Kandidat YAAW 2026 — Periode 1
—
Qin Mu, putra Patriark Keluarga Qin, dianggap sebagai sampah karena gagal membuka 9 meridian utama meski telah berlatih selama satu tahun. Di tengah hinaan, tekanan keluarga, dan ancaman diusir pada Upacara Uji Spiritual, ia tetap bertahan dengan tekad kuat.
Namun, di balik kegagalannya, tersembunyi misteri besar dalam tubuhnya. Hingga suatu malam, ia akhirnya melihat energi spiritual untuk pertama kalinya, tanda awal kebangkitan yang akan mengubah takdirnya.
Bagaimanakah perjalanan Qin Mu? Saksikan kisahnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch 34 — Tua Bangka Sialan
"Lima puluh hari..." gumam Qin Mu lirih.
Pikirannya berputar hebat. Bagaimana mungkin proses yang terasa hanya sebentar di dalam ruang gelap batin itu ternyata memakan waktu hampir dua bulan di dunia nyata?
'Yahh... Itu terasa sebentar tapi sangat menyakitkan.'
'Bisa gila jika aku merasakan rasa sakit itu sekali lagi.'
Ia secara tidak sadar menyentuh mata kirinya. Sensasi dingin yang membekukan sempat menjalar, namun sedetik kemudian berubah menjadi kehangatan yang lembut sebelum akhirnya mati rasa, seolah-olah mata itu kini hanyalah bagian tubuh normal yang tertidur.
Qin Mu ingin bertanya lebih banyak, namun melihat tatapan tajam Qin Zhetang, ia mengurungkan niatnya.
Sebagai seorang Alkemis juga ahli pengobatan, Qin Zhetang tahu bahwa pasien yang baru bangun dari koma panjang tidak boleh dibombardir dengan informasi yang bisa mengguncang kesadaran pikirannya.
Setelah memeriksa suhu tubuh dan stabilitas energi spiritual Qin Mu selama satu batang dupa tipis yang hening, Qin Zhetang akhirnya melepaskan pergelangan tangan Qin Mu.
Namun, bukannya memberikan instruksi pengobatan, wajah pria paruh baya itu mendadak memerah karena marah.
"Guru sialan itu! Benar-benar keterlaluan!" teriak Qin Zhetang tiba-tiba, membuat Qin Changin dan Qin Lian terlonjak kaget.
"Lagi dan lagi... Berapa kali aku bilang padanya jangan memberikan eksperimen aneh pada tubuh orang lain tanpa pengawasan! Jika tidak membuat racun atau obat aneh, dia pasti melakukan hal seperti ini!"
Lanjut Qin Zhetang mengernyitkan dahi, wajahnya tampak lelah, "Tetua Chang memanggilku dengan panik di hari kedua setelah Qin Lian menemukanmu pingsan di kamar lamamu yang terpencil."
"Dan apa yang kulihat?"
Qin Zhetang menunjuk-nunjuk ke arah meja di sudut kamar dengan kesal.
"Kotak hitam kosong dengan abu kertas, resep pil pembersih sumsum, dan botol porselen merah, itu semua sudah pasti pemberiannya!"
"Aku langsung tahu si tua bangka itu pasti bertamu lewat jendela. Dia meninggalkanmu yang pingsan begitu saja tanpa kabar! Dan sekarang?"
"Dia menghilang entah ke mana, meninggalkan semua kekacauan ini padaku! Hahhh... Tapi sudahlah... Pria tua bangka itu terkadang memang agak aneh."
Qin Mu tertegun. Jadi, selama 50 hari ini, Qin Zhetang-lah yang mengurusnya di bawah bayang-bayang ketakutan bahwa ia tidak akan pernah bangun lagi.
"Kami sempat mengira kau juga mengalami Meditasi Abadi seperti Patriark," tambah Qin Zhetang sambil menghela napas panjang, mencoba meredam emosinya.
"Terutama di hari kesepuluh... tubuhmu tiba-tiba memancarkan panas yang sangat aneh, seolah-olah darahmu mendidih. Aku harus menghabiskan banyak ramuan pendingin hanya untuk memastikan otakmu tidak terpanggang!"
"Namun, entah mengapa tubuhmu tiba-tiba hangat lagi."
Qin Changin mengangguk lemas di sampingnya.
