NovelToon NovelToon
Pesona Mas Brewok

Pesona Mas Brewok

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Idola sekolah / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:584
Nilai: 5
Nama Author: septia19

saat sekolah dulu , Zahra hanya sekedar mengenal nama Rendra saja, tak pernah bertegur sapa sama sekali. setelah lulus, mereka tidak bertemu bertahun tahun , hingga akhirnya di pertemukan kembali.rendra yang mulai duluan menghubungi duluan. padahal awalnya Zahra sama sekali tak memiliki perasaan apapun begitupun rendra.bahkan Zahra ada berniatan menjodohkan Rendra dengan sahabat karibnya yaitu rana. namun anehnya malah zahra yang merasa cemburu melihat kedekatan mereka. padahal tak di sangka, hati rendra tertuju pada Zahra bukan rana. ini lah kisah cinta halal mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septia19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

episode 5. mengejar mimpi di dua tempat berbeda

Waktu terus berjalan tanpa terasa, membawa setiap orang melangkah maju meninggalkan masa lalu dan menuju babak baru dalam hidupnya. Dua tahun telah berlalu sejak Rendra memutuskan untuk menyeberangi lautan dan merantau ke Malaysia, serta sejak Zahra mulai membangun masa depannya bersama Raka di kota tempat ia berkuliah. Jarak ribuan kilometer memisahkan mereka, seolah takdir benar-benar ingin membiarkan mereka menjalani kisah masing-masing tanpa gangguan satu sama lain untuk sementara waktu.

Di negeri seberang sana, kehidupan Rendra perlahan mulai membaik dan terasa lebih teratur. Setelah dua tahun bekerja dengan ketekunan yang tak pernah luntur, namanya mulai dikenal sebagai pekerja yang paling bisa diandalkan di tempat kerjanya. Atasan melihat semangat dan kejujurannya, sehingga ia pun diberi tanggung jawab lebih sebagai kepala regu dalam bagian pengolahan kayu. Meskipun pekerjaannya tetap berat, posisi barunya itu membuat penghasilannya meningkat cukup signifikan. Sebagian besar gajinya rutin dikirimkan pulang ke kampung halaman, cukup untuk biaya pengobatan ayahnya yang kondisinya kini mulai membaik, serta kebutuhan sehari-hari ibunya yang tak perlu lagi hidup dalam kekhawatiran.

Selain keuangan yang semakin membaik, hubungan Rendra dengan Siti pun semakin erat dan mendalam. Wanita lokal itu benar-benar menjadi penopang jiwanya di tengah kerasnya hidup perantauan. Setiap kali ia pulang bekerja dalam keadaan lelah, wajah Siti yang menyambutnya dengan senyum hangat dan makanan yang sudah siap tersedia selalu menjadi obat penawar segala rasa letih di tubuhnya. Siti tak pernah menuntut hal-hal yang mewah atau di luar kemampuan Rendra; ia hanya meminta kesetiaan dan ketulusan hati, sesuatu yang memang selalu berusaha dijaga oleh Rendra sebaik mungkin.

Malam-malam santai mereka sering dihabiskan dengan duduk berdua di beranda rumah sewaan Siti, membicarakan rencana-rencana masa depan.

“Kalau tabunganku sudah cukup, aku ingin pulang sebentar ke kampung halaman, memperkenalkan dirimu kepada orang tuaku, dan melamarmu secara resmi,” ucap Rendra suatu malam sambil menggenggam tangan Siti, tatapannya terlihat tulus dan penuh harap.

Siti tersenyum malu, matanya berbinar terkena cahaya lampu remang-remang. “Aku menunggumu, Rendra. Bagiku, yang terpenting kita bisa hidup bersama dengan jujur dan tenang, apa pun keadaannya. Aku tidak membutuhkan rumah besar atau harta yang banyak, cukup dirimu yang bertanggung jawab seperti ini sudah lebih dari cukup.”

Mendengar ucapan itu, hati Rendra terasa sangat damai. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa dicintai bukan karena apa yang ia miliki atau bagaimana penampilannya, melainkan karena siapa dirinya sebenarnya. Ia pun mulai melupakan sepenuhnya masa lalu di sekolah, masa ketika ia dikelilingi banyak wanita cantik yang hanya tertarik pada sisi luar dirinya. Baginya sekarang, masa itu hanyalah kenangan kosong yang tak berarti apa-apa dibandingkan kebahagiaan yang sedang ia rasakan saat ini.

Namun meski hidupnya terasa cukup baik, ada satu hal yang kadang membuatnya termenung sendiri. Ia sadar, tinggal di negeri orang selamanya bukanlah tujuan akhir. Ia tetap ingin kembali ke tanah kelahirannya suatu hari nanti, membangun kehidupan di tempat di mana ia dilahirkan dan dibesarkan. Ia hanya butuh waktu lebih lama untuk mengumpulkan modal yang cukup, agar saat pulang nanti ia bisa membuka usaha sendiri dan tidak perlu lagi meninggalkan keluarganya untuk mencari nafkah.

Sementara itu, ribuan kilometer jauhnya di kota tempat Zahra tinggal, kehidupannya pun sedang berada di fase yang sama-sama membahagiakan. Kini Zahra sudah memasuki tahun terakhir perkuliahannya. Semua tugas dan ujian sudah hampir selesai, dan ia sedang sibuk menyusun skripsi sebagai syarat kelulusan. Wajahnya terlihat lebih berseri dan matanya lebih bersinar dibandingkan saat pertama kali ia datang ke kota itu. Bukan karena ia mulai berdandan tebal atau mengubah gaya penampilan secara drastis, melainkan karena ketenangan hati dan rasa percaya diri yang tumbuh perlahan dalam dirinya.

