Semua orang menyebut Aelora anak kutukan. Ia dibuang, diburu, dan dibiarkan mati di hutan iblis. Tapi nasib berkata lain: Raja Iblis sendiri memungutnya dan menjadikannya putri kecil Nocthara. Kini Aelora harus menyembunyikan dua rahasia: ia pernah hidup di masa depan yang hancur, dan ia adalah anak malaikat yang dicari oleh Surga. Demi menyelamatkan ayah angkatnya dan mencegah perang tiga dunia, Aelora kecil harus mengubah takdir sebelum orang-orang yang ia cintai mati untuk kedua kalinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Enzelynn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Milo si Kucing Bayangan
“Dia ingat.”
Dua kata itu masih terbentuk di bibir Aelora remaja pada pecahan cermin terbesar.
Di luar pintu, Kael kembali memanggil.
“Aelora!”
Rune pengunci bergetar. Bayangan hitam menyusup melalui celah di bawah pintu, tetapi cahaya putih dari dalam ruangan langsung membakarnya. Bau logam panas memenuhi udara.
Kael mengerang pelan.
Aelora refleks melangkah mendekati pintu.
Lalu suara dari cermin kembali terlintas di kepalanya.
Jangan percaya Kael.
Langkahnya berhenti.
Milo menoleh kepadanya. Tubuh kecil kucing bayangan itu berdiri di antara Aelora dan serpihan-serpihan kaca yang masih melayang.
“Kael sedang melukai dirinya sendiri untuk masuk,” katanya.
“Itu tidak membuktikan dia tidak berbohong.”
“Benar.”
Aelora menatapnya. “Kau tidak membelanya?”
“Aku tidak mengatakan Kael selalu benar. Itu akan menjadi kebohongan paling buruk malam ini.”
Benturan lain mengguncang pintu. Retakan muncul pada rune paling luar, tetapi segera tertutup kembali oleh cahaya putih.
Aelora memeluk Piko erat-erat.
“Versi diriku mengatakan dia tahu kenapa aku kembali.”
“Belum tentu itu dirimu.”
“Wajahnya sama.”
“Peniru memakai wajah Orin.”
“Suaranya juga sama.”
“Cermin tadi memakai suara Seraphiel.”
Aelora menggigit bibir. “Dia menangis.”
Milo menurunkan telinganya.
“Air mata lebih mudah ditiru daripada ingatan.”
Aelora memandang pecahan terbesar. Wajah remajanya masih berada di sana. Tidak bergerak, tetapi tatapannya terasa hidup. Marah. Putus asa. Seperti Aelora yang kehilangan semua orang untuk kedua kalinya.
“Bagaimana kalau itu benar-benar aku?”
Milo berjalan mendekat. Asap tipis keluar dari ujung ekornya.
“Kalaupun benar, dia adalah dirimu yang sudah melewati banyak hal yang belum kaualami.”
“Jadi aku harus mengabaikannya?”
“Tidak.”
“Lalu?”
Milo duduk di depan kakinya.
“Kepercayaan bukan perintah. Kau tidak harus percaya Kael hanya karena seseorang menyuruhmu. Kau juga tidak harus membencinya karena bayangan masa depan berkata begitu.”
“Aku harus bagaimana?”
“Lihat apa yang dia lakukan sekarang.”
Dari luar terdengar suara Kael.
“Aelora, mundur dari pintu. Aku akan memecahkan segelnya.”
Cahaya hitam menyala di sela-sela batu. Kael kembali memaksa Umbra masuk. Setiap kali bayangannya menyentuh rune putih, terdengar desis seperti kulit terbakar.
Aelora teringat Kael berdiri di depan Gerbang Tiga Dunia.
Ia teringat tangannya yang tidak melepaskan Aelora meskipun Asterion hampir menarik tubuhnya ke Laut Abu.
Namun ia juga teringat pintu-pintu yang dikunci, nama-nama yang disembunyikan, dan semua jawaban yang selalu ditunda.
“Aku tidak tahu siapa yang benar,” katanya.
“Itulah sebabnya kau harus hidup cukup lama untuk mencari tahu.”
