovelToon NovelToon
Penghuni Loteng Rumah Lawas

Penghuni Loteng Rumah Lawas

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Kumpulan Cerita Horror / Rumahhantu
Popularitas:162.4k
Nilai: 5
Nama Author: Cublik

“Bu, mimpi-mimpi itu seperti nyata. Ada yang menunggu kedatangan kita disana, tapi bukan manusia.”

Hamima memberi pengertian kepada putranya, dengan mengatakan jika tidak semua mimpi akan menjadi nyata, bisa jadi bunga tidur semata.

Namun, kepindahannya ke sebuah desa demi mengikuti sang suami yang dipindahtugaskan, membuat ketenangan hidup hilang seketika, tergantikan hal-hal tak pernah terbayangkan, dan belum pernah dialami sebelumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dianggap halusinasi : 04

‘Ibu! Ayah!’ suara jeritannya tersangkut di tenggorokan. Keringat dingin keluar dari pori-pori membesar.

Untuk pertama kalinya, seorang anak remaja masih sangat belia melihat dengan mata kepalanya sendiri sosok tak kasat mata.

‘Tolong, Bu! Tolong aku!’ Guntur menggigil, memaksakan mata untuk terpejam, akan tetapi tidak berhasil, alhasil netranya terbelalak tak berkedip.

Diatas lemari yang sebelumnya dia puji bagus — terjuntai sepasang kaki tanpa memakai sandal. Kukunya menghitam dengan kulit putih pucat.

Jubah yang dikenakan tertarik ke atas sampai bagian betis terekspos. Guntur dapat melihat darah segar mengalir deras lalu bercucuran ke lantai.

Batinnya menangis ketakutan, dia tidak berani mendongak, menatap sosok yang mengayun-ayunkan kaki.

“Ayah! Ayah!” kali ini teriakannya lolos, dan kaki dapat digerakkan.

Guntur yang tidak siap, tanpa aba-aba langsung berlari, sehingga keningnya terantuk daun pintu.

Arghhh!

Remaja laki-laki itu terpental, jatuh terduduk di lantai keras. Tangisnya melengking antara menahan sakit dan takut.

“Apa ini?” bisiknya seraya menarik tangan yang tadi bertumpu di atas lantai.

Hueg!

Ternyata rasa lengket barusan adalah darah kental kehitaman yang berbau busuk.

Guntur merangkak, lalu berlutut menarik handle pintu. Napasnya terengah-engah, dengan suara jantung memburu.

Saat pintu sudah terbuka lebar, dia bergegas berdiri, lalu berlari dengan langkah goyah.

“Ayah buka pintunya, Yah! Ayah!” jeritnya tidak sabaran sambil menggedor-gedor pintu kamar orang tuanya.

Ia tidak berani melirik kearah lain, apalagi menoleh ke belakang. Suasana disini sungguh membuat nyalinya menciut.

“Ibu, buka pintunya, Bu!” kesabarannya terkikis habis.

Guntur dapat merasakan aura menggetarkan hati tengah mendekatinya. “Ayah!”

Sesuatu sangat dingin menyentuh lehernya, menyalurkan rasa beku sampai menembus tulang sumsum.

“Tolong jangan dekati aku! Pergi, pergi!!” jeritannya tersapu angin, saat bersamaan kesadarannya tenggelam direnggut kegelapan.

Bugh!

Tubuh lemas itu ambruk, Guntur tak sadarkan diri, tergeletak di atas dinginnya lantai pada pukul satu dini hari.

Sementara di dalam kamar utama — sepasang suami-istri tertidur pulas, seolah tak mendengar jeritan ketakutan anak sulung. Ditengah mereka, berbaring bayi yang tiba-tiba terbangun.

Manik mata Pujiara membelalak menatap plafon, bibir kecilnya tertarik lebar tersungging senyum.

Kedua tangan bayi memakai piyama tidur hangat, menggapai-gapai ke atas. Suaranya tawanya renyah, seakan tengah diajak bercengkrama serta bercanda.

Layaknya sifat bayi yang mudah bosan, Ara tak lagi tertawa. Bibirnya mengerucut dan bola mata mulai sayu, kembali mengantuk.

