NovelToon NovelToon
ISTRI PENGGANTI

ISTRI PENGGANTI

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Anak Genius / Penyesalan Suami
Popularitas:9.8k
Nilai: 5
Nama Author: Binar jingga08

ADELIA YHOSEP yang memiliki wajah yang sangat mirip dengan kakanya ADELIN YHOSEP yang seorang model papan atas. Wajah mereka bak pinang dibelah dua tapi nasip mereka berdua sangatlah jauh berbeda bagaikan langit dan bumi, Adelia selalu jadi nomor dua. Semua orang hanya memuji kakaknya, Adelin—padahal Adelin yang jahat dan sering bikin masalah, tapi Adelia yang harus menanggung salahnya. Saat hari pernikahan Adelin dengan Gyantara—pria paling tampan, kaya, dan terkenal sangat mencintai kakaknya—Adelin malah kabur. Agar keluarga tidak malu, Adelia dipaksa menggantikan posisi kakaknya. Dia harus menikah dengan pria yang hatinya milik orang lain. Bisakah dia menyembunyikan kebenaran selamanya? Dan mungkinkah hati Gyantara yang dingin perlahan berubah pada dirinya? ---

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Binar jingga08, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

.

Setelah serangan asma mereda, suasana di kamar perlahan menjadi tenang namun masih terasa berat. Adelia sudah berbaring di tempat tidur dengan posisi setengah duduk, bantal-bantal empuk menyangga punggungnya agar napasnya tetap lancar. Wajahnya masih tampak pucat, tapi matanya sudah mulai jernih kembali. Di sampingnya duduk Gyantara yang tak berhenti mengusap punggung tangannya dengan cemas, sementara di ujung tempat tidur berdiri Julian dan Tama yang saling bertukar pandang—seolah sedang berkomunikasi tanpa suara tentang apa yang harus dikatakan dan apa yang harus disembunyikan.

Gyantara menatap ketiga sahabat itu bergantian, lalu matanya berhenti pada wajah Adelia yang berusaha menghindari tatapannya. "Kalian bertiga pasti menyembunyikan sesuatu dariku," katanya pelan namun tegas. "Selama lima tahun aku dekat dengan Adelin, aku tidak pernah sekalipun mendengar soal penyakit asma ini. Tidak ada satu pun orang di keluarganya yang pernah bercerita. Tapi kalian... kalian tahu persis cara menanganinya, kalian selalu bawa obatnya, bahkan kalian tahu apa yang membuatnya makin sesak. Jelaskan padaku: kenapa ada perbedaan sebesar ini?"

Pertanyaan itu membuat keheningan yang mencekam menyelimuti ruangan. Adelia menelan ludah dengan susah payah. Ia tahu ia harus menjawab, tapi satu kata yang salah bisa meruntuhkan segalanya. Ia menatap Julian dan Tama meminta bantuan.

Julian maju selangkah, menarik napas panjang sebelum berbicara dengan nada yang hati-hati namun meyakinkan. "Memang benar Mas Gyantara tidak pernah tahu. Adelin... maksud kami, Adelia—eh, maksud kami Nona Adelin selalu menyembunyikan penyakit ini dari semua orang, terutama dari keluarga dan orang-orang yang baru dikenalnya. Dia sangat malu dan takut dianggap lemah. Dia bilang kalau orang tahu dia punya penyakit kronis, semua orang akan melihatnya sebagai beban, bukan sebagai orang yang mandiri."

Gyantara mengerutkan kening. "Tapi dia selalu bercerita segalanya padaku. Tak ada rahasia di antara kami dulu, katanya."

"Justru ini rahasia terbesarnya," timpal Tama cepat, berusaha menutupi celah yang terbuka. "Dia takut kalau Mas tahu, Mas akan berubah pikiran menikahinya. Dia takut Mas tidak bisa menerima kekurangannya. Jadi hanya kami berdua dan dokter pribadinya yang tahu. Kami sudah berjanji untuk menjaga rahasia ini sampai kapan pun."

