Athena clarisa mahendra. Adalah sosok gadis tangguh yang hidupnya penuh dengan siksaan yang ia dapat justru dari keluarganya sendiri. Di tindas oleh abang kembarnya dan selalu di siksa oleh ayahnya sendiri. Selama hidupnya bahkan tak pernah sedikit pun merasakan hidup bahagia. Keluarganya justru lebih menyayangi anak angkatnya yang memiliki sifat lembut,pintar dan baik hati.tanpa mereka tahu jika dibalik wajah lugu anak angkatnya itu tersimpan sifat licik dan maipulatif. Karna perlakuan keluarganya itu sudah mencapai batas sabar dan membuat Athena memiliki dendam dan janji untuk menghancurkan keluarga gilanya itu. Lalu bagaimana dengan kelanjutan hidup Athena?,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sandhyaruntala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14: KAKA PERI
Waktu sudah menunjukkan pukul 14.00, jam di mana seluruh murid DIHS akhirnya diperbolehkan pulang. Athena yang malas untuk berdesak-desakan di koridor lebih memilih berdiam diri di bangkunya, menunggu hingga area kelas dirasa cukup sepi.
"Oii nyet, ayo balik!" ajak Jelita sembari mengayunkan tas sekolahnya.
"Nanti, tunggu senggang," jawab Athena singkat tanpa mengalihkan pandangan dari ponselnya.
"Hmm, oke deh. Gue bareng lo aja. Btw, tadi kemana aja lo? Gue cariin ke UKS kagak ada, padahal tangan lo perlu diobatin tahu," ucap Jelita menatap menyelidik.
"Udah," jawab Athena, lagi-dan-lagi teramat singkat.
"Nggak usah irit ngomong deh lo sama gue! Lo tahu sendiri gue gak sepintar itu buat nebak omongan singkat lo itu," kesal Jelita pada sahabat kakunya ini.
Athena mengembuskan napas pendek. "Udah gue obatin, Litaaa," jawab Athena jengah.
"Nah, good!" balas Jelita sembari mengacungkan ibu jarinya puas. "Udah sepi nih, ayo balik!" Ajak Jelita kemudian, langsung menarik tangan Athena yang hanya bisa pasrah mengikuti tarikannya.
Sembari berjalan menyusuri koridor sekolah yang mulai lengang, Jelita tidak bisa menahan bibirnya untuk tidak mengoceh.
"Gue masih heran sama anak-anak Vicas deh. Fiks, matanya pada buta kata gue mah!"
Athena hanya diam menyimak, membiarkan sahabatnya itu mengeluarkan unek-uneknya.
"Ya kali drama murahan begitu masih dipercaya! Apa katanya tadi? Menginjak tali sepatu? Ini tuh antara yang ngebohong bego, nah yang dibohongin jauh lebih bego gak sih? Sepatu kagak pake tali dibilang menginjak tali sepatu, lah yang ngebela iya-iya aja. Kan kosyak!" ucap Jelita menggebu-gebu, benar-benar tak habis pikir dengan kebodohan Brama dan antek-anteknya.
"Mereka kalau belum tahu busuknya, mana bakal percaya," ucap Athena enteng sambil mengedikkan bahunya acuh tak acuh.
Sesampainya di area parkiran, Jelita yang melihat mobil jemputannya sudah terparkir pun segera berpamitan pada Athena.
"The, gue duluan ya! Sopir gue udah jemput tuh. Balik hati-hati ya, The. Bye!" seru Jelita melambaikan tangan, lalu berlari kecil menuju mobilnya.
...***...
Setelah melihat mobil yang membawa temannya itu melaju membelah gerbang sekolah, Athena pun memasangkan helm full-face hitamnya dengan gerakan yang ringkas dan keren. Setelah memastikan terpasang sempurna, ia menaiki motor sport-nya dan mengendarainya membelah jalanan kota.
Saat sedang berhenti di sebuah lampu merah, atensinya teralih oleh kehadiran seorang anak kecil yang membawa kantong plastik berisi berbagai macam jajanan dan tisu.
"Kakak, mau beli tisu Ara tidak?" tanya anak kecil itu sopan. Penampilannya kumal, namun tatapannya jujur. Tubuhnya kecil, mungkin ia baru berumur sekitar sepuluh tahun.
Melihat kondisi anak itu entah mengapa membuat secuil sudut hati Athena yang membeku mendadak tersentuh. Tanpa ragu, ia mematikan mesin, memasang standar motornya, lalu mendekati anak kecil tersebut.
"Adek jualan apa?" tanya Athena ramah dengan senyum tipis di bibirnya setelah kaca helmnya ia buka ke atas.
"Wahh... Kakak cantik sekali, seperti peri!" Anak kecil bernama Ara itu seketika mematikan kalimatnya, menatap wajah Athena dengan mata bulat besar yang berbinar kagum.
Athena terkekeh pelan lalu membelai lembut kepala Ara. Melihat anak ini mendadak melempar ingatannya ke masa lalu, tepat saat dirinya sendiri berumur sepuluh tahun. Masa-masa yang sungguh menyedihkan dan penuh penolakan.
