Kelas Privat Maya: Di Balik Senyum CEO
Di sebuah sudut kota yang ramai, tersembunyi sebuah ruangan kecil yang penuh dengan tumpukan buku dan aroma kopi yang khas. Ruangan itu adalah 'Kelas Privat Maya', tempat di mana mimpi-mimpi sederhana diukir dan harapan-harapan baru tumbuh. Maya, seorang guru privat yang ceria dan penuh semangat, mendedikasikan hidupnya untuk membantu anak-anak dari latar belakang kurang mampu.
Suatu hari, seorang pria misterius datang ke kelas Maya. Pria itu tinggi, tampan, dan berpakaian rapi, jauh dari bayangan Maya tentang seorang ayah atau kakak yang biasa mengantar anak-anaknya les. Pria itu memperkenalkan dirinya sebagai CEO sebuah perusahaan besar, namun sorot matanya yang lelah dan senyumnya yang terpaksa menyiratkan beban yang berat.
Awalnya, Maya mengira pria itu ingin mendaftarkan anaknya. Namun, ia terkejut ketika pria itu berkata, "Aku ingin belajar, Maya. Ajari aku cara tersenyum lagi." Ternyata, di balik kesuksesannya yang gemilang, CEO
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizaidhan Luthfian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sang Pewaris Tak Berhati
Bunyi ketukan heels dan sepatu kulit yang beradu cepat dengan lantai marmer yang mengilap memecah keheningan lantai paling atas gedung Elang Group. Semua pegawai yang berpapasan langsung menunduk seratus delapan puluh derajat, tak ada yang berani menatap mata pria yang baru saja melangkah keluar dari lift privat tersebut.
Kian Elang Baskara.
Di usianya yang baru menginjak 28 tahun, ia sudah memikul takdir yang amat berat. Tiga tahun lalu, kematian mendadak sang ayah akibat serangan jantung memaksa Kian memotong masa mudanya. Sebagai anak semata wayang, seluruh kekaisaran bisnis Elang Group jatuh penuh ke tangannya. Tidak hanya menahkodai perusahaan induk yang bergerak di bidang startup dan teknologi, Kian juga memegang posisi sebagai Direktur Utama di yayasan pendidikan keluarga—sebuah kampus ternama dan SMP swasta elit di pusat kota.
"Jadwal hari ini, Pak Kian," ujar Rian, sekretaris pribadinya, seraya berjalan cepat menyamai langkah lebar sang CEO. "Jam sepuluh rapat evaluasi anggaran dengan dewan direksi Elang Group. Jam satu siang peninjauan fasilitas laboratorium baru di Kampus Elang Utama, dan jam tiga sore ada rapat dengan kepala sekolah SMP Elang Bangsa terkait insiden salah satu siswa kemarin."
Kian tidak berhenti melangkah. Jemarinya yang kokoh membetulkan posisi dasi yang sedikit melonggar.
"Laporan anggaran dari divisi pemasaran sudah kamu revisi?" suara Kian terdengar dingin, tegas, dan tanpa hembusan emosi.
"Sudah, Pak. Tapi... Manajer Pemasaran meminta waktu untuk menjelaskan alasan keterlambatan—"
"Tidak ada penjelasan," potong Kian dingin seraya mendorong pintu ruang kerjanya yang megah. "Satu persen kesalahan angka adalah kelalaian. Potong bonus divisinya sepuluh persen."
Rian meringis pelan, namun hanya bisa mengangguk pasrah. Satu lagi korban dari Sang Pangeran Es.
Di dalam ruangan ber-AC dingin itu, seorang wanita paruh baya bertubuh anggun sedang duduk meminum teh hangat di sofa kulit. Ibu Eleanor, ibu kandung Kian sekaligus komisaris utama yayasan. Sejak peninggalan almarhum suaminya, Eleanor-lah satu-satunya alasan Kian masih mau tersenyum—itu pun sangat jarang.
"Kian, duduklah sebentar," panggil ibunya lembut.
Kian menghela napas pendek, lalu melunak sedikit. Ia mendekati ibunya dan mencium tangannya penuh hormat. "Ibu kenapa sudah di kantor pagi-pagi begini? Kesehatan Ibu belum stabil."
