NovelToon NovelToon
Kembalinya Sang Kaisar Bayang

Kembalinya Sang Kaisar Bayang

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Reinkarnasi / Action
Popularitas:910
Nilai: 5
Nama Author: Muhamad Aditiar

SINOPSIS:

"Lima ratus tahun di dunia kultivasi mengajarkanku satu hal: kebaikan adalah kelemahan, dan pengkhianatan hanya bisa dibayar dengan darah."

Ethan Mahendra adalah seorang pemuda genius yang hidupnya dihancurkan dalam semalam oleh keserakahan Keluarga Wijaya—konglomerat penguasa kota. Dianiaya hingga sekarat di sebuah gang gelap, jiwanya justru terlempar ke Alam Kultivasi Bawah. Di sana, ia merangkak dari dasar lumpur, bertarung melintasi lautan darah, hingga berhasil menyentuh puncak tertinggi sebagai kultivator "Alam Kenaikan Abadi Bintang 9". Namun, tepat sebelum ia melangkah ke Alam Keabadian, sembilan sekte besar mengkhianatinya.

Alih-alih binasa, ledakan jiwanya justru melempar Ethan kembali ke masa lalu—masuk ke dalam tubuh mortal aslinya di Bumi, tepat beberapa menit setelah ia dipukuli hingga hampir mati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhamad Aditiar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Benang Qi di Bukit Sunyi

Bab 3: Benang Qi di Bukit Sunyi

Malam semakin larut.

Rintik hujan mulai berubah menjadi gerimis tipis yang membasahi jalanan kota. Lampu-lampu gedung pencakar langit masih menyala terang, tetapi bagi Ethan Mahendra, keramaian itu hanyalah latar belakang yang tidak berarti.

Perhatiannya sepenuhnya tertuju pada satu hal.

Benang Qi yang samar.

Sangat tipis.

Hampir mustahil dirasakan oleh manusia biasa.

Namun bagi seseorang yang pernah berdiri di puncak Alam Kenaikan Abadi Bintang 9, jejak energi sekecil apa pun tidak mungkin luput dari indranya.

Ia menghentikan langkah di sebuah persimpangan.

Memejamkan mata.

Menenangkan napas.

Benang Qi itu muncul sesaat, lalu menghilang lagi seperti embusan angin.

"Disembunyikan oleh formasi..." gumamnya pelan.

Tatapan Ethan berubah lebih serius.

Di Bumi modern seharusnya tidak ada orang yang mampu memasang formasi penyembunyi energi sehalus itu.

Kalau memang ada...

Berarti dugaan yang sejak tadi memenuhi pikirannya benar.

Bumi bukan dunia tanpa kultivator.

Sementara itu...

Di markas sementara Divisi Pengamatan.

Alya Pramesti berdiri di depan layar holografik yang dipenuhi peta kota.

Beberapa titik merah berkedip perlahan.

Seorang pria paruh baya berkacamata berdiri di belakangnya.

"Masih mengejar target itu?"

Alya tidak mengalihkan pandangannya.

"Ya."

"Menurutmu dia berbahaya?"

"Belum tahu."

Pria itu menyilangkan tangan.

"Divisi Khusus Pemerintah juga mulai bergerak."

"Aku tahu."

"Mereka tidak akan tinggal diam kalau ada pengguna energi spiritual muncul di kota."

Alya menghela napas pelan.

"Itulah yang membuatku khawatir."

"Kalau mereka menemukan pemuda itu lebih dulu..."

"...kemungkinan besar dia tidak akan pernah terlihat lagi."

Ruangan menjadi sunyi.

Beberapa detik kemudian, seorang operator berlari tergesa-gesa.

"Nona Alya!"

"Sumber energi muncul lagi!"

"Lokasi?"

"Bukit Arjaya."

Mata Alya langsung menyipit.

"Itu kawasan terlarang..."

Di sisi lain kota.

Ethan akhirnya tiba di kaki Bukit Arjaya.

Tempat itu sangat berbeda dibanding kawasan metropolitan yang dipenuhi gedung tinggi.

Pepohonan pinus tumbuh rapat.

Udara terasa lebih dingin.

Kabut tipis menggantung di antara batang-batang pohon.

Semakin jauh ia melangkah, suara kendaraan mulai menghilang.

Yang tersisa hanyalah desir angin.

Dan suara serangga malam.

