"Dia sudah mati. Menangis sampai darah pun tidak akan mengembalikannya."
Di usia sebelas tahun, Freya Anindita kehilangan segalanya dalam kecelakaan maut. Di malam yang kelam itu, Galen Danendra menariknya dengan kejam dari jasad sang papa, lalu mengurungnya dalam sangkar emas atas nama wasiat dan harta peninggalan.
Tujuh tahun berlalu, takdir kembali mempermainkan mereka dengan cara yang lebih kejam. Istri Galen tewas dalam kecelakaan tragis saat hendak menjemput Freya pulang sekolah—sebuah fakta yang sama sekali tidak diketahui oleh Freya.
kini, menghadapi Galen yang telah menjelma menjadi seorang duda yang penuh dendam, Freya yang duduk di bangku kelas 3 SMA harus menelan pil pahit. Ia dituduh sebagai pembawa sial sejak kecil.
Di antara jerat rasa bersalah yang dipaksakan dan tatapan benci Galen yang kian mengintimidasi, mampukah Freya lolos dari takdir kejam sang duda?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Giarty gia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
4. Rumah Yang Kehilangan Nyawanya.
***
Sesuai dengan wasiat mendiang Hendrawan, mobil mewah keluarga Danendra bergerak menuju sebuah kawasan perumahan elit Tempat dimana rumah megah milik orang tua Freya berdiri.
Namun, kemegahan rumah berlantai dua itu kini terasa kosong dan mati.
Tidak ada lagi kehangatan, tidak ada lagi aroma masakan mama Freya yang menyambut diruang makan, dan tidak ada lagi suara tawa papanya yang menggema diruang keluarga setelah pulang kerja.
Rumah itu kini tak ubahnya seperti kotak beton yang dingin dan sepi.
Freya melangkah masuk ke dalam rumahnya dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki. Kakinya terasa begitu berat, seolah setiap jengkal lantai yang ia pijak memanggil kembali memori-memori manis yang kini berubah menjadi sembilu.
Di belakangnya, Kirana merangkul pundak kecil Freya yang masih sesekali terguncang oleh isakan lirih.
"Non Freya..."
Sebuah suara paruh baya yang bergetar menyambut mereka diruang tamu. Seorang wanita paruh baya mengenakan daster sederhana dengan mata yang bengkak dan merah melangkah mendekat.
Beliau adalah Mbok Sum, asisten rumah tangga yang sudah bekerja dirumah tersebut bahkan sejak Freya belum lahir ke dunia. Mbok Sum sudah menganggap Freya seperti cucunya sendiri.
"Mbok Sum..." Freya langsung berlari kecil dan menghambur ke dalam pelukan hangat wanita tua itu. Tangisnya kembali pecah, menyalurkan rasa sakit yang teramat dalam.
"Papa dan Mama sudah tidak ada, Mbok... Freya sekarang sendiri... Papa dan Mama tinggalkan Freya..."
Mbok Sum mendekap erat tubuh mungil Freya, mengusap punggungnya yang bergetar hebat sembari ikut menangis tersedu-sedu. "Nggih, Non... Mbok tahu. Non Freya yang sabar, nggih. Tuan dan Nyonya orang baik, mereka sudah tenang di sisi Gusti Allah..."
Kirana dan Baskoro yang menyaksikan pemandangan itu hanya bisa berdiri diam dengan hati yang ikut teriris.
Baskoro kemudian melangkah maju, berdeham pelan untuk mengalihkan perhatian Mbok Sum dengan sangat sopan.
"Maaf, Mbok Sum". Ucap Baskoro lembut. "Saya Baskoro Danendra, sahabat dari mendiang Hendrawan. Sesuai dengan amanat terakhir almarhum dirumah sakit semalam, kami yang akan mengambil alih tanggung jawab untuk merawat dan membesarkan Freya. Mulai hari ini, Freya akan tinggal bersama kami."
Mbok Sum melepaskan pelukannya perlahan, menyeka air matanya dengan ujung daster, lalu mengangguk takzim kepada Baskoro.
"Nggih, Tuan. Saya sudah mendengar kabar itu dari pengacara Tuan Hendrawan tadi pagi. Saya ikhlas dan bersyukur kalau Non Freya ada yang merawat dengan baik."
