NovelToon NovelToon
Love In The Palace

Love In The Palace

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Romansa Fantasi / Fantasi Timur
Popularitas:228
Nilai: 5
Nama Author: naura hasna

Terlempar ke dunia yang sama sekali berbeda, gadis itu harus bertahan hidup sebagai pelayan di istana kerajaan. Takdir mempertemukannya dengan sang Raja—pemimpin yang tampak dingin namun menyimpan hati yang tersembunyi. Di antara aturan ketat dan rahasia istana, cinta tumbuh melampaui batas dunia dan kedudukan. Sebuah kisah bahwa cinta sejati tak pernah memandang siapa dirimu, melainkan hatimu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon naura hasna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5: Bayang Rintangan di Balik Kemegahan

Kedamaian yang baru saja terjalin antara Elara dan Valerius ternyata tidak bertahan lama. Berita tentang kedekatan mereka menyebar bagai angin kering di musim panas, melintasi lorong-lorong istana, hingga akhirnya sampai ke telinga para penasihat kerajaan dan kalangan bangsawan. Bagi mereka yang sudah terbiasa dengan aturan ketat dan hierarki yang tak tergoyahkan, kenyataan bahwa sang Raja mulai menaruh perhatian lebih pada seorang gadis asing—apalagi yang hanya berstatus pelayan—dianggap sebagai hal yang memalukan, tidak pantas, dan mengancam tatanan yang telah berlaku selama berabad-abad.

Hari itu, rapat besar di ruang sidang kerajaan berlangsung lebih lama dan lebih tegang dari biasanya. Di atas singgasana, Valerius duduk tegak dengan wajah datar, namun matanya menyimpan kewaspadaan. Di hadapannya berbaris para penasihat tua, pemimpin wilayah, dan keluarga bangsawan tertinggi, yang semuanya datang dengan satu tujuan yang sama: menyampaikan keberatan mereka.

Yang paling lantang menyuarakan pendapat adalah Adipati Kael, ayah dari Lady Seraphina dan tokoh paling berpengaruh setelah Raja. Dengan langkah mantap dan wajah serius, ia melangkah maju dan membungkuk dengan hormat, namun nada bicaranya terdengar tegas dan penuh tuntutan.

“Yang Mulia,” ucapnya, suaranya bergema memenuhi ruangan luas itu. “Kami semua berkumpul di sini bukan untuk menentang kehendak Anda, melainkan demi kebaikan Kerajaan Aetheris dan masa depannya. Sudah menjadi tradisi dan hukum yang tak tertulis bahwa pendamping sang Raja harus berasal dari keturunan bangsawan murni, memiliki kedudukan yang setara, serta membawa manfaat bagi persatuan wilayah dan kekuasaan kerajaan. Namun akhir-akhir ini, kabar yang kami dengar membuat hati kami gelisah. Konon, Anda menaruh perhatian istimewa pada seorang gadis asing yang tidak diketahui asal-usulnya, yang hanya berstatus pelayan di istana ini. Hal ini sangat tidak wajar, Yang Mulia, dan bisa menimbulkan pertanyaan serta ketidakpuasan di antara rakyat dan kaum bangsawan.”

Ucapan itu langsung disambut dengan gumaman setuju dari sebagian besar hadirin. Seorang penasihat tua pun ikut berbicara, dengan nada yang lebih halus namun tetap tegas.

“Adipati Kael benar, Yang Mulia. Kita tidak tahu dari mana gadis itu berasal, apakah ia datang dengan niat baik atau membawa pengaruh buruk dari dunia luar. Membiarkannya terlalu dekat dengan Anda bukan hanya melanggar adat, tetapi juga membahayakan keselamatan Anda dan kestabilan kerajaan. Sebaiknya gadis itu dikembalikan ke tempat asalnya, atau setidaknya dipindahkan ke tempat yang jauh dari jangkauan Anda, agar segala kekhawatiran ini bisa lenyap.”

Mendengar serangan demi serangan yang ditujukan pada dirinya meski ia tidak hadir di ruangan itu, Valerius merasakan amarah perlahan membara di dadanya. Namun sebagai seorang pemimpin, ia harus tetap tenang dan tidak bertindak tergesa. Ia menatap satu per satu wajah di hadapannya, lalu berbicara dengan suara berat namun penuh wibawa yang membuat seluruh ruangan seketika hening.