Alasan itu terdengar masuk akal di permukaan, tapi tidak sepenuhnya menenangkan hati Gyantara. Ia menatap mata Adelia lekat-lekat, mencari kebenaran di sana. "Benar begitu, Sayang? Kamu menyembunyikannya dariku karena takut aku menolaknya?"

Adelia mengangguk pelan, air matanya menetes pelan membasahi pipi. "Iya... aku takut. Aku sudah cukup dibanding-bandingkan dengan orang lain seumur hidupku. Aku tidak mau kamu juga melihatku sebagai orang yang lemah dan menyusahkan."

Melihat air mata yang tulus dan ketakutan yang nyata di mata gadis itu, hati Gyantara luluh. Ia mendekat, lalu memeluk kepala Adelia pelan di dadanya. "Kamu bodoh sekali. Sejak kapan aku melihatmu sebagai beban? Justru karena kamu isteriku, segala kekuranganmu adalah tanggung jawabku juga. Mulai sekarang jangan pernah sembunyikan apa pun dariku, ya? Aku janji akan selalu menjagamu."

Pelukan itu begitu hangat dan tulus hingga membuat hati Adelia semakin perih. Ia merasa semakin jahat karena menipu pria yang begitu baik ini. Ia memejamkan mata erat, membiarkan dirinya menikmati perlindungan itu sebentar saja, sebelum kembali sadar bahwa ia sedang berdiri di atas kebohongan yang bisa runtuh kapan saja.

Namun tugas menutupi jejak belum selesai. Setelah Gyantara keluar sebentar untuk memerintahkan pelayan menyiapkan makanan lunak dan minuman hangat, suasana kembali berubah menjadi tegang. Rama yang berdiri di sudut ruangan seolah tidak ikut campur, kini berjalan mendekat dengan wajah serius.

"Kalian bertiga hebat menyusun alasan," bisiknya pelan agar tidak didengar orang lain. "Tapi ingat, satu kebohongan butuh seribu kebohongan lain untuk menutupinya. Dan semakin lama kalian menunda, semakin sakit rasanya saat kebenaran itu akhirnya terungkap."

Perkataan Rama membuat mereka terdiam. Julian menghela napas berat. "Kami tahu, Mas Rama. Tapi apa yang harus kami lakukan? Jika kami bicara sekarang, keluarga Yhosep hancur, dan Adelia akan diusir serta dimusuhi semua orang. Kami hanya berusaha melindunginya sampai dia siap berbicara sendiri."

"Dan ingat satu hal lagi," tambah Rama sambil menatap Adelia dalam-dalam. "Tadi Tuan Gyantara sempat berkata: 'Kenapa aku tidak pernah tahu soal ini?'. Pertanyaan itu tidak akan berhenti sampai di sini. Dia sudah mulai merangkai potongan-potongan yang berbeda. Penyakit asma, selera makan, cara berpakaian, tato yang hilang, kebiasaan sehari-hari... semua hal itu perlahan membentuk satu pertanyaan besar: siapa sebenarnya wanita yang ada di depanku?"

Adelia memeluk lututnya erat di atas tempat tidur. Ia tahu Rama benar. Jejak yang ditinggalkan Adelin terlalu berbeda dengan jejak yang ia tinggalkan. Menutupinya seperti menyembunyikan gunung di balik telapak tangan.

"Kami akan lebih berhati-hati mulai sekarang," janji Tama. "Kami akan mengumpulkan semua barang milik Adelin yang tertinggal di sini, menghapus catatan lama, dan memastikan tidak ada dokumen yang salah alamat. Dan kalau ada hal yang tidak bisa dijelaskan, kami akan mencarikan alasan yang paling aman."

