Hamida, 25 tahun, kehilangan putra semata wayangnya, Harapan, yang meninggal pada usia delapan tahun.
Konon, tidak ada sebutan bagi orang tua yang kehilangan anaknya. Sebab duka itu begitu besar hingga tak mampu diwakili oleh satu kata pun. Bagi Hamida, kepergian Harapan meninggalkan kehampaan yang tak pernah bisa diisi kembali.
Namun, luka itu menjadi semakin dalam ketika kematian Harapan yang penuh kejanggalan justru dinyatakan sebagai kecelakaan. Kebenaran diputarbalikkan karena pelaku adalah anak dari seorang tokoh berpengaruh yang memiliki kekuasaan dan mampu membungkam banyak orang.
Di tengah tekanan, ancaman, dan berbagai upaya untuk menghentikannya, Hamida memilih untuk tidak menyerah. Dengan didampingi seorang pengacara muda idealis bernama Afandi Harahap, ia berjuang mengungkap kebenaran dan menuntut keadilan bagi putranya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17
Mida mengangguk. "Saya mengerti." Air matanya kembali mengalir. "Yang saya cari bukan siapa orangnya. Saya hanya ingin tahu siapa yang bertanggung jawab atas kematian Harapan."
Penyidik menutup mapnya. "Kami akan memanggil Gilang untuk dimintai keterangan sesuai prosedur. Setelah itu, penyelidikan akan terus dikembangkan apabila ditemukan keterlibatan pihak lain."
Keluar dari ruang penyidik, langkah Mida terasa semakin berat. Nama Gilang terus terngiang di kepalanya. Ia mengenal anak itu sebagai cucu keluarga terpandang di kampung. Tidak pernah terlintas di benaknya bahwa suatu hari nama tersebut akan muncul dalam penyelidikan kematian putranya.
Fandi berjalan di samping Mida. "Bu, kita tetap tenang."
Mida mengangguk pelan. "InsyaAllah, Bang."
"Kalau memang Allah menghendaki kebenaran terungkap, tidak ada kekuasaan, jabatan, ataupun harta yang mampu menutupinya selamanya."
***
Hari yang dinanti akhirnya tiba. Setelah melalui proses penyelidikan dan pemeriksaan, pengadilan menetapkan bahwa perkara akan mulai disidangkan. Karena terdakwa masih berusia di bawah delapan belas tahun, persidangan dilaksanakan secara tertutup sesuai ketentuan yang berlaku. Hanya pihak-pihak yang berkepentingan yang diperbolehkan berada di dalam ruang sidang.
Di rumah Dewi, Mida duduk dengan gelisah. "Bang Fandi, apakah besok kita benar-benar mulai sidang?"
Fandi mengangguk. "InsyaAllah, Bu. Kita sudah menyiapkan semua berkas yang diperlukan."
"Aku takut."
"Takut itu wajar. Tapi kita hadapi bersama."
Mida menganggukkan kepala. "Terima kasih, Bang."
Di sisi lain, tekanan terhadap Fandi semakin besar. Sejak bersedia menjadi kuasa hukum Mida, ia menerima berbagai bentuk intimidasi. Nomor teleponnya terus-menerus dihubungi oleh orang tak dikenal. Pesan-pesan bernada ancaman berdatangan. Ada yang memintanya mundur dari perkara. Ada pula yang mengatakan bahwa ia sedang menghadapi orang-orang yang memiliki kekuasaan. Namun Fandi memilih mengabaikan semuanya. "Kalau saya mundur sekarang," katanya kepada seorang rekan sesama pengacara, "siapa yang akan mendampingi Bu Mida?"
Rekannya hanya menghela napas. "Hati-hati. Saya khawatir ancaman ini bukan sekadar kata-kata."
Fandi tersenyum tipis. "Saya sudah siap dengan risikonya."
Malam sebelum sidang pertama, Fandi masih berada di kantornya hingga larut. Ia meneliti kembali seluruh berkas perkara..Baru sekitar pukul sembilan malam ia keluar untuk membeli makan di warung yang tidak jauh dari kantor. Setelah membeli sebungkus nasi, ia berjalan menuju tempat parkir. Jalan di depan warung tampak lengang. Tiba-tiba Beberapa pria keluar dari sisi jalan. Fandi menghentikan langkah. "Permisi."
Tidak ada jawaban. Salah seorang dari mereka justru mendekat. "Kamu Fandi?"
Fandi menatap mereka dengan waspada. "Iya."
Belum sempat ia bertanya, sebuah pukulan menghantam wajahnya. Bug! Tubuhnya terhuyung. Belum sempat berdiri tegak, pukulan lain datang dari arah samping. Kemudian tendangan menghantam perutnya.
Fandi berusaha melindungi diri. "Apa salah saya?"
Tidak ada jawaban. Yang terdengar hanya suara pukulan bertubi-tubi. Nasi yang dibawanya jatuh berserakan di jalan. Ia mencoba bangkit. Namun seseorang kembali mendorongnya hingga terjatuh. Beberapa orang itu terus memukul dan menendangnya.
Fandi berusaha menutupi kepala dengan kedua tangannya.
