Violet adalah gadis desa yang diusir oleh pacar setelah melahirkan bayinya, dia yang Luntang lantung dijalan tepaksa menjadi ibu susu seorang CEO tampan yang mendapatkan kutukan. Ternyata CEO itu adalah paman dari mantan pacar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria callista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10.
Saat Yohan membicarakan ayahnya, Violet langsung menatap Yohan dengan tatapan begitu dalam.
Yohan malah tersenyum manis.
"Tenanglah! Aku akan membantumu, membantu semua kesulitanmu, aku sudah mencintaimu sejak 10 tahun lalu Vio, aku akan menerima kamu apa adanya, bahkan kedua orang tuaku juga."
Deg. Jantung Violet seperti dibuat berhenti berdetak seketika.
"Apa 10 tahun yang lalu?" gumam Violet tanpa sadar.
Violet lagi-lagi hanya bisa menatap ke dalam kedua bola mata Yohan.
Lalu dia berkata, "apakah itu kamu?"
Yohan menjawab dengan anggukan.
Violet sama sekali tidak bisa dibuat berkata-kata lagi.
*****
Setelah Romeo selesai rapat, dia yang melihat Violet sudah selesai diinfus berniat membawanya ke perusahaan.
Didalam mobil roll roys milik Romeo.
Violet nampak terlihat pucat dan lemas, bahkan dia nampak seperti orang yang terlalu banyak berpikir.
Romeo yang sedari tadi sibuk berkutat dengan laptop tanpa Violet sadari, sedari tadi pria itu terus memperhatikan dirinya.
"Apa yang terjadi?" celetuk Romeo.
Tapi Violet hanya diam, masih asyik melamun.
Dia sebenarnya mendengar saat Romeo berbicara.
Tapi karena Romeo tidak memanggil namanya, Violet berpikir mungkin Romeo sedang tidak berbicara padanya.
"Violet apa yang terjadi? Apakah tadi Felix menindas mu?"
Violet menoleh, reflek dia langsung menggelengkan kepalanya.
Sementara Romeo sendiri hanya bisa memanyunkan bibirnya, merasa jika Violet masih memiliki rasa dan berusaha untuk melindungi Felix.
Violet sendiri, berpikir dalam hatinya. Dia gak mau, jika Romeo ikut campur dalam urusannya.
'Sepertinya, Violet memang tidak sepolos yang aku kira? Selain memiliki banyak masalah dengan Felix. Dia juga memiliki hubungan dengan Yohan.'
Pikiran Romeo melayang, Yohan adalah pewaris tunggal yang memiliki kecerdasan tingkat tinggi.
Bahkan diumurnya yang sekarang ini menginjak 20 tahun, Yohan sudah lulus S3 dengan jalur cepat.
Bahkan Yohan adalah satu-satunya orang yang bisa menandingi kemampuannya.
Romeo masih dengan jelas mengingat, saat Yohan meminta untuk masuk ke sekolah miliknya demi mengejar cintanya.
'Apakah orang yang dicintai Yohan memanglah Violet?'
Ntah kenapa Romeo merasa aneh? Sesuatu dalam dirinya merasa tidak terima dengan kedekatan antara Violet dan Yohan.
"Tuan," panggil Yasa.
"Ke kantor saja!"
"Tapi ... Tubuh Nona Violet sedang lemah, takutnya ... "
"Gak papa, di dalam ruanganku juga ada ruangan khusus beristirahat. Sekarang saatnya aku untuk mengisi tenagaku," kata Romeo seraya menatap Violet dari samping dengan tatapan penuh arti.
Sementara Violet yang tidak ditanya lebih lanjut, memilih untuk acuh dan tidak peduli dengan percakapan yang dilakukan Romeo dan juga asisten pribadinya.
Kepalanya kembali terasa pusing, bahkan tubuhnya tidak bertenaga.
Tak berselang lama, mobil pun sampai disebuah perusahaan raksasa milik Romeo.
Kedua bola mata Violet membulat sempurna, kala melihat kemegahan yang ditunjukkan bangunan raksasa itu.
"Apakah semuanya baik-baik saja, saat aku tidak ada dikantor?" tanya Romeo pada Yasa.
Ekspresi wajah datar Yasa sedikit berubah.
Saat dia ingin mengatakan sesuatu, tiba- tiba Romeo langsung menyela apa yang Yasa ingin katakan.
"Pasti Samuel membuat onar dikantor," tebak Romeo.
Sementara Yasa kembali hanya diam.
Diamnya Yasa membuat Romeo menduga, jika apa yang barusan dia ucapkan memang ada benarnya.
Tanpa sadar, kedua tangan Romeo pun terkepal.
Violet sendiri langsung menoleh, kala Romeo membicarakan mantan calon mertuanya yang sangat menjijikkan itu.
Samuel pernah berusaha untuk melec3hkannya, tapi untungnya dia buru-buru diusir.
Yasa mematikan mesin mobil Rolls Royce edisi terbatas milik Romeo dengan tenang.
Dia membuka pintu untuk Romeo.
