NovelToon NovelToon
Putri Asli Yang Tak Pernah Dipilih

Putri Asli Yang Tak Pernah Dipilih

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Putri asli/palsu / Keluarga & Kasih Sayang
Popularitas:10.4k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

"Saat ayahku memilih menyelamatkan putri kesayangannya, dia mengorbankanku tanpa ragu."

Savira Dharma menghabiskan seluruh hidupnya mengejar sesuatu yang tidak pernah ia miliki: pengakuan dari ayahnya.

Sebagai putri kandung keluarga Dharma, ia belajar lebih keras, bekerja lebih lama, dan mengorbankan masa mudanya demi membuktikan bahwa dirinya layak dicintai. Namun ketika skandal penggelapan dana mengguncang Dharma Group, Savira dijadikan kambing hitam untuk melindungi keluarga yang selama ini ia bela.

Ditinggalkan sendirian di tengah hujan fitnah, ayahnya memilih diam.

Malam itu, Savira melompat dari puncak gedung perusahaan yang telah merenggut seluruh hidupnya.

Namun kematian bukanlah akhir.

Saat membuka mata, ia kembali menjadi gadis tujuh belas tahun—tujuh tahun sebelum semua pengkhianatan itu terjadi.

Kali ini, Savira tidak akan mengemis cinta.

Ia tidak akan mengorbankan dirinya demi keluarga yang tak pernah memilihnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

5. Sekutu Berdarah

Sedan hitam pekat itu mengerem mendadak dengan posisi membuang arah. Moncong mobilnya penyok parah setelah menghantam beton pembatas jalan layang. Asap putih berbau karet terbakar mengepul tebal dari bawah ban, meracuni udara dingin Jakarta yang menampar wajah Savira.

Tubuh pria berbalut pakaian compang-camping itu terlempar ke udara. Pria malang tersebut berguling kasar di atas aspal bergerigi, lalu terdiam kaku bersimbah darah.

Jemari Savira menekan tombol rekam pada kamera digitalnya tanpa getar sedikit pun. Lensa panjang beresolusi tinggi itu mengunci setiap inci pergerakan di lokasi kejadian.

Dari balik rimbun semak belukar di sisi bahu jalan, dua algojo bayaran Wijaya keluar dari persembunyian. Mereka sama sekali tidak menolong korban yang terkapar. Salah satu dari mereka justru mengacungkan ponsel tinggi-tinggi. Kilatan cahaya flash menyambar-nyambar beringas dalam kegelapan, merekam pelat nomor sedan mewah tersebut dari berbagai sudut.

Pintu pengemudi sedan terbuka paksa dengan bunyi decit engsel berkarat. Baskara Jayanegara melangkah keluar dengan tubuh limbung. Setelan kemeja abu-abunya basah oleh keringat dingin. Wajah pria arogan itu pucat pasi, kehilangan seluruh raut dominasinya.

Baskara melangkah terhuyung mendekati tubuh korban di tengah marka jalan. Tangannya terulur bimbang, mencoba mencari sisa denyut nadi di leher pria tua itu.

Savira menahan aliran napasnya di kerongkongan. Matanya melirik tajam ke arah selatan jalan layang.

Gema raungan mesin diesel kelas berat mengoyak malam, membuat getaran aspal menjalar hingga ke telapak sepatu Savira. Sebuah truk kargo melaju kencang tanpa menyalakan lampu utama. Raksasa besi hitam itu meluncur buas membelah kabut, menargetkan posisi Baskara yang berjongkok tanpa pertahanan sama sekali.

Ini adalah detik persis kematian Baskara di garis waktu sebelumnya. Detik berdarah yang akan menghancurkan jiwa Aaron Jayanegara selamanya.

Savira tidak bisa membiarkannya terjadi lagi. Ia merogoh saku ranselnya dengan gerakan kilat, menarik keluar sebuah senter taktis berdaya lumen maksimal. Benda padat ini telah ia siapkan khusus untuk menantang malam ini.

