Ayla Prameswari, instruktur latihan keras dengan nama sandi Mamba di Pulau Seraya, terpaksa kembali ke Jakarta setelah sinyal misterius Berkas 531 muncul dekat keluarga kandungnya. Di rumah mewah Prameswari, ia berhadapan dengan orang tua yang lebih menyayangi Alina, anak angkat yang pandai bersandiwara lembut. Ternyata yayasan amal keluarga menyembunyikan jalur obat eksperimen ilegal berdarah. Saat Ayla menyelidiki, Arga Wiratama, penyidik khusus yang pernah ia tembak tiga tahun lalu, datang menawarkan kerja sama. Antara dendam masa lalu, rahasia keluarga, dan kasus mematikan—siapa yang sebenarnya bersembunyi di balik topeng baik hati?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Joko Joko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 5
Bab 05 - Pria dari Satuan Khusus
Ayla tidak langsung menjawab.
Di seberang, pria itu juga diam. Tidak ada suara latar, tidak ada musik, tidak ada napas gugup. Hanya hening yang terlalu rapi.
Orang ini terbiasa menunggu.
Ayla memutar kursi menghadap jendela. Lampu taman keluarga Prameswari menyala kuning pucat di bawah. Dari lantai tiga, rumah ini terlihat lebih indah daripada rasanya.
“Berkas 531 bukan topik untuk telepon malam-malam,” kata Ayla.
“Saya setuju.”
“Lalu kenapa menelepon?”
“Karena kalau saya datang langsung, mungkin kamu akan melompat dari jendela.”
Ayla melihat kaca jendela.
Jarak ke tanah sekitar sepuluh meter. Bisa.
Dia tersenyum.
“Pak Arga, Anda menilai saya terlalu rendah.”
“Atau terlalu tepat.”
Nada pria itu tetap datar. Namun ada sedikit sesuatu di baliknya. Bukan mengejek. Lebih seperti mengamati.
Ayla membuka laptop dengan satu tangan dan mengetik nama itu.
Arga Wiratama.
Hasil yang muncul tidak banyak, tetapi cukup untuk orang biasa merasa kagum. Keluarga Wiratama, salah satu keluarga lama Jakarta. Bisnis pelabuhan, teknologi keamanan, dan properti. Lulusan luar negeri. Pernah muncul di beberapa acara resmi pemerintah. Foto-fotonya jarang, tetapi setiap foto selalu sama: kemeja rapi, wajah tenang, mata dingin.
Di bawah profil publik itu, Ayla membuka jalur lain.
Data tertutup muncul setelah tiga lapis akses.
Satuan Gabungan Keamanan Strategis.
Penyidik khusus.
Operasi laut, cybercrime, antiteror, dan kasus lintas negara.
Ayla mengangkat alis.
“Lumayan.”
Di seberang, Arga berkata, “Kamu sedang mencari saya.”
“Tentu. Orang sopan memperkenalkan diri dengan lengkap.”
“Dan orang sopan tidak membobol server negara.”
Jari Ayla berhenti di keyboard.
Menarik.
“Kalau server negara bisa dibuka dalam dua menit, itu bukan membobol. Itu inspeksi keamanan gratis.”
Hening sebentar.
Lalu Arga berkata, “Kamu benar-benar tidak berubah.”
Mata Ayla menyipit.
“Kita pernah bertemu?”
“Pernah.”
Ayla memutar ingatan. Banyak wajah lewat. Pelabuhan gelap, gudang senjata, rumah sakit darurat, kendaraan terbakar, aula konferensi, lapangan tembak. Nama Arga tidak muncul.
“Kalau aku lupa, berarti tidak penting.”
“Kamu menembak saya.”
Oh.
Ayla berhenti.
Lalu tersenyum.
“Masih hidup, kan?”
“Terima kasih atas perhatianmu.”
“Sama-sama. Biasanya kalau aku benar-benar ingin membunuh, orang tidak punya kesempatan menelepon empat tahun kemudian.”
Di seberang, suara Arga tetap tenang. “Tiga tahun delapan bulan.”
“Kamu menghitung?”
“Bekas lukanya membantu.”
Ayla hampir tertawa.
Dia ingat sekarang.
Sebuah operasi di perairan dekat perbatasan. Dia mengejar kurir data yang membawa potongan akses Berkas 531. Seorang pria dari satuan Indonesia muncul di tengah jalur evakuasi. Terlalu rapi untuk penyelundup, terlalu tenang untuk turis, terlalu keras kepala untuk orang yang ingin hidup panjang.
Ayla menembaknya di bahu agar dia berhenti mengejar.
Pria itu tetap mengejar sampai pingsan karena kehilangan darah.
Waktu itu Ayla sempat berpikir, orang ini punya wajah mahal tapi otaknya mungkin tertinggal di kapal.
Ternyata dia Arga Wiratama.
“Kamu ingin balas dendam?” tanya Ayla.
“Tidak.”