Baskoro menghela napas, lalu mengeluarkan sebuah amplop tebal berwarna cokelat dari balik saku jasnya. Ia menyerahkannya kepada Mbok Sum.
"Karena rumah ini akan kami kosongkan dan seluruh asetnya akan kami kelola atas nama Freya sampai dia dewasa nanti, dengan berat hati, Mbok Sum tidak bisa lagi bekerja di sini. Ini ada uang pesangon dan tabungan masa tua dari almarhum Hendrawan, ditambah sedikit dari keluarga kami. Jumlahnya cukup untuk Mbok Sum membuka usaha dikampung atau menikmati masa tua dengan tenang."
Mbok Sum terkejut melihat tebalnya amplop tersebut. Air matanya kembali menetes, kali ini karena rasa haru atas kebaikan hati mendiang majikannya dan keluarga Danendra.
"Matur nuwun sangat, Tuan... Tuan Hendrawan memang selalu memikirkan nasib saya sampai akhir hayatnya. Semoga Gusti Allah membalas semua kebaikan keluarga Tuan."
Mendengar kata 'tinggal bersama kami' dan menyadari bahwa Mbok Sum tidak akan ikut bersamanya, Freya seketika panik.
Ia mencengkeram erat lengan baju Mbok Sum, menatap Kirana dan Baskoro dengan pandangan penuh ketakutan dan penolakan.
"Tidak mau! Freya tidak mau pergi dari sini!". Teriak Freya. "Ini rumah Freya! Freya mau tinggal disini sama Mbok Sum! Freya tidak mau ikut kerumah Tante dan Om lagi! Freya mau tunggu Papa dan Mama pulang kerumah ini!".
"Freya.. dengarkan Tante, sayang". Kirana berlutut didepan Freya, mencoba meraih kedua tangan mungilnya, namun Freya langsung menarik tangannya kebelakang, menolak disentuh.
"Tidak mau! Tante dan Om orang asing! Anak Om yang tadi dipemakaman jahat! Dia bilang Papa dan Mama sudah jadi mayat dan tidak bisa pulang!". Raung Freya, mengingat kata-kata kejam Galen didalam mobil semalam yang terus terngiang seperti mimpi buruk. "Aku tidak mau ikut! Biarkan aku disini sendiri!".
Di usianya yang baru sebelas tahun, ditinggal sebatang kara oleh kedua orang tuanya adalah ketakutan terbesar yang pernah ada.
Freya merasa dunia luar begitu kejam dan asing. Ia hanya ingin bersembunyi didalam kamar tidurnya yang akrab, memeluk sisa-sisa aroma tubuh ibu dan ayahnya yang tertinggal di bantal dan pakaian mereka.
Melihat penolakan keras dari Freya, Kirana tidak marah. Sebaliknya, setetes air mata jatuh membasahi pipinya.
Dengan perlahan dan penuh kelembutan, Kirana maju, mengabaikan penolakan Freya, dan langsung menarik tubuh mungil itu kedalam pelukannya yang hangat.
"Freya... Sayang, dengarkan Tante..." Bisik Kirana tepat di telinga Freya yang masih terus menangis dan meronta lemah di dadanya. "Tante tahu Freya takut. Tante tahu Freya sedih. Kehilangan Mama dan Papa itu rasanya pasti sangat sakit sekali... Tante paham, sayang."
Kirana mengusap rambut panjang Freya yang berantakan dengan penuh kasih sayang, persis seperti yang sering dilakukan oleh ibunya sendiri.
"Tapi Papa Freya sudah menitipkan Freya kepada kami sebelum beliau pergi. Papa ingin Freya tetap aman, ingin Freya tetap sekolah, dan Freya tumbuh menjadi anak yang hebat. Kalau Freya tetap tinggal disini sendirian, Papa dan Mama di surga pasti akan menangis karena mengkhawatirkan Freya."
Rontaan Freya perlahan-lahan mulai melemah. Pelukan Kirana yang begitu tulus dan hangat entah bagaimana mulai mengikis dinding ketakutan di hatinya. Kehangatan tubuh Kirana mengingatkannya pada sang mama.
