NovelToon NovelToon
Aversion To You

Aversion To You

Status: sedang berlangsung
Genre:Angst / Dark Romance / Cintapertama
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Pernikahan Aurora dengan Jonathan Carser—menjadi neraka saat ia menjadi korban pengkhianatan dan manipulasi.

Puncaknya, ia dipaksa menghadapi keraguan sang suami atas bayi laki-laki nya yang terlahir dengan paras begitu mirip dengan mantan kekasih masa lalunya, Braxley Valerio-Desmon.

Ketika kebenaran mulai terkuak dan Jonathan semakin brutal meluapkan amarahnya, Siapkah Aurora menghadapi kenyataan pahit, menerima kebenaran?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#26

Gedung Fakultas Bisnis dan Fakultas Hukum di universitas megah itu berdiri berhadapan, hanya dipisahkan oleh sebuah taman beraspal yang dihiasi deretan pohon palem.

Jarak yang sangat dekat itu memudahkan siapa saja untuk melangkah dari satu area ke area lain dalam hitungan menit—sebuah aksesibilitas yang dimanfaatkan sempurna oleh Draco untuk menjalankan agenda terselubungnya tanpa memancing kecurigaan berlebih.

Setelah turun dari rooftop gedung perpustakaan yang dingin, Draco melangkah santai menyeberangi taman menuju ruang kuliah utamanya.

Langkah kakinya yang tegap dan postur tubuhnya yang tinggi menjulang selalu berhasil menyedot perhatian mahasiswi yang berpapasan dengannya. Namun, raut wajah Draco tetap datar, menyebarkan aura keangkuhan yang tak tersentuh.

Begitu melangkah masuk ke dalam ruang kelas yang luas dan berpendingin udara, Draco mendapati ketiga kawannya—Diego, Caleb, dan Bianca—sudah duduk di deretan kursi eksklusif bagian belakang.

Diego, yang sedang bersandar santai sembari memutar-mutar pena di jarinya, langsung menoleh begitu melihat sosok Draco mendekat. Ia menaikkan sebelah alisnya dengan senyuman jahil.

"Weh, dari mana saja kau, Pangeran? Kenapa kau sangat lama?" tanya Diego dengan nada menginterogasi yang santai. "Katanya cuma mau ke perpustakaan sebentar. Kita hampir mengira kau tersesat di antara tumpukan buku tua."

Draco melangkah mendekat, menarik kursi di samping Diego tanpa tergesa-gesa. Ia meletakkan tas punggung hitamnya yang menyimpan rekaman rahasia itu ke atas meja, lalu menyandarkan punggung tegapnya.

"Aku ada urusan," jawab Draco singkat dan datar, suaranya pelan namun tak membujuk pertanyaan susulan.

Caleb terkekeh pelan di sebelahnya. "Urusan di perpustakaan? Jangan bilang kau benar-benar membaca buku ekonomi mikro di jam santai seperti ini, Draco."

Draco tidak membalas candaan Caleb. Pria muda itu hanya menyunggingkan senyuman tipis yang sangat tipis—hampir tak terlihat—sembari mengarahkan pandangannya ke depan kelas.

Namun, di sebelah kanan Draco, Bianca tidak ikut tertawa. Gadis pirang yang selalu tampil modis dan elegan itu justru terpaku diam. Manik matanya yang tajam menatap lurus ke arah wajah sang kekasih dari samping. Secara khusus, pandangan Bianca terkunci pada bibir Draco.

Bibir bagian bawah pria itu tampak sedikit merah, agak membengkak, dan memiliki guratan kecil yang sangat khas—jejak dari gigitan dan ciuman panas yang baru saja terjadi beberapa menit lalu.

Dada Bianca bergemuruh mendadak. Rasa geram dan amarah yang membakar menjalar cepat di dalam darahnya. Jemari tangannya yang dihiasi cat kuku mahal mengepal erat di atas pangkuannya hingga buku-buku jarinya memutih.

