Alya Anindita hanya ingin mendapatkan pekerjaan yang layak dan membantu keluarganya. Bekerja sebagai asisten eksekutif di perusahaan besar adalah kesempatan yang tidak boleh ia sia-siakan.
Namun, ia tidak pernah menyangka bahwa atasannya sendiri akan menjadi orang yang perlahan mengacaukan batas antara profesional dan perasaan.
Raka Mahendra adalah direktur yang dikenal dingin, tegas, dan sulit didekati. Tidak ada yang berani bermain-main dengannya, apalagi mencoba masuk ke kehidupan pribadinya.
Namun, bagaimana jika hati tidak pernah mau mengikuti aturan?
Karena terkadang...
cinta datang kepada orang yang salah, di waktu yang salah, tetapi terasa begitu nyata
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gek_Nia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ENAM BULAN TANPA KAMU
Alya tidak langsung memberikan jawaban.
Surat penawaran program pengembangan manajemen itu masih berada di dalam tasnya ketika dia pulang malam itu.
Enam bulan.
Jakarta.
Enam bulan untuk belajar.
Enam bulan untuk membangun karier.
Enam bulan jauh dari rumah.
Dan enam bulan jauh dari Raka.
Alya duduk di tepi tempat tidur sambil membaca surat tersebut sekali lagi.
Kesempatan seperti ini tidak datang dua kali.
Jika dia menolak, mungkin dia akan menyesal.
Tetapi jika dia menerima…
dia tidak tahu apa yang akan terjadi dengan hubungan yang bahkan belum sempat menjadi hubungan.
Ponselnya berbunyi.
Pesan dari Raka.
Sudah sampai?
Alya tersenyum kecil.
Sudah.
Beberapa detik kemudian:
Surat tadi sudah kamu pikirkan?
Alya mengetik:
Sedang saya pikirkan.
Raka:
Jangan memilih karena saya.
Alya membaca pesan itu lama.
Kemudian membalas:
Saya tahu.
Raka:
Kalau kesempatan itu bagus untukmu, ambil.
Alya:
Kalau saya pergi, Bapak tidak akan berubah pikiran?
Lama tidak ada balasan.
Kemudian:
Tidak.
Alya menunggu.
Pesan berikutnya muncul.
Saya mungkin akan merindukanmu. Tapi saya tidak akan meminta kamu mengorbankan masa depanmu untuk saya.
Alya terdiam.
Matanya mulai berkaca-kaca.
Untuk pertama kalinya dia menyadari—
Raka benar-benar berbeda dari yang dia kira.
Dia tidak mencoba menahannya.
Tidak menggunakan jabatan.
Tidak memanfaatkan perasaan Alya.
Justru membiarkannya memilih.
Alya tersenyum.
Terima kasih, Pak.
Raka:
Jangan panggil saya Pak malam ini.
Alya tertawa kecil.
Baik, Raka.
Tidak ada balasan lagi.
Namun Alya tahu—
pria itu pasti tersenyum membaca pesannya.
KEESOKAN PAGI
Alya datang lebih awal.
Dia membawa surat tersebut.
Pukul 08.10, dia mengetuk pintu ruang Raka.
“Masuk.”
Alya membuka pintu.
Raka sedang berdiri di dekat jendela.
“Duduk.”
Alya duduk.
Raka melihatnya.
“Sudah memutuskan?”
Alya mengangguk.
“Sudah.”
“Dan?”
Alya tersenyum.
“Saya ambil.”
Raka terdiam.
Kemudian tersenyum.
“Bagus.”
Alya menatapnya.
“Bapak tidak sedih?”
“Sedih.”
Jawabannya terlalu jujur.
Alya terdiam.
“Tapi saya lebih senang melihat kamu berkembang.”
Alya menunduk.
“Terima kasih.”
Raka duduk.
“Kapan berangkat?”
“Tiga minggu lagi.”
Raka mengangguk.
“Masih cukup waktu untuk handover.”
Alya tertawa kecil.
“Bapak langsung memikirkan pekerjaan.”
“Harus.”
“Padahal saya kira Bapak akan bilang sesuatu yang lebih…”
Dia berhenti.
“Lebih apa?”
“Tidak ada.”
Raka tersenyum.
“Kamu berharap saya bilang apa?”
Alya menatapnya.
“Tidak tahu.”
Raka berdiri.
Kemudian berjalan mendekat.