"Tante janji... di rumah Tante nanti, Freya tidak akan kekurangan kasih sayang". Lanjut Kirana dengan suara yang bergetar menahan haru. "Tante akan jaga Freya seperti anak kandung Tante sendiri. Om Baskoro juga. Memang... ada kakak laki-laki dirumah yang sikapnya agak dingin dan kaku, tapi dia tidak berniat jahat, Nak. Dia hanya belum terbiasa dengan anak kecil. Jadi, ikut Tante, ya? Demi ketenangan Papa dan Mama di surga..."
Freya terdiam.
Ia melirik ke arah Mbok Sum yang juga memberikan anggukan kepala sambil tersenyum penuh air mata, mengisyaratkan bahwa Freya harus menuruti ucapan Kirana demi kebaikannya sendiri.
"Mbok Sum... Tidak bisa ikut Freya?". Tanya Freya dengan suara serak, menatap ART setianya untuk yang terakhir kali.
"Mbok sudah tua, Non. Sudah waktunya Mbok pulang kampung untuk istirahat". Jawab Mbok Sum lembut, mengusap sisa air mata di pipi Freya.
"Non Freya harus ikut Tuan dan Nyonya Danendra. Mereka orang-orang baik yang dipercaya oleh almarhum Papamu. Non Freya harus jadi anak yang penurut dan kuat, nggih?".
Dengan berat hati, Freya akhirnya mengangguk pelan dalam dekapan Kirana.
Ia pasrah.
Di usianya yang masih sangat muda, terpaksa harus menerima kenyataan bahwa ia telah kehilangan seluruh dunianya dalam semalam.
Setelah itu, dibantu oleh Mbok Sum, Kirana membantu Freya mengemas beberapa potong pakaian sekolah, buku-buku, serta barang berharga milik Freya: sebuah foto keluarga berbingkai kecil yang diambil saat ulang tahunnya yang kesepuluh, serta boneka beruang lusuh kesayangannya.
***
Perjalanan dari rumah lama Freya menuju kediaman keluarga Danendra terasa begitu sunyi.
Freya hanya diam di kursi belakang, memeluk erat boneka beruang lusuh dan bingkai foto kedua orang tuanya.
Tatapannya kosong memandang keluar jendela mobil yang dibasahi sisa gerimis. Ketika mobil mewah itu akhirnya berbelok memasuki sebuah gerbang besi hitam yang menjulang tinggi, kesadaran Freya kembali terkumpul.
Di hadapannya kini berdiri sebuah rumah yang sangat besar. Rumah bergaya Eropa klasik modern dengan pilar-pilar putih raksasa yang kokoh, dikelilingi oleh halaman rumput yang sangat luas dan air mancur besar di bagian tengahnya.
Jika rumah orang tua Freya dulu sudah tergolong mewah, maka rumah keluarga Danendra ini jauh lebih masif, berkali-kali lipat lebih besar dan terkesan begitu megah hingga membuat siapa pun yang melihatnya merasa kerdil.
Namun, alih-alih merasa kagum, hati kecil Freya justru semakin menciut. Ia merasa sangat asing, terintimidasi, dan dirayapi rasa takut.
Rumah ini terlalu besar untuk ukurannya yang masih kecil. Baginya, setiap sudut bangunan megah ini tampak seperti labirin raksasa yang siap menelan dan membuatnya tersesat kapan saja.
"Ayo masuk, Freya sayang". Ucap Kirana dengan senyuman paling hangat, menggandeng jemari mungil Freya yang terasa dingin karena gugup.
Freya melangkah masuk dengan ragu. Lantai marmer yang mengilap sempurna di bawah kakinya seolah memantulkan bayangan dirinya yang tampak begitu rapuh.
Beberapa asisten rumah tangga berseragam rapi sudah berdiri berbaris di dekat pintu masuk, menunduk takzim menyambut kedatangan mereka.
"Bi Minah, tolong bawa koper Freya ke atas, ya. Rapikan pakaian dan barang-barangnya dikamar". Perintah Kirana lembut kepada salah satu ART paruh baya.
"Baik, Nyonya". Jawab Bi Minah patuh, segera mengambil alih koper kecil Freya.
Kirana kemudian menuntun Freya menaiki anak tangga melingkar yang dilapisi karpet bulu tebal menuju ke lantai dua.
Langkah kaki Freya terasa amat berat. Di lantai dua ini, lorong-lorong rumah terasa begitu panjang dengan deretan pintu kayu jati yang kokoh.