Namun hanya bertahan sebentar, entah apa yang dilihatnya, ia kembali bersemangat.

“Yo … m-ain.” Pujiara membalik badan menjadi telungkup, menekan lutut ke kasur untuk menopang berat tubuh agar bisa terduduk.

Bayi pintar itu merangkak mendekati tepian, melangkahi kaki ayahnya yang tidak terganggu.

Pujiara masih terlalu kecil untuk memahami apa itu bahaya. Tangan kanannya terulur melewati ranjang kayu jati, membuat keseimbangan tubuh goyah.

Huuuaaaaa ….

Lengkingan tangis bayi berbadan sehat, akhirnya membangunkan kedua orangtuanya.

“Ara!” Galih menggelengkan kepala guna mengusir rasa pusing mendera. Dia baru tertidur sebentar, sebab tadi melakukan kegiatan bercinta dengan istrinya.

“Pujiara, Nak!” Hamima meraba kasur bagian tengah, belum sepenuhnya tersadar.

“Astaga, Nak!” Galih shock, dadanya ikut nyeri menyaksikan putrinya tersungkur di atas lantai.

Pujiara segera digendong, ditenangkan, tetapi tangisnya masih belum reda.

“Bawa kesini, Mas. Biar aku susui,” pinta Hamima yang juga cemas luar biasa.

Keningnya mengerut dengan mimik wajah mengetat merasakan kesakitan putrinya, meski tempat tidur tidak terlalu tinggi, tetap saja menyebabkan sakit teruntuk bayi belum genap satu tahun umurnya. “Ibu tiup-tiup yang sakitnya, ya … biar cepat sembuh.”

Ara masih menangis, tetapi tidak sekencang tadi. Dia tengah menyusu dengan wajah memerah, basah oleh air mata serta keringat.

“Kok dia bisa jatuh, ya?” tanya Galih sambil mengusap-usap kepala putrinya dalam bopongan sang istri.

Hamima tidak menemukan jawaban akurat. Ia tatap miris bagian kening dekat pelipis mulai membengkak dan memar. “Ambilkan salep di atas lemari kecil samping tempat tidurmu, Mas.”

Galih pun mengambil obat oles yang selalu tersedia. Sangat berguna mengempeskan bengkak, dan menghilangkan memar.

Pujiara merengek kala lukanya diolesi obat. Sepasang bola mata jernih menatap sang ibu, seakan tengah bercerita tentang apa yang baru saja dilihatnya.

Tangan kiri Pujiara terangkat ke atas, dan Mima mengikuti arah gerakan pelan itu.

“Apa yang dilihat Ara tadi, sepertinya dia mau ngasih tau ke kita, Mas.”

“Gak ada apa-apa di plafon selain lampu. Mungkin dia lihat Cicak merayap lalu jatuh ke lantai, makanya antusias mau nangkap,” analisanya terdengar masuk akal.

“Adek lihat Cicak ya?” Mima menunduk, mengelap air mata baru saja membasahi pipi kenyal putrinya.

Sayangnya, Pujiara belum memahami bagaimana caranya berkomunikasi, mengungkapkan apa yang dirasakan.

“Mas, coba kamu periksa Guntur! Aku takut dia gak berani tidur sendirian, tetapi dipaksakan buat berani,” ia teringat putra sulungnya.

Galih bergegas turun dari ranjang, melangkah sedikit tergesa, lalu membuka pintu kamar.

“Guntur! Nak!” Badannya langsung lemas, gelombang kejut menghantam kuat.

Ayah dari dua orang anak itu berjongkok, meluruskan tubuh putranya yang meringkuk. Ditepuk-tepuknya pipi dingin remaja senantiasa menutup rapat matanya.

“Guntur!” Mima terperanjat. Ia menggendong Ara, berdiri di ambang pintu. “Bopong bawa masuk kedalam kamar, Mas!”

Suara tajam istrinya, bak cambuk yang langsung menyadarkannya dari kebingungan.

Guntur dibopong, dibawah ke kamar, lalu dibaringkan di atas seprei kusut.

Hamima melangkah keluar, berdiri di depan kamar. Pandangannya lurus ke depan, lalu perlahan memutar badan guna menatap keseluruhan rumah megah ini.