Ini bukan pertama kalinya Bianca melihat kondisi bibir Draco yang membengkak seperti itu di jam-jam kuliah. Bianca tahu persis tanda-tanda itu.

Sebagai wanita yang memuja Draco, ia tahu betul bahwa kekasihnya memiliki pelacur murahan di luar sana—seorang wanita yang tanpa henti dilayani dan disentuh oleh Draco di area yang sama, di dalam lingkungan kampus ini!

Bianca menggerakkan giginya, menahan napas yang terasa sesak. Ia ingin sekali berteriak, mencengkeram kemeja Draco, dan menuntut jawaban: Siapa pelacur murahan itu?! Siapa wanita gatal yang selalu kau temui di belakangku?!

Namun, Bianca menahan dirinya kuat-kuat. Mengusik atau memojokkan Draco Valerio-Desmon sama saja dengan melakukan tindakan bunuh diri sosial.

Draco bukanlah pria biasa yang bisa diancam atau diatur dengan amarah wanita. Jika ia terlalu melampaui batas, Draco tidak akan ragu untuk mendepaknya dari kehidupannya tanpa penyesalan sedikit pun.

Pikiran Bianca mendadak terlempar kembali pada peristiwa memalukan yang terjadi semalam—sebuah memori yang membuat tenggorokannya terasa pahit dan darahnya mendidih karena rasa malu yang mendalam.

Semalam, di dalam supercar mewah milik Draco yang terparkir di area sepi setelah mereka meninggalkan kelab malam, Bianca telah membuang seluruh harga dirinya. Ia sangat frustrasi karena selama enam bulan berpacaran, Draco tidak pernah menyentuhnya lebih dari sekadar ciuman biasa.

Bianca yang haus akan kepastian dan keintiman akhirnya merendahkan dirinya sendiri bagaikan jalang murahan.

Ia melepas kancing bajunya sendiri di hadapan Draco, menurunkan tali gaunnya, dan merambat naik ke atas pangkuan pria itu.

Bianca mencoba menggoda Draco, memohon dengan bisikan manja agar pria itu mau tidur dengannya dan membagikan malam yang panas bersamanya.

Namun, respons Draco semalam bukannya sambutan gairah, melainkan sebuah penghinaan yang menghujam tepat ke jantung harga diri Bianca.

Draco saat itu hanya menatap tubuh Bianca yang setengah terlanjur telanjang dengan pandangan mata yang sangat dingin, jijik, dan tanpa pendar hasrat sedikit pun.

Pria itu bahkan tidak menggerakkan tangannya untuk menyentuh kulit Bianca.

"Pakai pakaianmu kembali, Bianca," ucap Draco semalam dengan suara bass yang sangat dingin dan menusuk.

"Kenapa, Draco? Aku kekasihmu! Apa aku tidak cukup menarik untukmu?" tangis Bianca semalam, meremas kemeja Draco dengan rasa frustrasi yang memuncak.

Draco terkekeh menyeringai—sebuah tawa ejekan yang sangat kejam. Pria itu menunduk sedikit, berbisik tepat di depan wajah Bianca dengan kalimat yang meremukkan seluruh harga dirinya:

"Ukuran dada kekasihku jauh lebih pas dari ukuran dadamu. Kau membuatku bosan."

Bukankah itu sebuah penghinaan yang luar biasa kejam? Draco secara terang-terangan menyebut kata 'kekasihku' untuk wanita lain di depan wajah Bianca sendiri!

Rasa malu yang membakar saat itu membuat Bianca gemetar hebat. Dengan air mata yang menetes deras dan rasa hina yang memenuhi dadanya, Bianca terburu-buru mengenakan kembali pakaian mewahnya di dalam ruang sempit mobil sport tersebut.

Dan yang lebih gila lagi, setelah penghinaan itu, Draco bahkan tidak mengantarkannya sampai ke rumah. Pria itu menghentikan mobilnya secara mendadak di tepi jalan raya yang sepi, membuka kunci pintu, dan memerintahkan Bianca turun di tengah malam hanya karena Draco berkata dingin bahwa ia harus pergi untuk menemui kekasihnya yang sebenarnya.