"Kamar Freya ada disebelah sini, tepat di ujung lorong agar mendapat pencahayaan yang bagus dari balkon". Jelas Kirana sembari menunjuk sebuah pintu ganda disisi kanan.
Namun, tepat sebelum mereka mencapai pintu kamar tersebut, daun pintu kamar yang berada tepat di sebelahnya perlahan terbuka.
Cklek.
Sesosok pria muda berpostur tinggi tegap melangkah keluar dari dalam kamar.
Galen Danendra.
Pemuda tersebut rupanya baru saja selesai mandi. Ia kini hanya mengenakan kemeja santai berwarna putih tipis dengan beberapa kancing atas yang sengaja dibuka, serta rambut hitamnya yang masih tampak basah, menyisakan tetesan air yang jatuh di sekitar rahang tegasnya.
Aroma sabun maskulin yang tajam dan dingin seketika menguar, memenuhi lorong lantai dua tersebut.
Langkah kaki Galen terhenti saat mendapati ibunya sedang menuntun anak kecil bergaun hitam di depan kamarnya.
Sepasang mata elangnya yang tajam beradu pandang dengan mata Freya yang sembap dan bengkak.
Tatapan Galen begitu menusuk—dingin dan tidak menyiratkan keramahan sedikit pun.
Freya yang melihat tatapan mengerikan itu seketika ketakutan. Secara refleks, tubuhnya langsung bergeser mundur, bersembunyi dibalik punggung Kirana sambil mencengkeram ujung baju wanita tersebut.
Jantung Freya berdegup kencang. Pemuda berwajah tampan ala Korea ini entah mengapa terlihat sangat menyeramkan di matanya, jauh lebih menakutkan daripada bayangan monster di buku cerita.
Dari balik punggung Kirana, Freya melirik takut-takut, sementara Galen masih menatapnya dari atas ketinggian dengan rahang yang mengeras.
Didalam hatinya, Galen mendengus kasar. Rasa jengkel yang sempat diredamnya kembali bergejolak melihat kehadiran anak perempuan berumur sebelas tahun itu kini benar-benar telah menginjakkan kakinya lagi di wilayah kekuasaannya.
Kamar mereka bahkan bersebelahan, dipisahkan hanya oleh satu dinding beton.
"Benar-benar menyusahkan". Batin Galen dengan sinis dan dingin. "Rumah ini tidak akan pernah tenang lagi mulai hari ini. Setiap hari, aku pasti harus menahan telinga mendengar suara tangisan cengeng dari anak kecil ini".
"Galen, baru selesai mandi, nak?". Seru Karina dengan suara lembut.
Galen tidak menjawab pertanyaan ibunya. Ia hanya mengalihkan pandangannya dari Freya, lalu memperbaiki letak jam tangannya dengan gerakan kaku.
"Aku ada urusan pekerjaan yang tidak bisa ditunda, Ma. Aku ke bawah dulu". Ucapnya dengan suara bariton yang berat dan dingin, lalu melangkah pergi melewati mereka begitu saja tanpa berniat menyapa atau memedulikan ketakutan Freya.
Melihat punggung tegap Galen yang menjauh ke arah tangga, Kirana hanya bisa menghela napas panjang. Ia berbalik, lalu berlutut di hadapan Freya untuk menenangkan anak itu.
"Freya sayang, jangan takut, ya? Kak Galen memang orangnya seperti itu, jarang tersenyum dan bicaranya kaku. Tapi dia tidak berniat jahat kok. Nanti lama-kelamaan Freya juga akan terbiasa."
Freya hanya mengangguk pelan dengan bibir yang bergetar, meski didalam lubuk hatinya, ia merasa tidak akan pernah bisa terbiasa dengan sosok Galen yang begitu kejam dan menyeramkan.
"Nah, sekarang Freya masuk ke kamar dulu, ya. Tante mau Freya langsung mandi biar badannya segar dan bersih. Setelah selesai mandi, langsung turun kebawah ya. Ini Udah jam satu, waktunya makan siang bersama. Kamar mandinya ada didalam, air hangatnya sudah dinyalakan oleh Bi Minah". Tutur Kirana dengan lembut.
"Iya, Tante..." Jawab Freya lirih dengan suara yang nyaris tenggelam.
Kirana membukakan pintu kamar untuk Freya, membiarkannya masuk ke dalam ruangan pribadinya yang baru.
***