"Kakak mau beli semua dagangan Adek. Tapi karena sebentar lagi lampu hijau, Adek mau ikut Kakak ke taman di depan sana?" tanya Athena lembut, yang langsung disambut anggukan mantap oleh Ara.
"Ayo, Kakak! Ara mau!" jawabnya riang. Namun, sedetik kemudian wajahnya berubah bingung saat melihat motor yang dikendarai Athena ternyata adalah motor sport besar yang tinggi dan pasti sulit ia naiki.
"Tapi... Ara tunggu Kakak di taman depan saja, ya? Ara tidak bisa naik motor besar itu, Kak," ucapnya ragu.
Melihat ke arah motor gedenya, Athena menepuk dahinya pelan. "Ah, Kakak lupa," ucap Athena dengan nada jenaka yang jarang ia tunjukkan.
"Tidak apa, Ara tunggu di taman depan ya, Kak!" ucap gadis kecil itu lalu berbalik lari meninggalkan Athena menuju pembatas jalan sembari melambaikan tangannya.
Di saat yang sama, sepasang netra yang sejak tadi mengawasi interaksi hangat antara Athena dan bocah penjual tisu itu dari dalam sebuah mobil mewah tampak menyipit rileks. Sebuah senyuman tipis terukir di bibirnya.
"I got you, baby," ucap sosok misterius di dalam mobil tersebut dengan suara berat yang menawan.
Lampu lalu lintas berganti hijau. Athena segera melajukan motor sport-nya menuju taman kota yang jaraknya hanya beberapa puluh meter dari perempatan jalan.
Begitu ia memarkirkan motornya di dekat area taman, Ara yang sudah menunggu langsung berlari kecil menghampirinya.
"Kakak Periii!" panggilnya riang dengan napas sedikit terengah.
Athena yang melihatnya langsung menyambut bocah itu. "Jangan lari-lari, Ara. Nanti jatuh," ucapnya mengingatkan.
“Baiklh seperti janji kaka, kaka akan membeli semua dagangan ara. Jadi berapa total semuanya anak cantik? Tanya Athena pada ara yang sudah berbinar mendengar kata ‘borong’
”woahhhh, kaka serius mau beli semuanya?” Girang ara
"Panggil Kakak Athena atau Thea saja," sahut Athena gemas karena terus-menerus dipanggil peri.
"Okey Kakak Peri... eh, Kakak Thea, maksudnya. Hehehe," kekeh Ara polos sembari menjulurkan lidahnya.
"Jadi, totalnya berapa semuanya?" tanya Athena lagi sembari merogoh tasnya.
"Eummm... totalnya jadi dua ratus ribu rupiah, Kak," ucap Ara setelah
menghitung sisa jualan di dalam kantong plastiknya.
Mendengar nominal itu, Athena langsung mengeluarkan beberapa lembar uang dari dompetnya. Bukannya dua ratus ribu, ia justru mengulurkan uang sebesar lima ratus ribu rupiah ke hadapan Ara.
"Ini buat Ara. Ingat, simpan dengan baik dan jangan diberikan pada siapa pun secara sembarangan, ya?" peringat Athena tegas. Ia khawatir uang sebanyak itu justru akan memicu niat buruk preman jalanan.
"Ini... ini banyak sekali, Kak. Kembaliannya terlalu besar," ucap Ara bergetar saat melihat lima lembar uang berwarna merah di tangannya.
"No, sayang. Ini memang seluruhnya untuk kamu," jawab Athena lembut. Ia lalu menyuruh Ara membagikan sisa dagangan yang sudah dibelinya itu kepada anak-anak jalanan lain di sekitar taman.
"Alhamdulillah... Ara bisa bawa Abang berobat," bisik Ara lirih dengan mata yang seketika berkaca-kaca.
"Kakak Thea, terima kasih banyak untuk uangnya," ucapnya penuh haru.
Athena mengernyitkan alisnya menangkap kata kunci penting. "Abang Ara sakit? Boleh Kakak melihat keadaan abangmu?" tanya Athena langsung. Rasa kemanusiaannya terusik.
"Iya, Kak. Abang sudah demam tinggi dari beberapa hari lalu. Ara takut... Ara takut Abang pergi," jawab Ara dengan air mata yang mulai menetes. Ia tidak bisa membayangkan jika abang satu-satunya harus pergi menyusul kedua orang tua mereka yang telah tiada.
"Baiklah. Naik ke motor Kakak, tunjukkan arah ke rumahmu," ucap Athena dengan nada mutlak tanpa bantahan.
Mendengar ketegasan itu, Ara hanya bisa mengangguk patuh. Dengan dibantu oleh Athena, tubuh kecilnya akhirnya berhasil bertengger di jok belakang motor gede tersebut.
Setelah beberapa lama membelah jalanan, Athena akhirnya sampai di salah satu kawasan pemukiman kumuh yang terletak di pinggiran kota. Ia harus ekstra hati-hati saat membawa motor besarnya memasuki gang-gang sempit yang becek dan penuh kelokan.
