Putri Asli Yang Tak Pernah Dipilih

Putri Asli Yang Tak Pernah Dipilih

1. Akhirnya Patah

Savira berdiri di bibir atap Dharma Tower lantai dua puluh satu, angin Jakarta malam ini memukul sisi wajahnya sampai kupingnya perih.

Di bawah sana, jurnalis-jurnalis bergerombol di bawah lampu sorot mobil satelit. Mikrofon teracung ke atas, meski mereka belum tahu dia sudah ada di sini sejak tiga puluh menit lalu.

"Savira Dharma! Ke mana Anda kabur?"

"Berapa yang sudah anda gelapkan, Ibu Safira?"

"Satu komentar! Tolong!"

Savira tidak menjawab. Tangannya mencengkeram pagar besi di bibir atap. Logam itu dingin sekali, sampai terasa membakar telapaknya.

Satu panggilan. Hanya butuh satu panggilan yang diangkat malam ini.

Nomor itu ia hafal sejak usia tujuh tahun. Dulu ditulis rapi di buku diary bergambar beruang karena takut lupa. Sekarang jari-jarinya menemukan deretan angka itu tanpa perlu melihat layar.

Tersambung setelah dua nada.

"Dharma Group, Bapak Wijaya sedang tidak bisa dihubungi, ada yang bisa saya bantu?"

"Ini Savira. Savira Dharma."

Jeda kecil.

"Maaf, Ibu. Bapak meninggalkan pesan agar tidak diganggu malam ini."

"Bilang ada keadaan darurat."

"Saya mengerti, Ibu, tapi—"

"Nama saya ada di headline, ini tentang korupsi tujuh belas miliar yang tidak pernah saya lakukan. Di seluruh portal berita nasional. Itu bukan keadaan darurat?"

Hening. Bukan hening canggung. Hening terlatih.

"Bapak sudah mengetahui situasinya, Ibu Savira. Beliau memilih tidak mengomentari untuk saat ini."

"Bukan komentar yang saya minta. Satu pernyataan dukungan. Dua kalimat."

"Maaf, Ibu."

Klik.

Savira turunkan ponselnya. Dadanya sesak, bukan dari menangis. Tidak ada yang cukup tersisa untuk menangis. Sesak dari cara kata maaf itu diucapkan, datar dan profesional, tanpa bekas, seperti menutup pintu di wajah seseorang tanpa ekspresi.

Di bawah sana, seseorang berteriak lagi. "Dharma Group akan pecat atau lindungi tersangka?"

Dia pencet nomor yang sama. Kali ini langsung masuk voicemail.

"Anda tersambung dengan nomor Wijaya Dharma. Tinggalkan pesan setelah nada bip." Suara itu hangat. Seperti pemiliknya adalah orang yang bisa diandalkan.

Bip.

"Pak." Suaranya terdengar asing di telinganya sendiri. Bukan suara direktur riset yang memimpin rapat tiga puluh orang. Bukan suara yang dua tahun berturut-turut melobi investor asing tanpa catatan. Suara ini lebih kecil. Lebih tua dari usianya.

"Saya butuh bantuan. Satu pernyataan saja, bahwa Bapak percaya saya tidak bersalah." Tenggorokannya seperti ada yang menyumbatnya dari dalam. "Saya mohon."

Bip. Rekaman selesai.

Ponselnya bergetar. Notifikasi dari portal berita yang tadi malam mencetak namanya sebagai tersangka. Tangannya hampir tidak membuka, tapi bergerak sendiri.

Foto Wijaya Dharma muncul pertama. Setelan abu-abu, rambut tersisir sempurna, senyum hangat ke kamera. Di sebelah kirinya, Nadia menempel manja di lengan ayahnya, gaun kremnya bersih seperti iklan.

ULANG TAHUN KE-25 NADIA DHARMA. PAPA SELALU ADA UNTUKKU.

Ada video pendek di bawah foto. Savira menekan play.

"Nadia," suara Wijaya terdengar dalam dan hangat di speaker ponselnya, "adalah segala yang terbaik dari keluarga ini. Dua puluh lima tahun yang sangat membahagiakan kami."

Sorak tamu. Kamera bergeser ke Nadia yang tertawa kecil.

"Papa, jangan bikin aku malu."

"Tidak ada yang perlu malu dari menjadi sempurna, nak."

Nadia tersenyum lalu menyandarkan kepalanya ke bahu Wijaya. "Aku cuma beruntung jadi putri Papa."

