Dua puluh tahun lalu sebuah praktek satanisme gagal. Ijah diringkus lalu dibakar hidup-hidup oleh masa sebab dianggap petaka.
Lima orang dipanggil kembali oleh satu sosok yang datang di dalam cermin. Mereka diberitahu untuk menuju ke salah satu tempat yang sempat mereka tinggali dahulu.
Tempat itu sudah lama ditutup. Huruf arab ditempelkan dibanyak pohon hutan sebelum menuju bangunan itu.
Huruf arab itu konon katanya adalah sebuah ayat sebagai penghalang apa yang ada dibangunan itu supaya tidak keluar dari dalam sana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Stanalise, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 005 : Desa yang Namanya Dihilangkan dari Peta (Lukisannya Nyata)
Malam ini sebelum terlelap Farah sedang duduk di atas ranjangnya. Jam dinding di kamarnya menunjukkan tepat pukul delapan malam.
Farah sedang memperhatikan gambaran yang dia buat pagi tadi. Dia memperhatikan gambaran itu lekat-lekat.
Satu hal yang kalian ketahui. Farah memanglah seorang gadis yang sangat cantik.
Hanya saja sebab mimpi yang datang berulang kali padanya selalu sama dan wanita mengerikan dalam mimpi itu selalu datang dari dalam cermin.
Maka Farah tidak membiarkan cermin apapun ada ataupun masuk di dalam kamarnya. Sudah cukup rasanya memiliki mimpi yang tak berubah.
Juga hantu wanita di dalam cermin yang selalu datang dan datang tiap kali matanya menatap ke arah cermin.
"Mungkin, aku dulu tidak berani mengatakan mimpi dan dirimu pada orang tuaku! Tapi rasanya sekarang ini perlu di katakan. Terormu semakin lama semakin seram. Dan aku tidak kuat lagi rasanya!" lirih Farah sambil menatap lukisannya.
Lukisan itu adalah gambar tempat yang sering dia lihat di dalam mimpi. Farah juga menggambar empat orang lelaki yang selalu berada di dalam mimpinya.
Hanya saja Farah menggambarkan dirinya dan empat temannya itu membelakangi gambar.
Hanya memperlihatkan punggung mereka dan tubuh mereka yang sedang duduk menatap ke arah bangunan tua di depannya.
Bayangan hitam berada di balik tubuh Farah saat ini. Bayangan itu datang tanpa sepengetahuan Farah. Hanya sebuah bayangan yang merambat ke dinding.
Farah tidak menyadari kehadiran bayangan itu sama sekali. Dia masih fokus pada lukisan yang dibuatnya.
Perlahan tangan hitam dari balik tubuhnya mulai mencoba meraih pundaknya Farah. Sedikit demi sedikit tangan hitam itu mendekat. Ketika hampir menyentuh pundak Farah,
Brakkkkkk
"Mama?!!!" pekik Farah terkejut ketika melihat Sang Mama yang tiba-tiba membuka pintu kamarnya dengan cepat.
Farah turun dari ranjangnya menghampiri Mamanya yang nampak syok itu.
"Mama kenapa, ma?" tanya Farah pada Mamanya.
"Anakku, ada seniman hebat di bawah bersama dengan ayahmu!" jawab Sang Mama pada Farah.
Farah menaikkan salah satu alisnya lalu bertanya,
"Iya ma? Lantas kenapa jika di bawah ada seorang seniman hebat? Bukankah ayah memang sering membawa tamu kemari?" tanya Farah padanya.
Sang Mama menatap Farah dengan penuh senyuman. Wajahnya nampak bahagia. Sang Mama menangkap wajah cantik putrinya dengan kedua telapak tangannya.
"Nak, ayahmu ingin kamu menunjukkan lukisanmu padanya! Ayahmu yakin bahwa Tuan Muda itu pasti akan tertarik dengan apa yang kamu buat!" ujar Sang Mama.
Farah membuang kasar nafasnya. Ternyata oh ternyata! Sempat Farah berpikir bahwa Sang Mama baru saja digoda setan sampai masuk ke kamarnya tanpa ketuk pintu.