“Sayang sekali.”
“Saya ingin bertemu.”
“Lebih sayang lagi.”
“Besok pukul sepuluh. Kafe di dekat Universitas Naratama. Kamu mulai orientasi kampus, bukan?”
Ayla menatap layar laptop. Informasi pendaftaran kuliahnya tidak terbuka untuk publik.
Dia tersenyum lebih lebar.
“Pak Arga, Anda juga tidak sopan.”
“Saya belajar dari yang terbaik.”
“Aku tersanjung.”
“Jangan. Itu bukan pujian.”
Telepon terputus.
Ayla menatap layar ponsel beberapa detik. Lalu dia tertawa pelan.
Jakarta memang lebih menarik daripada laporan Maya.
Keesokan paginya, rumah Prameswari sudah tegang sejak pukul tujuh.
Sarapan disiapkan, tetapi hampir tidak ada yang makan. Marwan duduk dengan wajah kurang tidur. Ratna berkali-kali melihat Alina dengan cemas. Reno membaca sesuatu di ponsel, sesekali melirik Ayla.
Ayla turun memakai jeans hitam, kaus putih, jaket denim, dan ransel kecil. Rambutnya diikat tinggi. Wajahnya tanpa riasan, tetapi justru membuatnya terlihat lebih muda.
Ratna menatapnya dari atas ke bawah.
“Kamu benar-benar mau ke kampus seperti itu?”
Ayla melihat pakaiannya. “Ada yang salah?”
Alina yang duduk di samping Ratna berkata lembut, “Kampus Naratama cukup memperhatikan penampilan saat ospek. Mungkin Kak Ayla bisa pakai sesuatu yang lebih... rapi.”
Ayla mengambil segelas air putih.
“Kalau mereka tidak suka, mereka bisa menutup mata.”
Reno hampir tersedak kopi.
Ratna mengerutkan dahi. “Ayla, kamu harus belajar menyesuaikan diri.”
“Aku bisa menyesuaikan diri.”
“Kalau begitu—”
“Dengan medan perang, ruang interogasi, dan rapat orang kaya yang pura-pura punya moral. Kampus harusnya lebih mudah.”
Meja makan diam.
Marwan meletakkan sendok. “Sebelum kamu pergi, kita perlu bicara soal kejadian semalam.”
Alina menunduk.
Ayla melirik jam. “Aku punya janji.”
“Ini lebih penting.”
“Menurut Anda.”
Marwan menahan napas. “Ayla, jangan terus melawan.”
Ayla menatapnya.
“Pak Marwan, kalau saya benar-benar melawan, meja ini tidak akan utuh.”
Reno menurunkan ponsel. “Ayla.”
Ayla berbalik padanya. “Apa?”
Reno terdiam sebentar, lalu berkata lebih pelan, “Semalam... aku sudah lihat videonya beberapa kali.”
Alina menegang.
Ratna langsung berkata, “Reno, Alina sudah minta maaf pada Mama. Dia hanya panik.”
“Aku belum bicara,” kata Reno.
Ratna terdiam.
Reno menatap Alina. “Kenapa kamu masuk kamar Ayla?”
Air mata Alina langsung penuh. “Aku sudah bilang. Aku panik.”
“Kamu bawa kalung.”
“Aku tidak berpikir jernih.”
“Tapi kamu sempat menunggu Mama datang.”
Wajah Alina pucat.
Ratna menatap Reno tidak percaya. “Kamu menuduh adikmu?”
Reno menutup mata sebentar. “Aku bertanya.”
Alina menangis. “Kak Reno, kalau kamu tidak percaya aku, aku tidak tahu harus bagaimana.”
Ayla mengambil roti dari meja.
“Biasanya orang tidak tahu harus bagaimana kalau ketahuan.”
Alina menggigit bibir sampai pucat.
Marwan memukul meja pelan. “Cukup.”
Ayla menggigit roti.
Marwan menatapnya dengan mata lelah. “Kamu puas membuat rumah ini seperti ruang sidang?”
“Belum.”
“Ayla!”
“Ruang sidang masih punya hakim. Di rumah ini, hakimnya selalu Mama, putusannya selalu Alina korban.”
Ratna tersentak.
Reno menunduk, kali ini tidak membela siapa pun.
Ayla menghabiskan roti, lalu mengangkat ranselnya.
“Aku pergi.”
Marwan berkata, “Sopir akan mengantar.”
“Tidak perlu.”
Ratna spontan bertanya, “Kamu mau naik apa?”
“Ojek.”
Ratna terlihat seperti baru mendengar putrinya ingin berangkat ke bulan. “Anak keluarga Prameswari naik ojek online?”
Ayla tersenyum.
“Tenang. Helmnya lebih jujur daripada beberapa orang di meja ini.”
Dia pergi sebelum Ratna bisa bicara lagi.