Romeo melangkah keluar dengan tongkatnya.
Sementara Violet sendiri terlihat sangat kesulitan, karena dia orang miskin gak tau cara membuka pintu mobil yang canggih.
Tapi untungnya, Yasa juga membantu membukakan pintu mobil untuknya.
Romeo yang melihat Violet kesulitan saat membuka mobil menyunggingkan seulas senyuman.
Dia belum pernah melihat gadis polos yang gak enakan seperti Violet.
Rasa lemas yang sebelumnya mendera dalam diri Violet menghilang, bahkan jantungnya malah berdetak tak karuan.
Saat sebelumnya berusaha membuka denah kuat pintu mobil Romeo, malah yang keluar suara alarm.
Dia langsung teringat dengan wejangan ayahnya, jangan sembarang menyentuh barang orang lain. Kalau sampai rusak, kita wajib untuk menggantinya.
Walaupun tidak tahu seluk beluk mobil Romeo, tapi Violet tentu dengan jelas tahu harganya.
Violet akhirnya bisa keluar, wajahnya nampak cemas dan keringat dingin banyak yang keluar dari wajahnya.
Romeo malah terpana, kala melihat wajah Violet yang berkeringat.
Kulit putih pucat nya bak porselen terpantul dari cahaya matahari.
"Kenapa bisa kamu itu mirip sekali dengan Dewi ... " gumam Romeo tanpa sadar, tatapannya masih menatap ke arah wajah Violet.
"Tuan ... " Celetuk Yasa, hal itu langsung membuat lamunan Romeo buyar.
Romeo mengangguk.
Yasa sendiri juga bingung, kala melihat Romeo yang seperti terkesima dengan Violet.
Selama beberapa tahun menjadi asisten pribadi, dia belum pernah melihat Tuannya peduli dengan lawan jenis seperti itu.
'Mungkin Tuan Romeo bersikap seperti itu, karena Nona Violet adalah orang yang membantunya.'
Wajah dan ekspresi Romeo kembali ke mode serius.
Wajahnya yang tampan itu terasa begitu berwibawa saat dia memandang sekeliling parkiran khusus perusahaan itu.
Semua pegawai yang melihatnya langsung menundukkan kepala, menghormatinya sebagai pemilik saham terbesar di perusahaan tersebut, bahkan sebagai CEO pendiri perusahaan.
Di dalam gedung, Samuel yang sedang berbicara mesra dengan sekretarisnya tiba-tiba terperanjat saat ponselnya berdering.
Dengan tangan gemetar, dia mendengarkan suara dari HRD yang mengabarkan kedatangan mendadak Romeo.
"Bukankah kakinya cacat?" bisik Samuel pada dirinya sendiri, rasa takut menggigil kan tulang-tulangnya.
"Gak ... Gak mungkin kan, kalau Romeo itu bisa sembuh?"
Samuel segera berdiri, mengatur rapi kemeja dan dasinya yang sedikit miring.
Sekretaris yang masih bingung melihat perubahan drastis pada sikap Samuel hanya bisa terdiam.
"Sekarang lebih baik kau itu segera pergi dari sini!" titah Samuel pada sekretaris itu.
"Tuan apakah saya melakukan kesalahan?" tanya sekretaris itu dengan wajah takut, mengingat perubahan ekspresi wajah Samuel yang berbeda.
"Sekarang lebih baik kau itu segera enyah dari sini! Gak usah banyak bertanya," kata Samuel dengan nada ketus.
Lalu dia bergegas berjalan menuju pintu, meninggalkan sekretarisnya yang masih terpaku, dan berlari kecil menuju lobi utama.
Keringat dingin mulai bercucuran di dahi Samuel saat dia melihat sosok Romeo yang sudah memasuki lobi dengan langkah yang pasti dan tongkat di tangan kanannya.
Mata Romeo yang tajam menangkap sosok Samuel yang terengah-engah. Dengan suara yang dalam dan tenang, Romeo menyapa, "Samuel, apa kabar? Sepertinya kamu terkejut dengan kedatanganku."
Samuel tersenyum kaku, mencoba menyembunyikan kegelisahannya.
"Kabar baik, kak Romeo. Saya hanya tidak menyangka Anda akan datang hari ini," jawabnya, berusaha terdengar tenang.
"Kak?" tanya Romeo seraya menaikkan satu alisnya.
Tubuh Samuel terasa tegang.
Tapi tatapannya berubah, saat melihat sosok cantik Violet yang ada dibelakang Romeo.
Violet berdiri disamping Yasa.
Tatapan Violet dan juga Samuel beradu.
Tapi Samuel buru-buru memalingkan pandangannya ke arah lan.
Romeo hanya mengangguk, tatapannya seolah bisa menembus apa yang tersimpan di hati Samuel.
Dengan langkah yang terukur, Romeo melanjutkan perjalanannya menuju ruaangannya, meninggalkan Samuel yang masih berdiri mematung, berusaha memulihkan ketenangannya.
Yasa sendiri terus menuntun langkah kaki Violet agar berjalan dibelakang Romeo.