Tepuk tangan memenuhi ruangan. Savira tekan pause.

Dua puluh lima tahun. Nadia baru hidup di keluarga itu selama dua puluh lima tahun. Savira juga. Tapi hanya satu dari mereka yang pernah dipanggil putri. Yang satu lagi hanya dipanggil saat perusahaan membutuhkan seseorang untuk bekerja sampai larut malam.

Dia ingat rapat itu. Empat belas bulan lalu. Ruang dewan lantai sembilan belas. Waktu dia presentasikan hasil dua tahun riset ekspansi ke pasar Asia Tenggara. Laporan delapan puluh halaman. Dikerjakan sendiri. Angka per angka.

Wijaya duduk di ujung meja. Tidak melihat layar presentasinya sekali pun.

"Angkanya terlalu optimistis," katanya begitu Savira selesai. "Kita tunda."

"Ini data real dari tiga kuartal, Pak. Proyeksinya justru konservatif."

"Saya bilang tunda."

Tidak ada penjelasan. Direktur lain saling lirik. Savira hanya bisa merapihkan proyektornya dalam diam.

Dia kejar Wijaya di koridor setelah rapat bubar. "Pak, tolong lihat datanya. Lima menit saja."

Wijaya berhenti. Menatap Savira, bukan dengan kemarahan. Tidak dengan kekecewaan. Dengan sesuatu yang jauh lebih buruk dari keduanya. Tatapan orang yang sedang diganggu oleh sesuatu yang tidak cukup penting untuk dimarahi.

"Savira." Suaranya rendah. Tidak untuk didengar orang lain. "Kamu pintar. Tapi kamu tidak perlu membuktikan apa pun kepada saya."

"Saya tidak sedang membuktikan apa pun. Ini proposal bisnis."

"Posisimu sudah aman. Tidak perlu bekerja keras seperti ini."

Savira diam. Baru waktu itu dia benar-benar mengerti. Posisinya aman bukan karena dia layak. Aman karena dia berguna. Selama angkanya tidak merepotkan, dia boleh ada. Selama dia tidak membutuhkan terlalu banyak, dia boleh tinggal. Bukan karena dia anaknya. Karena dia aset yang belum kedaluwarsa.

Dari kantong jaketnya ada satu benda kecil. Jepit rambut berbentuk bunga melati. Catnya sudah pudar. Satu sisinya patah. Milik ibunya. Satu-satunya benda yang tersisa dari perempuan yang meninggalkan jepit itu di meja samping tempat tidur Savira saat dia berusia tujuh tahun, tiga hari sebelum pergi dan tidak kembali.

Savira keluarkan jepit itu. Dingin di antara jari-jarinya. Bau melati yang tipis. Mungkin nyata. Mungkin hanya ingatan. Dia sudah tidak bisa membedakannya.

"Kamu tidak perlu dipilih siapa pun." Suara ibunya muncul dari tempat yang sangat jauh. "Kamu sudah ada. Itu cukup."

Tapi cukup untuk apa? Untuk berdiri di sini sendirian. Empat puluh tiga kamera menunggu di bawah. Untuk ayahnya yang malam ini memotong kue ulang tahun anak orang lain dan menyebutnya sempurna. Untuk dua puluh tahun upaya yang dilipat menjadi satu headline yang tidak pernah dia tulis.

"Savira!" Suara dari bawah naik lagi. "Komentar! Kami butuh komentar!"

Ponselnya bergetar. Savira menoleh. Nomor Wijaya Dharma. Jantungnya berhenti sesaat. Tangannya gemetar saat mengangkat panggilan itu.

"Pak?"

Tidak ada suara. Lalu rekaman otomatis terdengar.

"Ibu Savira." Suara sekretaris yang sama. "Demi kepentingan perusahaan, Bapak meminta agar Ibu tidak memberikan pernyataan apa pun kepada media."

Savira menutup mata. Rekaman itu berlanjut. "Dan mohon jangan mengambil tindakan yang dapat memperburuk situasi atau mencoreng nama keluarga."

Klik.

Sambungan terputus. Tidak ada pertanyaan. Tidak ada dukungan. Tidak ada satu kalimat pun yang mengatakan bahwa ayahnya percaya padanya. Hanya peringatan. Hanya nama keluarga. Hanya perusahaan. Bukan dirinya.

Sesuatu di dalam dada Savira akhirnya patah. Bukan malam ini. Mungkin sudah bertahun-tahun lalu. Malam ini hanyalah pertama kalinya dia berhenti berpura-pura bahwa bagian itu masih utuh.