Dia berhenti beberapa langkah di depan Alya.
“Saya akan bilang sesuatu.”
Alya menunggu.
“Jangan berubah.”
Alya mengerutkan kening.
“Kenapa?”
“Karena saya suka kamu yang sekarang.”
Jantung Alya langsung berdebar.
Raka melanjutkan,
“Jangan karena bertemu banyak orang baru, kamu lupa bahwa ada seseorang di Bali yang menunggumu pulang.”
Alya terdiam.
“Raka…”
“Hm?”
“Itu terdengar seperti…”
“Seperti apa?”
“Seperti pengakuan.”
Raka tersenyum.
“Mungkin memang.”
Alya tertawa kecil.
“Bapak…”
Raka mengangkat alis.
“Raka.”
Alya mengoreksi.
“Raka.”
“Bagus.”
TIGA MINGGU BERIKUTNYA
Waktu berlalu terlalu cepat.
Alya mulai melakukan handover.
Semua dokumen disusun.
Semua jadwal dijelaskan.
Semua pekerjaan yang sebelumnya dia pegang mulai dialihkan kepada staf lain.
Raka tidak pernah mengatakan apa-apa.
Dia tetap profesional.
Namun Alya bisa merasakan perubahan kecil.
Raka semakin sering berada di area Executive Office.
Kadang hanya bertanya sesuatu yang sebenarnya bisa ditanyakan lewat email.
Kadang membawa kopi.
Kadang berdiri beberapa menit di meja Alya tanpa alasan jelas.
Suatu sore Alya akhirnya berkata,
“Raka.”
“Hm?”
“Bapak sengaja datang ke sini?”
“Tidak.”
“Terus?”
“Lewat.”
“Lima kali sehari?”
Raka terdiam.
Alya tertawa.
“Kangen?”
“Belum pergi saja sudah kangen.”
Alya langsung diam.
Raka sendiri tampak terkejut dengan kalimatnya.
Alya tersenyum.
“Berarti enam bulan nanti bagaimana?”
Raka menjawab,
“Sulit.”
Alya menatapnya.
“Jujur sekali.”
“Saya sudah capek berbohong.”
Alya tertawa.
SATU MINGGU SEBELUM KEBERANGKATAN
Mereka bertengkar.
Bukan pertengkaran besar.
Tetapi cukup untuk membuat suasana kantor tegang.
Alya sedang menyiapkan laporan ketika Raka datang.
“Kamu belum selesai?”
“Belum.”
“Kenapa?”
“Karena banyak revisi.”
“Bisa lebih cepat?”
Alya mengangkat wajah.
“Bisa kalau tidak ada tambahan pekerjaan terus.”
Raka diam.
“Apa maksudmu?”
“Tidak ada.”
“Katakan.”
Alya akhirnya berdiri.
“Saya mau menyelesaikan semua handover sebelum berangkat.”
“Saya tahu.”
“Tapi setiap hari Bapak meminta saya mengurus hal baru.”
“Itu pekerjaan.”
“Saya tahu.”
“Lalu?”
Alya menghela napas.
“Bapak harus mulai terbiasa saya tidak selalu bisa membantu.”
Raka terdiam.
Kalimat itu mengenai dirinya.
“Baik.”
Dia berbalik.
Alya memandang punggungnya.
“Raka.”
Dia berhenti.
Alya menghela napas.
“Maaf.”
Raka tidak menoleh.
“Tidak apa-apa.”
Dia pergi.
Alya duduk kembali.
Entah kenapa pertengkaran kecil itu membuatnya sedih.
Mungkin karena waktunya semakin sedikit.
MALAM
Pukul 21.00.
Ponsel Alya berbunyi.
Raka.
Masih marah?
Alya tersenyum.
Tidak.
Saya minta maaf.
Saya juga.
Beberapa detik kemudian:
Besok makan siang bersama.
Alya:
Perintah atasan?
Raka:
Permintaan seseorang yang akan kehilangan teman bertengkar.
Alya tertawa.
Baik.
MAKAN SIANG TERAKHIR SEBELUM PERGI
Besoknya mereka pergi ke restoran yang dulu pernah mereka datangi.
Tempat yang sama.
Meja yang hampir sama.
Alya membuka menu.
“Bapak mau apa?”
“Seperti biasa.”
Alya tersenyum.
“Masih saja.”
“Kenapa?”
“Tidak berubah.”