Pecahan kaca di sebelah kanan Milo bergerak.
Aelora hanya sempat melihat kilatan putih sebelum serpihan itu melesat.
Milo berbalik. Bayangannya membentuk selaput lebar dan menahan kaca tepat di depan wajah Aelora.
Benturan kecil terdengar.
Serpihan tersebut tidak menembus tubuhnya, tetapi cahaya putih menyebar dari ujung kaca. Bulu hitam pada bahu Milo terbakar menjadi asap.
Ia mendesis.
“Milo!”
“Di belakangku.”
Serpihan-serpihan lain bergetar.
Puluhan ujung tajam berputar menghadap Aelora.
Wajah remaja pada setiap pecahan membuka mulut secara bersamaan.
“Buka pintunya.”
Suara itu memenuhi ruangan dari segala arah.
“Buka pintunya, Aelora.”
Aelora memandang pintu. “Kael ada di luar.”
“Itu bukan pintu yang mereka maksud,” kata Milo.
Permukaan dinding di belakang cermin mulai mencair. Garis hitam membentuk kerangka pintu kecil, sama seperti jalan yang muncul di ruang bawah tanah.
Suara-suara dari pecahan kaca menjadi semakin keras.
“Kael akan menggunakan darahmu.”
“Kael akan menyerahkanmu kepada Surga.”
“Kael sudah membiarkan Mirael pergi.”
“Kael akan membuka gerbang.”
Aelora menutup telinganya.
“Berhenti.”
“Dia tahu kau datang dari masa depan.”
“Dia tahu kau akan membunuhnya.”
“Dia hanya menunggu hari itu.”
“Berhenti!”
Cahaya keluar dari tubuh Aelora.
Gelombang putih keemasan menyapu seluruh ruangan. Rune-rune pada lantai menyala. Namun alih-alih menghancurkan pecahan kaca, cahaya itu tersedot ke dalamnya.
Setiap serpihan menjadi semakin besar dan terang.
Wajah remaja Aelora tersenyum.
Milo mengangkat kepala dengan cepat. “Mereka memakan Aether-mu.”
“Aku tidak sengaja.”
“Jangan keluarkan cahaya lagi.”
“Aku tidak tahu cara menahannya.”
“Kalau begitu pikirkan sesuatu yang membuatmu tenang.”
“Sekarang?”
“Ya.”
“Aku sedang diserang oleh wajahku sendiri!”
“Itu memang menyulitkan.”
Pecahan pertama melesat.
Milo melompat ke tengah ruangan.
Tubuhnya membesar dalam satu tarikan napas. Kaki-kaki kecilnya memanjang. Punggungnya naik hampir setinggi ranjang. Bulu hitam berubah menjadi asap padat, dan sepasang sayap bayangan terbuka dari kedua sisinya.
Ia tidak lagi terlihat seperti kucing.
Bentuknya menyerupai serigala besar dengan telinga kucing yang masih sedikit sobek.
Aelora menatapnya. “Kau bilang kau kucing.”
“Aku sedang mencoba mempertahankan identitas yang sederhana.”
Milo membuka mulut.
Gelombang kegelapan meledak dari tenggorokannya. Separuh pecahan kaca terpukul jatuh. Beberapa menancap di dinding, sementara sisanya hancur menjadi debu.
Namun pecahan yang masih melayang menembus gelombang tersebut.
Satu menancap pada sayap Milo.
Serpihan kedua mengenai bahunya.
Yang ketiga menembus kaki depannya.
Tubuh besar itu terlempar dan menghantam lantai.
“Milo!”
Aelora berlari menghampirinya.
Milo mencoba berdiri, tetapi kaki depannya berubah transparan. Cahaya putih merambat dari luka-lukanya seperti retakan pada kaca hitam.
“Aku baik-baik saja,” katanya.
“Tubuhmu hilang.”
“Hanya sebagian.”
“Itu tidak lebih baik.”
“Sedikit lebih baik.”
Aelora mencoba mencabut serpihan dari sayapnya, tetapi Milo menggertakkan gigi.
“Jangan sentuh. Cahaya itu mencari jalan ke darahmu.”