Di tengah rasa sakit, ia masih sempat mendengar salah seorang berkata, "Jangan ikut campur urusan yang bukan urusanmu."
Tak lama kemudian terdengar suara kendaraan mendekat.bBeberapa warga mulai berdatangan. Para pelaku langsung melarikan diri ke arah jalan yang gelap.
Fandi tergeletak di aspal. Wajahnya dipenuhi luka. Bibirnya robek. Napasnya tersengal.
Seorang warga segera menghampiri. "Mas... Mas, dengar saya?"
Fandi membuka matanya perlahan. "Tolong..."
Tak lama kemudian ambulans datang.nPetugas medis segera memberikan pertolongan pertama sebelum membawanya ke rumah sakit.
Keesokan paginya, kabar penyerangan terhadap Fandi sampai kepada Mida. Mida yang sedang menyiapkan diri untuk berangkat ke pengadilan langsung terdiam."Apa...? Bang Fandi dipukuli?"
Dewi mengangguk dengan wajah cemas. "Sekarang beliau dirawat di rumah sakit."
Mida terduduk lemas. "Ya Allah..." Ia menutup wajahnya sambil menangis. "Semua ini karena membantuku..."
Dewi memeluknya. "Jangan menyalahkan dirimu sendiri."
Mida menggeleng. "Aku hanya ingin mencari keadilan untuk Harapan. Tapi orang-orang yang membantuku justru ikut menjadi korban."
Dengan didampingi Dewi, Mida bergegas menuju rumah sakit. Sesampainya di sana, ia melihat Fandi terbaring di ranjang perawatan. Wajahnya dipenuhi lebam. Tangan kanannya dibalut perban.
Meski demikian, ketika melihat Mida datang, Fandi masih berusaha tersenyum. "Maaf, Bu... sepertinya saya membuat Ibu khawatir."
Air mata Mida tak terbendung. "Bang... kenapa harus sampai begini?"
Fandi menggeleng pelan. "Jangan menangis. Sidang harus tetap berjalan. Kalau saya tidak bisa hadir hari ini, saya akan mengatur agar pendampingan hukum tetap berjalan sesuai prosedur."
"Semoga Allah menyembuhkan Abang."
Fandi mengangguk pelan. "Dan semoga Allah memberi kita kekuatan untuk terus memperjuangkan keadilan."
Di luar kamar rumah sakit, suasana terasa semakin tegang. Serangan terhadap Fandi menunjukkan bahwa perjuangan mereka menghadapi perkara ini tidak hanya berlangsung di ruang sidang, tetapi juga di luar pengadilan. Namun bagi Fandi, rasa sakit itu tidak mengubah tekadnya untuk tetap mendampingi Mida dalam mencari keadilan bagi Harapan.
Kabar penyerangan terhadap Fandi menyebar dengan cepat. Mida yang duduk di lorong rumah sakit terus menangis. Matanya tak lepas dari pintu ruang perawatan tempat pengacaranya dirawat.
Dewi duduk di sampingnya. "Mi... kamu belum makan dari tadi."
Mida menggeleng pelan. "Bagaimana aku bisa makan, Kak? Bang Fandi sampai babak belur begini karena membantuku."
Suasana kembali sunyi. Di dalam hati, Mida mulai dihantui rasa putus asa. "Kalau Bang Fandi tidak bisa mendampingiku apa mungkin kami bisa menang?" Untuk pertama kalinya sejak memulai perjuangan, Mida benar-benar merasa kehilangan harapan.
Siang harinya, beberapa mobil berpelat luar kota memasuki halaman rumah sakit. Dari salah satu mobil turun seorang pria berusia sekitar enam puluh tahun dengan setelan jas sederhana namun berwibawa. Di sampingnya berjalan seorang perempuan yang tak kalah anggun. Mida pernah melihat wajah-wajah itu dari televisi, tapi ia lupa sebab jarang sekali menonton televisi.
Beberapa pria dan wanita lain ikut turun dari mobil-mobil tersebut. Mereka langsung menuju ruang perawatan Fandi. Ketika pintu kamar dibuka, Fandi yang masih terbaring di ranjang tampak terkejut. "Ayah... Ibu..."
Pria itu menghampiri ranjang, lalu menepuk bahu putranya pelan. "Kamu membuat kami khawatir."
Fandi tersenyum lemah. "Maaf, Yah."
Ibunya mengusap rambut Fandi dengan mata yang berkaca-kaca. "Kamu keras kepala sekali."
Tak lama kemudian, Mida dan Dewi masuk ke ruangan.
Fandi memperkenalkan mereka. "Yah... Bu... ini Bu Mida."
Perempuan paruh baya itu langsung menggenggam tangan Mida. "Kami turut berduka atas kepergian putra Ibu."
Air mata Mida kembali menetes. "Terima kasih."
Fandi lalu berkata pelan, "Bu Mida... selama ini saya belum pernah bercerita tentang keluarga saya."
Mida menggeleng.n"Memang tidak pernah, Bang."
Fandi tersenyum tipis. "Ayah dan ibu saya sama-sama pengacara."