Raka menatapnya.
“Tidak semua hal harus berubah.”
Alya terdiam.
Makanan datang.
Mereka makan sambil berbicara tentang hal-hal sederhana.
Tentang Jakarta.
Tentang tempat tinggal Alya.
Tentang pekerjaannya nanti.
Kemudian Raka bertanya,
“Kamu takut?”
“Sedikit.”
“Kenapa?”
“Belum pernah tinggal sendiri selama itu.”
Raka mengangguk.
“Kalau ada masalah?”
“Saya bisa menghubungi keluarga.”
“Dan?”
Alya tersenyum.
“Bisa menghubungi Bapak?”
Raka menatapnya.
“Bisa.”
“Walaupun sedang sibuk?”
“Bisa.”
“Walaupun tengah malam?”
Raka diam sebentar.
“Kalau kamu butuh.”
Alya tersenyum.
“Baik.”
Mereka kembali makan.
Namun suasananya terasa semakin emosional.
SETELAH MAKAN
Mereka berjalan keluar.
Alya berhenti di depan restoran.
“Raka.”
“Hm?”
“Kalau saya pulang nanti…”
“Ya?”
“Apakah semuanya akan tetap sama?”
Raka menatapnya.
“Tidak.”
Alya terdiam.
“Kenapa?”
“Karena enam bulan bisa mengubah banyak hal.”
Alya menunduk.
Raka kemudian berkata,
“Tapi saya berharap satu hal tidak berubah.”
“Apa?”
“Perasaan kita.”
Alya menatapnya.
“Kalau berubah?”
Raka tersenyum tipis.
“Berarti kita harus menerima.”
Alya mengangguk.
Namun matanya berkaca-kaca.
Raka melihatnya.
“Jangan menangis.”
“Saya tidak menangis.”
“Matamu merah.”
“Karena panas.”
Raka tertawa kecil.
“Kamu masih suka berbohong.”
Alya ikut tertawa.
DUA HARI SEBELUM BERANGKAT
Masalah datang.
HR mengumumkan bahwa program Alya mengalami perubahan.
Peserta tidak hanya akan ditempatkan di Jakarta.
Beberapa peserta terbaik akan mendapatkan kesempatan memperpanjang program hingga satu tahun.
Alya membaca email tersebut.
Satu tahun.
Bukan enam bulan.
Artinya kemungkinan dia tidak kembali sesuai jadwal awal.
Dia langsung menuju ruang Raka.
“Raka.”
Raka mengangkat wajah.
“Ada apa?”
Alya menyerahkan ponsel.
“Baca.”
Raka membaca.
Wajahnya berubah.
“Kamu mau?”
Alya diam.
“Saya belum tahu.”
“Kenapa?”
“Karena satu tahun.”
Raka menatapnya.
“Ini kesempatan bagus.”
“Tapi…”
“Alya.”
Dia mengangkat wajah.
“Kalau kamu mendapat kesempatan itu, ambil.”
Alya menahan napas.
“Sekali lagi Bapak menyuruh saya pergi.”
“Saya menyuruh kamu mengejar masa depan.”
“Dan kita?”
Raka terdiam.
Alya akhirnya berkata,
“Bapak selalu bilang saya harus memilih yang terbaik.”
“Iya.”
“Bagaimana kalau yang terbaik untuk saya bukan cuma pekerjaan?”
Raka menatapnya.
“Alya…”
“Saya juga ingin memikirkan kita.”
Raka terdiam.
Alya menarik napas.
“Kalau saya pergi satu tahun, apa Bapak masih mau menunggu?”
Raka tidak menjawab cepat.
Dia berjalan mendekat.
Kemudian berkata,
“Saya tidak tahu apa yang terjadi satu tahun dari sekarang.”
Alya menunduk.
“Tapi saya tahu apa yang saya rasakan sekarang.”
Alya mengangkat wajah.
“Saya tidak ingin kehilangan kamu.”
Mata Alya mulai berkaca-kaca.
Raka melanjutkan,
“Kalau kamu pergi, saya akan tetap di sini.”
“Kalau kamu pulang, saya akan tetap menyambutmu.”
“Dan kalau setelah satu tahun kamu masih merasa hal yang sama…”
Dia berhenti.
Alya menunggu.
“Datang temui saya.”
Alya tersenyum di tengah air mata.
“Lalu?”
Raka menatapnya.
