NovelToon NovelToon
Langit Yang Menyimpan Janji

Langit Yang Menyimpan Janji

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Epik Petualangan / Fantasi Timur
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Bang Jigur

Dunia kultivasi terbagi menjadi banyak sekte dan keluarga besar. Orang-orang berlomba mencapai tingkat tertinggi demi keabadian.
Tapi protagonis kita?
Seorang pemuda biasa yang dianggap sampah oleh semua orang.
Dia nggak punya bakat kultivasi yang bagus. Bahkan keluarganya sendiri malu mengakuinya.
Sampai suatu hari, dia bertemu dengan seorang gadis dari sekte besar.
Cantik, dingin, berbakat, dan statusnya jauh di atasnya.
Awalnya mereka saling benci.
Lalu mulai saling peduli.
Lalu muncul masalah...
Si gadis ternyata sudah dijodohkan dengan seorang jenius dari sekte lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27

Sementara itu, di Kota Qinghe...

Gu Qingli sudah berdiri mantap di depan gerbang utama kota. Jubah perjalanannya terpasang rapi, pedang panjang tergantung anggun di pinggang, dan sebuah tas kecil terikat di punggungnya.

Sesosok pelayan pribadi berdiri gelisah di sampingnya. "Nona..."

"Hm?"

"Apakah Anda benar-benar berniat pergi sekarang?" tanya sang pelayan cemas.

"Ya."

"Apakah... apakah Patriark sudah mengetahui rencana kepergian ini?"

Langkah Gu Qingli tertahan sejenak. "Belum."

Pelayan itu seketika panik. "Nona!"

"Diamlah," tegur Gu Qingli tenang.

"Tapi jika Patriark sampai mengetahui hal ini—"

"Aku akan sudah kembali sebelum dia sempat mengetahuinya," potong Gu Qingli tegas.

Sang pelayan hanya bisa meringis panik, jelas tidak meyakini ucapan junjungannya.

Gu Qingli memalingkan pandangannya, menatap lurus ke arah jalur utara—arah yang menuju ke Gunung Tianyuan. Di sanalah Yunche berada saat ini, dan dia sudah cukup lelah terus-menerus menunggu dalam ketidakpastian.

"Aku sudah terlanjur berjanji padanya," bisik Gu Qingli lirih pada angin pagi. "Jika dia sampai tidak kembali... maka aku sendiri yang akan pergi mencarimu."

"Qingli."

Sebuah gema suara berwibawa mendadak memotong niatnya. Langkah Gu Qingli terhenti seketika.

Gu Tianming sudah berdiri tak jauh di belakangnya. Wajah sang patriark tampak begitu tenang, namun sorot matanya yang tajam seolah sanggup menembus pertahanan siapa pun.

Gu Qingli menghela napas panjang, berbalik perlahan. "Ayah."

"Kau mau pergi ke mana dengan pakaian seperti itu?" tanya Gu Tianming datar.

"Hanya jalan-jalan sebentar."

"Ke mana?"

"Ke arah utara."

Gu Tianming membisu sejenak. "Gunung Tianyuan?"

Gu Qingli memilih untuk tidak menjawab. Namun keheningan itu sudah cukup menjadi jawaban bagi sang ayah.

"Tidak boleh," pangkas Gu Tianming dingin.

"Ayah—"

"Qingli!"

"Aku hanya ingin pergi ke sana!"

"Aku bilang tidak ya tidak!"

Gu Qingli mengepalkan tangannya rapat-raptat hingga jarinya memutih. "Kenapa Ayah selalu melarangku?!"

"Karena tempat itu sangat berbahaya bagimu."

"Yunche juga berada di sana saat ini!" cetus Gu Qingli emosional.

Gu Tianming mendadak terbungkam, atmosfer di sekitar mereka berdua mendadak mendingin.

Gu Qingli menatap lurus sepasang mata ayahnya, menyuarakan keberanian yang tersisa. "Ayah... jika Shen Yunche benar-benar ditakdirkan menjadi musuh bagi keluarga kita..."

Tubuh Gu Tianming menegang seketika.

"...lantas kenapa Ayah seolah begitu takut membiarkanku pergi mendatangi tempat itu?" tuntut Gu Qingli.

Gu Tianming terdiam untuk waktu yang lama, lalu berbisik berat, "Karena pemuda itu... kemungkinan besar akan mati di sana."

Dunia Gu Qingli rasanya berhenti berputar seketika. "Apa katamu?"