Ia mengeluarkan setengah badan dari balik pilar beton penyangga. Ibu jarinya menekan tombol senter ke mode strobo paling tinggi. Cahaya putih yang membutakan menembak lurus, menembus kaca depan truk kargo yang melaju beringas.

Sopir truk itu terkejut. Refleks kelopak matanya tertutup rapat menahan rasa perih. Tangan kasarnya membanting setir ke arah kiri secara tak terkendali.

Ban truk berdecit panjang, kehilangan seluruh cengkeramannya pada aspal basah. Bodi raksasa besi itu oleng hebat, menghantam keras pembatas jalan dengan bunyi ledakan logam yang memekakkan telinga. Truk itu bergesekan panjang dengan beton, memercikkan hujan bunga api yang menyala terang di udara malam, lalu berhenti total sejauh sepuluh meter dari posisi Baskara.

Baskara terlempar ke belakang, jatuh terduduk di aspal kasar. Matanya melebar penuh teror melihat moncong truk yang nyaris melumat tubuhnya menjadi serpihan daging busuk.

"Sialan!" Umpatan kasar terdengar jelas dari arah semak-semak. Preman bertopi bisbol merah itu menendang tanah dengan marah melihat truk gagal meremukkan target. Rencana pembunuhan berlapis Wijaya Dharma berantakan dalam hitungan detik.

Sayup-sayup dari kejauhan, lolongan sirene polisi memecah kesunyian malam. Suara peringatan itu mendekat dengan kecepatan tidak wajar untuk sebuah laporan kecelakaan biasa.

Savira mendecih pelan. Aparat penegak hukum itu datang terlalu cepat. Wijaya jelas telah menyuap mereka untuk langsung menangkap Baskara dan menyegel status pria itu sebagai pembunuh malam ini juga.

Baskara masih mematung di aspal. Napasnya tersengal menatap pendaran lampu rotator merah biru yang mulai memantul di ujung jalan layang. Pria itu masih terjebak dalam kebingungan absolut.

Savira menarik tudung jaket hitamnya hingga menutupi separuh wajah. Ia mengamankan kameranya ke dalam ransel pelindung, lalu berlari cepat keluar dari bayangan pilar. Langkahnya tanpa suara, seringan embusan angin yang menusuk tulang.

Ia mencengkeram kerah kemeja Baskara dari belakang dan menarik pria itu berdiri dengan tenaga penuh.

Baskara terkesiap hebat, tubuhnya memberontak. "Tunggu! Orang itu terluka! Aku harus bertanggung jawab padanya!"

"Ini jebakan, bodoh!" Savira mencengkeram lengan Baskara lebih kuat, ujung kukunya menembus serat kemeja mahal pria itu. Suaranya ditekan serendah mungkin, mendesis bagai bisa ular.

Mata Baskara beralih menatap tajam wajah Savira yang tertutup bayangan tudung gelap.

"Kecuali kau ingin mati membusuk di sel tikus milik Wijaya Dharma karena tuduhan pembunuhan berencana, ikut aku sekarang." Savira menajamkan sorot matanya, membiarkan nama musuh besarnya beresonansi di udara malam.

Nama Wijaya bekerja bagai mantra penangkal racun. Wajah Baskara berubah menegang keras. Kepanikan di matanya perlahan luntur, digantikan oleh kesadaran yang beku. Insting bisnis keluarga Jayanegara akhirnya mengambil alih logika liarnya.

Tanpa menunggu persetujuan, Savira menyeret lengan Baskara menuju tepian gelap jalan layang. Terdapat sebuah tangga besi pemeliharaan yang tersembunyi di balik semak dan dinding beton.

Mereka menuruni anak tangga berkarat itu tepat saat tiga mobil patroli polisi mengerem mendadak di lokasi kejadian. Pintu mobil terbanting terbuka keras. Suara teriakan bariton aparat langsung memenuhi udara malam di atas kepala mereka.

