Kenanga mengabdikan hidupnya pada sang suami dan anak sambungnya, tapi pada akhirnya dia dihianati juga. Suami yang dia kira mencintainya dengan tulus nyatanya hanya kebohongan. Di dalam hatinya ternyata masih tersimpan nama sang mantan yang kini telah kembali dari luar negeri.
Rahasia yang selama ini ditutupi sang suami dan keluarga pun terbongkar. Kenanga memilih mundur dan memulai kehidupan yang baru meskipun semua itu terasa sulit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon husna_az, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
"Benar kamu sejak tadi ada di toilet? Kamu tidak sempat ke belakang?" tanya Sophia yang khawatir karena tidak ingin rencananya hancur berantakan. Dia khawatir jika Kenanga berbohong.
"Tentu saja, Ma. Memangnya kenapa, sih? Mama terlihat ketakutan begitu. Apa ada rahasia yang aku tidak boleh tahu?" tanya Kenanga dengan memperhatikan wajah sang mertua. Dia ingin melihat ekspresi wajah mertuanya terlihat begitu khawatir.
"Bukan begitu. Mama hanya ... sudahlah, ini sudah waktunya makan siang. Ayo, kita makan! Sebentar lagi papamu dan suamimu juga harus kembali ke kantor."
Sophia sengaja mengalihkan pembicaraan agar Kenanga tidak lagi bertanya. Dia takut jika nanti dirinya akan salah bicara dan membuat menantunya itu curiga. Setelah diperhatikan dengan saksama, Kenanga juga sepertinya memang tidak tahu apa-apa mengenai pembicaraan yang tadi di belakang bersama suami dan anaknya.
Rudi dan Bima pun saling pandang dan akhirnya duduk di meja makan. Meski keduanya masih sangat penasaran apakah Kenanga mendengar pembicaraan mereka tadi atau tidak, tapi tidak ingin memperpanjang masalah ini juga.
Dalam hati Kenang ingin sekali pergi meninggalkan rumah mertua ini. Namun, itu hanya akan membuat kedua mertuanya curiga jadi, lebih baik bertahan sebentar. Dia pun terpaksa ikut duduk dan menikmati makan siang bersama keluarga itu. Padahal tadi masakannya terasa enak saat dicicipi, tapi sekarang kenapa jadi hambar begini.
Sepanjang makan Kenanga sama sekali tidak mengatakan apa pun. Hanya terdengar suara Rudi dan Bima yang membahas mengenai pekerjaan di kantor. Kenanga tahu itu hanyalah alibi untuk membuatnya tidak curiga mengenai keberadaan sang suami di rumah ini. Namun, sayang sekali dirinya telah mengetahui semuanya.
"Kenanga, kenapa kamu diam saja dari tadi? Apa masakannya kurang enak atau kamu mau makan sesuatu yang lain,biar bibi yang buatkan," tanya Sophia membuat Kenanga menatap mertuanya itu.
"Tidak perlu, Ma. Aku hanya lagi diet saja, jadi aku mengurangi porsi makanku."
"Tubuh kamu ini sudah proporsional, jadi tidak usah diet-diet seperti orang di luar sana."
"Tidak bisa begitu dong, Ma. Meskipun sekarang aku sudah proporsional, tapi tetap saja aku harus selalu terlihat cantik dan seksi agar suamiku tidak tertarik dengan wanita lain. Apalagi sampai harus kembali ke masa lalu."
"Uhukk ... Uhuk ...."
Bima terbatuk akibat tersedak makanannya yang belum tertelan dengan sempurna. Apa yang diucapkan Kenanga sungguh membuatnya terkejut. Bagaimana bisa istrinya itu berkata demikian. Dia jadi curiga apakah tadi Kenanga mendengar pembicaraannya atau tidak.
"Kamu kenapa sih, Mas? Makan sampai tersedak begitu. Makanya hati-hati, aku tahu kamu sedang buru-buru untuk kembali ke kantor, tapi tetap pelan-pelan saja nelannya. Lagi pula masih ada waktu," ujar Kenanga yang seolah tidak terjadi apa-apa. Ucapannya tadi juga dianggap seperti angin lalu.
"Kamu yang membuatku terkejut. Kenapa tiba-tiba berkata seperti itu?" ujar Bima sambil mencoba meredakan batuk yang terasa begitu sakit di dadanya.
"Berkata seperti apa, Mas? Aku hanya asal bicara tadi, kenapa kamu menganggapnya begitu serius? Apa kamu berniat untuk mencari wanita lain?"
"Tentu saja tidak!"
"Nah, itu kamu tahu jawabannya. Lagi pula selama ini 'kan rumah tangga kita baik-baik saja. Aku sebagai seorang istri tentu ingin mempertahankan rumah tangga ini. Semoga seterusnya kita selalu bahagia. Wajar jika aku punya impian seperti itu 'kan? Kamu saja yang aneh, tiba-tiba saja tersedak sampai terbatuk begitu."
Bima mendengus kesal. Namun, dia tidak bisa berkata apa-apa. Mereka semua pun melanjutkan makan siangnya. Meskipun sudah tidak berselera untuk melanjutkan makan siang ini, tapi tetap saja mereka menghabiskan makanan yang tersedia
Setelah itu, Rudi dan Bima kembali ke perusahaan dengan mengendarai mobil masing-masing. Kenanga sendiri pamit untuk pulang. Sophia sempat melarang karena dia masih ingin berbincang dengan menantunya itu, tapi Kenanga tidak ingin berlama-lama di sana.
Wanita itu pun beralasan jika sudah ada janji dengan temannya padahal hari ini Kenanga tidak memiliki janji atau kegiatan apa pun. Kenanga mengemudikan mobilnya dengan pelan, memikirkan apa saja yang terjadi tadi di rumah sang mertua. Dia sudah berusaha untuk melupakan apa yang terjadi tadi untuk sementara, tapi tetap saja rasa sakit di hatinya begitu perih.
itu karma buat km bima.... mndzolimi istri yg sdh mngbdikn hidupnya untuk suami yg g ada otak & durhaka macam km....
syukurin km bima milih jalang mkne anaknya pun jalang.
jd nikmati saja.
bibit nya saja bpk ibu yg gk bner berharap apa Dr darah turunan gk bner.