Reyga membenci aturan ayahnya. Berry membenci cinta karena perceraian orang tuanya.
Keduanya memilih hidup bebas dengan cara masing-masing—sampai mereka menyelamatkan seorang bayi berusia sembilan bulan dari penculikan.
Tak tahu siapa orang tua bayi itu, Reyga dan Berry terpaksa merawatnya bersama.
Dua lelaki yang bahkan tak tahu cara mengganti popok itu perlahan belajar tentang tanggung jawab, pengorbanan, dan perjuangan seorang ibu.
Di saat Reyga mulai jatuh cinta pada Amelia, reporter muda yang selama ini selalu ia hindari, Berry justru dihantui masa lalu bersama Melda—perempuan polos yang pernah ia sakiti hingga harus menghadapi kehamilannya seorang diri.
Namun ketika identitas bayi mulai terungkap, mereka sadar bahwa penculikan itu bukan kebetulan.
Bayi kecil yang awalnya mereka anggap sebagai beban ternyata menjadi jalan bagi dua lelaki yang terluka untuk menemukan cinta, keluarga, dan kesempatan kedua.
Bila suka ceritanya, jangan lupa subscribe, like, komentar & votenya ❤
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yeni Sri Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20 : KETIKA KEHILANGAN MULAI TERASA
...BAB 20...
...KETIKA KEHILANGAN MULAI TERASA...
Tidak lama kemudian Melda keluar dari ruang periksa. Wajahnya masih pucat. Di tangannya terdapat beberapa lembar hasil pemeriksaan.
Begitu melihat Berry yang berdiri di depannya, langkahnya terhenti.
Wajahnya langsung berubah dingin. Namun ia tidak mengatakan apa-apa. Melda berjalan melewatinya. Seolah tak melihat pria itu.
"Melda."
Tidak ada jawaban.
"Melda, tunggu."
Perempuan itu berhenti. Kemudian menoleh."Ada apa?"
Berry mendekat. "Kamu kenapa ada di sini?"
"Periksa."
"Karena hamil?"
Melda terdiam. Berry menatap perutnya yang mulai terlihat. "Usianya lima bulan?"
Melda menggenggam kertas di tangannya. "Ya."
"Anak kita?"
Melda menatap Berry. Mata perempuan itu mulai berkaca-kaca. Namun ia segera memalingkan wajah. "Kamu sudah tahu jawabannya."
Berry menarik napas dalam. "Kenapa kamu nggak memberitahuku lagi?"
Melda tertawa pahit. "Aku sudah pernah memberitahumu."
Berry terdiam.
"Dan kamu tidak mau menjawab. Aku... Aku menunggumu." Suara Melda bergetar. "Tapi kamu memilih diam seolah tak peduli..."
Berry menundukkan kepala. "Aku salah."
Melda mengusap sudut matanya. "Aku nggak butuh permintaan maafmu."
Berry mengeluarkan dompet. "Kalau begitu setidaknya ambil ini." sahutnya, menyodorkan beberapa lembar uang.
Melda menatapnya. Kemudian menggeleng. "Aku nggak mau."
"Melda, ini untuk kebutuhanmu."
"Aku bisa mengurusnya sendiri."
"Kamu sedang hamil."
"Aku tahu."
"Dan dokter bilang kamu harus istirahat."
"Aku juga tahu."
Berry semakin frustrasi. "Aku cuma ingin membantumu." Berry menarik tangan Melda dan meletakkan beberapa lembaran uang di atas telapak tangannya. "Ambil ini dulu."
Melda terdiam menatap uang itu, di perkirakan mungkin kurang-lebih tiga juta. Untuk sesaat Berry mengira ia akan menerimanya. "Nanti jika kurang, aku akan transfer lagi.. "
Namun Melda justru mengembalikan uang tersebut kembali ke tangan Berry.
"Aku tidak ingin uangmu."
"Melda..."
"Kalau kamu memang merasa bersalah, jangan kasih aku uang."
Berry terdiam. "Terus aku harus bagaimana?"
Melda menatapnya cukup lama. "Jangan menghilang lagi."
