NovelToon NovelToon
Kuli Bangunan Terpaksa Kaya

Kuli Bangunan Terpaksa Kaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Komedi / Romansa Fantasi
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Tri Wahyuni92

Riyan Sadewa, seorang kuli bangunan di Bandung, hidup pas-pasan hingga sebuah kecelakaan di lokasi kerja mengubah segalanya. Sebuah sistem misterius muncul, memaksanya menghabiskan uang dengan syarat tidak boleh mendapatkan keuntungan sedikit pun. Jika ia untung, nominal uang yang harus dibuang justru berlipat ganda. Riyan terjebak dalam permainan ekonomi yang absurd, membeli aset besar hanya untuk merusak harganya demi memuaskan sistem. Di tengah tekanan ini, ia harus belajar bahwa membuang uang ternyata jauh lebih sulit daripada mencari nafkah, dan ia harus menemukan cara untuk menghentikan siklus ini sebelum hidupnya hancur.

"Sistem gila. Bukannya berkurang, duit gua sekarang malah bertambah."

"Gua cuma mau miskin, Ya Tuhan! Kenapa susah banget buat bangkrut di dunia ini?!"

Bagaimana kelanjutannya..?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Wahyuni92, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 22

Aula utama Lembang mendadak berubah menjadi medan perang dingin yang mencekam. Bau wangi kembang melati dari sanggul pernikahan Kezia kini bercampur dengan aroma parfum mewah bernuansa mawar hitam milik Valerie yang menyengat indra penciuman.

Para sesepuh Keluarga Zevan yang tadinya tersenyum lebar langsung menggenggam erat gagang kursi mereka, sementara barisan pengacara Vandersen Group tetap berdiri kokoh di belakang nona besar mereka.

Riyan Sadewa masih duduk membatu di kursi pelaminan. Di layar matanya, angka digital Sistem terus berkedip santai:

[Misi Sampingan: Sabotase Jaringan Hiburan Vandersen Group.]

[Batas Waktu: 47 Jam : 52 Menit : 10 Detik.]

[Status Saldo Hukuman: 6,45 Triliun Rupiah (Harus dikurangi secara masif atau penalti fisik menanti!).]

"Valerie Vandersen," suara Kezia memecah keheningan, terdengar begitu tenang namun sanggup membekukan seisi ruangan.

Dia melangkah maju, berdiri tepat di samping Riyan, lalu meletakkan tangannya di atas pundak berbaju emas suaminya.

"Kamu datang ke pernikahan kami, menggebrak meja, dan mengklaim suamiku sebagai pemilik saham di perusahaanmu? Tidakkah hukum rahasia juga menyatakan bahwa aset suami adalah hak mutlak di bawah kendali istri sah?"

Valerie melipat kedua tangannya di dada, senyum sinisnya terkembang lebar.

"Oh, benarkah, Kezia? Jangan lupa, hukum arbitrase keluarga menyatakan bahwa kepemilikan saham akibat sitaan jaminan negara berstatus 'Aset Konflik Mandiri'. Artinya, Riyan memiliki hak suara penuh tanpa perlu persetujuan dari dewan direksi Zevan Group sekalipun! Dia terikat secara personal dengan Vandersen Group!"

Valerie kemudian mencondongkan tubuhnya ke arah Riyan, menatap mata kuli itu dengan pandangan menantang.

"Riyan, denda tiga triliun dari Bank Sentral harus dibayarkan besok malam. Sebagai pemegang 49% saham, kamu mau bayar pakai uangmu, atau kamu mau melihat seluruh aset klub malam, bar, dan hotel mewah kita disita negara dan namamu dicap cacat finansial di seluruh dunia?"

Riyan mengedipkan matanya dua kali. "Tunggu dulu...

Otak proyek Riyan yang terbiasa menghitung kubikasi semen langsung menangkap sebuah peluang emas.

'Dia bilang denda tiga triliun? Dan kalau gua gak bayar, aset hiburan malam itu bakal disita dan hancur? Tapi kalau gua bayar pakai duit gua yang enam triliun ini... bukankah gua bakal kehilangan tiga triliun secara cuma-cuma demi membayar denda hukum (kerugian murni)? Dan Sistem pasti menganggap itu sebagai pengurangan saldo yang sah karena membayar denda pemerintah tidak menghasilkan keuntungan bisnis komersial!

Riyan langsung menegakkan punggungnya, matanya berbinar-binar penuh harapan baru.

"Bayar denda? Oke! Gua bayar sekarang juga! Mana nomor rekening denda Bank Sentralnya?! Jangankan tiga triliun, gua lunasin semuanya sekarang!" seru Riyan dengan semangat membara, langsung meraba ponselnya.

Valerie tertegun. Kezia pun ikut terkejut.

Di mata Valerie, reaksi Riyan ini benar-benar tidak masuk akal. Pria ini... baru saja dipaksa menanggung utang denda perusahaanku, tapi kenapa ekspresinya seperti orang yang baru memenangkan undian jalan sehat?!

