Sequel Kembalinya Sang Agen Rahasia & Heroes
Zyan kembali menjalani misi. Kali ini akan menjadi misi terakhirnya, mencari keberadaan Arkan, juniornya.
Siapa sangka kembalinya pria itu ke lapangan malah menemukan konspirasi sejumlah petinggi menggagas Project Black Lock. Diam-diam mereka mengembangkan virus yang diberi nama Regalis-V.
Ada enam target yang sedang dibidik untuk memproduksi Regalis-V. Salah satunya adalah Arsela, anak presiden.
Ketegangan semakin bertambah ketika Zyan tahu target terakhir adalah anaknya sendiri.
Bersama dengan Arkan, pria itu berjibaku, berusaha menyelamatkan target dan menghancurkan Black Lock.
Dalam aksinya, mereka mendapatkan bantuan dari seorang agen tambahan.
Siapakah agen tersebut?
Jangan lupa ikuti medsosku di
FB : Khairunnisa (Ichageul)
IG : ichageul9563
TT : @novelme @ichageul21
Threads : Ichageul
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichageul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penyamaran
Ketiga pria itu langsung masuk ke dalam kamar yang tadi disewakan Jay untuk Kael dan Arsela. Keadaan kamar tampak kosong.
“Di mana mereka?” tanya salah satunya dengan nada bingung.
“Apa kamu yakin kalau mereka menyewa kamar ini?”
“Ya, aku jelas mendengar Jay memesan kamar ini.”
“Tapi mana?”
Setiap sudut kamar sudah diperiksa, tetapi tidak ada jejak Kael maupun Arsela di sana.
Tanpa mereka ketahui, Kael mengawasi tindak-tanduk mereka melalui kamera kecil yang dipasang di sana. Ditambah lagi dengan alat penyadap yang ditaruh di bawah meja. Dengan jelas pria itu bisa mendengar percakapan mereka.
Kael mengambil ponselnya, lalu menghubungi Jay. Dalam hitungan detik, Jay langsung menjawab panggilannya.
“Halo.”
“Bawakan mantel panjang berwarna merah untuk Arsela,” ujar Kael sambil terus memperhatikan gerak-gerik tiga orang di kamar hotel sebelumnya.
“Baik. Ak—“
Belum sempat Jay menyelesaikan kalimatnya, Kael langsung mengakhiri panggilan. Matanya kembali melihat pada layar tablet di tangannya.
“Jay diminta membawakan mantel merah untuk Arsela. Besok cari perempuan yang mengenakan mantel warna merah.”
“Lebih baik kita pergi sekarang.”
Ketiga pria itu segera meninggalkan kamar tersebut. Kael segera beranjak dari tempatnya. Dari lubang di pintu, dia mengintip keluar. Tampak tiga pria meninggalkan koridor di lantai delapan.
Begitu mereka keluar, Kael juga ikut keluar. Sambil keluar dia mengirimkan pesan pada Jay. Dengan menggunakan tangga darurat, Kael menuju parkiran basement.
Setibanya di sana, Jay sudah menunggunya. Kael langsung menaruh jari di depan mulutnya, melarang Jay untuk berbicara. Dengan cepat dia mengetikkan sesuatu dengan ponselnya.
Ada penyadap di pakaianmu. Jangan bicara.
Kepala Jay mengangguk tanda mengerti. Kael kembali mengetik di ponselnya.
Pakaikan mantel ini pada aset perempuan. Besok di bandara dia harus datang untuk mengecoh musuh.
Kembali Jay menganggukkan kepalanya.
Selesai memberikan instruksi, Kael kembali kamar. Begitu masuk, Arsela baru saja terbangun dari tidurnya.
“Ada apa?” tanya Kael.
“Tidak apa-apa. Aku hanya kaget saat bangun, kamu tidak ada. Aku ... takut.”
Hal yang wajar jika Arsela merasa takut. Wanita itu baru mengalami kejadian tidak mengenakkan. Dan itu masih membekas dalam ingatannya.
“Aku hanya bertemu dengan Jay. Lebih baik kamu tidur lagi. Besok pagi kita pergi pagi-pagi.”