Kalimat itu sederhana. Namun menghantam Berry lebih keras daripada apa pun.
Melda kemudian pergi.
Berry hanya bisa berdiri memandanginya. Tangannya masih menggenggam uang yang dikembalikan.
Tiga juta rupiah.
Jumlah yang sebenarnya tidak berarti apa-apa baginya.
Namun anehnya, uang itu terasa jauh lebih berat daripada apa pun yang pernah ia pegang.
Karena untuk pertama kalinya Berry sadar. Melda tidak membutuhkan uangnya. Yang selama ini dibutuhkan perempuan itu mungkin hanya dirinya.
Dan justru itu yang tidak pernah ia berikan. Berry menatap pintu keluar rumah sakit.
"Melda..."
Untuk beberapa detik ia ingin mengejar. Namun langkahnya terhenti. Ia tidak tahu harus berkata apa.
Apakah ia berhak memaksa perempuan itu mendengarkan penjelasannya? Setelah dirinya menghilang ketika Melda membutuhkan jawaban?
Tidak. Berry mengusap wajah. "Aku memang brengsek."
Di dalam taksi yang membawanya pulang, Melda duduk diam. Tangannya perlahan menyentuh perutnya. Bayi di dalam kandungannya bergerak kecil.
Melda tersenyum tipis. "Kamu jangan khawatir." Matanya berkaca-kaca. "Kita bisa sendiri."
Ia mengingat wajah Berry tadi. Dulu, wajah itu pernah membuatnya merasa aman. Sekarang justru membuat dadanya sesak.
Melda memejamkan mata. Ia masih mencintai Berry. Itulah masalahnya.
Kalau dirinya sudah tidak memiliki perasaan, mungkin semuanya akan jauh lebih mudah. Tetapi Melda tidak ingin kembali terjebak.
Ia tidak ingin sekali lagi berharap. Tidak ingin menunggu pesan yang tidak pernah datang. Tidak ingin setiap malam bertanya-tanya apakah lelaki itu masih mengingatnya.
Dan yang paling tidak ingin ia lakukan adalah menerima Berry hanya karena lelaki itu baru mengetahui dirinya hamil.
"Anakku bukan alasan untuk membuatku kembali kepadamu."
Air mata Melda jatuh. Ia mengusapnya cepat.
"Kalau suatu hari kamu benar-benar menyesal..." Melda menatap keluar jendela. "Buktikanlah."
Sementara itu, Berry belum juga pulang. Ia masih berada di tempat parkir rumah sakit.
Ponselnya bergetar berkali-kali. Panggilan dari staf perusahaan. Pesan mengenai para pekerja yang sedang dirawat.
Namun untuk pertama kalinya, Berry tidak langsung memeriksa semuanya.
Pikirannya hanya tertuju pada Melda. Ia teringat wajah perempuan itu saat pertama kali mereka bertemu.
Melda yang selalu sopan. Melda yang mudah tersipu. Melda yang diam-diam tersenyum ketika Berry mengantarnya pulang.
Melda yang pernah bertanya dengan polos. "Jangan tinggalin aku, ya?"
Dan dirinya menjawab...
"Nggak akan."
Berry menutup mata. Dadanya terasa sakit.
Selama ini ia menganggap hubungannya dengan Melda hanyalah sesuatu yang terjadi begitu saja.
Namun kenapa sekarang ketika perempuan itu benar-benar pergi, ia merasa seperti kehilangan sesuatu yang sangat berharga?
Berry membuka galeri ponselnya. Tidak banyak foto. Tetapi ada satu foto lama.
Foto ketika Melda secara tidak sengaja tertangkap kamera saat sedang tertawa bersama beberapa teman magangnya.
Berry menatap foto itu lama. Senyumnya kecil. "Kenapa sekarang gue baru sadar?"
Ia mengusap wajah. Mungkin selama ini ia memang mencintai Melda. Hanya saja dirinya terlalu pengecut untuk mengakuinya.
*****
Beberapa hari berlalu sejak pertemuan Amelia dan Reyga di kafe.
Sudah beberapa hari juga Amelia berusaha mendapatkan kesempatan untuk mewawancarai Alessia.
