Riyan Sadewa, seorang kuli bangunan di Bandung, hidup pas-pasan hingga sebuah kecelakaan di lokasi kerja mengubah segalanya. Sebuah sistem misterius muncul, memaksanya menghabiskan uang dengan syarat tidak boleh mendapatkan keuntungan sedikit pun. Jika ia untung, nominal uang yang harus dibuang justru berlipat ganda. Riyan terjebak dalam permainan ekonomi yang absurd, membeli aset besar hanya untuk merusak harganya demi memuaskan sistem. Di tengah tekanan ini, ia harus belajar bahwa membuang uang ternyata jauh lebih sulit daripada mencari nafkah, dan ia harus menemukan cara untuk menghentikan siklus ini sebelum hidupnya hancur.
"Sistem gila. Bukannya berkurang, duit gua sekarang malah bertambah."
"Gua cuma mau miskin, Ya Tuhan! Kenapa susah banget buat bangkrut di dunia ini?!"
Bagaimana kelanjutannya..?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Wahyuni92, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 18
Riyan Sadewa merasakan seluruh sendi di tubuhnya mendadak lemas, seolah-olah semen tiga roda seberat 50 kilogram baru saja dijatuhkan tepat di atas punggungnya.
Jam digital transparan di sudut matanya terus berkedip manja dengan warna merah menyala yang kian pekat: [09 Jam : 58 Menit : 10 Detik].
Di bawah angka waktu yang terus berjalan mundur menuju batas kematian itu, Sistem dengan kurang ajarnya memperbarui status hubungan Riyan.
[Denting Sistem! Perubahan Status Hubungan Skala Mutlak!]
[Status Inang: Calon Suami Sah (Mandat Hukum Adat Dinasti Zevan).]
[Log Misi: Upacara pengikatan janji suci dan penyerahan mahar adat akan dilaksanakan esok pagi pukul 08.00 WIB di Aula Utama Lembang. Penolakan terhadap janji ini akan memicu efek penalti 'Pembusukan Seluruh Jaringan Otot Tubuh secara Instan'.]
'Pembusukan otot secara instan... Sialan, ini namanya gua bakal berubah jadi jeli berjalan kalau berani kabur! ratap Riyan dalam hati, memegangi dadanya yang kembali berdenyut kecil.
Di sampingnya, Kezia Zevan masih memandangi dokumen kontrak yang baru saja dia revisi dengan tulisan tangannya sendiri. Wajah cantiknya yang biasa sedingin es kutub kini memancarkan binar kepuasan yang teramat sangat tinggi.
Bagi Kezia, memenangkan tanda tangan Riyan untuk proyek "Kota Hantu Seblak" ini adalah pencapaian terbesar dalam karier bisnisnya. Dia merasa telah berhasil menjinakkan seekor monster finansial misterius yang langkahnya tidak bisa dibaca oleh dunia.
"Kita sudah sampai, Riyan," kata Kezia lembut sambil melirik ke arah luar jendela limosin.
Riyan mendongak. Dia tidak menyadari bahwa mobil mewah itu telah kembali memasuki gerbang besi hitam raksasa milik Resor Privat Keluarga Zevan di Lembang. Langit malam pegunungan kembali menyambut mereka dengan hembusan angin yang menusuk tulang.
Begitu pintu limosin terbuka, beberapa pelayan wanita dengan pakaian adat Sunda modern yang sangat anggun sudah berdiri berjejer di dekat tangga lobi. Di depan mereka, Tuan Besar Abraham Zevan berdiri sambil memegang sebuah tongkat berkepala naga emas, tersenyum lebar menyambut kedatangan sang kuli proyek.
"Hahaha! Menantuku yang jenius sudah kembali!" seru Abraham, suara baritonnya menggema memecah keheningan malam. Pria tua itu melangkah maju, langsung merangkul pundak kaus oblong Riyan dengan sangat akrab.
"Kezia sudah menghubungiku lewat telepon tadi. Riyan... ide tentang proyek 'Kota Hantu Seblak' itu benar-benar membuat dewan sesepuh Keluarga Zevan bertekuk lutut kagum! Kami sepakat, pernikahan adat tidak bisa ditunda lagi. Besok pagi, kamu resmi menjadi bagian dari inti keluarga kami!"
Riyan hanya bisa memasang wajah melas pasrah.
"Pak Abraham... sumpah, apa gak sebaiknya kita tunangan dulu aja? Pacaran dulu kek, pendekatan gitu. Saya ini kuli, Pak, kalau besok langsung nikah, entar apa kata temen-temen seproyek saya di Dago?"
Abraham mengibaskan tangannya dengan ekspresi mutlak.
"Tidak ada kata tunda di dalam kamus Zevan! Keluarga rahasia lainnya, terutama Keluarga Vandersen, pasti sedang menyusun rencana untuk merebutmu setelah kekacauan di mal tadi siang."
"Kami harus mengunci statusmu secara hukum adat besok pagi sebelum mereka bergerak lebih jauh!"
Sebelum Riyan sempat mengeluarkan argumen pembelaan diri yang kesekian kalinya, dua pelayan wanita paruh baya langsung maju dan membungkuk hormat di depannya.