Wajah-wajah dalam cermin kembali berbicara.
“Buka pintu.”
“Datanglah kepada dirimu sendiri.”
“Kami akan menunjukkan kebenaran.”
“Kael telah berbohong sejak Hutan Hitam.”
Milo memaksa dirinya bangkit. Tubuhnya mengecil lagi menjadi bentuk kucing, tetapi satu sayap bayangan masih menggantung di sisinya.
Ia memandang pergelangan tangan Aelora.
Lambang matahari yang tenggelam dalam bulan berdenyut mengikuti suara cermin.
“Segelmu,” katanya.
Aelora mengangkat tangan. “Ini ritual keluarga.”
“Bagian luarnya, ya. Tapi ada sesuatu menempel di bawahnya.”
“Apa?”
“Jalur pemanggil.”
Aelora menatap simbol tersebut. Warna emas dan hitam berputar pelan. Di antara keduanya terlihat satu garis sangat tipis yang memanjang ke arah cermin.
Benang emas.
Sama seperti yang pernah ia lihat dalam kutukan Ryn.
“Mereka sudah menandainya saat gerbang terbuka,” kata Milo. “Ritual keluarga Kael menutup sebagian besar jalur, tapi tidak menghapus ujungnya.”
“Bagaimana memutusnya?”
Milo berjalan mendekat dengan pincang.
“Aku akan menggigitnya.”
Aelora mengira salah dengar. “Apa?”
“Aku akan menggigit simpulnya.”
“Kau tidak bisa menyelesaikan semua masalah dengan menggigit.”
“Aku berhasil menggigit seorang pendeta sampai kehilangan dua jari.”
“Itu bukan jawaban.”
“Itu pengalaman.”
Pecahan kaca kembali terangkat.
Milo melompat ke atas ranjang. Kedua kaki depannya mencengkeram lengan Aelora.
“Tunggu.”
“Tidak ada waktu.”
“Gigitanmu akan sakit.”
“Biasanya itu tujuan menggigit.”
Milo menancapkan taringnya tepat pada lambang Solumbra.
Aelora menjerit.
Rasa sakit menjalar sampai ke bahu, tetapi bukan karena taring yang menembus kulit. Gigi Milo masuk ke dalam simbol seolah lambang itu memiliki lapisan lain yang tersembunyi di bawah daging.
“Lepaskan!”
“Belum!”
Bayangan hitam keluar dari mulut Milo dan melingkari tangan Aelora. Lambang matahari dan bulan terbuka seperti dua kelopak.
Dari bagian tengahnya muncul benang emas.
Benang itu menembus udara dan terhubung pada setiap pecahan cermin.
“Tarik!” kata Aelora.
“Aku sedang menarik!”
Tubuh Milo terangkat beberapa sentimeter akibat tekanan cahaya. Taringnya tetap mencengkeram ujung benang. Ia menggeram dan menarik kepala ke belakang.
Benang emas menegang.
Suara-suara dari cermin berubah menjadi jeritan.
Wajah Aelora remaja pada setiap pecahan mulai rusak. Kulitnya mengelupas dari dahi, pipi, dan dagu. Di bawahnya tidak ada tulang atau darah.
Ada topeng emas tanpa mulut.
Aelora berhenti meronta.
“Kau bukan aku.”
Makhluk di dalam kaca memiringkan kepala.
“Belum.”
Suaranya tidak lagi menyerupai Aelora. Suara laki-laki dan perempuan bercampur, sama seperti Peniru yang merasuki Orin.
“Kelak kau akan menjadi pintu yang sempurna.”
“Tidak.”
“Semua versimu mengatakan hal yang sama.”
Milo menarik lebih keras.
Benang emas mulai retak.
Makhluk bertopeng itu menekan kedua tangan pada permukaan kaca.
“Kael tidak bisa menyelamatkanmu.”
Aelora menatapnya.
“Mungkin.”
Topeng itu diam.
Aelora memegang tubuh Milo agar ia tidak terlempar.
“Tapi kau juga tidak.”
Benang emas putus.
Seluruh serpihan cermin jatuh bersamaan.