Gu Tianming memejamkan matanya rapat-raptat, helaan napasnya terdengar amat dalam. "Qingli... jika kau memaksakan diri pergi ke sana, kau mungkin hanya akan menyaksikan sesuatu yang tak akan pernah sanggup kau lupakan seumur hidupmu."

Kening Gu Qingli bertaut tajam seraya melangkah mendekat. "Sesuatu seperti apa?"

Gu Tianming enggan menjawab.

"Ayah!" seru Gu Qingli, suaranya bergetar menahan luapan emosi. "Apa sebenarnya yang terjadi tujuh belas tahun yang lalu?! Apa hubungan sebenarnya antara Ayah dan Shen Tianyu?!"

Gu Tianming tetap bergeming dalam diamnya.

"Dan..." Gu Qingli menelan ludah dengan susah payah, menyuarakan tuduhan paling mengerikan yang selama ini menghantuinya. "...apakah benar Ayah yang telah membunuhnya?"

Pertanyaan itu melayang di udara, menciptakan keheningan yang teramat menyesakkan. Gu Tianming tetap berdiri mematung, menatap putrinya dengan raut yang amat kompleks.

Detik berlalu menjadi menit. Dan akhirnya...

"Ya," sahut Gu Tianming lirih.

Sentakan itu menghantam dada Gu Qingli hingga dunia di sekitarnya terasa hancur lebur. "Apa?"

Gu Tianming memalingkan wajahnya, tak sanggup menatap raut hancur sang putri. "Memang aku yang telah mengakhiri hidupnya."

Gu Qingli mundur satu langkah secara refleks. Air mata yang sejak tadi ditahannya meledak menembus pipinya. "Kenapa... kenapa Ayah tega melakukan itu?!"

"Qingli, dengarkan Ayah dulu—"

"Kenapa, Ayah?!" jerit Gu Qingli histeris. "Kenapa Ayah harus membunuh ayah dari Shen Yunche?!"

"Karena pada saat itu... aku sama sekali tidak memiliki pilihan lain!"

Gu Qingli tertawa miris, tawa yang tenggelam di balik derasnya air mata. "Tidak punya pilihan? Konyol... Semua orang selalu memakai alasan menjijikkan itu!"

Dia menggelengkan kepalanya keras-keras.

"Qingli..."

"Jangan pernah panggil namaku lagi!" sentak Gu Qingli seraya mundur makin jauh. "Jika Yunche sampai mengetahui kebenaran sekejam ini..."

Gu Tianming memejamkan matanya rapat-rapat. "...dia pasti akan datang membunuhku."

"Ya!" usap Gu Qingli pada air matanya dengan kasar. "Dan dia teramat berhak untuk melakukan hal itu!"

"Qingli!"

"Dia punya semua hak untuk membalas dendam!" seru Gu Qingli dengan suara parau bergetar. "Jika Ayah sendiri yang telah menghabisi nyawa ayahnya... lantas bagaimana bisa aku berdiri di hadapannya lagi?! Bagaimana aku harus menjelaskan semua ini padanya?!"

Gu Tianming terbungkam sepenuhnya, tak memiliki satu kata pun untuk membela diri.

Gu Qingli memutar tubuhnya memunggungi sang ayah. "Aku tetap pergi."

"Qingli, berhenti!" Gu Tianming refleks maju dan mencekal lengan putrinya.

Namun Gu Qingli menghempaskan tangannya dengan begitu keras dan penuh penolakan. "Jangan pernah menyentuhku lagi!"

Gu Tianming mematung di tempatnya. Untuk pertama kalinya dalam hidup, dia menyaksikan benteng jarak yang begitu lebar dan dingin terbentang di antara dirinya dan putri tunggalnya.

"Maafkan Ayah..." gumam Gu Tianming lirih.

Gu Qingli menggeleng pelan tanpa mau menoleh. "Jangan meminta maaf padaku."

Gadis itu memantapkan pijakan kakinya, menatap lurus ke arah jalur perjalanan menuju utara.

"Mintalah maaf langsung pada Shen Yunche," bisik Gu Qingli dingin.

Tanpa membuang waktu lagi, Gu Qingli melesat pergi meninggalkan gerbang Kota Qinghe, menyongsong takdirnya sendiri dalam derai air mata.