Sambil memegangi kedua tangan mamanya yang masih berada di wajahnya. Farah pun berkata,
"Ma, sungguh mama sudah membuat Farah khawatir!" ujar Farah.
Mendengar kekhawatiran anaknya. Sang Mama hanya tersenyum kecil.
"Ya sudah nak! Mari kita bawa lukisanmu ke bawah! Kita tunjukkan bakat kamu pada teman ayahmu. Bahwa anak mama ini juga punya bakat yang bagus sama seperti ayahnya!" ujar Sang Mama membanggakan Farah.
Farah tentu saja senang ketika Sang Mama berucap demikian. Dia pun langsung mengambil gambarnya. Mereka kemudian turun ke bawah untuk menemui Sang Ayah.
Dari lantai atas terdengar suara langkah kaki yang menyita perhatian Sang Ayah dan tamunya. Fokus mereka berdua yang tadinya sedang mengobrol teralih ke arah anak tangga.
Ketika jenjang kaki Farah menyentuh lantai dasar. Seniman yang duduk bersama Sang Ayah menatapnya. Seniman itu, melemparkan satu senyuman manis ke arah Farah.
Farah membalas senyuman itu. Seniman yang duduk dan mengobrol bersama ayahnya terlihat masih sangat muda.
"Nah, ini anak saya!" ujar Sang Ayah memperkenalkan.
Seniman muda itu berdiri lalu mengulurkan tangannya pada Farah. Sebagai isyarat salamnya pada Farah dan Mamanya yang baru saja turun.
"Salam kenal Tante dan Nona! Saya Ardin, seorang seniman yang sedang mencari inspirasi!" ucap Ardin memperkenalkan dirinya kepada Farah dan Mamanya.
"Iya nak! Salam kenal juga ya! Ah iya, ini anak Tante, Farah namanya!" ucap Mama Farah memperkenalkan Farah pada Ardin.
Ardin mengangguk lalu mengulurkan tangannya pada Farah untuk berkenalan. Dengan senang hati Farah pun menyambut uluran tangan itu.
"Ardin!" ucap Ardin pada Farah.
"Farah!" ucap Farah pada Ardin.
Mereka pun kembali duduk bersama di ruang tamu itu.
"Ah, iya!" ucap Sang Ayah tiba-tiba ketika mereka semua sudah duduk nyaman di atas sofa.
"Ada apa ayah?" tanya Farah pada Sang Ayah.
"Anakku, bukankah kamu pagi tadi ayah beri buku gambar?" tanya Sang Ayah pada Farah.
"Iya Ayah!" jawab Farah mengangguk.
Farah mulai membuka lembaran buku gambar yang dia dapatkan dari ayahnya. Dia membuka dan berhenti di salah satu halamannya.
Farah menaruh buku gambar itu tepat di atas meja. Sehingga gambar yang dia buat pagi tadi bisa dilihat juga oleh Ardin dan Mamanya.
Ardin menyipitkan matanya memperhatikan gambar yang Farah buat. Ada sesuatu dalam hati Ardin perihal gambar itu. Dia seperti pernah melihat bangunan itu.
Sungguh tak asing rasanya bangunan itu menurutnya. Kemudian Ardin teringat sesuatu. Dia bukanlah orang kota. Dia orang desa yang sengaja datang ke kota untuk mengadu nasib.
Ardin menyentuh lukisan yang Farah buat itu. Dia masih diam dan Farah memperhatikan Ardin yang diam sambil mengusap-usap lukisannya.
"Ada apa Ardin?" tanya Farah pada Ardin.
Ardin tetap diam. Dia ingat bahwa ada sesuatu yang mengerikan tersimpan di dalam bangunan itu.
Sesuatu yang tiap malam selalu berteriak. Sesuatu yang ingin melarikan diri keluar dari dalam hutan.
"Apakah kamu pernah kemari?" tanya Ardin kepada Farah. Namun dia sama sekali tidak menatap Farah.