"Ibu ke sini bukan untuk bahas kesehatan, Kian," ujar Eleanor menatap putra tunggalnya dengan pandangan prihatin. "Ibu baru saja menerima laporan dari dewan direksi dan para dekan di kampus."
Kian mengernyitkan dahi. "Laporan apa? Semua dividen naik, efisiensi kampus meningkat lima belas persen."
"Tapi kamu memecat dua dosen senior minggu lalu hanya karena mereka terlambat menyerahkan modul lima menit, Kian!" tegas Eleanor. "Di SMP juga sama, para guru ketakutan setiap kali kamu datang meninjau. Kamu memimpin tempat usaha dan lembaga pendidikan seperti menjalankan kamp militer. Kian, manusia itu punya perasaan, bukan sekadar angka di atas kertas laporan keuangan."
"Disiplin adalah kunci efisiensi, Bu," balas Kian kaku. "Ayah mengajari saya untuk tidak pernah membawa perasaan ke dalam bisnis."
"Ayahmu tegas, tapi dia punya empati! Itu bedanya," potong Eleanor lembut namun menusuk. "Dewan direksi mulai resah dengan citra publikmu yang dingin dan kaku. Ini bisa berdampak buruk pada saham perusahaan dan reputasi yayasan."
Eleanor meletakkan sebuah cangkir tehnya, lalu mengambil sebuah brosur dari dalam tasnya dan meletakkannya di atas meja kaca.
"Ibu sudah mendaftarkanmu ke sebuah program privat komunikasi dan pengembangan karakter. Ini wajib."
Kian menatap brosur itu dengan kening berkerut dalam. "Kelas komunikasi? Ibu bercanda? Saya seorang CEO Elang Group dan Direktur Utama dua lembaga pendidikan. Saya tidak butuh kelas anak kecil seperti ini."
"Kamu butuh, Kian. Atau Ibu akan mencabut hak veto kamu di rapat dewan direksi minggu depan," ancam Eleanor tenang, namun mematikan.
Kian mengepalkan tangannya.itu, ia tak punya pilihan lain. Dengan perasaan gusar dan harga diri yang terluka, Kian menyambar kertas brosur tersebut.
Di sana tertera nama sebuah bimbingan privat khusus dengan satu nama pengajar di bawahnya: Maya Saraswati, S.Pd., M.Hum.
Siapapun "Maya" ini, Kian berjanji dalam hati akan membuat wanita itu menyerah dan membubarkan kelas konyol ini pada hari pertama.
Langkah kaki Kian meninggalkan ruang kerja ibunya dengan ketukan yang jauh lebih berat dan gusar. Brosur di genggamannya sudah agak remuk. Nama Maya Saraswati, S.Pd., M.Hum. yang tertera di sana terus menari-nari di ingatan Kian, memicu kekesalan yang kian membakar harga dirinya.
Sore itu juga, Kian memutuskan untuk langsung mendatangi lokasi bimbingan privat tersebut—bukan untuk belajar, melainkan untuk memberi pelajaran pada si pengajar dan menyelesaikan "formalitas" ini secepat mungkin.
Perjumpaan di Ruang Kaca
Mobil sedan hitam Kian berhenti di depan sebuah bangunan tua berarsitektur kolonial yang dipenuhi pepohonan rindang di kawasan Jakarta Pusat. Tidak ada papan nama megah, hanya plang kayu kecil bertuliskan “Lentera Bahasa & Karakter”.
Kian melangkah masuk dengan gaya angkuhnya, bersiap menghadapi sesosok wanita yang ia bayangkan akan gemetar atau membungkuk hormat saat melihat Kian Elang Baskara.
Namun, pemandangan di dalam ruang kelas berdinding kaca itu justru menghentikan langkah Kian.
Seorang wanita berbalut kemeja linen putih dan kain batik modern sedang berdiri di depan lima anak remaja dari latar belakang kurang mampu—program sosial yang dikelola Maya di luar kelas privatnya. Suara wanita itu merdu, namun terpancar wibawa yang luar biasa kuat saat ia membimbing anak-anak itu membacakan puisi.
Saat pandangan mereka beradu melewati dinding kaca, tidak ada rasa terkejut, silau, apalagi takut di mata wanita itu. Maya Saraswati hanya menatap Kian tenang, lalu memberikan isyarat dengan jemarinya agar Kian menunggu di luar hingga kelasnya selesai.
Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun terakhir, seorang Kian Elang Baskara diperintahkan untuk menunggu.
Benturan Dua DuniaLima belas menit kemudian, pintu kaca terbuka. Maya melangkah keluar, merapikan beberapa lembar kertas analisis bahasa di tangannya, lalu menatap Kian dari atas ke bawah secara tenang.
"Pak Kian Elang Baskara. Tiga belas menit lebih awal dari jadwal privat yang disepakati," ujar Maya datar, suara dan intonasinya begitu tertata, khas seorang pakar bahasa dan sastra. "Tepat waktu adalah bentuk rasa hormat, tetapi datang terlalu awal dan mengganggu fokus orang lain adalah bentuk dominasi yang tidak perlu."
Kian menyipitkan mata, rahangnya mengetat. "Saya tidak punya banyak waktu untuk basa-basi, Bu Maya. Saya datang ke sini karena paksaan ibu saya. Jadi, sebutkan berapa tarif yang Anda inginkan untuk menandatangani sertifikat kelulusan saya tanpa perlu saya menghadiri kelas konyol ini."
Maya menghentikan gerak jemarinya. Ia menatap Kian lurus ke dalam manik matanya—sebuah tatapan yang biasanya membuat para manajer di Elang Group berkeringat dingin. Namun Maya justru tersenyum tipis, sebuah senyuman elegan yang terasa lebih dingin dari AC ruang kerja Kian.
"Uang Anda bisa membeli saham dan gedung, Pak Kian. Tapi di ruang kelas saya, uang Anda tidak lebih dari sekadar kertas," balas Maya santai seraya berjalan menuju meja kerjanya. "Ibu Eleanor membayar saya untuk membentuk kembali cara Anda berkomunikasi dan berempati, bukan untuk menjual tanda tangan."
"Saya memimpin puluhan ribu karyawan dan ribuan siswa!" tegas Kian, langkahnya mendekati Maya, mencoba mengintimidasi dengan postur tubuhnya yang tinggi. "Komunikasi saya tidak ada masalah."
Maya balik memutar badan, menatap Kian tanpa jarak.
"Memerintah bukanlah berkomunikasi, Pak Kian," potong Maya lembut namun menohok. "Anak buah Anda patuh karena takut, bukan karena hormat. Anda membangun benteng es untuk melindungi diri Anda sendiri sejak kehilangan ayah Anda, dan tanpa Anda sadari, es itu mulai menghancurkan kekaisaran yang Anda pimpin."
Kata-kata Maya bagai petir di siang bolong. Kian terpaku. Bagaimana mungkin wanita yang baru ditemuinya lima menit lalu bisa membaca luka mendalam yang selama ini ia sembunyikan rapat-rapat di balik jas mewahnya?
Permainan Dimulai. "Anda tidak tahu apa-apa tentang saya atau bisnis saya," desis Kian dengan suara rendah yang berbahaya.
"Saya tahu cukup banyak dari cara Anda berdiri, bernapas, dan memotong kalimat orang lain," sahut Maya tenang seraya menyerahkan sebuah buku catatan kosong dan sebuah pulpen sederhana kepada Kian.
"Apa ini?" Kian menatap benda murah di tangannya dengan dahi berkerut.
"Tugas pertama Anda," jawab Maya sambil tersenyum tenang. "Mulai besok pagi, lepaskan jas mahal Anda. Selama dua jam setiap harinya sebelum jam kantor, Anda bukan CEO Elang Group. Anda adalah murid saya. Jika Anda mangkir satu kali saja, saya sendiri yang akan menyerahkan laporan evaluasi kegagalan Anda langsung ke tangan Ibu Eleanor."
Kian mengepalkan tangannya rapat-rapat, menatap Maya yang kini sudah kembali sibuk memeriksa tugas-tugas muridnya, sama sekali tak lagi memedulikan kehadiran sang pangeran es.
Untuk pertama kalinya dalam hidup Kian, ia bertemu dengan lawan yang tidak bisa ditaklukkan dengan uang ataupun kekuasaan. Perang dingin antara CEO berhati es dan guru sastra bersuara lembut itu resmi dimulai.