Ethan berjongkok.

Tangannya menyentuh tanah.

Masih ada sisa Qi.

Sangat lemah.

Namun murni.

Ia mengambil segenggam tanah, lalu meremasnya perlahan.

"Qi keluar dari bawah tanah..."

Bukan dari langit.

Bukan dari tumbuhan.

Melainkan...

Dari kedalaman bukit.

Ini bukan fenomena alami.

Perjalanan berlanjut hampir satu jam.

Jalur setapak mulai menghilang.

Semak belukar semakin lebat.

Namun Ethan tidak tersesat.

Benang Qi itu menjadi penunjuk arah yang jauh lebih akurat daripada kompas.

Hingga akhirnya...

Ia berhenti.

Di depannya berdiri sebuah batu besar setinggi tiga meter.

Permukaannya dipenuhi lumut.

Sekilas tampak seperti batu biasa.

Namun mata Ethan langsung menangkap sesuatu.

Tujuh cekungan kecil membentuk lingkaran.

Persis seperti isi surat ayahnya.

Batu Mata Air Ketujuh.

Ia mengangkat tangan.

Membersihkan lumut perlahan.

Di balik lumut itu muncul ukiran kuno.

Bukan bahasa Indonesia.

Bukan Sanskerta.

Bukan Mandarin.

Melainkan aksara kuno yang pernah digunakan di Dunia Kultivasi.

Alis Ethan sedikit terangkat.

"Bagaimana mungkin..."

Ia membaca perlahan.

"Segel... Mata Air Roh..."

"Jangan dibuka oleh..."

Kalimat terakhir sudah rusak dimakan usia.

Namun satu hal menjadi jelas.

Ayahnya tidak sedang berbicara tentang penelitian medis.

Ia mengetahui keberadaan tempat ini.

Ethan mulai mengamati batu itu lebih teliti.

Setelah beberapa saat, ia menemukan sebuah lubang kecil sebesar ibu jari.

Bukan lubang alami.

Melainkan mekanisme.

Ia mengambil flashdisk dari saku.

Memutarnya pelan.

Tidak cocok.

Kemudian surat itu.

Tidak ada.

Tatapannya berhenti pada simbol lingkaran hitam bergaris sembilan.

Ia menggambar simbol itu perlahan menggunakan ujung jarinya pada permukaan batu.

Tidak terjadi apa-apa.

Ethan tidak kecewa.

Sebaliknya.

Ia justru tersenyum tipis.

"Begitu..."

"Formasinya masih aktif."

Artinya...

Masih ada sumber energi yang menopangnya.

Dan itu berarti tempat ini belum pernah benar-benar ditemukan.

Tiba-tiba...

Daun-daun di belakangnya bergoyang.

Ethan segera memutar tubuh.

Seorang pria tua berdiri sekitar lima belas meter darinya.

Pakaiannya sederhana.

Membawa keranjang rotan berisi tanaman obat.

Rambutnya memutih seluruhnya.

"Anak muda."

Suara pria itu tenang.

"Malam-malam begini tidak baik berjalan sendirian."

Ethan tidak menjawab.

Tatapannya mengamati lelaki tua itu dari ujung kepala sampai kaki.

Napas stabil.

Langkah ringan.

Tidak ada Qi yang terpancar.

Terlalu sempurna.

Justru karena terlalu biasa, Ethan menjadi waspada.

Orang seperti ini biasanya jauh lebih berbahaya daripada mereka yang sengaja memamerkan kekuatan.

"Kakek tinggal di sini?" tanya Ethan akhirnya.

Pria tua itu tersenyum.

"Sudah lama."

"Sendirian?"

"Kadang sendiri."

"Kadang tidak."

Jawaban yang menggantung.

Ethan tidak melanjutkan pertanyaan.

Sebaliknya, pria tua itu yang bertanya.

"Kau mencari sesuatu?"

"Sedikit."

"Apa?"

"Jawaban."

Pria tua itu tertawa pelan.

"Kalau begitu, kau datang ke tempat yang salah."

"Tempat ini hanya dipenuhi orang-orang yang kehilangan jawaban."

Ucapan itu membuat Ethan sedikit terdiam.

Kalimat sederhana.

Namun memiliki makna yang dalam.

Belum sempat percakapan berlanjut...

Pria tua itu mendadak menoleh ke arah timur.

Wajahnya berubah serius.