Dia terpaku melihat kelima manusia yang ada di gambar itu. Lima manusia yang terduduk menghadap ke arah bangunan itu.
"Apa kamu tau sesuatu tentang bangunan ini?" tanya Farah padanya.
Ardin diam sejenak. Kemudian dia mulai menatap Farah yang juga menatapnya. Di sana Ardin tidak berkata apapun padanya. Namun Ardin hanya tersenyum.
"Nona, lukisanmu indah! Lukisan ini nyata dan bangunannya ada. Kenapa kamu bisa melukis lukisan semacam ini? Apakah kamu pernah datang ke sana?" tanya Ardin pada Farah.
Baik Ayah dan Mama Farah terkejut ketika mendengar jawaban dari Ardin. Ardin bilang lukisan Farah nyata. Tapi setau mereka, tidak satu pun dari mereka pernah ke sana.
"Jadi tempat ini benar-benar ada?" tanya Farah pada Ardin.
"Ini ada di desaku! Ada tragedi di dalam bangunan itu. Sampai saat ini bangunan itu ditutup. Dan ya, tidak satupun orang desa berani masuk ke sana! Sebab di dalam hutannya ada dua makhluk menyeramkan yang dikurung! Aku tidak terlalu mengerti kejadian apa yang menimpa bangunan itu. Tetapi Kakekku adalah penjual susu keliling pada tahun itu. Ketika dia datang ke rumah itu. Dia menemukan kelima bocah yang menangis! Bocah itu terus menangis. Dia tidak mengatakan apapun kepada kakekku. Saat itu kakekku membawa mereka ke panti asuhan. Setibanya di sana mereka langsung pingsan!" jelas Ardin.
Penjelasan yang cukup panjang itu membuat Ayah dan Mama Farah terdiam. Ada sesuatu dalam hati mereka saat ini.
Mereka sama sekali tidak pernah memberi tahu Farah bahwa Farah bukan anak kandung mereka, melainkan anak adopsi mereka.
Begitupun Farah terdiam setelah mendengar jawaban dari Ardin. Lima orang bocah ditemukan di dalam rumah itu.
Sedangkan tiap kali dia bermimpi dia selalu bertemu dengan keempat bocah yang sama. Saat itu Farah pun berpikir.
Apakah aku ini terhubung dengan mereka?. Pikir Farah.
"Lukisan ini nyata?" tanya Farah.
Bola mata Ardin masih memperhatikan Farah saat itu. Mimik wajahnya penuh keyakinan. Ardin menganggukkan kepalanya sebagai tanda bahwa apa yang ditanyakan Farah itu benar.
Farah menaikkan salah alisnya. Keningnya dia kerutkan. Ini sudah cukup rasanya. Informasinya sudah cukup akurat.
Semakin bertambahnya tahun dalam hidupnya. Semakin menjadi terornya. Farah takut, tetapi dia juga tidak bisa membiarkan hal ini terus menerus menguji mentalnya.
"Terima kasih, Ardin!" lirih Farah padanya. Sang Mama dan Papa Farah yang melihat itu sejenak saling pandang.
"Pa, Ma!" panggil Farah pada kedua orang tuanya. Kedua orang tuanya menoleh ke arahnya. Tidak ada respon suara. Hanya mimik wajah yang cukup bingung. Farah tersenyum tipis melihat itu.
"Farah ijin ke kamar lagi, ya!" pinta Farah pada keduanya. Sang Papa pun mengangguk mendengar permintaan anak perempuannya itu.
Setelah Papanya menyetujui pintanya. Farah kemudian beranjak dari sana menuju ke kamar. Farah duduk di atas ranjangnya.
"Satu-satunya yang bisa menjawab ini adalah, bertemu dengan mereka lagi! Aku yakin orang-orang itu nyata dan ada di dunia ini!" ujar Farah.
Dia menarik selimutnya dan beberapa detik saja. Dirinya kembali masuk ke dalam sebuah Belantara yang selalu sama.
ternyata dia lebih tua dari aku🤣