Sesampainya di dalam area Gunung Tianyuan, Shen Mo membimbing Yunche melangkah masuk ke sebuah gua tersembunyi. Di bagian paling dalam, berdiri kokoh sebuah altar batu kuno. Tepat di tengah altar tersebut, terukir tiga pola lingkaran bercahaya tipis.

Yunche mengerutkan keningnya. "Ini apa?"

"Segel," sahut Shen Mo pendek.

"Segel ketiga pada liontin?"

"Benar."

Yunche mengayunkan langkah hendak mendekati altar, namun lengan Shen Mo langsung terentang menahannya. "Jangan menyentuhnya sembarangan."

"Kenapa lagi?"

"Karena karakteristik segel ketiga ini teramat berbeda dari dua segel sebelumnya."

"Berbeda bagaimana?" cecar Yunche.

"Segel pertama membukakan jalan meridianmu, sementara segel kedua melipatgandakan kekuatan spiritualmu," terang Shen Mo seraya menatap lurus ke dalam sepasang mata Yunche. "Sedangkan segel ketiga ini... akan membukakan ingatan masa lalumu yang terbelenggu."

Yunche membeku seketika. "Ingatan?"

"Ya."

"Ingatan tentang apa maksudmu?"

Shen Mo tak langsung menjawab, tatapannya berubah kian redup dan dalam.

Yunche membelalak, sebuah firasat buruk mendadak menyergap dadanya. "Jangan bilang kalau..."

Shen Mo mengangguk perlahan. "Ingatan tentang malam kelam ketika ayahmu dihabisi."

Atmosfer gua seketika berubah mencekam. Seluruh tubuh Yunche terasa dingin memburu. "Bagaimana bisa aku memiliki ingatan itu? Kenapa selama belasan tahun ini aku sama sekali tidak mengingatnya?!"

"Karena saat tragedi itu terjadi, kau masih teramat kecil."

"Berapa umurku saat itu?"

"Tujuh tahun."

Kening Yunche bertaut tajam. "Tujuh tahun..."

"Dan kau... berada tepat di lokasi kejadian," tegas Shen Mo.

Yunche mematung penuh guncangan. "Apa katamu?"

"Kau menyaksikan seluruh pembantaian itu dengan mata kepalamu sendiri."

Yunche melangkah mundur secara refleks, menggelengkan kepalanya keras-keras. "Tidak... tidak mungkin..."

"Yunche, kau ada di sana."

"Kau pasti bohong! Berhenti bicar—"

"Kau menyaksikan Shen Tianyu tewas di depan mata telanjangmu!"

"KUTAKAN BERHENTI!" jerit Yunche histeris seraya menutup kedua telinganya rapat-rapat.

Shen Mo membisu, membiarkan gejolak itu pecah.

Yunche ambruk berlutut ke tanah batu, napasnya memburu parau. Di dalam kepalanya, kilatan memori masa lalu yang terasingkan mendadak meledak paksa.

Lautan api. Jeritan histeris. Bayangan sesosok pria tinggi... ayahnya. Dan... sesosok anak perempuan kecil.

Yunche terperanjat dalam keterpakuannya. "Seorang..."

Shen Mo menatapnya tanpa riak emosi.

Yunche mendongak perlahan, jemarinya meremas rambutnya sendiri. "Di tempat itu... ada seorang anak perempuan..."

Shen Mo mengangguk tipis. "Siapa anak perempuan itu menurutmu?"

Hening menyelimuti gua.

"Katakan padaku, siapa dia?!" seru Yunche menuntut.

Shen Mo akhirnya bersuara, mengucap nama yang menghantam jiwa Yunche: "Putri tunggal Gu Tianming."

Dunia Yunche seolah runtuh seketika. "Gu..."

"Ya," potong Shen Mo. "Gu Qingli."

Yunche langsung bangkit berdiri dengan napas memburu. "Tidak! Tidak mungkin Qingli ada di sana!"

"Dia ada di sana, Yunche."

"Tidak!"

"Gadis itu menyaksikan seluruh rentetan pembunuhan itu bersama dirimu!"

"KUBILANG TIDAK!" jerit Yunche meluapkan emosi yang meledak liar.

BOOM!

Gelombang aura spiritual hitam-merah terhempas hebat dari tubuhnya, membuat Shen Mo terdorong mundur beberapa langkah. Yunche menggenggam kepalanya yang terasa mau pecah, membiarkan potongan memori itu menelannya bulat-bulat.

Gadis kecil itu... sedang menangis terisak di balik celah pintu yang terpapar pendar api. Dan di ruang tengah, ayahnya—Shen Tianyu—berdiri tegak berhadapan dengan Gu Tianming.