Namun, bagi Kezia Zevan, tindakan Riyan malam itu dibaca dengan logika yang jauh lebih dalam dan mengerikan. Kezia langsung menahan tangan Riyan yang hendak mengetik di ponsel.

"Tunggu, Suamiku! Jangan terjebak tipu muslihatnya!" bisik Kezia dengan nada cemas yang jarang dia perlihatkan. Dia kemudian menoleh ke arah Valerie dengan tatapan tajam.

"Valerie, trik yang sangat licik. Kamu sengaja memeras Riyan untuk membayar denda itu agar dia melakukan 'Capital Injection' (suntikan modal) secara sukarela ke Vandersen Group! Jika Riyan membayar denda tiga triliun itu atas nama pemilik saham, struktur modal perusahaannya akan sehat kembali, dan valuasi saham 49% milik Riyan akan meroket naik menjadi sepuluh triliun dalam semalam!"

,Hah?! Valuasinya naik lagi?! Riyan melotot, tangannya langsung gemetar di atas layar ponsel.

Kezia melanjutkan argumen jeniusnya dengan percaya diri.

"Bukan hanya itu! Dengan membayar denda pemerintah, Riyan akan dianggap oleh publik sebagai 'Ksatria Finansial' yang menyelamatkan industri hiburan malam Bandung dari kebangkrutan. Citra baik itu akan membuat saham pariwisata kita naik, dan uang tiga triliun itu akan kembali ke dompet Riyan dalam bentuk dividen akhir tahun!"

Valerie yang mendengarkan analisis Kezia langsung terbelalak. Sebenarnya, Valerie datang hanya untuk meluapkan kemarahan dan memeras Riyan demi menyelamatkan perusahaannya yang di ambang kehancuran.

Dia sama sekali tidak memikirkan skenario Capital Injection yang bisa menguntungkan Riyan sejauh itu. Namun, demi menjaga harga dirinya di depan Kezia, Valerie langsung memasang wajah angkuh seolah-olah hal itu memang bagian dari rencananya.

"Hmph! Bagus kalau kamu sadar, Kezia," bual Valerie dengan nada menantang.

"Riyan memang tidak punya pilihan selain membuat perusahaanku semakin kaya!"

Riyan Sadewa perlahan menurunkan ponselnya dengan lemas. Keringat dingin mengucur deras dari dahinya yang tertutup blangkon emas.

'Gila... hampir saja gua masuk jebakan Batman lagi! batin Riyan nangis batin.

'Kalau gua bayar dendanya, duit gua malah balik jadi sepuluh triliun lewat saham dan dividen! Sialan, kenapa dunia orang kaya seribet ini sih?! Bayar utang aja bisa bikin tambah kaya!

[Denting Sistem! Deteksi Hambatan Plot!]

[Niat Inang untuk membayar denda langsung digagalkan oleh analisis pasar Target 1. Tindakan tersebut dinilai berpotensi memicu keuntungan spekulatif 200%.]

[Saran Sistem: Gunakan metode 'Predatory Destruction'. Alih-alih membayar denda untuk menyehatkan perusahaan, gunakan sisa saldo Anda untuk membeli sisa 51% saham milik Valerie secara paksa, lalu bubarkan perusahaannya secara total sebelum batas waktu denda habis!]

'Membeli sisa saham... lalu membubarkan perusahaannya?

Riyan melirik ke arah Valerie Vandersen yang masih berdiri tegak dengan gaun merah darahnya yang menantang. Senyum licik seorang mantan kuli bangunan perlahan kembali terukir di wajah Riyan.

"Valerie," ucap Riyan, suaranya terdengar berat dan penuh wibawa buatan. Pria itu berdiri dari kursi pelaminan, melepaskan untaian melati di lehernya, lalu berjalan mendekati nona besar Vandersen tersebut.

"Lu mau denda tiga triliun itu lunas, kan? Dan lu mau perusahaan hiburan malam lu gak disita negara?"

Valerie menyipitkan matanya, waspada. "Ya. Itu kewajiban lu sebagai pemilik saham baru."

"Gua gak mau bayar dendanya," kata Riyan santai.

"Apa?! Lu mau cari ribut—"

"Tapi," potong Riyan sambil mengacungkan satu jarinya tepat di depan wajah Valerie.

"Gua mau beli sisa 51% saham milik lu dan seluruh keluarga Vandersen malam ini juga. Gua bayar tunai empat triliun rupiah sekarang. Lu ambil duitnya, lu pergi dari perusahaan itu, dan biarkan gua yang pegang 100% kepemilikan penuh atas seluruh aset hiburan malam lu yang mau bangkrut itu!"

Suasana aula kembali meledak dalam keheningan yang luar biasa pekat. Empat triliun tunai... hanya untuk membeli sisa saham dari perusahaan yang sedang sekarat dan terjerat denda hukum?!

Ini bukan lagi bisnis, ini adalah aksi akuisisi paling brutal dan paling merugikan yang pernah didengar oleh sejarah korporat Indonesia!

1
adib
oke. alur awal terlalu cepat.. jadi nggak berasa .. tp udah cukup unik jalur ceritanya
Bang Haji
Kalo bikin cerita pake otak dong ..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!