‘Semoga cuma perasaanku saja? Ya Tuhan, tolong lindungi keluarga kecil kami,’ batinnya melangitkan doa, meminta perlindungan kepada Yang Maha Kuasa.

Tidak ada sesuatu mencurigakan seperti; benda bergerak, suara-suara aneh. Lalu, Hamima masuk lagi ke dalam kamar, menutup rapat pintunya.

Mata yang terpejam mulai mengerjap. Guntur tersadar sesaat setelah ayahnya mengolesi hidung, pelipis, menggunakan minyak kayu putih milik Pujiara.

“Aku mau pulang, Bu. Ayo kita pergi dari sini!” ketakutan itu masih merajai hati sampai badannya kembali gemetaran.

“Kenapa disini, Guntur? Kamu tadi lihat apa? Kok bisa tertidur di atas lantai, Nak?” cecar Hamima.

Galih membantu putranya duduk, tetapi Guntur malah langsung memeluk lehernya, menyembunyikan wajah di bahu sang ayah.

“Bilang ada apa, Guntur?” Galih mencoba menenangkan dengan cara mengusap sayang punggung anak pertamanya.

Hamima sabar menanti jawaban, meski hatinya sulit mengelola perasaan mulai berkecamuk. Ia dan suami duduk di tepi ranjang.

“Aku lihat — hantu. Kakinya berdarah-darah, terus bajunya berlumpur dan baunya busuk. Dia —”

“Cukup, Guntur! Kamu itu cuma mimpi. Ayah kan sudah sering memperingatkan, sebelum tidur wajib baca doa dulu!” Galih memotong kalimat remaja yang langsung terdiam.

Guntur turun dari pangkuan ayahnya. Dia mundur sampai pada tempat lebih luas, membaringkan badan, menutupi wajah menggunakan bantal.

Hamima ingin protes, tetapi sadar jika melakukan hal tersebut di depan anak-anak, maka akan menurunkan wibawa sang suami.

“Aku gak bohong! Bahkan suaranya sama seperti dalam mimpiku!”

.

.

Bersambung.

1
Bunda'Nya Reihan Kusnadi
kerennnn
mamaqe
duuuhhhh...apaan lagi siihh ...ni otor suka betul bikin mamaq tegang
Deris Alrasyid
Mudah"n ada yg menolong mima ya
Jangan sampai mima di sentuh lagi
AFPA
haduuh mima..kamu mau dininaninu mahluk astral..sadar mimaaa
Secret Admire
semoga Mima gapapa 🥹
Secret Admire
Suka gaya membangkangnya Mima sama Galih😄 lanjutkan Mima🥰
Secret Admire
penyelidikan Mima seperti ini mengingatkan sama Helyara yang menyelidiki SiAlan 🤭
AFPA
Haisssssshhhhj...digantung pas lagi enak² nya itu..syengsyaraaaa....ga enak... ka cublik...
Betri Betmawati
jangan itu jin si Geneng yg membuat Mima hamil
apa Mima mau di gauli lgi Mima sadar kamu yg gmn ini
mmh nengmuti
mbah nar,Rosna tolongin Mima tkt ada yg berbuat jahat
lyani
sintiya kok jadi Sinta
neni nuraeni
aduuhh apa itu ayu beneran atau anteknya si Geneng mahkluk edan,,, lnjutt
sryharty
mimaaaa apakah kamu mau di hamili lagi sama itu iblis,,semoga ada yg menolong kamu mima
Eli Rahma
jangan² iya mim..
Eli Rahma
adduuhhh ..gimana nih jgn sampe deh mima ditiduri lg sama makhluknya geneng..siapapun tolong mima...
kak cublik..tolongin mima dooong...😁
Engkar Sukarsih
hati" Mima....ayo cepetan bangun,jangan sampai kamu ketiduran mima🥰🥰🥰
Ayani Lombokutara
dokter datang bantu mima dong
☠ᵏᵋᶜᶟ Қiᷠnꙷaͣŋͥ⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔✰͜͡v᭄
waduh aq mah selalu deg degan loh baca nya takut Mima kenapa2 ...
myPuspa
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
myPuspa
hadeuh...digantung pas seru2 ne karo kk Cublik...😄😄😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!