Yunche memejamkan mata rapat-raptat saat gema suara dari masa lalu berputar di telinganya.

‘Jangan pernah sentuh anakku!’

Yunche membeku. "Qingli..." bisiknya parau.

Lalu terdengar gema suara berikutnya—suara berat milik Gu Tianming: ‘Aku sungguh tidak ingin membunuhmu, Tianyu.’

‘Kalau begitu jangan lakukan,’ sahut Shen Tianyu dalam ingatan itu. ‘Pergilah dari sini.’

‘Aku tidak bisa pergi.’

‘Kenapa?’

Shen Tianyu membisu sejenak, sebelum akhirnya berucap dengan penuh keteguhan: ‘Karena jika aku melangkah pergi dari pintu ini... putraku yang akan mati.’

Napas Yunche tercekat. Ayahnya... bertarung dan bertahan di sana semata-mata demi melindunginya.

Dalam kilasan memori itu, pendar tebasan pedang mendadak menyala terang. Gu Tianming mengangkat pedangnya tinggi-tinggi. Anehnya, Shen Tianyu sama sekali tidak melayangkan serangan balasan.

Tepat sebelum bilah pedang itu menghantam, Shen Tianyu membisikkan pesan terakhirnya pada lawan bertarungnya: ‘Jaga Yunche... tolong jaga anakku.’

JASSSSS!

Bilah pedang menembus dada Shen Tianyu.

"AYAH!!!" jerit Yunche dalam ingatannya.

Proyeksi memori itu melenyap seketika. Yunche ambruk menghantam tanah dingin gua, terengah-engah dengan derai air mata yang tak terbendung lagi.

Shen Mo berdiri tenang di hadapannya.

Dengan mata sembap berbinar murka, Yunche mendongak menatap sepupunya. "Dia... Gu Tianming benar-benar membunuh ayahku..."

"Ya," sahut Shen Mo datar.

"Kenapa?! Kenapa dia harus membunuhnya jika Ayah tidak melawan?!"

Shen Mo menggeleng pelan. "Kau belum melihat keseluruhan dari alasan di balik tragedi malam itu."

"Aku tidak peduli apa pun alasannya!" tembak Yunche dengan rahang mengeras.

"Benarkah kau tidak peduli?" tantang Shen Mo dingin. "Jika kau begitu membenci Gu Tianming atas kematian ayahmu... lantas apakah kau juga akan mengarahkan kebencian dan pedangmu pada Gu Qingli?"

Yunche tersentak, menatap tajam. "Jangan berani-berani membawa namanya ke dalam masalah ini!"

"Dia adalah putri kandung dari pembunuh ayahmu, Yunche."

"Aku tahu!"

"Dia ada di sana malam itu, menyaksikan ayahnya mengeksekusi ayahmu," pangkas Shen Mo menekankan setiap kata. "Dan selama ini... dia memilih membisu dan tak pernah menceritakan kenyataan itu padamu."

Yunche mengepalkan tangannya rapat-rapat hingga berdarah. "Saat itu dia masih seorang anak kecil!"

"Begitu juga dengan dirimu saat itu," balas Shen Mo tenang.

Yunche terbungkam sepenuhnya.

Shen Mo menarik napas panjang, menatap pemuda di hadapannya dengan raut yang sedikit melunak. "Anak-anak tidak pernah mengerti betapa kelam dan rumitnya dunia orang dewasa."

1
Deutsch
mantap thor
Gia Uw
lanjut lagi
Alia Chans
Datang tiba-tiba, tujuan nya Darah 😭😭
apa gk syok tuh thor
obeng min
luar biasa
obeng min
hurra
obeng min
josss
obeng min
mana nih ketua
DeZigur: besok bang. 5 bab crazy up.
total 1 replies
obeng min
joss
obeng min
mantap
obeng min
lanjut thor
obeng min
gas thor mantap💪💪💪💪👍👍👍👍👍
Semoli Ginon
blom waktunga yunche. sabar 🤭
Semoli Ginon
🤣🤣
Semoli Ginon
duh yunche celamitan pula/Cry/
Semoli Ginon
dasar mc koplak emang 🤣
Semoli Ginon
merepet aja mulutnya yunche. husss diam dulu
Semoli Ginon
sangat tidak sopan 🤣
Semoli Ginon
mc nya rada koplak ini ya? 😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!