Elisa tidak pernah menyangka novel yang baru semalam ia baca akan menjadi awal petaka hidupnya. Saat membuka mata, ia sudah berada di tubuh Lady Nandikara, putri bangsawan dari Wilayah Timur yang terkenal cantik, tapi angkuh, bermulut tajam, dan paling dibenci semua orang.
Tapi bagusnya, Lady Nandikara itu hanya karakter pendukung saja, yang Elisa ingat, dia muncul hanya sesekali, tokoh yang tidak penting.
Ketika mengetahui posisinya dalam novel, Elisa mengambil satu keputusan. Dia tidak akan ikut campur dalam alur cerita. Cukup hidup tenang, menjadi gadis pendiam, lalu bertahan sampai akhir.
Namun, rencananya mulai berantakan. Ketika sepasang mata tajam dan sedingin es milik Putra Mahkota mulai terpaku padanya. Sejak saat itu, kedamaian yang selama ini ia rencanakan dengan matang perlahan hancur, Elisa terseret ke dalam obsesi seorang pria yang tak pernah menerima penolakan.
Semakin Elisa berusaha menjauh dari alur cerita, semakin takdir menyeretnya ke pusat konflik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saasaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menuju Istana
"Kau ingat tidak, Suri, waktu kita membicarakan betapa berlebihannya dandanan para gadis bangsawan sewaktu di pameran seni?" tanya Elisa sambil menoleh ke arah kakaknya yang sedang duduk tegak. Cani masih sibuk merapikan pita-pita kecil yang menghiasi rambut Suri.
Suri mendesah panjang."Tentu saja aku ingat. Dan sekarang..." Ia melirik pantulan dirinya di cermin kecil yang dibawa salah satu pelayan."Kita justru melakukan hal yang sama seperti mereka."
Elisa menahan tawa."Setidaknya kita jadi mengerti perasaan mereka."
"Mengerti?" Suri mendengus."Aku malah semakin kasihan pada mereka."
Cani terlihat kembali menyelipkan pita kecil berwarna putih di antara helaian rambut Suri, karena majikannya yang satu ini terus melepaskan satu persatu pitanya.
"Astaga, aku benci pita ini."
Cani langsung membungkuk gugup."Maaf, Nona. Ini perintah Nyonya Winter."
"Bukan salahmu Cani," ujar Suri cepat."Yang harus disalahkan adalah orang yang memiliki ide menempelkan puluhan pita di kepalaku."
Elisa tidak mampu lagi menahan tawanya."Kata ibu, itu sedang trend dikalangan para gadis."
"Jangan tertawa. Rambutmu juga tidak kalah parah."
"Aku tahu."
"Kalau begitu berhenti tertawa."
"Tidak bisa. Ekspresi wajahmu sangat lucu Suri."
Suri hanya memutar bola matanya pasrah.
Nandikara dan Suri sedang dalam perjalanan menuju istana untuk memenuhi undangan Raja. Keluarga Winter datang dengan rombongan yang cukup besar. Lebih dari empat kereta kuda ikut dalam perjalanan itu. Satu kereta khusus untuk Tuan dan Nyonya Winter, satu lagi untuk kedua putri mereka, sedangkan dua kereta lainnya dipenuhi koper, peti pakaian, aksesori, serta berbagai barang pribadi yang menurut Nyonya Winter sangat penting dibawa.
Sebelum berangkat, Tuan Winter sempat menghela napas panjang melihat banyaknya barang yang diangkut para pelayan.
"Kita hanya menghadiri acara berburu, bukan pindah rumah."
Nyonya Winter sama sekali tidak menoleh."Justru karena acara berburu diadakan di istana, kita tidak boleh terlihat kurang siap."
"Empat peti gaun? Untuk apa?"
"Bagaimana kalau cuacanya berubah?" Tanya Nyonya Winter.
"Masih masuk akal, tapi enam kotak sepatu?"
"Setiap gaun membutuhkan pasangan sepatu yang berbeda."
Tuan Winter mulai memijat pelipisnya."Lalu tiga koper aksesori?"
"Kalau suasana acara berubah?"