Di halaman, udara pagi sudah panas. Ayla berjalan keluar gerbang dan memesan ojek online. Penjaga rumah tampak ingin mencegah, tetapi tatapan Ayla membuatnya menelan kata-kata.
Lima belas menit kemudian, dia sudah membelah kemacetan Jakarta di atas motor, melewati mobil-mobil mahal yang bergerak lebih lambat daripada siput malas.
Dia sampai di dekat Universitas Naratama pukul sembilan lewat empat puluh.
Kampus itu luas, modern, penuh mahasiswa baru dengan pakaian rapi dan wajah tegang. Spanduk orientasi mahasiswa baru tergantung di gerbang. Beberapa senior memakai jas almamater dan senyum yang terlalu lebar untuk dipercaya.
Ayla turun dari motor dan memberi bintang lima pada pengemudi.
“Makasih, Mbak,” kata pengemudi.
“Sama-sama, Bang.”
Baru beberapa langkah, beberapa mahasiswa menoleh. Bukan karena dia berisik. Justru karena dia terlalu santai di antara semua orang yang berusaha terlihat sempurna.
Di kafe kecil seberang kampus, seorang pria duduk dekat jendela.
Kemeja biru gelap. Jam tangan sederhana tapi mahal. Postur tegak. Wajah dingin yang membuat pelayan berbicara lebih pelan tanpa sadar.
Arga Wiratama.
Ayla masuk dan duduk di depannya tanpa bertanya.
“Pak Arga.”
Arga menatapnya. Untuk beberapa detik, matanya turun ke bahu Ayla, seolah mencari senjata.
Ayla tersenyum. “Kalau aku bawa, kamu juga tidak akan menemukannya.”
“Saya tahu.”
Pelayan datang. Ayla memesan es kopi susu dan roti bakar. Arga memesan kopi hitam.
Setelah pelayan pergi, Arga mengeluarkan sebuah foto dari map tipis dan meletakkannya di meja.
Foto itu memperlihatkan kotak obat kecil dengan kode produksi khusus.
Ayla tidak menyentuhnya.
“Kamu tahu ini?” tanya Arga.
“Banyak orang tahu obat.”
“Jangan main-main.”
“Aku selalu main-main sebelum bekerja.”
Arga menatapnya lama. “Obat ini belum boleh masuk uji manusia. Tiga orang ditemukan meninggal di gudang dekat pelabuhan. Jalur uang mengarah ke yayasan keluarga Prameswari.”
Ayla menyandarkan punggung.
“Kalau begitu tangkap yayasannya.”
“Saya sedang mencari siapa yang memakai yayasan itu.”
“Dan kamu pikir aku tahu.”
“Saya pikir kamu baru pulang tepat saat jalur ini aktif.”
Ayla mengambil foto itu, melihatnya sekilas, lalu meletakkannya kembali.
“Pak Arga, kalau aku yang menjalankan jalur obat ilegal, kamu tidak akan menemukan mayat di gudang. Terlalu ceroboh.”
Arga diam.
Yang menyebalkan, dia tampak percaya.
“Saya tidak bilang kamu pelakunya.”
“Tapi kamu ingin memakaiku sebagai pintu masuk.”
“Kamu juga sedang mencari hal yang sama.”
Ayla tersenyum.
“Kamu cukup berani untuk pria yang pernah kutembak.”
“Dan kamu cukup santai untuk orang yang keluarganya mungkin terlibat kasus pembunuhan.”
Senyum Ayla menipis.
Arga menangkap perubahan itu, tetapi tidak mundur.
“Saya tidak peduli drama keluarga Prameswari,” katanya. “Saya peduli Berkas 531 tidak membuka korban baru di Jakarta.”
Untuk pertama kalinya sejak duduk, Ayla benar-benar menatapnya.
“Kamu tahu sejauh apa tentang 531?”
“Cukup untuk tahu banyak orang mati karena orang-orang kaya takut menjadi tua.”
Jari Ayla mengetuk meja sekali.
Kalimat itu terlalu dekat.
Ayla menatapnya lagi. “Aku tidak bekerja untukmu.”
“Saya tidak memintamu bekerja untuk saya.”
“Bagus.”
“Saya meminta kerja sama.”
Arga mengeluarkan kartu nama dan meletakkannya di meja.
“Kalau kamu menemukan sesuatu di rumahmu, hubungi saya.”
“Kalau aku tidak mau?”
“Saya akan tetap menemukanmu.”
“Pak Arga, kalimat itu biasanya diucapkan orang yang ingin mati cepat.”
Arga berdiri.
“Saya sudah pernah hampir mati karena kamu. Pengalaman pertama tidak terlalu menyenangkan.”
Dia berjalan pergi.
Ayla menatap punggungnya, lalu memasukkan kartu itu ke saku.
Hari pertamanya sebagai mahasiswi dimulai dengan kasus obat ilegal, pria yang pernah ditembaknya, dan keluarga yang mungkin lebih busuk dari dugaannya.
Lumayan.
Setidaknya dia tidak akan bosan.