Savira tidak sudi menoleh ke belakang. Ia memimpin jalan menembus lorong-lorong sempit di bawah jalan tol. Hidungnya dijejali aroma lumut basah, air selokan yang menggenang pekat, dan tumpukan sampah plastik yang membusuk. Udara lembap ini membuat paru-parunya bekerja dua kali lipat lebih keras, tetapi kedua kakinya menolak untuk berhenti bergerak.

Baskara mengikuti rapat di belakangnya dengan napas terengah-engah parah. Suara sepatu kulitnya berdebum kasar di atas tanah basah, menciptakan kontras tajam dengan langkah kaki Savira yang nyaris tak menghasilkan gema.

Mereka memutar jauh melewati kompleks pertokoan tua yang gelap gulita, menyusuri dinding bata merah yang penuh coretan, hingga akhirnya cahaya terang lampu jalan raya utama menyambut tubuh mereka.

Kawasan ini padat oleh deretan pedagang kaki lima dan lalu lalang pejalan kaki malam. Mereka aman dari jangkauan penangkapan sepihak aparat bayaran Wijaya.

Savira melepaskan cengkeramannya pada lengan Baskara. Ia memundurkan tubuhnya selangkah ke dalam bayangan kanopi toko, menjaga jarak absolut agar wajahnya tetap tersembunyi di balik tudung jaket.

Baskara menopang bahunya di tembok bata basah, mengambil napas dalam-dalam. Dadanya naik turun dengan tempo berantakan. Sepasang mata tajamnya menatap siluet Savira dari ujung kepala hingga ujung kaki.

"Kau siapa?" Baskara menuntut jawaban dengan suara seraknya.

Savira mengunci bibirnya rapat-rapat. Matanya yang sedingin lautan es hanya mengamati postur tubuh Baskara yang masih utuh bernapas. Pria ini hidup. Garis waktu telah berhasil ia bengkokkan dengan paksa malam ini.

"Kenapa kau menyelamatkanku? Dari mana kau tahu ini murni perbuatan licik Wijaya?" Pria itu memaksakan kakinya melangkah maju satu tindak, mencoba memperpendek jarak di antara mereka.

Angin malam berembus kencang melintasi lorong sempit itu. Tudung jaket Savira tersingkap sedikit, memperlihatkan lengkungan rahangnya yang tegas di bawah cahaya temaram. Aroma melati tipis terlepas bebas ke udara, menyapu indra penciuman Baskara selama sekian detik.

Savira membalikkan badannya begitu saja. Ia membaur cepat ke dalam kerumunan pejalan kaki yang riuh, membiarkan Baskara mematung di ujung lorong dengan kepalanya yang dipenuhi sejuta pertanyaan tak terjawab.

Dua jam kemudian, Savira duduk tenang di depan meja lipat usang di sebuah kamar indekos sewaan yang berbau apak. Kipas angin kecil berputar pelan di sudut ruangan, mengeluarkan bunyi berderik yang monoton mengiris sunyi.

Cahaya biru terang dari layar laptop menerangi wajah pucatnya.

Ia memasukkan kartu memori dari kamera digitalnya ke dalam slot samping laptop. Video yang baru saja ia rekam berputar lancar di layar. Rencananya berjalan dengan tingkat akurasi yang sempurna.

Resolusi tinggi lensa itu menangkap kontur wajah preman bertopi merah dengan sangat jelas. Suara percakapan kotor mereka tentang jumlah bayaran Wijaya Dharma terekam bersih berkat pengaturan mikrofon terarah yang ia pasang. Adegan pendorongan pria tua tak berdaya itu ke aspal, kedatangan mobil sedan Baskara, hingga moncong truk kargo yang gagal menabrak target terekam tanpa celah.

Jari-jari Savira menari gesit di atas tombol keyboard. Ia memindahkan fail video orisinal itu ke dalam sebuah flashdisk hitam berukuran kecil.

Dada Savira bergemuruh teratur. Aliran adrenalin yang sejak tadi memompa denyut darahnya kini perlahan surut tak bersisa. Sensasi panas di sekujur tubuhnya digantikan oleh kepuasan absolut yang membekukan kewarasannya.

