"Kalau bukan karena Ayah, aku tidak akan pernah menikah dengan pria sepertimu."
Ayla Pradana terpaksa menerima perjodohan demi menyelamatkan perusahaan keluarganya yang hampir bangkrut. Masalahnya, pria yang harus ia nikahi adalah Arsen Wijaya—musuh bebuyutan kakaknya, Gavin.
Selama bertahun-tahun, Gavin selalu mengatakan bahwa Arsen adalah pria licik yang menghancurkan hidupnya. Ayla pun membencinya tanpa pernah mengenalnya lebih dalam.
Namun, setelah menikah, Ayla justru menemukan sisi Arsen yang sama sekali berbeda. Di balik sikap dingin dan tatapannya yang tajam, ada rahasia besar yang sengaja disembunyikan dari keluarganya.
Semakin dekat dengannya, semakin Ayla sadar...
Mungkin selama ini orang yang ia percaya bukanlah pihak yang benar.
Dan ketika kebenaran terungkap, ia harus memilih:
keluarganya... atau pria yang kini menjadi suaminya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nourayl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB I Hari Pernikahan Yang Tak Pernah Kuinginkan
"Aku tidak akan menikah dengannya!"
Suara Gavin menggema di ruang keluarga hingga membuat semua orang terdiam.
Ayla yang baru saja turun dari lantai dua menghentikan langkahnya. Tatapannya bergantian mengarah pada ayahnya yang terlihat pucat dan kakaknya yang sedang menahan amarah.
"Ayah sudah gila? Menyerahkan Ayla ke keluarga Wijaya?" bentak Gavin.
Ayah mengembuskan napas panjang.
"Perusahaan kita tinggal menunggu waktu untuk bangkrut. Hanya Arsen yang mau membantu."
"Membantu?" Gavin tertawa sinis. "Dia sedang mempermalukan keluarga kita."
Nama itu lagi.
Arsen Wijaya.
Nama yang sejak kecil selalu Ayla dengar sebagai sosok paling dibenci kakaknya.
Pria yang konon telah merebut proyek, menghancurkan karier Gavin, bahkan membuat keluarga mereka kehilangan banyak hal.
"Aku yang akan menikah."
Kalimat itu keluar begitu saja dari bibir Ayla.
Semua orang menoleh.
"Ayla..." bisik ibunya.
"Ayah butuh bantuan. Kalau memang hanya itu caranya, aku akan menikah."
Gavin melangkah cepat menghampirinya.
"Kamu tahu siapa dia?"
Ayla mengangguk pelan.
"Aku tahu."
"Tidak. Kamu tidak tahu apa pun."
Tatapan Gavin dipenuhi amarah... sekaligus ketakutan.
"Ayla, pria itu monster."
___________________________________________
Malam itu...
Ayla duduk sendirian di kamarnya.
Di atas meja tergeletak map berisi foto calon suaminya.
Dengan ragu, ia mengambil foto itu.
Pria berjas hitam.
Tatapan tajam.
Wajah tampan yang nyaris tanpa ekspresi.
Di balik foto itu hanya ada satu kalimat.
Arsen Wijaya. Usia 30 tahun. CEO Wijaya Group.
Belum sempat Ayla menarik napas, ponselnya bergetar.
Nomor tak dikenal.
Besok pukul sembilan pagi. Jangan terlambat."
Tidak ada salam.
Tidak ada perkenalan.
Hanya satu pesan singkat.
Ayla menggenggam ponselnya erat.
Sombong sekali...
Pria itu bahkan tidak menganggapnya sebagai calon istri.
Ia menatap langit malam dari balik jendela.
Dalam hati ia berjanji.
"Aku mungkin dipaksa menikah denganmu, Arsen. Tapi jangan pernah berharap aku akan mencintaimu."
Tanpa Ayla sadari...
Di tempat lain, Arsen sedang memandangi foto Ayla sambil tersenyum tipis.
"Maafkan aku, Ayla..."
Kau akan membenciku setelah mengetahui alasan sebenarnya."
___________________________________________
Ayla tidak bisa memejamkan mata semalaman.
Pesan singkat dari Arsen terus terngiang di kepalanya.
"Be ready at 9:00 a.m. tomorrow. Don't be late."
Bahkan tidak ada kata please.
Pria itu benar-benar menyebalkan.
Ia meletakkan ponselnya di atas nakas, lalu memandang langit-langit kamar dengan pikiran yang kacau.
Beberapa hari yang lalu, hidupnya masih terasa normal.
Ia bekerja di perusahaan keluarga, sesekali membantu ibunya di rumah, dan menghabiskan waktu dengan sahabatnya. Menikah bahkan belum pernah masuk ke dalam rencana hidupnya.
Namun kini...
Kurang dari dua puluh empat jam lagi, ia akan menjadi istri seorang pria yang bahkan belum pernah ia temui secara langsung.
Suara ketukan pelan terdengar dari balik pintu.
"Ayla... boleh Ibu masuk?"
Ayla segera mengusap sudut matanya yang mulai basah.
"Tentu, Bu."
Pintu terbuka perlahan.
Ibunya membawa segelas susu hangat dan meletakkannya di atas meja kecil di samping tempat tidur.
"Ibu minta maaf."
Hanya tiga kata itu.
Namun berhasil membuat dada Ayla terasa sesak.
"Maaf karena Ibu tidak bisa melindungimu."
Ayla menggenggam tangan wanita yang telah membesarkannya itu.
"Ibu jangan bilang begitu."
"Ayahmu sudah mencoba mencari jalan lain."
"Aku tahu."
"Ibu juga tidak ingin kamu menikah karena terpaksa."
Ayla tersenyum tipis meski matanya mulai berkaca-kaca.
"Kalau pengorbananku bisa menyelamatkan keluarga ini... aku ikhlas."
Ibunya langsung memeluk Ayla erat.
Untuk pertama kalinya malam itu...
Ayla menangis.
Bukan karena takut pada pernikahan.
Tetapi karena ia sadar, mulai besok hidupnya tidak akan pernah sama lagi.
- END OF CHAPTER 1 -