Centang satu di pesan terakhirnya ke Wijaya. Tidak akan pernah dua.

Savira tertawa kecil. Suara yang bahkan tidak terdengar seperti tawa. Dia letakkan jepit rambut melati itu di atas pagar besi. Lalu ponselnya. Di layar, wajah Wijaya masih membeku dalam senyum hangat yang tidak pernah diberikan kepadanya.

Angin malam menerpa lebih keras. Bau melati itu masih ada. Sangat tipis. Sangat jauh. Seolah berasal dari kehidupan orang lain.

Savira menatap lautan lampu Jakarta di bawah sana. Jutaan cahaya. Tidak satu pun menunggunya pulang.

Dia mengangkat satu kaki. Melewati pagar. Lalu kaki yang lain. Angin langsung menarik rambutnya ke belakang. Kemeja putihnya berkibar liar.

Di bawah, seseorang akhirnya melihatnya. Jeritan pecah dari kerumunan. Terlambat. Sangat terlambat.

Savira membuka jemarinya dari pagar. Bau melati menghilang. Lampu kota berubah menjadi garis-garis cahaya. Angin meraung di telinganya. Gedung. Langit. Lampu. Semua berputar menjadi satu.

Tubuhnya jatuh. Lebih cepat. Lebih cepat. Lebih cepat.

Lalu—

Gelap.

---

Savira tersentak bangun. Napasnya pecah keras. Dadanya naik turun seperti baru saja ditarik keluar dari laut.

Langit-langit kamar. Dinding biru pucat. Lemari kayu tua. Poster universitas yang sudah lama dilepas. Semuanya terlalu familiar. Terlalu mustahil.

Tangannya bergerak sendiri ke rambutnya. Ke wajahnya. Ke lehernya. Masih hidup. Masih bernapas.

Lalu pandangannya jatuh ke kalender di meja belajar. Dan darah di tubuhnya seakan membeku.

Tahun 2015. Usianya tujuh belas tahun.

Terpopuler

Comments

sukensri hardiati

sukensri hardiati

aduuuhh...klo boleh menyayangkan awal yg tragis...bunuh diri...nggak cocok untuk gadis kuat yg merupakan tokoh utama cerita...

2026-06-22

0

DdCantik

DdCantik

ironis banget, baru bab1 padahal 👍

2026-06-29

0

Wahyuningsih

Wahyuningsih

q mampir thor

2026-07-12

0

lihat semua
Episodes
1 1. Akhirnya Patah
2 2. Tujuh Belas Tahun
3 3. Titik Nol
4 4. Merancang Skenario
5 5. Sekutu Berdarah
6 6. Skandal Pembunuhan Berdarah
7 7. Merusak Takdir
8 8. Aset yang Efisien
9 9. Bukti Nyata
10 10. Menutupi Kegugupannya
11 11. Utang Nyawa
12 12. Terlalu Identik
13 13. Tanpa disadari
14 14. Perebutan Teritorial
15 15. Memakan Sisa Kewarasan
16 16. Cabang Probabilitas
17 17. Senjata Pembunuh Sungguhan
18 18. Menahan Godaan
19 19. Kekacauan yang Sedang Terjadi
20 20. Kita Coba Lagi
21 21. Skenario Pencucian Dosa
22 22. Terapi Psikologis
23 23. Bayangan Masa Lalu
24 24. Keberanian Gila
25 25. Bidan Kartika
26 26. Panggung Akademik
27 27. Lelucon Takdir
28 28. Manipulasi Finansial
29 29. Kepanikan Buta
30 30. Bermain Sangat Rapi
31 31. Tidak Memiliki Nilai Tukar
32 32. Pola Serangannya Berubah
33 33. Alarm Bahaya
34 34. Resikonya Terlalu Besar
35 35. Akan Musnah
36 36. Bidak Catur
37 37. Sejak Awal
38 38. Taktik Sunyi
39 39. Sisa-sisa Masa Lalu
40 40. Menonton Kehancuran
41 41. Dalam Bentuk Kelembutan
42 42. Runtuh Seketika
43 43. Dalih Basi yang Sama
44 44. Kebanggaan Sejati
45 45. Tidak Butuh
46 Baru — Rebirth, Kali Ini Aku Menikahi Adikmu
47 46. Merasa Sangat Pintar
48 47. Membutakan Logika
49 48. Regu Pembersih
50 49. Bara Permusuhan
51 50. Terlalu Yakin
52 51. Pengakuan Paling Telak
53 52. Waktu Akan Membuktikan
54 53. Menuntut Kedaulatan
55 54. Dengan Tanganku Sendiri
56 55. Bahan Bakar Utama
57 56. Cukup Membuat Pusing
58 57. Mencari Jalan Keluar Darurat
59 58. Menyerang Aliansi
60 59. Mencari Anomali Data
61 60. Hanya Mengelupas Perbannya
62 61. Fokus Menyiapkan Mental
63 62. Hancur Terbakar
64 63. Berbanding Terbalik
65 64. Memegang Kendali Penuh
66 65. Lapis Demi Lapis
67 66. Sangat Meyakinkan
68 67. Mengubah Status
69 68. Pukulan Paling Mematikan
70 69. Merebut Kembali
71 70. Penghakiman Massal
72 71. Berhenti Berputar
73 72. Dia Bukan Ibuku
74 73. Celah Ketakutan
75 74. Seperti Keluarga
76 75. Di Bawah Kendaliku
77 76. Ditutup Total
78 77. Membunuh Sang Monster
79 78. Terpenuhi Secara Terhormat
80 79. Pengakuan Hukum
81 80. Pidana Penjara
Episodes