Pada saat yang sama, rune pengunci di pintu hancur.
Pintu besi terbuka dengan benturan keras. Kael masuk bersama gelombang bayangan. Jubahnya robek pada bagian lengan dan kedua tangannya dipenuhi luka bakar putih.
Tatapannya langsung menemukan Aelora.
Kemudian Milo terbatuk.
Sekali.
Dua kali.
Pada batuk ketiga, ia memuntahkan sesuatu ke lantai.
Benda kecil itu berbentuk pecahan kristal, berwarna hitam pada satu sisi dan emas pada sisi lainnya.
Tubuh Milo mengecil sampai sebesar anak kucing. Sayapnya menghilang, sedangkan separuh ekornya menjadi transparan.
Aelora segera mengangkatnya.
“Milo?”
Kucing itu membuka satu mata. “Aku perlu tidur.”
“Berapa lama?”
“Sekitar seratus tahun.”
“Jangan bercanda.”
“Aku terlalu lelah untuk membuat angka yang masuk akal.”
Kael berlutut di depan mereka. Ia memeriksa wajah Aelora, lalu pergelangan tangannya.
“Apa yang terjadi?”
“Cermin memakai jalur pemanggil di bawah lambangku.”
Kael menyentuh simbol tersebut. Warnanya lebih pucat daripada sebelumnya, tetapi bentuk matahari dalam bulan masih bertahan.
“Ada sisa jalur,” katanya.
“Milo memutus benangnya.”
“Dengan menggigitku.”
Kael menatap kucing di pelukannya.
Milo mengangkat kepala sedikit. “Metodenya berhasil.”
“Kau menggigit anakku.”
“Anakmu masih berada di ruangan.”
“Itu bukan pembelaan.”
“Tidak ada penghargaan bagi makhluk yang menyelamatkan keluarga kerajaan.”
Aelora memeluk Milo lebih erat saat Kael hendak mengambilnya.
“Dia terluka.”
“Karena itu dia perlu dibawa kepada Eirna.”
“Aku bisa membawanya.”
“Kau hampir tidak bisa berdiri.”
“Aku bisa.”
Milo membuka mata lagi. “Berikan aku kepadanya. Tubuhmu terlalu panas.”
Aelora menyentuh dahinya sendiri. Demamnya memang semakin tinggi.
Dengan enggan, ia menyerahkan Milo kepada Kael.
Kael memegangnya menggunakan kedua telapak tangan. Milo terlihat sangat kecil di sana, seperti gumpalan asap berbulu.
Aelora memperhatikan luka bakar pada tangan Kael.
“Kau terus memaksa masuk.”
“Kau tidak menjawab.”
“Aku sedang diserang.”
“Itu bukan alasan yang menenangkan.”
“Aku tidak tahu apakah harus mempercayaimu.”
Kael terdiam.
Aelora menunjuk serpihan kaca. “Benda itu memakai wajahku dari masa depan. Dia mengatakan kau tahu kenapa aku kembali.”
“Aku tidak tahu alasan pastinya.”
“Tapi kau tahu aku pernah hidup sebelumnya?”
Kael memandangnya cukup lama sebelum menjawab.
“Aku menduga.”
“Sejak kapan?”
“Sejak kau mengatakan aku akan mati di ruang kerjaku.”
“Itu bisa saja mimpi.”
“Kau menyebut nama jenderal yang sudah mati, bentuk gerbang yang tidak pernah kaupelajari, serta senjata yang belum dibuat.” Kael menurunkan pandangan pada Milo. “Dan kau memanggilku dengan panggilan yang hanya digunakan Mirael sebelum kau mengenalku.”
“Kenapa tidak bertanya langsung?”
“Karena kau ketakutan setiap kali masa depan disebut.”
“Jadi kau memilih berpura-pura tidak tahu?”
“Aku memilih menunggu sampai kau siap.”
Aelora tertawa kecil tanpa rasa senang. “Semua rahasia di istana ini selalu menunggu aku siap.”
“Aku tidak mengatakan pilihanku benar.”
Jawaban itu membuat kemarahannya kehilangan arah.
