Aroma bedak tabur, semprotan setting spray, dan tumpukan palet warna-warni sudah menjadi dunia Yeza selama lima tahun terakhir. Sejak melepas seragam putih-abu-abunya, gadis berusia 23 tahun itu memilih jalan yang berbeda dari teman-temannya. Di saat yang lain sibuk memburu bangku perkuliahan, Yeza justru mengurung diri di kamar, menatap cermin, dan membiarkan jemarinya menari dengan kuas-kuas murah yang dibelinya dari uang jajan yang disisihkan.
Tanpa kursus formal, tanpa sertifikat mentereng. Modal utamanya hanyalah ketekunan dan ribuan jam menonton tutorial di YouTube. Dua belas bulan pertama adalah masa-masa penuh cemoohan. "Mau jadi apa cuma coret-coret muka?" begitu bisik-bisik tetangga yang sempat mampir di telinganya. Namun, Yeza tidak berhenti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Balik Pintu Ruang VIP
Perjalanan yang memakan waktu hampir satu jam itu akhirnya berakhir ketika mobil MPV hitam yang dikemudikan Bram berbelok memasuki area sebuah studio foto besar di kawasan Jakarta Selatan. Studio itu tampak sangat sibuk. Beberapa truk boks besar terparkir di halaman, dan orang-orang dengan handy-talky di pundak tampak berlarian ke sana kemari membawa pakaian, kabel-kabel tebal, dan perlengkapan lampu studio.
Ini adalah dunia yang selama ini hanya bisa Yeza lihat dari balik layar ponselnya. Kini, ia berada tepat di tengah-tengahnya.
"Ayo, Yeza. Bawa kopermu," ajak Bram setelah memarkirkan mobil di area khusus.
Yeza mengangguk cepat, mengeratkan pegangannya pada gagang koper kosmetiknya yang terasa lebih berat dari biasanya karena rasa gugup. Begitu keluar dari mobil, hawa panas Jakarta langsung menyergap, namun segera berganti dengan hawa dingin AC yang menusuk begitu mereka melangkah masuk melewati pintu kaca besar studio.
Bram membimbing Yeza melewati lorong-lorong studio yang ramai. Beberapa orang yang berpapasan sempat melirik Yeza dengan tatapan bertanya-tanya, mungkin heran melihat gadis asing yang berjalan di sebelah manajer pribadi seorang Maxemilian. Yeza hanya bisa menunduk, mencoba menyelaraskan langkah kakinya dengan Bram.
Mereka melewati beberapa studio foto berukuran besar di mana kilatan lampu flash sesekali menyala terang. Namun, Bram tidak membawa Yeza ke sana. Ia terus berjalan menuju lorong bagian belakang yang jauh lebih tenang dan privat.
"Sebelum pemotretan dimulai, saya antar kamu ke ruangan Max dulu. Hari ini dia punya ruang tunggu khusus yang tidak bisa dimasuki sembarang orang," jelas Bram sambil menunjuk sebuah pintu kayu berwarna putih di ujung lorong. Di pintu itu, tertempel kertas bertuliskan nama: MAXEMILIAN (VIP 1).
Jantung Yeza rasanya ingin melompat keluar saat langkah kaki mereka berhenti tepat di depan pintu tersebut.
Bram mengetuk pintu itu dua kali, lalu membukanya perlahan. "Max, penata rias barumu sudah datang."
Begitu pintu terbuka sempurna, pemandangan di dalam ruangan langsung menyita seluruh perhatian Yeza.
Di sudut ruangan, di depan sebuah cermin besar yang dikelilingi lampu-lampu pijar benderang, Maxemilian sedang duduk santai. Ia hanya mengenakan kaos oblong polos berwarna putih dan celana jin hitam—pakaian yang sangat sederhana, namun entah bagaimana tetap terlihat seperti pakaian peraga busana saat melekat di tubuh atletisnya. Rambut hitamnya sedikit acak-acakan, memberi kesan kasual yang jauh berbeda dari tampilannya di papan reklame pusat kota.