“Lalu kita berhenti menjadi bos dan asisten.”
Jantung Alya berdebar.
“Dan menjadi apa?”
Raka tersenyum kecil.
“Itu baru kita putuskan.”
HARI KEBERANGKATAN
Bandara ramai.
Alya berdiri dengan koper di sampingnya.
Ibunya sudah berpamitan.
Keluarganya menunggu sampai dia masuk.
Namun ada satu orang yang berdiri sedikit jauh.
Raka.
Dia tidak datang sebagai direktur.
Tidak membawa staf.
Tidak membawa urusan pekerjaan.
Hanya datang sendiri.
Alya berjalan mendekat.
“Kamu datang.”
Raka mengangguk.
“Saya bilang akan mengantar.”
“Bapak tidak perlu.”
“Saya tahu.”
Alya tersenyum.
Mereka berdiri berhadapan.
Untuk beberapa detik, tidak ada yang bicara.
Kemudian Raka menyerahkan sesuatu.
Sebuah kotak kecil.
Alya membukanya.
Sebuah pulpen.
Sederhana.
Elegan.
Alya tersenyum.
“Untuk apa?”
“Untuk mencatat semua yang kamu capai.”
Alya menggenggamnya.
“Terima kasih.”
“Dan satu lagi.”
“Apa?”
“Jangan lupa pulang.”
Alya menatapnya.
“Kalau saya pulang terlambat?”
Raka tersenyum.
“Saya tunggu.”
Pengumuman keberangkatan terdengar.
Alya harus pergi.
Dia menarik koper.
Kemudian berhenti.
“Raka.”
“Hm?”
“Jangan berubah.”
Raka tersenyum.
“Kamu juga.”
Alya mengangguk.
Dia berjalan beberapa langkah.
Kemudian menoleh.
Raka masih berdiri di tempat yang sama.
Alya tersenyum.
“Jaga diri.”
“Kamu juga.”
Alya akhirnya pergi.
Raka berdiri sampai sosok Alya menghilang di balik pintu pemeriksaan.
Baru saat itu dia menghela napas panjang.
Enam bulan.
Mungkin satu tahun.
Tidak ada kepastian.
Tetapi untuk pertama kalinya, mereka tidak lagi bersembunyi dari perasaan masing-masing.
Mereka hanya harus menunggu.
TIGA BULAN KEMUDIAN
Jakarta.
Alya berdiri di depan gedung kantor pusat.
Banyak hal telah berubah.
Dia semakin percaya diri.
Pekerjaannya berkembang.
Namanya mulai dikenal.
Dia bahkan mendapat tawaran untuk memperpanjang program.
Namun setiap malam, ada satu hal yang tidak berubah.
Panggilan dari Raka.
Tidak selalu lama.
Kadang hanya lima menit.
Kadang hanya pesan.
Sudah makan?
Jangan pulang terlalu malam.
Hari ini bagaimana?
Dan Alya selalu membalas.
Hubungan mereka tidak memiliki nama.
Tetapi terasa lebih nyata daripada hubungan yang memiliki status.
Mereka saling menunggu.
Saling menjaga.
Saling memberi ruang.
Sampai suatu malam—
Alya menerima email resmi dari perusahaan.
Program enam bulan selesai lebih cepat.
Peserta diberikan pilihan untuk kembali ke cabang asal…
atau menerima kontrak permanen di Jakarta.
Alya membaca email itu berkali-kali.
Kemudian membuka kontak Raka.
Jarinya berhenti di atas tombol panggilan.
Untuk pertama kalinya setelah tiga bulan—
Alya tahu.
Dia harus membuat keputusan.
Bukan tentang karier.
Bukan tentang perusahaan.
Tetapi tentang hidupnya.
Dan sebelum dia menekan tombol panggilan, sebuah pesan masuk dari Raka.
Alya, saya perlu bicara denganmu.
Alya mengerutkan kening.
Pesan berikutnya masuk.
Ada sesuatu yang harus kamu tahu sebelum memutuskan pulang.
Alya menatap layar.
Jantungnya mulai berdebar.
Karena untuk pertama kalinya selama tiga bulan—
nada pesan Raka terasa berbeda.
Serius.
Dan Alya belum tahu bahwa di Bali, sesuatu telah terjadi di perusahaan.
Sesuatu yang akan membuat hubungan mereka jauh lebih sulit daripada sebelumnya.