Hubungannya dengan Raka pun semakin serius. Raka kini sudah bekerja di sebuah perusahaan swasta yang cukup ternama di kota itu, dengan penghasilan yang mapan dan masa depan yang terlihat cerah. Ia sering kali menyempatkan waktu untuk membantu Zahra mengerjakan tugas, mengantarnya ke perpustakaan, atau sekadar menemaninya makan saat ia merasa lelah menulis skripsi.

“Sebentar lagi kau lulus, Zahra. Setelah itu, kita bisa mulai merencanakan semuanya. Aku sudah membicarakanmu dengan orang tuaku, dan mereka sangat setuju serta menyambut baik hubungan kita,” ujar Raka suatu sore saat mereka duduk di taman kota.

Zahra menunduk tersenyum, jantungnya berdebar lembut karena rasa bahagia. “Terima kasih, Ka. Aku juga sudah memberitahu orang tuaku di desa, dan mereka hanya berpesan agar aku memilih pria yang bisa menjagaku dengan baik. Aku merasa sudah menemukan orang itu di dirimu.”

Dalam benak Zahra, segala sesuatunya terasa sempurna. Ia membayangkan, setelah lulus nanti ia akan bekerja sebentar untuk menambah pengalaman, lalu menikah dengan Raka, membangun rumah tangga yang sederhana namun bahagia. Bayangan masa lalu yang pernah membuatnya merasa rendah diri, bayangan tentang Rendra dan wanita-wanita cantik di sekelilingnya, kini benar-benar terasa seperti cerita yang sudah tertutup rapat dan takkan pernah terulang lagi. Ia merasa nasibnya sudah berubah menjadi lebih baik, menjauhkannya dari dunia yang dulu terasa mustahil untuk dijangkau.

Namun, di balik ketenangan dan kestabilan yang terlihat di permukaan itu, kehidupan tetap memiliki liku-liku yang tak terduga. Di Malaysia, meski hubungan Rendra dengan Siti terasa harmonis, kadang muncul keraguan kecil dalam hati Rendra. Ia sadar, perbedaan budaya dan kebiasaan antara dirinya dan Siti suatu saat bisa menjadi tantangan tersendiri jika mereka memutuskan untuk pindah ke kampung halamannya nanti. Ia sering berpikir, apakah Siti bisa menyesuaikan diri dengan kehidupan di desa yang jauh lebih sederhana dan terasing dibandingkan tempat tinggalnya sekarang? Namun ia selalu berusaha menepis keraguan itu, meyakinkan dirinya bahwa selama ada saling pengertian, segala hal pasti bisa diatasi.

Di sisi lain, meski hubungan Zahra dan Raka terlihat baik di mata semua orang, ada hal-hal kecil yang kadang membuat Zahra merasa ada jarak yang tak terucapkan. Raka memang baik, tapi ia adalah pria yang terbiasa hidup di lingkungan yang lebih berkecukupan dan modern. Kadang-kadang, Raka secara tak sengaja melontarkan ucapan yang membuat Zahra sadar akan perbedaan latar belakang mereka. Misalnya saat membicarakan gaya hidup atau kebiasaan, Raka sering berkata bahwa suatu hari Zahra harus belajar lebih rapi merawat diri dan mengikuti perkembangan zaman agar pantas berdampingan dengannya di lingkungan kerjanya nanti.

“Zahra, bukan bermaksud mengubahmu, tapi di lingkungan tempat aku bekerja nanti, penampilan itu penting sebagai kesan pertama. Kau bisa mulai mencoba sedikit merias wajah atau memilih pakaian yang lebih menarik, tak perlu berlebihan, tapi cukup agar terlihat lebih segar,” ujar Raka suatu kali dengan nada lembut namun tegas.

Mendengar kalimat itu, hati Zahra terasa sedikit tertekan. Ia mengerti maksud kekasihnya, tapi ucapan itu membangkitkan kembali perasaan lama yang selama ini ia coba lupakan, rasa tak cukup baik, rasa bahwa ia harus berubah agar bisa diterima sepenuhnya. Namun karena ia sangat menghargai hubungan mereka, ia hanya mengangguk pasrah dan menyimpan perasaan itu di dalam hatinya. Ia berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa itu adalah niat baik Raka untuk mempersiapkannya ke masa depan.

Sementara hari-hari terus berlalu, tak ada kabar yang menghubungkan satu sama lain. Rendra tak pernah mendengar kabar apa pun tentang Zahra, begitu pun sebaliknya. Bagi Rendra, Zahra mungkin hanyalah salah satu dari ratusan kenangan masa sekolah yang samar-samar. Sedangkan bagi Zahra, Rendra hanyalah sosok masa lalu yang sudah tak memiliki tempat lagi dalam kehidupannya sekarang.

Namun meski terpisah sejauh mata memandang, benang takdir tetap berputar mengikuti jalannya sendiri. Tak ada yang tahu bahwa rencana yang mereka bangun saat ini, baik Rendra dengan Siti maupun Zahra dengan Raka, bukanlah akhir dari cerita mereka. Masih ada peristiwa-peristiwa yang belum terungkap, rintangan yang belum mereka duga, dan pertemuan yang telah ditetapkan untuk membawa mereka kembali berhadapan satu sama lain nantinya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!