Nara Ayuningtyas pernah mati setelah kehilangan segalanya.
Suaminya meninggal. Kedua putranya menyusul. Dan putri yang ia besarkan dengan segenap cinta justru mengaku bahwa semua itu berawal dari satu kejahatan: pertukaran bayi pada malam persalinan.
Ketika Nara membuka mata, ia kembali ke tahun 2006—tepat saat air ketubannya pecah di sebuah klinik bersalin yang gelap karena mati listrik. Di balik pintu, bidan yang ia percaya sedang menyiapkan dua gelang bayi yang sama.
Kali ini, Nara tidak akan terlambat.
Dengan bantuan seorang perawat yang ketakutan, ia berhasil memastikan Kirana, putri kandungnya, kembali ke pelukannya. Namun Siska, adik iparnya, tetap percaya pertukaran itu berhasil. Ia menunggu hari ketika “putrinya” tumbuh besar, kaya, dan bisa direbut kembali.
Sementara Nara membangun Cahaya Nara dari sudut dapur rumah cicilan hingga menembus panggung elite Jakarta, Raka Wiratama—suaminya yang dingin dan taat aturan—memilih berdiri di sisinya, lagi dan lagi. Bukan dengan menyalahgunakan seragamnya, melainkan dengan membuat kebenaran mendapat jalan.
Delapan belas tahun kemudian, Siska datang ke sebuah gala di Menteng membawa gelang lama dan hasil DNA.
Di depan kamera, ia menunjuk Kirana dan berteriak, “Dia putriku!”
Namun sebelum Nara menjawab, Maya—gadis yang selama ini dibesarkan Siska—melangkah ke atas panggung sambil membawa rekaman yang dapat menghancurkan kebohongan seluruh keluarga.
Malam itu, siapa yang sebenarnya akan kehilangan anaknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 30
Bab 30
Nama untuk Sebuah Mimpi
Sebulan setelah Bu Rini meninggalkan desa, Nara duduk di kantor notaris di Semarang.
Di atas meja terdapat beberapa pilihan nama usaha. Salma menyukai nama yang terdengar mahal. Arga menyarankan nama yang mudah dicetak dan diingat. Nara hanya menatap dua kata yang ia tulis sendiri.
Cahaya Nara.
“Terlalu memakai namaku?” tanyanya.
Salma menggeleng. “Cahaya bukan hanya nama orang. Itu juga yang kita buat.”
Raka membaca tulisan tersebut. “Kamu suka?”
“Aku ingin sesuatu yang mengingatkan bahwa usaha ini lahir ketika hidup terasa paling gelap.”
“Kalau begitu gunakan.”
Notaris menjelaskan bentuk usaha, tanggung jawab pengelola, modal yang dicatat, dan dokumen yang harus dilengkapi. Nara tidak hanya menandatangani. Ia bertanya siapa yang berwenang membuat kontrak, bagaimana perubahan kepemilikan dicatat, dan apa yang terjadi jika usaha memiliki utang.
Ia juga meminta agar hak atas desain, penggunaan nama, serta cara keluar dari kerja sama ditulis. Salma tidak ingin hubungan keluarga menjadi alasan semua keputusan hanya dibicarakan di dapur.
“Kalau suatu hari kita berbeda pendapat, dokumen ini melindungi persahabatan kita,” kata Salma.
Notaris menjelaskan mana yang dapat dimasukkan dalam dokumen pendirian dan mana yang memerlukan perjanjian terpisah. Mereka tidak mencampur keduanya. Jadwal pembagian hasil, gaji operasional, serta penggantian biaya ditulis dalam lampiran yang dapat diperiksa.
Salma akan menjadi pengelola operasional berdasarkan perjanjian kerja dan pembagian tugas yang tertulis. Arga tetap menjadi pemberi pembiayaan jangka pendek sesuai kontrak lama, bukan pemilik tersembunyi. Raka tidak dimasukkan sebagai pengendali hanya karena ia suami Nara.
“Harta keluarga tetap perlu dilindungi,” kata Raka. “Tapi usaha ini milik keputusanmu.”
Notaris menuliskan sumber modal awal dan meminta bukti setoran. Semua pihak menerima salinan setelah dokumen ditandatangani dan diberi nomor.
Perjalanan berikutnya adalah pengurusan pencatatan usaha dan nama merek. Petugas memeriksa apakah nama yang diajukan dapat digunakan. Nara menerima bukti permohonan, daftar kekurangan, serta tenggat melengkapi dokumen.
“Ini belum berarti semua perlindungan merek selesai hari ini,” jelas petugas. “Simpan bukti permohonan dan pantau prosesnya.”
Nara mengangguk. Ia tidak ingin mengubah satu lembar penerimaan menjadi klaim yang lebih besar.
Di bank, rekening usaha dibuka terpisah dari uang keluarga. Nara dan Salma menetapkan kewenangan transaksi. Pembayaran di atas jumlah tertentu memerlukan dua persetujuan. Laporan rekening dikirim ke alamat usaha dan diperiksa setiap bulan.
Uang dari pesanan lama dipindahkan hanya setelah saldonya dicocokkan. Setiap pelanggan menerima pemberitahuan rekening baru melalui surat atau pesan resmi. Tidak ada pekerja yang diminta mengirim uang ke rekening pribadi Salma.