Satu pilar penyangga skenario kejam ayahnya telah ia hancurkan berkeping-keping malam ini.

Aaron Jayanegara tidak akan kehilangan kakaknya. Pria posesif yang selalu mengorbankan tubuhnya untuk melindungi Savira di kehidupan lalu itu tidak akan hancur menjadi cangkang kosong yang gila. Keluarga Jayanegara akan tetap berdiri kokoh menyala sebagai lawan paling sepadan bagi kerajaan bisnis Dharma Group.

Mereka akan menjadi sekutu berdarahnya. Bidak terkuat di atas papan catur pembalasannya.

Savira mencabut flashdisk hitam itu dari port laptop. Logam penyimpannya terasa dingin dan solid di ujung jarinya.

Ia mengambil sebuah amplop cokelat bersih dari dalam laci mejanya. Benda kertas ini adalah kunci pembuka kotak Pandora yang akan memicu peperangan tanpa ampun di ibu kota. Amplop ini akan segera menemukan tempat peristirahatan sempurnanya di atas meja kerja kayu jati eksklusif milik Aaron Jayanegara.

Savira memasukkan flashdisk tersebut ke dalam amplop. Ia merekatkan penutupnya kuat-kuat. Permukaan amplop itu dibiarkan telanjang, tanpa prangko pengiriman, tanpa nama pengirim, tanpa sepucuk surat penjelasan pun. Durasi video di dalamnya sudah lebih dari cukup untuk membuat Aaron dan Baskara bergerak buas mengincar leher urat nadi Wijaya Dharma.

1
DdCantik
ironis banget, baru bab1 padahal 👍
sukensri hardiati
itu kalau permen strawberry terus dikonsumsi....mk begitu wijaya tumbang...maka kamu juga bisa tumbang kena diabet
Sulati Cus
adu kekuatan sm bokap yg kental kelicikan ternyata g ada seujung kuku nya, terlalu dini pgn balas dendam mlh hancur sendiri
gina altira
makin rumit pertarungannya
tutiana
luar biasa
gina altira
Sosiopat itu sangat mengerikan
sukensri hardiati
hadeeeh savira....ganti permen straberimu dengan camilan sehat....otak geniusmu jadi lengket nanti...
gina altira
jgn" Savira yg akan jadi tumbal
gina altira
kuat Savira,, jgn menyerah
nur
ngeselin bpkmu vir
Pawon Ana
terus terang sampai sini perkembangan karakter Savira agak lambat, yng aku pahami Savira ini masih terbelenggu dengan trauma dimasa kehidupan sebelumnya, dia belum bisa benar2 lepas, egonya yang merasa mampu sendiri masih tinggi...🤦
Pawon Ana
ih itu otak Savira kok tidak ngebul ya....aktif terus tidak berhenti...🤦
Wega Luna
sebenarnya ceritanya bagus entah kenapa musuh lebih kuat dari para MC,panik panik panik sedang musuh hanya dengan diam tapi bisa melihat segala nya, ,dan sekarang Savira ditanya siapa pelakunya, Savira hanya menambah luka, jika tidak dicintai buat hatimu menjadi tembok besar, jangan sampai menambah luka, dengar berita ini langsung sakit hati,aku dulu juga gitu dengan orang tua ku,aku memilih cuek dan tidak memasukkan ke hati,, sampai bab ini aku belum bisa bangga dengan savira
Pawon Ana
berhadapan dengan sumber trauma terkadang memang menguras kewarasan mental 💪✌️
Cty Badria
ya hancurkan
Pawon Ana
ayo aku menunggu aksi duo genius selanjutnya 💪
kymlove...
mari🫡
watno antonio
lanjut thor
sukensri hardiati
tolong masukkan cerita ini ke perpus on going dong....biar gampang nyarinya ...
sukensri hardiati
aduuuhh...klo boleh menyayangkan awal yg tragis...bunuh diri...nggak cocok untuk gadis kuat yg merupakan tokoh utama cerita...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!