"Mari, Den Riyan. Kami harus mengukur tubuh Aden untuk persiapan baju adat pengantin besok pagi. Kain tenun sutra berlapis benang emas murni peninggalan leluhur sudah kami siapkan di ruang rias," ucap pelayan itu dengan sangat sopan.
Riyan menarik napas panjang, menatap Kezia yang hanya memberikan anggukan kecil penuh makna, lalu menatap Abraham yang matanya berkilat tidak menerima bantahan. Dengan langkah gontai seperti tawanan perang yang pasrah, Riyan berjalan mengikuti para pelayan menuju ruang rias di sayap kanan resor.
Di dalam ruangan besar yang dipenuhi kaca rias raksasa itu, tubuh Riyan diputar-putar, diukur menggunakan pita meteran kain, dan dicocokkan dengan kain tenun emas yang harganya pasti sanggup buat membeli tiga buah truk molen semen baru.
Saat para pelayan sibuk mencatat ukuran pundaknya, Riyan diam-diam meraba ponsel retak seribu di dalam saku celananya. Jam digital di matanya kini menunjukkan sisa waktu kurang dari sembilan jam.
'Gua gak boleh menyerah, pikir Riyan, urat kulinya kembali menegang penuh tekad.
'Sistem bilang kalau pernikahan besok pagi sah, dana mahar gua bakal dikunci dan gua bakal terikat selamanya. Tapi gimana kalau sebelum jam delapan subuh besok, gua gunain seluruh sisa saldo triliunan gua buat bikin kekacauan baru yang bikin pernikahan ini batal otomatis karena keadaan darurat?
Otak Riyan kembali memproses celah hukum Sistem secara radikal.
'Keluarga Zevan mau nikahin gua karena mengira gua ini 'Dewa Keberuntungan' dan 'Jenius Finansial' yang bisa bawa untung buat keluarga mereka, kan? Gimana kalau gua buktiin ke mereka kalau gua ini sebenarnya adalah 'Bencana Ekonomi Bergerak' yang sesungguhnya? Gua bakal cari cara buat ngebakar duit triliunan gua malam ini juga untuk menghancurkan sektor bisnis properti dan perbankan yang menjadi fondasi utama kekayaan Keluarga Zevan! Kalau bank mereka kolaps karena kelakuan gua, mereka pasti bakal mikir dua kali buat jadiin gua menantu!
Riyan tersenyum gila di depan cermin besar ruangan rias, membuat pelayan wanita yang sedang mengukur lingkar lehernya sempat bergidik ngeri karena mengira calon menantu tuan besarnya ini sedang kesurupan jin penunggu Lembang.
Begitu proses pengukuran selesai, Riyan langsung meminta izin untuk kembali ke kamar VIP-nya dengan alasan ingin beristirahat demi menjaga stamina besok pagi. Begitu pintu kamar mandi berlapis marmer di kamarnya tertutup rapat dan dikunci dari dalam, Riyan langsung duduk di atas lantai, menyalakan ponselnya, dan membuka aplikasi M-Banking.
Saldo terkini: 4,45 Triliun Rupiah.
[Denting Sistem! Deteksi Niat Pemberontakan Inang!]
[Peringatan: Tindakan sabotase langsung terhadap aset inti Keluarga Zevan akan memicu deteksi 'Konflik Internal Keluarga' yang justru dapat mempercepat alur plot romansa protektif dari Kezia Zevan!]
[Saran Sistem: Gunakan pihak ketiga di luar lingkaran Zevan jika ingin memicu kerugian finansial yang murni tanpa keterikatan emosional!]
Riyan mendengus kesal membaca teks transparan Sistem. Pihak ketiga? Siapa lagi pihak ketiga yang punya nyali dan kekuatan buat ngadepin Keluarga Zevan di kota ini?
Mata Riyan mendadak berbinar saat mengingat sesosok wanita bergaun merah menyala dengan rambut pirang platinum yang siang tadi memaki-makinya di mal dengan dendam kesumat yang membara.
'Valerie Vandersen!
'Bener banget! batin Riyan girang.
"Si cewek pirang itu kan dendam setengah mati sama gua dan Keluarga Zevan karena saham otomotifnya gua bikin anjlok. Gimana kalau malam ini gua hubungi dia secara rahasia, terus gua kasih modal dana dua triliun rupiah cuma-cuma buat dia gunain menghancurkan jaringan bisnis perbankan milik Keluarga Zevan besok subuh?! Dengan begitu, gua ngeluarin duit triliunan secara cuma-cuma tanpa untung (merugikan diri sendiri), bisnis Zevan hancur (pernikahan batal karena krisis), dan gua gak bakal terdeteksi aliansi emosional karena si Valerie itu musuh gua!
Riyan tertawa tanpa suara di dalam kamar mandi mewah itu, merasa taktik pihak ketiganya kali ini benar-benar sangat rapi dan tanpa celah.
Pertanyaannya sekarang, bagaimana cara seorang kuli bangunan mendapatkan nomor telepon pribadi dari nona besar Keluarga Vandersen dalam waktu singkat?
Riyan melirik ke arah saku celananya yang tergeletak di lantai, memikirkan bahwa badai konspirasi baru yang melibatkan dua dinasti rahasia terbesar di Bandung akan segera dia sulut dari atas kloset duduk marmer malam ini juga.