"Mu’er, kau tidak tahu betapa takutnya kami. Keluarga ini sudah kehilangan banyak hal, kami tidak sanggup jika harus kehilanganmu juga."
Sementara itu, jauh di luar wilayah Kota Huzhou, di sebuah pegunungan berkabut yang jarang dijamah manusia...
"Hatchyuuu!"
Chao Futian bersin dengan sangat keras hingga burung-burung di pepohonan sekitarnya beterbangan karena terkejut. Ia menggosok hidungnya yang memerah dan menggerutu pelan.
"Siapa yang berani membicarakan orang tua ini di belakang? Pasti si Zhetang itu... dasar murid tidak berbakti," gumamnya sambil melanjutkan langkah kakinya yang lincah menaiki tebing curam.
Chao Futian tidak sedang melarikan diri dari tanggung jawab di Keluarga Qin sebagai Tetua Kehormatan. Sebaliknya, sejak melihat jarum emas logam spiritualnya yang bengkok oleh kepadatan tulang Qin Mu, dan kondisi Qin Feiyan yang membeku, hatinya sebagai alkemis tidak tenang.
Ia memutuskan untuk mencari bahan obat yang jauh lebih kuat ataupun referensi ajaib tentang cara membangunkan seseorang dari Meditasi Abadi, perihalnya dalam gulungan rusak yang ia miliki, itu hanya menjelaskan sebuah kondisi Meditasi Abadi. Namun tidak dengan cara penanganannya.
Ia sadar, sebagai Alkemis terbaik di keluarga Qin, levelnya saat ini tidak akan cukup untuk menghadapi krisis yang akan datang. Tidak mungkin bagi mereka meminta bantuan alkemis kota...
Apalagi jika memikirkan untuk menunggu kultivator agung yang dijelaskan Qin Mu malam itu.
'Kultivator agung? Jelas mereka sangat sibuk pada dunia mereka sendiri. Mungkin saja senior itu hanya lewat karena tidak menyukai kultivator sekte jahat.' pikir Chao Futian.
***
Setelah serangkaian pemeriksaan intensif, Qin Zhetang akhirnya menjauhkan tangannya dari pergelangan tangan Qin Mu. Wajah pria paruh baya itu tampak dipenuhi keheranan yang tidak bisa ia sembunyikan.
"Ini benar-benar di luar logika pengobatan," gumam Qin Zhetang sambil menggelengkan kepala.
"Seseorang yang baru saja bangun dari koma selama lima puluh hari seharusnya memiliki otot yang menyusut dan aliran energi yang tumpul."
"Tapi kau... Tuan Muda Mu, tubuhmu terasa seperti baru saja ditempa di dalam tungku alkimia. Segar, padat, dan penuh energi spiritual."
"Jika bukan karena aku melihatmu terbaring kaku selama berminggu-minggu, aku akan mengira kau baru saja pulang dari latihan ringan."
Qin Changin yang mendengar itu akhirnya bisa menghela napas lega. Dengan sisa-sisa kewibawaannya, ia menepuk bahu Qin Mu.
"Syukurlah. Jika kau sudah baik-baik saja, aku harus segera melaporkan ini pada Tetua Xuanyu."
"Sejak kau pingsan, dia praktis tidak tidur untuk menyeimbangkan urusan internal keluarga dan penjagaan area isolasi Patriark."
"Istirahatlah sebentar lagi, kami pergi dulu."
Sepeninggal Qin Changin dan Qin Zhetang yang masih menggerutu soal gurunya, suasana kamar menjadi hening. Hanya menyisakan Qin Mu dan Qin Lian.
Qin Mu bangkit dari tempat tidur. Meski kaku sesaat, ia merasa kekuatannya pulih dengan sangat cepat. Ia melangkah menuju balkon di lantai dua Paviliun Utama tersebut.
Dari sana, ia bisa melihat hamparan luas kediaman Keluarga Qin yang kini terasa jauh lebih sunyi dan waspada...
Patroli penjaga terlihat lebih rapat, dan aura kegembiraan yang biasanya menyelimuti klan kini digantikan oleh ketegangan yang tertahan.
"Dunia terasa berubah dalam lima puluh hari, ya?" ucap Qin Mu pelan, matanya menatap kejauhan.
Qin Lian berjalan mendekat, berdiri di sampingnya. Angin sepoi-sepoi memainkan rambutnya yang halus.