Kael tidak membela diri. Milo juga tidak. Mereka mengaku menyimpan sesuatu, tetapi tidak memberinya orang yang mudah dibenci.
Pecahan kristal hitam-emas di lantai tiba-tiba menyala.
Milo menegang di tangan Kael.
“Jangan sentuh itu,” katanya.
Terlambat.
Cahaya keluar dari kristal dan memenuhi bagian tengah ruangan.
Bukan portal.
Tidak ada tarikan, angin, atau suara gerbang.
Sebuah ingatan terbentuk.
Aelora melihat medan perang di dalam cahaya.
Langit terbagi menjadi tiga warna: putih menyilaukan, merah darah, dan hitam tanpa bintang. Istana Bulan Merah terbakar di kejauhan. Mayat manusia, iblis, dan malaikat memenuhi tanah.
Aelora remaja berdiri di tengah semuanya.
Kedua sayapnya terbuka. Yang satu putih, yang lain hitam. Wajahnya berlumur darah dan air mata.
Di tangannya terdapat pedang hitam.
Kael berlutut di depannya.
Bilah pedang menembus dada sang raja.
Aelora kecil tidak dapat bernapas.
Ia sudah mengingat adegan itu, tetapi ingatannya selalu terputus-putus. Dalam cahaya kristal, semuanya terlihat jelas.
Kael masa depan mengangkat wajah.
Darah hitam keluar dari mulutnya, tetapi ia tersenyum kepada Aelora remaja.
“Kau berhasil,” katanya.
Aelora remaja mengguncang kepala. “Aku membunuh Ayah.”
“Tidak.”
Kael mengangkat tangan yang gemetar dan menyentuh pipinya.
“Kau membebaskanku.”
Di belakang mereka, Gerbang Tiga Dunia terbuka. Cahaya dari dalamnya menarik mayat, batu, dan sisa-sisa senjata menuju pusat pusaran.
Sosok berjubah berdiri di dalam gerbang.
Wajahnya tidak terlihat.
Namun suaranya terdengar jelas.
“Sekarang gunakan darah Raja Iblis untuk menghidupkan ibumu.”
Aelora remaja menoleh.
Harapan muncul pada wajah yang hancur oleh kesedihan.
Kael mencoba bangkit.
“Aelora, jangan!”
Terlambat.
Gadis itu mencabut pedang dari dada Kael dan menancapkannya ke pusat gerbang.
Darah hitam mengalir melalui bilah.
Pintu tiga dunia terbuka semakin lebar. Jutaan tangan cahaya keluar dari dalamnya, meraih tanah dan langit.
Ingatan berguncang.
Seekor makhluk berlari di antara mayat-mayat.
Serigala bayangan bersayap.
Milo.
Tubuhnya jauh lebih besar daripada yang baru saja ditunjukkannya. Di dahinya terdapat lambang mahkota hitam milik Kael.
Milo masa depan melompat ke arah Aelora remaja, mencoba mendorongnya menjauh dari gerbang.
Cahaya menghantam tubuhnya.
Tubuh serigala itu hancur menjadi ribuan pecahan bayangan.
Satu pecahan terlempar keluar dari pusaran.
Menembus cahaya.
Menembus waktu.
Ingatan padam.
Kristal hitam-emas berubah menjadi debu.
Aelora memandang Milo di tangan Kael.
“Kau berasal dari masa depan.”
Kucing kecil itu tidak menjawab.
Kael mengusap debu kristal dari lantai, lalu melihat lambang samar yang mulai muncul pada dahi Milo.
Mahkota hitam.
Bukan lambang hewan bayangan.
Lambang inti jiwa Vesperion.
Wajah Kael kehilangan ketenangannya.
“Milo.”
Kucing itu membuka mata.
Warna ungunya berubah menjadi merah gelap.
Warna mata Kael.
Ketika berbicara, suaranya bercampur dengan suara lain—lebih berat, serak, dan jauh lebih tua.
Suara Kael dari masa depan.
“Aku kembali,” katanya lemah, “untuk memastikan kau tidak membunuh ayahmu untuk kedua kalinya.”