"Berubah menjadi apa?" Suara tuan Winter sedikit meninggi.
"Entahlah. Yang penting berjaga-jaga."
Tuan Winter akhirnya menyerah."Baiklah. Aku belajar satu hal hari ini."
"Apa?"
"Pria sebaiknya tidak berdebat dengan istrinya ketika membahas pakaian."
"Itu baru suami yang bijaksana," balas Nyonya Winter dengan senyum puas.
Urusan barang memang belum selesai. Setelah itu, perhatian Nyonya Winter sepenuhnya tertuju pada kedua putrinya. Sedikit demi sedikit ia mengatur rambut, memilih pita, mengganti bros, bahkan meminta pelayan mengganti anting sebanyak dua kali karena merasa ukurannya kurang sesuai.
Yang paling mengejutkan, Suri yang biasanya dibiarkan berdandan sesukanya pun kali ini tidak luput dari pengawasan.
Pada akhirnya, Suri dan Elisa hanya bisa pasrah. Keduanya duduk diam layaknya dua patung hidup yang sedang dipersiapkan untuk dipajang. Mereka tahu, sekali saja membantah, murka Nyonya Winter akan jauh lebih mengerikan daripada seluruh perjalanan menuju istana.
Kini, di dalam kereta mereka sendiri, Elisa terus cekikikan melihat Suri yang diam-diam berusaha menarik salah satu pita kecil dari rambutnya.
"Suri berapa kali pun kau berusaha mencopotnya, Cani akan memasangnya lagi."
"Yang penting aku sudah berusaha."
"Bagaimana kalau kita kabur saja, Suri? Masih ada waktu. Kita bisa menerobos keluar sebelum kereta memasuki gerbang istana."
Suri langsung menatap adiknya seolah baru saja mendengar usulan paling gila sepanjang hidupnya."Simpan ide kriminalmu itu."
"Ayolah."
"Tidak."
"Kita pura-pura diculik?"
"Tidak."
"Atau pura-pura sakit?"
"Ibu akan memanggil lima tabib sekaligus."
Elisa mengangguk pelan."Benar juga."
"Jadi berhentilah mencari cara."
Elisa menyandarkan punggungnya ke kursi."Aku hanya tidak ingin menjadi pajangan berjalan."
"Kita memang sedang menjadi pajangan berjalan."
Keduanya saling berpandangan, lalu tertawa kecil bersamaan.
Sebenarnya Elisa pun tidak jauh berbeda. Rambut panjangnya digerai dengan rapi, dihiasi pita-pita bunga kecil yang ditempelkan di bagian belakang. Gaun yang dikenakannya berlapis-lapis dengan bordiran halus serta kain yang menjuntai anggun hingga hampir menyentuh lantai kereta.
Penampilan mereka lebih pantas menghadiri pesta penobatan daripada sekadar melakukan perjalanan.
Agak tidak waras memang Nyonya Winter, batin Elisa sambil menghela napas.
Beberapa jam kemudian, rombongan akhirnya tiba di ibu kota. Suasana jauh lebih ramai dibanding biasanya. Di sepanjang jalan utama, warga telah berbaris di kanan dan kiri jalan. Anak-anak kecil duduk di pundak ayah mereka, sementara para pedagang menghentikan aktivitasnya hanya untuk menyaksikan iring-iringan kereta bangsawan yang datang dari berbagai wilayah.
"Bagi rakyat, melihat puluhan kereta bangsawan lewat mungkin menjadi hiburan tersendiri." Jelas Suri ketika matanya melirik sekilas keluar jendela.
"Kalau aku jadi mereka, mungkin aku juga akan menonton."
Suri tersenyum tipis."Semoga saja mereka tidak melihat betapa banyak pita yang menempel di kepalaku."
Elisa kembali tertawa pelan.
Tak lama kemudian, gerbang istana yang megah mulai terlihat di kejauhan. Iring-iringan kereta keluarga Winter perlahan memasuki halaman istana bersama puluhan kereta bangsawan lainnya, menandai dimulainya acara besar yang telah lama dinantikan seluruh penghuni kerajaan.