“Kalian semua berbicara seolah sudah mengetahui segala hal, padahal yang kalian miliki hanyalah dugaan dan asumsi semata,” kata Valerius perlahan namun tegas. “Elara datang ke sini tanpa rencana, tanpa membawa senjata atau kekuasaan apa pun. Ia hanya orang yang tersesat dan membutuhkan tempat berteduh. Selama berada di istana ini, ia telah membuktikan dirinya sebagai orang yang jujur, rajin, dan tidak pernah menyakiti siapa pun. Mengapa kalian begitu mudah menilai dan mengucilkannya hanya karena ia berbeda dan tidak memiliki gelar bangsawan?”

“Perbedaannya itulah masalahnya, Yang Mulia!” seru Adipati Kael kembali, kali ini dengan nada yang lebih keras. “Sebagai Raja, Anda adalah simbol kesatuan dan keadilan bagi seluruh rakyat. Jika Anda menunjukkan kelemahan dengan menuruti perasaan pribadi di atas kepentingan kerajaan, maka rasa hormat rakyat akan luntur. Lebih dari itu, Lady Seraphina telah lama dipersiapkan untuk menjadi permaisuri. Jika ikatan persatuan antara dua keluarga besar ini gagal hanya karena kehadiran gadis asing itu, maka keretakan di antara kaum bangsawan tidak akan terhindarkan.”

Pertemuan itu berlangsung berjam-jam, dipenuhi argumen, tuntutan, dan perdebatan yang semakin memanas. Namun Valerius tetap teguh pada pendiriannya. Ia tidak mau membuang Elara hanya demi memenuhi harapan orang lain, namun di sisi lain, ia pun sadar bahwa tantangan yang datang bukan lagi hal kecil. Setelah rapat usai, ia berjalan menyusuri lorong menuju ruang kerjanya dengan langkah yang terasa lebih berat dari biasanya.

Sementara itu, Elara juga mendengar desas-desus yang mulai beredar di antara para pelayan. Banyak yang menatapnya dengan pandangan penuh rasa ingin tahu, ada yang merasa kasihan, namun tak sedikit pula yang menatapnya dengan pandangan meremehkan dan mencurigakan. Ia menyadari bahwa kehadirannya kini menjadi sumber masalah bagi Raja yang dicintainya. Rasa bersalah perlahan merayap masuk ke dalam hatinya, membuatnya merasa menjadi beban yang harus dipikul oleh Valerius.

Sore itu, saat ia masuk ke ruang kerja seperti biasa, ia mendapati Valerius sedang berdiri di dekat jendela, menatap ke arah taman dengan pandangan yang jauh dan penuh beban. Mendengar langkah kaki, Valerius menoleh, dan senyum lembut segera terukir di bibirnya saat melihat Elara, seolah ingin menyembunyikan segala kekhawatirannya agar tidak membebani gadis itu.

“Kau datang,” sapanya pelan, lalu melangkah mendekat dan menggenggam kedua tangan Elara dengan lembut.

Namun kali ini, Elara tidak membalasnya dengan senyum. Matanya terlihat sayu, dan ia menundukkan wajahnya seolah tak sanggup menatap langsung. “Yang Mulia… saya mendengar banyak hal yang dibicarakan orang-orang. Saya tahu saya menjadi alasan mengapa Anda harus berdebat dan melawan banyak orang hari ini. Saya merasa seperti beban yang hanya membawa masalah bagi Anda dan kerajaan ini.”

Valerius mengerutkan dahi, lalu mengangkat dagu Elara agar gadis itu menatapnya. “Jangan berpikir seperti itu, Elara. Masalah ini bukan karena keberadaanmu, melainkan karena ketidakmampuan mereka untuk melihat melampaui aturan dan kedudukan semata. Jika aku harus memilih antara memenuhi harapan orang banyak atau mempertahankan apa yang kuanggap benar, maka pilihanku tetap ada padamu.”

“Tapi itu tidak adil untuk Anda,” jawab Elara dengan suara bergetar, matanya mulai berkaca-kaca. “Anda adalah Raja, yang harus memikirkan seluruh rakyat dan kestabilan kerajaan. Bagaimana jika karena saya, hubungan dengan keluarga bangsawan menjadi retak? Bagaimana jika suatu saat muncul pertentangan atau kekacauan? Saya tidak sanggup melihat Anda menderita hanya karena saya.”

