Bereinkarnasi di Era Kultivasi Modern, Yang Chan awalnya hanyalah remaja tanpa bakat yang mendambakan kehidupan damai. Memilih untuk tidak masuk dalam kebrutalan dunia kultivasi.
Tanpa disangka, rutinitas mencangkulnya justru membangkitkan Sistem Taman Kehidupan. Bukan misi berdarah yang didapat, melainkan keajaiban agrikultur penakluk lahan mati yang kelak melahirkan legenda suci, juga bakat terpendam yang seharusnya tidak ia miliki.
Saat para penguasa dunia sibuk mencari jejak keilahian, mampukah ia menjaga kedamaian hidupnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UrLeonard, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35: Sinergi Botani dan Alkimia
Kicau burung bersahut-sahutan di antara gemerisik dedaunan yang rimbun.
Jauh di dalam hutan, suara ledakan Qi dan lolongan monster sesekali terdengar samar.
Namun, di area terluar ini, suasana justru begitu damai.
Langkah Zhao Biyu terhenti sesaat.
Ia berjalan menunduk, fokus membaca gulungan perkamen alkimia di tangannya sambil berulang kali membetulkan kacamata yang melorot.
Sebuah akar pohon raksasa hampir saja membuatnya tersandung.
Sret.
Dengan gerakan halus, Yang Chan menyibak semak berduri di depan mereka menggunakan tongkat bambu miliknya.
Ia menahan ranting berduri itu agar tidak merusak baju atau melukai kulit rekannya.
"Berdasarkan almanak botani, Beri Darah Tepi sering bernaung di bawah semak Berduri Besi," ucap Biyu pelan.
Ia menunjuk semak berduri itu dengan kaku. "Tapi probabilitas di habitat kering ini sangat kecil."
Yang Chan tersenyum tipis.
Ia mengetukkan ujung tongkatnya perlahan, menyingkap tumpukan daun mati di dasar semak.
"Kering di atas, lembab di bawah. Akarnya menahan air embun semalaman," sahut Yang Chan santai.
"Panenlah pelan-pelan, Biyu."
Mata Biyu melebar seketika.
Di balik dedaunan kering yang tersingkap, segerombolan buah merah menyala tampak bersembunyi dengan segar.
Tanpa membuang waktu, tangan Biyu bergerak memetik buah itu satu demi satu.
Ia memasukkannya ke dalam kotak giok dengan sangat hati-hati.
Jarum kompas pencari energi di tangan Biyu berputar liar secara mendadak.
Alat kuno itu tiba-tiba berhenti, menunjuk tegak lurus ke arah gundukan lumpur yang bergelembung di tepi rawa.
Napas Biyu tertahan. Ia mencengkeram erat kompasnya.
Gundukan lumpur itu bergetar pelan.
Ada seekor Kodok Siluman Racun tingkat tiga yang sedang tidur di sana, menyamar dengan sangat rapi.
Di dekat kepalanya, sekuntum Teratai Tulang Putih yang langka mekar dengan anggun.
Biyu panik. Tangannya gemetar saat merogoh saku, bersiap menarik pil peledak.
Namun, sebuah tangan menahan pergelangan tangannya dengan lembut.
Yang Chan menggeleng pelan.
Ia melangkah ke dekat batang pohon basah, memetik segenggam lumut biru yang tumbuh liar di sana.
Sambil meremas lumut itu hingga mengeluarkan aroma pedas yang menyengat, ia memperhatikan arah angin.
Wush.
Yang Chan melempar lumut hancur itu ke arah yang berlawanan dari Teratai Tulang Putih.
"Itu Kodok Siluman Racun," bisik Biyu tegang, tubuhnya bersiap untuk melompat mundur.
"Secara teori, kita butuh murid Tempur untuk mendistraksi serangannya!"
Yang Chan hanya menggosok sisa getah lumut di jarinya dengan santai.
"Amfibi siluman membenci bau lumut pedas," tutur Yang Chan tenang.
"Kenapa harus bertarung kalau kita bisa memintanya pindah tempat tidur dengan sopan?"
Plop.
Gundukan lumpur itu tiba-tiba membuka sepasang mata kuning yang besar.
Siluman kodok itu mendengus kencang, lalu melompat menjauh ke dalam rawa karena tidak tahan dengan bau lumut.
Jalan menuju Teratai Tulang Putih kini terbuka lebar tanpa penjagaan.
Biyu menarik napas lega, matanya menatap Yang Chan dengan rasa takjub yang tidak bisa disembunyikan.
Sret.
Dengan luwes, Yang Chan mengail tangkai teratai itu menggunakan ujung tongkat bambunya tanpa membuat ujung sepatunya kotor.
Bunyi gemerincing terdengar saat kotak-kotak giok ditumpuk di atas permukaan batu datar yang teduh.
Biyu mengembuskan napas panjang, meluruskan kakinya yang lelah di balik batu raksasa.
Di sebelahnya, Yang Chan duduk bersila dengan santai.
Ia sedang menyalakan api kecil menggunakan batu api untuk menyeduh teh herbal sederhana.
Biyu menatap tumpukan belasan kotak giok di depan mereka dengan mata membelalak tak percaya.
Semua wadah itu kini terisi penuh oleh tanaman herbal bernilai tinggi.
Seragam hijau milik Biyu masih sangat rapi dan bersih dari noda lumpur.
Sedangkan Yang Chan hanya memiliki sedikit debu tanah pada ujung jubahnya.
Pemandangan kontras terlihat jelas di kejauhan sana.
Beberapa kelompok murid Tempur dari klan elit berjalan terpincang-pincang melewati jalur bawah.
Jubah tempur mereka robek, wajah penuh luka goresan, dan mereka harus bersusah payah menyeret bangkai monster yang berat.
"Total nilai ini... memposisikan kita di peringkat teratas," ucap Biyu dengan suara yang sedikit bergetar karena emosional.
"Dan kita berdua sama sekali tidak mengeluarkan setitik pun Qi untuk menyerang."
Wajah Yang Chan menunjukkan senyum puas.
"Sudah kubilang, opsi yang kita ambil sudah paling aman, Biyu," kata Yang Chan pelan.
"Mereka kesusahan dengan diri mereka sendiri."
Ia tersenyum tipis. "Kita cukup simpan tenaga untuk panen berikutnya."
'Sungguh merepotkan harus bertarung seperti merrka,' gumam Yang Chan dalam hati.
Satu tim asik sendiri memanen tanaman, sementara yang lain bertaruh nyawa demi sekeping poin.
Blarrr!
Suara gemuruh yang sangat dahsyat tiba-tiba terdengar dengan jelas dari arah tempat lain.
Getaran tanah yang kuat merambat cepat hingga ke bawah batu besar tempat mereka beristirahat.
.