cerita pendek misteri dan horor
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yani 11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28_Arisan maut part 4
Sosok perempuan itu terus merangkak keluar dari kegelapan. Kepalanya terbalik ke belakang hingga terdengar bunyi tulang yang patah.
Krek...
Krek...
Krek...
Rambutnya yang panjang menjuntai menyapu lantai, meninggalkan jejak hitam seperti darah yang sudah membusuk.
Tangannya bergerak cepat. Sangat cepat. Seolah tulangnya tidak lagi memiliki sendi.
Arga membeku.
"N... jangan mendekat..." ucapnya terbata-bata. Wajahnya berubah pucat pasi, sementara bibirnya bergetar hebat menahan rasa takut.
Perempuan itu berhenti. Lalu perlahan mengangkat wajahnya.
Matanya...Kosong. Tidak ada bola mata. Hanya dua lubang hitam yang mengeluarkan cairan pekat. Kemudian bibirnya tersenyum. Terlalu lebar.
"Hadiah..." bisiknya lirih. Senyumnya semakin mengerikan, sementara lidahnya yang hitam menjulur perlahan keluar dari mulutnya.
Arga mundur beberapa langkah.
"Aku tidak ikut permainan ini!" teriaknya keras. Wajahnya dipenuhi kepanikan, sementara kedua tangannya gemetar hebat.
Nenek tua itu tertawa pelan.
"Hehehehe...Tidak ada yang bisa keluar..." ucapnya tenang. Wajahnya tampak puas, sementara matanya yang hitam pekat terus menatap Arga.
"Karena sejak kalian menginjak rumah ini..." ucap wanita tua itu pelan. Bibirnya menyunggingkan senyum menyeramkan, sementara sorot matanya yang kosong menyapu wajah mereka satu per satu.
"...jiwa kalian sudah menjadi peserta." lanjutnya dingin. Senyumnya semakin melebar, sementara tawanya yang lirih membuat bulu kuduk semua orang berdiri.
Semua orang menahan napas.
Rina memandang Arga dengan mata berkaca-kaca.
"Arga! Kemari! Jangan sendirian!" teriaknya panik. Wajahnya dipenuhi kecemasan, sementara kedua tangannya terulur ingin menarik Arga.
Namun...
Brak!
Seluruh pintu rumah tertutup sendiri. Jendela-jendela bergetar hebat.
Duar!
Duar!
Duar!
Suara benturan terdengar dari seluruh sisi rumah.
Pak Hasan langsung memejamkan mata.
"Ya Tuhan..." bisiknya lirih. Wajahnya dipenuhi ketakutan, sementara kedua tangannya bergetar memegang tasbih kecil di sakunya.
Wawan berteriak.
"Itu suara apa?!" serunya panik. Matanya bergerak ke segala arah, sementara napasnya mulai memburu.
Belum sempat siapa pun menjawab...
Buk!
Buk!
Buk!
Sesuatu menghantam plafon.
Sekali.
Dua kali.
Lalu...
Puluhan kali.
Semua mendongak.
Di atas plafon...Kini bukan hanya tangan hitam. Melainkan puluhan wajah manusia. Mereka menempel terbalik. Leher mereka memanjang. Mata mereka melotot tanpa berkedip. Mulut mereka terbuka lebar.
Lalu serempak mereka berbisik.
"Ikut kami..."
"Ikut kami..."
"Ikut kami..."
Suara itu bergema memenuhi seluruh ruangan.
Nia menjerit.
"Aaaaaa! Mereka melihat kita!" teriaknya histeris. Wajahnya dipenuhi kengerian, sementara air matanya mengalir tanpa henti.
Salah satu wajah di plafon tiba-tiba membuka mulutnya semakin lebar. Sangat lebar. Tidak wajar.
Kemudian...
Sebuah tangan manusia keluar dari dalam mulutnya. Lalu tangan kedua. Ketiga.nKeempat.nSeolah ada banyak orang yang berusaha keluar dari tubuh makhluk itu.
"Keluarkan kami..."
"Kami masih hidup..."
"Kami masih hidup..."
Suara-suara itu saling bertumpuk. Memenuhi telinga seluruh peserta.
Rina langsung menutup telinganya.
"Berhenti! Tolong berhenti!" teriaknya putus asa. Wajahnya dipenuhi penderitaan, sementara ia jatuh berlutut sambil menangis.
Perempuan berambut panjang itu kembali merangkak.
Kali ini...
Jauh lebih cepat.