Mendengar pintu terbuka, Max mengalihkan pandangannya dari ponsel, lalu menatap langsung ke arah pintu. Begitu matanya menangkap sosok Yeza, sebuah senyuman tipis namun hangat terbit di wajahnya yang tegas.
"Ah, kamu sudah sampai," suara bariton itu terdengar jauh lebih nyata dan magnetis dibanding lewat pesan suara semalam.
Yeza mendadak kaku di tempatnya berdiri, tangannya mencengkeram erat gagang koper kosmetiknya. Aura seorang bintang besar dari pria di depannya ini benar-benar mengintimidasi, membuat ruangan VIP yang luas itu mendadak terasa menyempit.
Bram melangkah maju sedikit, menepuk bahu Yeza pelan untuk membuyarkan lamunan gadis itu. "Max, saya tinggal dulu ke depan untuk cek kesiapan tim fotografer dan baju-baju yang mau diiklankan nanti. Kalian bisa mulai mengobrol atau bersiap-siap."
Max mengangguk. "Ya, Thanks, Bram."
Bram kemudian berbalik menatap Yeza seraya tersenyum menyemangati. "Saya keluar dulu ya, Yeza. Semoga sukses," pamitnya sebelum melangkah keluar dan menutup pintu dengan rapat.
Klik.
Suara pintu yang mengunci otomatis itu terdengar begitu jelas di telinga Yeza. Kini, di dalam ruangan VIP yang kedap suara itu, hanya ada mereka berdua: Yeza dengan koper kosmetik murahnya, dan Maxemilian, sang aktor papan atas yang sedang menatapnya dengan penuh rasa ingin tahu.
Max berdiri dari kursi riasnya, memecah keheningan yang sempat menggantung. Dengan gerakan yang ramah namun berwibawa, ia mengisyaratkan sebuah kursi kosong di sebelahnya.
"Silakan duduk, Yeza. Jangan tegang begitu," ucap Max, suaranya terdengar lembut, sangat kontras dengan pembawaannya yang biasa terlihat dingin di film-filmnya.
Jujur saja, jauh di dalam lubuk hatinya, Max awalnya tidak memasang ekspektasi tinggi tentang bagaimana rupa dan penampilan penata rias barunya ini. Di akun Instagram @yeza.makeup, Yeza hampir tidak pernah memajang foto wajah aslinya. Umpan media sosialnya hanya dipenuhi oleh foto-foto close-up hasil riasan tangannya—mulai dari guratan teatrikal yang penuh warna, efek luka buatan yang tampak nyata, hingga transformasi wajah model yang tertutup kosmetik tebal. Max mengira ia akan bertemu dengan seorang gadis yang eksentrik atau menor.
Namun, begitu melihat sosok yang kini melangkah ragu ke arahnya, pikiran Max mendadak teralihkan total.
Aktor papan atas yang terbiasa dikelilingi model-model internasional itu terpukau. Yeza ternyata memiliki fisik yang mungil, tingginya mungkin hanya berkisar sekitar 150\text{ cm}. Rambut hitamnya dipotong sebahu, membingkai wajah alaminya dengan sangat pas. Riasan clean look yang dipakainya hari ini justru menonjolkan kulitnya yang bersih dan sehat. Dan ketika Yeza memberikan anggukan hormat sembari mengulas senyuman manis yang canggung karena gugup, Max merasakan ada sesuatu yang hangat dan tulus dari pesona gadis itu. Sebuah kecantikan yang sangat nyata, tanpa topeng kosmetik tebal.
Untuk beberapa detik, Max hanya terpaku, memperhatikan bagaimana gadis mungil itu meletakkan kopernya dengan hati-hati.
"Terima kasih, Pak Max," kata Yeza lirih, akhirnya mendudukkan diri di kursi yang ditunjuk.
Max tersenyum miring, mencoba menguasai kembali fokusnya yang sempat buyar karena pesona sang penata rias. "Panggil Max saja kalau kita sedang berdua seperti ini. Jadi... bisa kita mulai lihat 'sihir' apa yang kamu bawa di dalam koper hitam itu?"