Namun hasilnya masih sama. Belum ada waktu.
Alessia masih sibuk dengan jadwal kuliahnya di universitas ternama. Tugas, kegiatan kampus, dan berbagai urusan lainnya membuat jadwal gadis itu sulit dicocokkan dengan Amelia.
Pagi itu Amelia kembali menerima pesan dari orang yang mengatur jadwal Alessia.
Maaf, Kak. Alessia belum bisa diwawancarai dalam waktu dekat.
Amelia menghela napas. "Belum bisa lagi..." Ia meletakkan ponsel di meja.
Sebenarnya Amelia tidak terlalu kecewa. Ia justru merasa sedikit lega karena tidak harus berhadapan langsung dengan gadis yang belakangan ini namanya sering muncul diperbincangkan bersama Reyga.
Namun Amelia buru-buru menegur dirinya sendiri. "Kenapa aku malah lega?" Ia menggeleng. "Itu kan cuma urusan pekerjaan."
Amelia kembali sibuk dengan pekerjaannya.
*****
Sementara di tempat lain, seseorang sedang menatap layar ponsel dengan senyum lebar.
Alessia.
Hari itu hari Sabtu. Dan Alessia sedang mempersiapkan pesta kecil bersama teman-temannya.
Namun ada satu orang yang ingin sekali ia lihat malam ini.
Reyga.
Jarinya mengetik sebuah pesan.
Alessia : Reyga, malam ini kamu datang ke party-ku, ya?
Di Apartemen Berry. Reyga yang sedang menemani Bintang bermain di ruang TV. Tiba-tiba ponselnya berdenting. Reyga mengambil ponselnya dan membaca pesan itu sebentar.
Kemudian mengetik.
Reyga : Maaf, aku nggak bisa.
Tidak sampai satu menit, balasan masuk.
Alessia : Kenapa?
Reyga : Aku ada urusan.
Alessia : Urusan apa?
Reyga menghela napas. Ia sebenarnya tidak memiliki urusan khusus. Masalahnya hanya satu. Dirinya tidak terlalu tertarik datang ke pesta. Belum lagi ia masih harus menjaga Bintang.
Reyga : Aku memang nggak terlalu suka pesta.
Alessia mengirim emotikon kecewa.
Alessia : Tapi aku ingin kamu datang.
Reyga diam dan belum membalas. Pesan berikutnya masuk lagi beruntun.
Alessia : Tolong ya...
Alessia : Cuma sebentar.
Alessia : Aku sudah menyiapkan sesuatu untukmu.
Reyga mengerutkan kening. Ia tidak tahu apa yang dimaksud gadis itu.
Beberapa detik kemudian pesan kembali masuk.
Alessia : Jangan tega menolak aku terus.
Reyga mengusap wajah. Alessia memang gadis yang berbeda dari perempuan-perempuan yang pernah mendekatinya.
Gadis itu terlalu manja. Terus terang. Dan tidak malu menunjukkan ketertarikannya.
Namun Reyga sendiri tidak memiliki perasaan yang sama. Ia hanya menghargai Alessa.
Terutama karena gadis itu dan keluarganya telah memberikan hadiah besar dalam pertandingan yang baru saja dimenangkannya.
Kalau bukan karena itu, mungkin Reyga tidak akan terlalu memikirkan ajakan tersebut.
Reyga : Ya sudah, aku datang.
Balasan Alessia langsung muncul.
Alessia : Benarkah?!
Reyga : Iya.
Alessia : Aku tunggu! Jangan terlambat!
Reyga meletakkan ponselnya. "Ribet."
Bintang menatapnya. "Lo jangan ikut."
Bintang malah tertawa. Reyga menghela napas. Masalahnya sekarang, kalau Reyga pergi ke pesta Alessia nanti, siapa yang akan menjaga Bintang? Tidak mungkin Reyga membawa Bintang. Dan juga nanti akan jadi banyak pertanyaan. Bayi siapa yang Reyga bawa?
Bersambung...
BERRY DAN MELDA
REYGA DAN AMELIA