NovelToon NovelToon
Young Master Vincentes

Young Master Vincentes

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Penyelamat / Romansa Fantasi
Popularitas:125
Nilai: 5
Nama Author: Apin Zen

Di wilayah Ragonves, sebuah wilayah besar di barat Kerajaan Dirvente, dua keluarga bangsawan paling berpengaruh telah terikat dalam permusuhan selama ratusan tahun. Keluarga Vincentes dan Keluarga Sienta saling menumpahkan darah demi harga diri, kekuasaan, dan dendam yang tak pernah padam.

Demi mengakhiri konflik yang berkepanjangan, kedua keluarga akhirnya menyepakati sebuah perjanjian damai. Sebagai simbol perdamaian, Grey Vincentes, pewaris Keluarga Vincentes, dipertunangkan dengan Keilla Sienta, putri kebanggaan Keluarga Sienta.

Bagi Grey, pertunangan itu adalah impian yang telah lama ia perjuangkan. Ia mencintai Keilla dan percaya bahwa hubungan mereka dapat menghapus kebencian kedua keluarga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Apin Zen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kabar dari Wilayah Luar

Di dalam gedung teater, suasana terasa sunyi dan canggung. Lampu-lampu panggung menyala redup, menciptakan bayangan panjang yang menari di dinding-dinding tua. Di atas panggung, tiga sosok duduk dengan jarak yang saling berjauhan, masing-masing tenggelam dalam pikirannya sendiri.

Vega Arcsein duduk di kursi sutradara dengan kaki disilangkan, matanya menatap kosong ke arah panggung yang kosong. Jari-jarinya mengetuk-ngetuk sandaran kursi, menandakan pikirannya sedang bekerja keras.

Barteil Aerhas duduk di sudut panggung dengan buku naskah di tangannya, tetapi matanya tidak fokus pada tulisan. Ia tersenyum sendiri, membayangkan sosok gadis pirang yang diam-diam ia kagumi.

Angel Ranvell duduk di kursi penonton, matanya tajam menatap ke arah pintu masuk. Wajahnya cantik, tetapi di balik kecantikannya ada api kecemburuan yang membara.

"Tuan Muda Grey pasti bersama Ressa," pikir Angel, bibirnya mengerucut kesal. "Aku harus menyingkirkan Ressa agar tidak dekat dengan Tuan Muda Grey lagi."

Ia menggenggam erat ujung gaunnya, matanya menyipit.

"Entah mengapa, aku yakin Grey dan Ressa lebih sering bersama. Dan itu membuatku tidak suka. Aku juga mengejar Grey, meskipun aku tahu dia tunangan Keilla."

Angel mendengus pelan. "Ressa... kau hanya pelayan rendahan. Kau tidak pantas berada di dekatnya."

Di sudut lain, Barteil masih tersenyum sendiri.

"Semoga saja teater ini nantinya ditonton oleh Nona Clarisa," harapnya, hatinya berdebar-debar. "Jika dia melihat penampilanku sebagai raja yang gagah, mungkin dia akan terkesan padaku."

Ia merapikan kerah bajunya, membayangkan gadis pirang itu tersenyum padanya.

Sementara itu, Vega masih tenggelam dalam pikirannya.

"Hmm... Sepertinya aku harus lebih berani," rencananya, matanya berkilat. "Terutama membuat pria tua Kenta itu mengamuk saat aku menggoda istrinya. Jika keluarga Sienta pecah belah, maka tugas Grey akan lebih mudah."

Ia tersenyum puas.

"Tapi kurasa itu nanti saja. Aku harus fokus pada teater terlebih dulu. Grey dan Ressa akan segera datang, dan kita harus mempersiapkan segalanya."

Vega melupakan rencananya dan berusaha fokus pada latihan.

Suasana masih hening. Tak ada obrolan di antara mereka bertiga. Masing-masing sibuk dengan pikirannya sendiri.

Namun, tiba-tiba—

Bruk!

Suara langkah kaki tergesa-gesa terdengar dari luar. Pintu teater dibuka dengan keras, dan seorang pemuda dengan rambut acak-acakan masuk dengan napas tersengal-sengal. Wajahnya pucat, matanya membelalak ketakutan.

"G-gawat!" teriaknya, suaranya bergetar. "Ini gawat! Tuan Vega, Barteil, dan Angel... di wilayah luar Ragonves terjadi tragedi mengerikan!"

Vega langsung berdiri dari kursinya. Matanya menyipit tajam.

"Tragedi apa?" tanyanya cepat.

Pemuda itu berusaha mengatur napasnya, tangannya gemetar. "Menurut rumor... ratusan prajurit yang berjaga di perbatasan dibantai oleh seseorang dengan kejam! Tak hanya itu—anggota keluarga Sienta menjadi target utama dari pembunuh bayaran itu!"

Ruangan hening.

Barteil yang tadi tersenyum kini wajahnya memucat. Buku naskah jatuh dari tangannya.

"A-apa?" bisiknya, suaranya bergetar. "Prajurit dibantai? Keluarga Sienta jadi target?"

Angel juga berdiri, wajahnya pucat pasi. "Pembunuh bayaran? Siapa yang berani melakukan itu?"

Vega tidak menjawab. Ia menopang dagunya, berpikir keras.

"Ini bukan sebuah kebetulan," pikirnya, matanya menyipit. "Pasti ada sesuatu yang membuat penjagaan lengah... dan berakhir dengan kekalahan seperti ini."

Ia menatap pemuda itu dengan tatapan tajam. "Kau yakin ini benar?"

"Seratus persen! Berita sudah menyebar ke seluruh Ragonves!" jawab pemuda itu, wajahnya masih ketakutan.

Barteil yang mendengar itu langsung berdiri dengan gemetar.

"Bagaimana ini?" ucapnya panik. "Aku janji tidak akan mengejar Nona Clarisa lagi! Nyawaku lebih berharga daripada cinta! Aku tidak mau mati!"

Vega menepuk bahu Barteil dengan keras. "Tenang, jangan panik. Kita tidak boleh ikut campur atau kita juga akan diburu."

Angel mengangguk, wajahnya masih pucat. "Dia benar. Lebih baik kita diam dan tidak terlibat. Aku tidak mau mati sia-sia."

Vega mengangkat tangannya, menenangkan suasana.

"Kurasa kita tak perlu memikirkannya terlalu dalam," ucapnya, suaranya datar. "Kita fokus saja pada teater. Masalah itu biar kedua keluarga yang menanganinya."

Ia berbalik menghadap panggung, menyembunyikan ekspresinya.

"Aku tidak tertarik menghadapi pembunuh bayaran itu," pikirnya, hati-hati. "Bukan karena takut, tapi aku tahu bahwa jika aku menghadapinya, sama saja aku memasuki rencana lawan."

Matanya menyipit.

"Dan aku curiga... ada hubungannya dengan Grey."

Di luar, angin malam mulai berhembus kencang, membawa kabar buruk yang menyebar cepat seperti api.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!