"Kakak, berhenti di sini. Itu rumah Ara," tunjuk Ara pada sebuah bangunan semi-permanen yang kondisinya benar-benar memprihatinkan. Dindingnya yang terbuat dari papan tripleks tampak lapuk, seolah bisa roboh kapan saja jika diterjang angin kencang dan hujan semalaman.
"Baiklah, ayo kita turun, anak manis," ujar Athena lembut sembari membantu Ara menapak tanah. Keduanya kemudian berjalan beriringan masuk ke dalam rumah.
"Assalamualaikum, Abang! Abang, ayo kita ke dokter! Ara sudah dapat uang untuk berobat!" seru Ara riang begitu melintasi pintu kayu yang ringkih.
"Wa'alaikumsalam, adeknya Abang..." Sebuah jawaban terdengar dari sudut ruangan dengan suara yang teramat lemah.
Uhuk! Uhuk!
Suara batuk kering yang menyakitkan menyusul, memenuhi seisi rumah yang ternyata hanya berupa satu petak ruangan sempit tersebut. Di atas kasur tipis yang dihamparkan langsung di atas lantai semen yang dingin, seorang pria muda berparas lumayan tampan tampak terbaring. Tubuhnya kurus dan wajahnya pucat pasi.
Pria itu terkejut saat menyadari adiknya tidak pulang sendirian. Saat matanya menangkap sosok Athena, ia sempat terpaku. Gadis di depannya memiliki paras yang luar biasa cantik, mengenakan seragam sekolah elite, namun anehnya mau menginjakkan kaki di rumah kumuhnya tanpa kilat jijik sedikit pun di matanya.
"Abang Juan, ini Kak Athena yang hari ini borong semua jualan Ara! Dan ini hasilnya!" ucap Ara riang seraya memamerkan lembaran uang merah di tangans kecilnya.
"Ini... ini terlalu banyak, Nona. Anda tidak seharusnya memberikan uang sebanyak ini kepada kami," ucap pria bernama Juan itu dengan nada tidak enak hati yang kental.
"Abang Juan, kata Kakak Thea ini memang untuk Ara. Dan Ara mau uang ini dipakai untuk abang berobat," sela Ara polos.
Mendengar ketulusan adiknya, Juan mendadak menunduk dalam. Ia merasa sangat tidak berguna sebagai seorang abang yang seharusnya menjadi tulang punggung.
"Boleh gue tahu lo sakit apa?" tanya Athena datar, kembali ke mode tenangnya yang biasa.
"Kata dokter puskesmas kemarin, saya terkena tifus. Tapi karena kami kekurangan biaya, alhasil saya hanya meminum obat warung seadanya, Nona," ujar Juan jujur tanpa berniat mencari simpati.
"Saya merasa sangat malu dengan keadaan ini. Adik saya yang masih kecil justru harus bekerja keras di jalanan hanya agar kami berdua bisa makan," lanjutnya dengan suara bergetar penuh penyesalan.
Athena hanya diam mendengarkan, namun matanya yang jeli sempat menangkap sebuah laptop tua yang layarnya retak tergeletak di sudut kasur Juan.
Satu hal besar yang belum diketahui oleh Athena maupun dunia luar saat ini: pemuda kurus dan penyakitan di depannya ini adalah seorang hacker genius sekaligus ahli IT misterius yang paling dicari di dunia bawah.
Juan bukan hanya mampu menyembunyikan identitas aslinya dengan sempurna, tetapi ia juga memiliki kemampuan enkripsi tingkat tinggi yang mampu mengunci data pribadinya hingga tak ada satu pun yang bisa membobolnya. Dan takdir, baru saja membawa sang Ratu dunia bawah tepat ke hadapannya.
...****************...
WELCOME TO MY 2ND BOOK! ✨
Mari kita temani Athena membalaskan dendamnya pada keluarga yang selalu menyiksanya.🔥
STAY TUNE TERUS SETIAP HARI YA GUYS! Karena bab baru akan selalu UP SETIAP PAGI DAN MALAM jam 07.00 dan 17.00 😙
JANGAN LUPA YAAA
LIKE 👍🏻 DAN KOMENNYA 💬, KARENA DUKUNGAN KALIAN SANGAT BERARTI DAN BUAT AKU SEMANGAT BERKARYA. THANK YOU! 🥰
orng mh malu2 meong,ni mlah malu2 setan....🤣🤣🤣
mau blang dia bdoh,tp dia ky gt ada alasannya....tp mlai skrng,jgn jd pngmis lg y thea....luka saat ini jd luka trakhir untkmu,abs tu ksih mreka blsan yg stimpal.....gemes aku tuuhh....pgn nabok....😠😠😠😡
Aku udh mmpir,slm knal....
btw,mskpn aku udh prnh bca crta yg sma tp aku ttp bca ko....aku suka cwek kuat dn tgas,ga yg ratu drama ky yg onoh....😁😁😁....
Aku tnggu up'ny y....smngttt....