Crat!
Crat!
Crat!
Dalam sekejap ia sudah berada tepat di depan Arga.
Arga menjerit.
"Pergi! Jangan sentuh aku!" teriaknya ketakutan. Wajahnya berubah pucat seperti mayat, sementara tubuhnya gemetar hebat hingga sulit berdiri.
Makhluk itu mengangkat kepalanya yang terbalik. Lalu berbisik tepat di telinga Arga.
"Aku mengenalmu..." bisiknya lirih. Bibirnya yang robek tersenyum tipis, sementara kedua matanya yang hitam pekat menatap Arga tanpa berkedip.
"...kau membiarkanku mati..." lanjutnya pelan. Senyumnya semakin melebar hingga hampir mencapai telinga, sementara napasnya yang membusuk menerpa wajah Arga.
Arga langsung membelalakkan mata.
"A... apa?" ucapnya terbata-bata. Wajahnya dipenuhi kebingungan bercampur ketakutan.
Makhluk itu tertawa.
"Hehehehehe..." tawanya melengking pelan. Bahunya berguncang perlahan, sementara kepalanya yang terbalik terus bergoyang ke kiri dan ke kanan dengan gerakan yang tidak wajar.
"Tidak ingat?" tanyanya sinis. Alisnya terangkat, sementara senyum mengerikannya tidak pernah menghilang dari wajah pucatnya.
"Kalau begitu..." ucapnya pelan. Sorot matanya berubah semakin tajam, sementara kuku-kukunya yang panjang perlahan menggores lantai hingga menimbulkan suara berderit.
"...aku akan membuatmu mengingat." bisiknya dingin. Senyumnya berubah menjadi seringai mengerikan, sementara wajahnya perlahan mendekat hingga hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajah Arga.
Tiba-tiba...
Brak!
Kepala Arga seperti dihantam sesuatu yang tidak terlihat. Ia memegang kepalanya sambil berteriak.
"Aaaahhh!"
Potongan-potongan bayangan mulai muncul di depan matanya.
Rumah tua. Hujan deras. Seorang perempuan menangis sambil menggendong anak kecil. Delapan orang berdiri mengelilinginya.nMereka saling berteriak.
Lalu...
Api.
Api membakar seluruh rumah. Arga terjatuh sambil memegangi kepalanya.
"Bukan aku! Bukan aku yang melakukannya!" teriaknya keras. Wajahnya dipenuhi rasa panik, sementara matanya melotot seolah melihat kejadian yang sangat mengerikan.
Semua orang menoleh.
Rina membeku.
"Arga....apa yang kau lihat?" tanyanya pelan. Wajahnya dipenuhi kecemasan, sementara suaranya terdengar bergetar.
Arga menangis.
"Aku... aku melihat seorang perempuan. Dia memohon agar pintunya dibuka...Tapi...Ada seseorang yang menguncinya dari luar..." ucapnya tersendat-sendat. Wajahnya dipenuhi rasa bersalah, sementara seluruh tubuhnya terus gemetar.
Nenek tua itu bertepuk tangan perlahan.
Tok...
Tok...
Tok...
"Bagus..." ucapnya pelan. Senyumnya semakin lebar, sementara matanya bersinar merah di tengah kegelapan.
"Ingatan kalian....akhirnya mulai kembali." lanjutnya
Mendadak...Kotak arisan itu terbuka sendiri.
Krieeet...
Tutup kayunya bergerak perlahan.
Dari dalamnya...Keluar asap hitam pekat. Asap itu berputar-putar di udara. Lalu membentuk sosok seorang anak perempuan kecil.
Gaunnya hangus. Kulitnya dipenuhi luka bakar. Namun yang paling mengerikan... Di kedua tangannya, ia menggenggam delapan boneka kain kecil. Satu demi satu boneka itu mengangkat kepalanya.
Dan...
Masing-masing memiliki wajah para peserta yang masih hidup.
Anak kecil itu tertawa cekikikan.
"Hihihihihi...Bonekaku....akhirnya lengkap..." ucapnya riang. Wajahnya tersenyum polos, tetapi kedua matanya hitam legam tanpa sedikit pun cahaya kehidupan.
Seluruh peserta membeku. Jantung mereka serasa berhenti berdetak.
Karena salah satu boneka...Perlahan mengangkat kepalanya.
Lalu...
Boneka berwajah Arga...Mulai menjerit dengan suara yang sama persis seperti suara Arga.
"Aaaaaaaaaa...!"