Mendengar kekhawatiran itu, Valerius menarik Elara ke dalam pelukan lembutnya, membiarkan gadis itu bersandar di dadanya sambil mendengarkan detak jantungnya yang tenang dan mantap. “Dengarkan aku baik-baik. Menjadi Raja memang berarti memiliki tanggung jawab yang besar, namun itu tidak berarti aku harus mengorbankan kebahagiaanku sendiri atau mengusir orang yang berharga bagiku demi aturan yang dibuat manusia. Kerajaan ini berdiri di atas keadilan, bukan hanya pada kekuasaan atau keturunan. Jika mereka tidak bisa menerima kenyataan ini, maka itu adalah kesalahan mereka, bukan kesalahanmu.”

Namun ketenangan itu terganggu ketika pintu ruangan terbuka dengan kasar. Tanpa izin masuklah Adipati Kael, diikuti oleh Lady Seraphina yang berdiri di belakangnya dengan wajah dingin dan penuh kebencian. Melihat pemandangan di hadapannya—Raja yang memeluk erat seorang pelayan—Adipati Kael memerah karena marah.

“Ini buktinya sendiri!” serunya dengan suara lantang. “Yang Mulia, apakah Anda benar-benar rela mengorbankan kehormatan diri dan masa depan kerajaan hanya demi gadis ini? Lihatlah apa yang telah ia buat Anda lakukan—melanggar adat, melawan penasihat, dan mengabaikan kewajiban sebagai pemimpin!”

Valerius segera melepaskan pelukannya, lalu berdiri di depan Elara untuk melindunginya, sorot matanya kini berubah tajam dan mengancam. “Keluar dari ruanganku, Adipati. Jika kau datang hanya untuk menghakimi dan menuduh, maka aku tidak ingin mendengarnya lagi. Ingatlah batasanmu—kau adalah bawahanku, bukan penguasa yang berhak mengatur hidupku.”

Namun kali ini, Adipati Kael tidak mundur. Ia melangkah maju dengan pandangan menantang. “Jika begitu, maka maafkan saya, Yang Mulia. Sebagai pemimpin kaum bangsawan, saya memiliki kewajiban untuk melindungi tatanan yang ada. Jika Anda tidak bersedia melepaskan gadis ini dengan sukarela, maka kami akan mengambil langkah yang lebih tegas untuk menjaga keamanan dan kehormatan kerajaan.”

Ancaman itu tergantung di udara, membuat suasana menjadi sangat mencekam. Lady Seraphina menatap Elara dengan tatapan penuh dendam, seolah ingin melenyapkan gadis itu dari hadapannya. “Anda tidak akan menang, gadis asing,” bisiknya cukup keras agar didengar. “Kau tidak pantas berdiri di sisinya. Aku akan memastikan kau pergi dari tempat ini, dengan cara apa pun.”

Setelah mengucapkan itu, Adipati Kael dan putrinya pergi dengan langkah berat, meninggalkan Elara dan Valerius dalam keheningan yang terasa menyesakkan. Elara merasakan ketakutan yang sesungguhnya menyelimuti hatinya. Ia menyadari bahwa lawan yang mereka hadapi bukan lagi sekadar perbedaan pendapat, melainkan kekuasaan yang siap melakukan apa saja untuk mencapai tujuannya.

Valerius menoleh kembali ke arah Elara, dan melihat kekhawatiran yang terpancar jelas dari wajah gadis itu. Ia menggenggam kedua bahunya erat-erat, memberikan kekuatan melalui tatapan dan sentuhannya.

“Mereka akan mencoba berbagai cara untuk menjauhkan kita, Elara. Jangan biarkan rasa takut atau rasa bersalah menguasaimu. Kita sudah melangkah sejauh ini, dan aku tidak akan membiarkan siapa pun merusak apa yang telah kita bangun. Kita akan menghadapi segala rintangan ini bersama-sama.”

Elara menatap mata Valerius, dan di sana ia menemukan kekuatan yang selama ini ia butuhkan. Meskipun badai telah terlihat mendekat, meskipun jalan di depan dipenuhi duri dan bahaya, ia tahu ia tidak sendirian. Dengan napas panjang dan tekad yang menguat, ia mengangguk perlahan.

“Baik, Yang Mulia. Saya akan tetap di sini, berdiri di sisi Anda, apa pun yang akan terjadi.”

Namun di balik dinding megah istana itu, bayang-bayang bahaya telah bergerak. Seraphina dan ayahnya sudah menyusun rencana licik, berusaha mencari celah kelemahan yang bisa mereka gunakan untuk memisahkan keduanya selamanya. Kedamaian yang baru terasa kini terancam lenyap, dan ujian terbesar bagi cinta mereka baru saja benar-benar dimulai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!