"Ada tamu."

Ethan juga merasakannya.

Beberapa langkah kaki.

Cepat.

Teratur.

Bukan satu orang.

Melainkan enam.

Beberapa detik kemudian, enam sosok berpakaian hitam muncul dari balik pepohonan.

Mereka mengenakan seragam tempur.

Di dada kiri terdapat lambang naga perak.

Sama seperti lencana yang dibawa orang-orang yang menemui Ardi Wijaya.

Pemimpinnya melangkah maju.

"Area ini ditutup."

"Tinggalkan lokasi."

Nada suaranya datar.

Namun penuh tekanan.

Pria tua hanya tersenyum kecil.

"Sejak kapan gunung menjadi milik pemerintah?"

"Ini bukan urusan warga sipil."

Pemimpin itu menatap Ethan.

"Kau."

"Ikut kami."

Ethan menggeleng pelan.

"Aku tidak mengenal kalian."

"Kami juga tidak meminta pendapatmu."

Dua orang segera bergerak mendekat.

Bukan untuk menyerang.

Melainkan hendak memborgolnya.

Ethan tidak bergerak.

Ia sedang menghitung.

Jarak.

Sudut.

Kemungkinan melarikan diri.

Tubuhnya belum pulih.

Melawan enam orang terlatih bukan pilihan yang bijak.

Namun menyerah juga bukan sifatnya.

Tiba-tiba...

Pria tua yang sejak tadi diam melangkah satu langkah ke depan.

"Anak muda ini tamuku."

Kalimat itu sederhana.

Namun membuat keenam orang berseragam hitam berhenti.

Pemimpin mereka menatap pria tua itu beberapa saat.

"Lansia."

"Jangan ikut campur."

Pria tua menghela napas pelan.

"Kalian anak-anak zaman sekarang..."

"...tidak lagi menghormati orang tua."

Detik berikutnya...

Tanah di sekitar mereka bergetar sangat halus.

Hanya sesaat.

Namun cukup membuat seluruh burung di hutan beterbangan.

Mata Ethan langsung menyipit.

Bukan karena getaran itu kuat.

Melainkan karena...

Ia sama sekali tidak merasakan aliran Qi.

Artinya lelaki tua itu baru saja melakukan sesuatu menggunakan metode yang bahkan tidak dikenalnya.

Pemimpin pasukan naga perak juga tampak berubah ekspresi.

"Anda..."

Belum selesai ia berbicara.

Alat komunikasi di telinganya berbunyi.

Ia mendengarkan beberapa detik.

Wajahnya langsung menegang.

"Semua mundur."

"Target prioritas berubah."

Kelima bawahannya tampak bingung.

"Tapi, Kapten..."

"Perintah langsung."

"Sekarang."

Tanpa membuang waktu, keenam orang itu segera menghilang ke dalam hutan.

Suasana kembali sunyi.

Ethan menoleh kepada pria tua itu.

"Kakek mengenal mereka?"

"Tidak."

"Mereka mengenalku?"

Pria tua tersenyum samar.

"Mungkin."

"Mungkin juga tidak."

Jawabannya tetap sama sulit ditebak.

Beberapa saat kemudian, pria tua itu memungut satu tanaman liar di dekat batu besar.

"Lain kali kalau datang ke sini..."

"...jangan membawa terlalu banyak masalah."

Ia berbalik.

Berjalan perlahan menyusuri hutan.

Tidak lama kemudian sosoknya menghilang ditelan kabut.

Ethan tidak mengejar.

Ia tahu.

Kalau pria itu tidak ingin ditemukan...

Bahkan ketika dirinya berada di puncak kekuatan dahulu, belum tentu ia mampu melacaknya.

Tatapannya kembali menuju Batu Mata Air Ketujuh.

Namun sebelum sempat mendekat...

Permukaan batu itu tiba-tiba memancarkan cahaya biru redup.

Ukiran kuno yang semula mati mulai menyala satu demi satu.

Retakan halus muncul di bagian tengah batu.

Dari celah sempit itu...

Mengalir seutas Qi yang jauh lebih murni daripada sebelumnya.

Bersamaan dengan itu, suara tua yang seolah datang dari kedalaman bumi bergema pelan.

"Pewaris... akhirnya kembali..."

Tubuh Ethan membeku.

Suara itu...

Bukan berasal dari manusia.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!