Updated 81 Episodes

1
1. Akhirnya Patah
2
2. Tujuh Belas Tahun
3
3. Titik Nol
4
4. Merancang Skenario
5
5. Sekutu Berdarah
6
6. Skandal Pembunuhan Berdarah
7
7. Merusak Takdir
8
8. Aset yang Efisien
9
9. Bukti Nyata
10
10. Menutupi Kegugupannya
11
11. Utang Nyawa
12
12. Terlalu Identik
13
13. Tanpa disadari
14
14. Perebutan Teritorial
15
15. Memakan Sisa Kewarasan
16
16. Cabang Probabilitas
17
17. Senjata Pembunuh Sungguhan
18
18. Menahan Godaan
19
19. Kekacauan yang Sedang Terjadi
20
20. Kita Coba Lagi
21
21. Skenario Pencucian Dosa
22
22. Terapi Psikologis
23
23. Bayangan Masa Lalu
24
24. Keberanian Gila
25
25. Bidan Kartika
26
26. Panggung Akademik
27
27. Lelucon Takdir
28
28. Manipulasi Finansial
29
29. Kepanikan Buta
30
30. Bermain Sangat Rapi
31
31. Tidak Memiliki Nilai Tukar
32
32. Pola Serangannya Berubah
33
33. Alarm Bahaya
34
34. Resikonya Terlalu Besar
35
35. Akan Musnah
36
36. Bidak Catur
37
37. Sejak Awal
38
38. Taktik Sunyi
39
39. Sisa-sisa Masa Lalu
40
40. Menonton Kehancuran
41
41. Dalam Bentuk Kelembutan
42
42. Runtuh Seketika
43
43. Dalih Basi yang Sama
44
44. Kebanggaan Sejati
45
45. Tidak Butuh
46
Baru — Rebirth, Kali Ini Aku Menikahi Adikmu
47
46. Merasa Sangat Pintar
48
47. Membutakan Logika
49
48. Regu Pembersih
50
49. Bara Permusuhan
51
50. Terlalu Yakin
52
51. Pengakuan Paling Telak
53
52. Waktu Akan Membuktikan
54
53. Menuntut Kedaulatan
55
54. Dengan Tanganku Sendiri
56
55. Bahan Bakar Utama
57
56. Cukup Membuat Pusing
58
57. Mencari Jalan Keluar Darurat
59
58. Menyerang Aliansi
60
59. Mencari Anomali Data
61
60. Hanya Mengelupas Perbannya
62
61. Fokus Menyiapkan Mental
63
62. Hancur Terbakar
64
63. Berbanding Terbalik
65
64. Memegang Kendali Penuh
66
65. Lapis Demi Lapis
67
66. Sangat Meyakinkan
68
67. Mengubah Status
69
68. Pukulan Paling Mematikan
70
69. Merebut Kembali
71
70. Penghakiman Massal
72
71. Berhenti Berputar
73
72. Dia Bukan Ibuku
74
73. Celah Ketakutan
75
74. Seperti Keluarga
76
75. Di Bawah Kendaliku
77
76. Ditutup Total
78
77. Membunuh Sang Monster
79
78. Terpenuhi Secara Terhormat
80
79. Pengakuan Hukum
81
80. Pidana Penjara

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!