Mereka pun bekerja sama. Sementara Gyantara belum kembali, Julian mengambil tas lama milik Adelin yang tersimpan di lemari, memeriksa setiap sudutnya agar tidak ada kartu nama, surat, atau foto yang salah. Tama memeriksa laci meja rias, memastikan tidak ada catatan tangan yang berbeda gaya tulisannya. Bahkan Rama ikut membantu memindahkan berkas-berkas pribadi Adelin yang tersimpan di meja kerja agar tidak berantakan dan terlihat jelas perbedaannya.

Namun ada satu hal yang tak bisa mereka tutupi begitu saja: tabiat dan hati Adelia yang asli. Saat Gyantara kembali membawa segelas susu hangat, Adelia tidak langsung menyambutnya dengan senyum ceria seperti yang dulu sering dilakukan Adelin. Ia justru tersenyum malu-malu, lalu dengan sopan berterima kasih bahkan meminta maaf karena sudah menyusahkan suaminya.

"Kamu berterima kasih dan minta maaf padaku?" tanya Gyantara heran. "Bukankah tugasku menjagamu? Dulu kalau aku telat sedikit saja, kamu sudah mengomel dan bilang aku tidak sayang padamu."

Keringat dingin kembali menetes di punggung Adelia. Ia menatap Julian dan Tama yang berdiri di dekat pintu dengan wajah cemas.

"Aku... aku hanya ingin menghargai apa yang kamu lakukan," jawab Adelia pelan. "Aku sadar betapa beruntungnya aku memilikimu."

Gyantara diam menatapnya lama sekali. Matanya menyiratkan bahwa ia belum sepenuhnya percaya, tapi ia memilih untuk tidak menekan lagi saat Adelia sedang sakit. Ia hanya mengangguk pelan, lalu duduk di tepi tempat tidur.

"Baiklah. Istirahatlah dulu. Besok kita bicara lagi," katanya lembut.

Malam itu, setelah Julian dan Tama pamit pulang dengan janji akan datang lagi besok membawa obat cadangan yang cukup, dan setelah Gyantara tertidur lelap di sofa dekat tempat tidur agar bisa menjaganya, Adelia terbangun menatap langit-langit kamar. Ia merasa lelah bukan hanya karena sakit, tapi lelah terus berlari menutupi jejak orang lain. Ia tahu, sekuat apa pun ia berusaha menyembunyikan, kebenaran itu pasti akan menemukan jalannya sendiri untuk terungkap. Dan ia hanya berharap, saat hari itu tiba, ia tidak akan kehilangan segalanya—termasuk hati pria yang perlahan mulai ia cintai.

1
Tere Rere
watak Adelin menurun dari kedua orang tuanya yg otaknya cuman separuh 😡
Tere Rere
bersyukur masih ada Tama dan Julian di saat Adelia terpuruk🥹
Tere Rere
GYANTARA bangke😡
Tere Rere
Adelin jahat banget😡😭
Tere Rere
Adelin sialan😡
Tere Rere
ao ao😍🤭
Binar Jingga
Huhuhu 🥹
Tere Rere
yg pengen nangis cuslah baca ISTRI PENGGANTI karya Binar jingga. nyesek banget jadi Adelia🥹
Binar Jingga: Wah terimakasih kak atas supportnya🥹🤗
total 1 replies
Tere Rere
Adelia🥹
Hasbia n Hasbia nn
pusing bcanya😮‍💨
Binar Jingga: Pusing kenapa kak?🙏🏻
total 1 replies
Tere Rere
ada orang tua yang sangat jahat seperti si Belinda dan YHOSEP ini/Sleep/
Binar Jingga: Huhuhu jahat yah…. Semoga ini terjadi cuman d dalam novel saajaa
total 1 replies
tia
jangan banyak omong suami durhaka 😁
Binar Jingga: Mohon bersabar😂🤣🤣🤣
total 1 replies
tia
jgn mao kembali dulu Adelia ,,,biarkan di hukum penyelan 😁
tia
kapok suami durhaka 😁
tia
keluar gila banget
tia: siap thor
total 5 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!