Di dalam ruang kelas yang sepi itu, Bianca menatap Draco yang kini tampak bersikap seolah tidak pernah terjadi apa-apa semalam.

Bianca tersenyum tipis—sebuah senyuman palsu yang dipaksakan untuk menutupi hancurnya harga diri di hadapan Diego dan Caleb yang tidak tahu apa-apa.

Di dalam hatinya, Bianca bersumpah akan mencari tahu siapa sosok wanita murahan yang telah merebut perhatian dan sentuhan dari pangeran Desmon tersebut, tidak peduli seberapa berbahaya risiko yang harus ia tanggung.

Betapa hancurnya perasaan Bianca saat ini. Di balik senyuman anggun yang terpasang rapi di bibirnya, dadanya terasa remuk tak berbentuk, menyisa perih yang membakar hingga ke hulu hati.

Bagaimana mungkin pria yang ia agungkan, pria yang statusnya sebagai kekasih resminya di depan seluruh dunia, justru memperlakukannya tak lebih berharga dari sampah?

Setiap detik yang ia lewati di samping Draco kini terasa seperti siksaan tak bertepi. Rasa cintanya yang begitu dalam perlahan terdistorsi menjadi obsesi yang dipenuhi rasa benci, racun, dan rasa penasaran yang menggerogoti jiwanya.

Ia memuja Draco setengah mati, menyerahkan seluruh harga dirinya hanya demi secercah perhatian, namun yang ia dapatkan hanyalah dinginnya penolakan dan kalimat kejam yang terus bergema di kepalanya bagaikan kutukan.

Bianca mengepalkan jemarinya hingga kuku-kukunya hampir menembus kulit telapak tangannya sendiri. Rasa sakit fisik itu bahkan tidak ada apa-apanya dibandingkan amarah yang bergejolak di dalam dadanya. Ia tidak akan tinggal diam.

Jika Draco pikir ia bisa terus menginjak-injak harga dirinya sembari bermain gila di belakangnya, maka Draco sangat salah besar.

Bianca akan memburu wanita itu sampai ke ujung dunia, menyingkap topengnya, dan membalaskan setiap tetes air mata serta rasa malu yang harus ia tanggung selama ini.

1
Astrid Kucrit
lyn,cuma kamu yang draco inginkan
Rosdianah 🌷: ma'aciww komentar nya kak🙏🏻
total 1 replies
Siti Kamisah Hasnul
Linzy ternyata anak Jonathan...wahhhhh...kacau ini
Rosdianah 🌷: jangan kacau dulu kak🤭
total 1 replies
Mei TResna Rahmatika
gak nyangka udah di tahap baca ceritanya anaknya AJ brarti si braxley ini cucunya vexana sama landon 🤣
Rosdianah 🌷: hehe iya kak, kembarannya Braxton disebelah kak🤭
total 1 replies
Mia Camelia
jonathan harus di kasih pelajaran tambahan nih 🤣🤣🤣tuh orang gak ada takut nya
😔
Rosdianah 🌷: Wajib digoyeng 🤣🤭
total 1 replies
Ainun Mahya
nggk up nih kak?
Rosdianah 🌷: huhu besok author Double Up 🫶🙏🏻
total 1 replies
Ainun Mahya
vote meluncur🤭🤭
Rosdianah 🌷: uhuy ma'aciww kak🫶
total 1 replies
Mia Camelia
widieww....braxley tipe2 blackflag banget gak sih🤔🤣😂
Rosdianah 🌷: wkwkw🤭
total 1 replies
Mia Camelia
selamat thor udah meluncur karya baru lagi🥳🥳🥳
makin prokdutif banget thor bulan ini udh baru lgi muncul🥳
Rosdianah 🌷: Huhu🫶 Ma'aciww kak, Dan ma'aciww juga asas setiap Jejak Nya selama ini. semoga cerita nya. happy reading 🥰
total 1 replies
Hennyy exo
wow karya mu emang bagus thor
Rosdianah 🌷: ma'aciw kak🫶
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!