Nara menyimpan satu buku cek di lemari terkunci dan mencatat siapa yang dapat mengaksesnya. Raka tidak meminta kartu tambahan.
Arga membantu menyusun daftar arus kas, tetapi tidak mendapat hak menarik uang.
“Saya cukup mendapat laporan sesuai perjanjian sampai pembiayaan lunas,” katanya.
“Dan setelah lunas?”
“Saya kembali menjadi orang yang sesekali meminta harga teman.”
Salma tertawa. “Harga teman tetap sesuai daftar.”
Mereka makan siang sederhana setelah semua urusan selesai. Tidak ada kantor mewah atau papan besar. Cahaya Nara masih bekerja dari ruang yang disewa dan jaringan penjahit rumahan, tetapi sekarang setiap pembayaran memiliki tempat yang jelas.
Sebelum meninggalkan kantor, Nara menerima daftar kewajiban setelah pendirian. Ada laporan yang harus dibuat, perubahan alamat yang harus diberitahukan, dan perjanjian pekerja yang perlu disesuaikan. Nama resmi bukan garis akhir.
Salma membagi tugas. Ia mengurus pembaruan formulir pesanan dan pemberitahuan rekening. Nara meninjau kontrak pemasok serta standar mutu. Arga hanya memeriksa bagian pembiayaan. Mereka menetapkan rapat bulanan dengan laporan tertulis agar keputusan tidak bergantung pada ingatan.
“Kalau usaha ini tumbuh, orang lain harus bisa memahami buku tanpa bertanya apa maksud coretan kita,” kata Nara.
Mereka memilih satu ruang sewa yang memiliki ventilasi, pintu terpisah, dan tempat aman untuk kain. Kontrak sewa belum ditandatangani sebelum pemeriksaan listrik dan biaya tambahan selesai.
Nara pulang membawa nama, rekening, serta daftar pekerjaan baru. Anehnya, daftar itu membuat masa depan terasa nyata.
Nara memegang buku rekening baru. “Aku takut nama resmi membuat semuanya terasa mudah runtuh.”
“Sebelum ada nama, semuanya juga bisa runtuh,” kata Salma. “Sekarang kita punya cara melihat retaknya.”
Raka tidak banyak bicara. Dalam perjalanan pulang, ia meminta kendaraan berhenti sebentar di sebuah kios kecil.
Ia kembali membawa kotak kertas.
“Aku tidak membutuhkan hadiah mahal,” kata Nara.
“Bagus. Ini tidak mahal.”
Di dalamnya ada gantungan kunci logam berbentuk lingkaran. Pada permukaannya terukir bulan sabit kecil dan dua kata: Cahaya Nara.
Nara menyentuh ukiran itu. Tanda bulan sabit pernah menjadi bukti bahwa anaknya hampir direnggut. Kini bentuk yang sama berada di telapak tangannya sebagai lambang pintu yang ia buka sendiri.
“Kenapa bulan?” tanyanya.
“Karena cahaya kecil tetap terlihat saat gelap.”
Nara memasang gantungan itu pada kunci ruang kerja. “Mas Raka sekarang pandai bicara.”
“Aku latihan sejak diminta menjaga toko.”
Salma dan Arga berjalan lebih dulu agar pasangan itu punya beberapa langkah sendiri.
Nara menyelipkan tangannya ke tangan Raka. “Terima kasih tidak membelikan gedung lalu menyebutnya milikku.”
“Aku tidak punya uang untuk itu.”
“Bukan itu maksudku.”
Raka tersenyum. “Aku tahu.”
Hari pertama menggunakan rekening baru, pembayaran akhir pesanan seragam masuk. Salma mencocokkannya dengan nilai kontrak, pajak, serta biaya pembiayaan. Setelah kewajiban dibayar, untuk pertama kali Cahaya Nara memiliki cadangan yang cukup untuk menyewa ruang kerja lebih layak.
Arga menerima pelunasan tahap yang jatuh tempo dan memberikan tanda terima. Ia tidak memperpanjang pembiayaan hanya karena usaha sedang tumbuh. Jika Cahaya Nara membutuhkan modal lagi, proposal baru harus dibuat dengan tujuan dan risiko baru.
Nara menyisihkan dana untuk tiga hal: sewa enam bulan, perawatan mesin, dan cadangan upah. Barulah setelah itu ia membayar dirinya sendiri dalam jumlah yang sudah disepakati.
“Rasanya aneh menerima gaji dari usaha sendiri,” katanya.
“Lebih sehat daripada mengambil uang setiap kali dompet rumah kosong,” jawab Salma.
Raka menaruh gantungan kunci bulan sabit di samping buku rekening. “Sekarang setiap rupiah punya alamat.”
Mereka belum sempat merayakan ketika kurir datang membawa surat dari Klinik Anugerah.
Amplop itu berisi tagihan lama yang sebelumnya tidak pernah dikirim, disertai tawaran penghapusan sebagian biaya. Kalimat terakhir meminta Nara menandatangani pernyataan bahwa persoalan perawatan Januari telah selesai dan tidak akan dibawa lebih lanjut.
Nara meletakkan gantungan kunci bulan sabit di atas surat. Ia tidak menandatangani apa pun. Salma mencatat waktu penerimaan, sedangkan Raka memotret amplop dan setiap halaman sebelum dokumen dimasukkan ke map komunikasi klinik.
Pada hari uang besar pertama masuk, klinik menawarkan potongan harga untuk diam.