Mengisahkan tentang dua orang anak kembar yang memilki dunia yang sama. Karena sejak kecil mereka memang tidak pernah terpisahkan.
Rean Arya Partama, kakak dari Sean Kingston yang terkenal sebagai dokter playboy, padahal dirinya bahkan tidak pernah berpacaran sebelumnya. Sosok hangat yang selalu menjadi partner terbaik dalam hidup adik kembarnya, Sean.
Sean Aryo Pratama, seorang dokter muda yang memiliki kesabaran seluar lautan, namun berubah menjadi dingin saat sebuah kecelakaan merenggut seluruh masa depannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tessa Amelia Wahyudi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 05
Rean terduduk lemas di koridor rumah sakit, saat Sean harus segera di operasi. Bahkan yang membuatnya terdiam saat melihat luka sayatan yang begitu panjang di lengan kiri Sean akibat pecahan kaca mobil yang menancap di bagian tersebut.
Luka itu, Rean bukan orang bodoh. Hanya dengan melihatnya saja sudah bisa di pastikan jika tangan kiri Sean akan mengalami hal buruk nantinya.
Bagaimana dengan Sean nanti, jika sampai dugaannya benar? Sean adalah dokter bedah saraf yang terbaik di kota mereka saat ini. Kariernya begitu cemerlang, lalu bagaimana kelak?
"Pasien kehilangan banyak darah dan segera membutuhkan darah secepatnya." ucap dokter yang menangani operasi Sean malam itu juga.
"Saya saudara kembarnya. Saya juga seorang dokter, tolong bawa saya. Ambil sebanyak yang kalian butuhkan untuk adikku. Tolong." pinta Rean, sambil menunjukkan kartu identitas serta izin praktek miliknya, membuat dokter tersebut menganggukkan kepalanya.
Rean membersihkan dirinya, sebelum ikut masuk ke ruangan operasi.
Betapa sakitnya hati Rean melihat Sean yang terbaring di meja operasi dengan alat-alat yang menunjang kehidupannya saat ini.
Biasanya dia yang menangani seseorang di meja operasi, tapi kini dia sendiri lah yang terbaring di meja dingin tersebut.
Tidak sedetikpun Rean mengalihkan pandangannya dari Sean disana. Dia melihat apa yang dokter lakukan pada adiknya. Apalagi saat menjahit bagian lengan kirin Sean, benar-benar membuat hati Rean sakit luar biasa.
"Kau harus sehat, kau harus kuat Sean. Kau pasti bisa." gumam Rean melihat adiknya disana.
Sungguh, rasanya dia tidak sanggup melihat kesakitan Sean saat ini. Hingga operasi selesai, Rean di bantu oleh perawat untuk keluar dari ruangan operasi tersebut.
Ternyata saat keluar dari ruangan operasi, disana sudah ada kakeknya dan paman serta bibinya juga.
"Rean?" panggil kakeknya melihat sang cucu yang baru saja keluar dari ruang operasi.
"Bagaimana keadaan Sean? Apa yang terjadi?" tanya kakek Roeslan.
"Sean harus baik-baik saja, kek. Dia akan baik-baik saja." jawab Rean ambigu membuat kakeknya terdiam.
Sementara paman dan pipinya hanya menatap biasa pada mereka. "Kakek sudah menyelidiki kasus kecelakaan Sean. Ini murni kecelakaan tunggal dan supir truk tersebut dalam keadaan mabuk dan dalam pengaruh narkoba. Tapi kakek pastikan supir tersebut bertanggungjawab penuh atas kejadian ini." jelas kakek Roeslan, tapi tidak berpengaruh apapun untuk Rean saat ini.
Karena yang dia pikirkan hanya Sean. Lalu bagaimana cara menghubungi ibunya? bagaimana cara menjalankan pada ibu mereka tentang hal ini.
Dia masih menimbang semuanya, dengan ponsel yang berada di tangannya.
Hingga akhirnya dia memutuskan untuk menghubungi sang ibu di Canada. Menunggu cukup lama, akhirnya panggilan tersambung.
"Ibu?" panggil Rean, ketika sang ibu bertanya.
"Ada apa, nak? Apa sesuatu terjadi? Kamu baik-baik saja kan? Sean, bagaimana kabar adikmu? Akhir-akhir ini dia terlalu sibuk dengan meja operasinya hingga jarang menghubungi ibu." ucap ibu Rieka bicara dengan putranya.
"Ibu..." panggil Rean dengan suara parau.
"Ya, nak?" jawab ibunya, jantungnya berdebar kencang. Takut sesuatu terjadi pada anak-anaknya saat ini.
"Sean kecelakaan dan sekarang berada di rumah sakit. Jika ibu bisa, tolong pulang dan temani dia."
Brugh...
Terdengar benda jatuh di pendengarannya saat setelah Rean menjelaskan apa yang terjadi saat ini pada sang ibu disana.
"Se-sean?" gumamnya.
Pandangannya kosong, air matanya jatuh begitu saja mendengar kabar tentang putranya.
"Ibu, tolong cepat kembali. Sean membutuhkan ibu saat ini. Sean benar-benar membutuhkan ibu saat sekarang, Sean..." Rean tidak sanggup menahan rasa sakitnya lagi, hingga dia menangis sesenggukan.
Perasaan yang sejak tadi dia tahan, akhirnya runtuh juga. Air matanya mengalir dengan begitu deras karena memikirkan keadaan sang adik saat ini.
"I-ibu akan pulang nak. I-ibu akan datang. Tolong jaga adikmu, tolong jaga Sean untuk ibu." Rean mengangguk sebelum menutup panggilan telepon dengan ibunya. Rasanya seperti tidak percaya hal ini bisa terjadi pada mereka.
***
jevan lho up sn... kok trs di tgl kn
eee jevan noh