Arsela kembali ke kasurnya, lalu merebahkan tubuhnya lagi. Ditariknya selimut untuk menutupi tubuhnya, sementara matanya mengawasi Kael yang duduk di sofa.
“Kamu tidak tidur?”
“Sebentar lagi.”
“Apa nggak apa-apa lampunya kalau dimatikan? Aku sulit tidur kalau lampunya menyala.”
Tanpa mengatakan apa pun, Kael mematikan lampu. Pria itu kemudian kembali ke tempatnya semula. Dia menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa seraya memejamkan mata. Tak butuh waktu lama, pria itu mulai terlelap.
***
Arsela terjaga dari tidurnya. Tangan wanita itu bergerak menyalakan lampu tidur. Seketika kamar yang semula gelap, sedikit lebih terang. Begitu menegakkan tubuh, pandangan wanita itu langsung tertuju pada Kael yang tertidur di sofa.
Perlahan Arsela beranjak dari kasur, kemudian membangunkan Kael.
“Kael … bangun,” ujarnya pelan sambil sedikit mengguncang bahu Kael.”Kael ….”
Di percobaan kedua, akhirnya Arsela berhasil membangunkan Kael. “Jam berapa ini?” tanyanya begitu membuka mata.
“Jam empat.”
Sontak Kael langsung menegakkan tubuhnya. Mereka harus bergerak cepat meninggalkan hotel.
“Kamu mandilah. Aku akan mandi di kamar yang dipesan. Jangan terlalu lama.”
Dengan cepat Kael berdiri. Dia mengambil tasnya, baru kemudian keluar dari kamar.
Lima belas menit kemudian Kael sudah kembali. Sebelum meninggalkan kamar, dia mengambil dulu kamera dan alat penyadap yang kemarin ditaruh di kamar.
Pandangannya langsung tertuju ke pintu kamar mandi ketika mendengarnya terbuka. Arsela keluar dengan mengenakan bath robe. “Duduklah di sini. Aku akan mendandanimu,” ujar Kael.
Tanpa banyak bertanya, Arsela langsung duduk di sisi ranjang. Kael menarik kursi mendekat sambil membawa tas berukuran sedang.
Ketika dibuka, isinya terdapat alat make up, wig dan beberapa peralatan lain. Pria itu mulai memainkan kuas di wajah Arsela.
“Kita akan menyamar sebagai pasangan lansia,” terang Kael sambil mendandani Arsela. Dia tengah menempelkan kulit tambahan yang memberikan efek keriput di wajah.
Setengah jam kemudian, pria itu selesai mendandani Arsela. Dia melihat sejenak hasil karyanya. Tangannya terangkat dengan ibu jari dan telunjuk membentuk huruf O.
Karena penasaran, Arsela pun melihat pantulan wajahnya di cermin. Dia tidak percaya melihat penampilannya sekarang. Wanita itu terlihat jauh lebih tua dari umur aslinya.
“Kamu pintar sekali mendandaniku,” puji Arsela.
“Itu salah satu keahlian yang harus kumiliki,” jawab Kael sambil merias dirinya.
Arsela membantu menempelkan kulit keriput ke wajah Kael yang disamarkan dengan bedak. Rambut Kael pun tak luput disemir putih.
“Selesai. Kamu tinggal berganti pakaian.”
“Tapi bagaimana dengan kulit tangan kita?”
Arsela memperlihatkan kulit tangannya yang masih terlihat kencang. Berbanding terbalik dengan keriput di wajahnya.
“Gampang, tinggal pakai sarung tangan.”
“Ah ya, benar.”
Arsela segera mengambil pakaian, lalu masuk ke kamar mandi. Tak berapa lama kemudian dia kembali. Tubuhnya sudah terbalut blus lengan pendek, dipadankan dengan rok panjang sampai ke betis. Kemudian dia melapisi tubuhnya dengan mantel krem.
Kael sendiri sudah siap. Dia terlihat seperti pria tua. Apalagi di punggungnya ditempeli sesuatu dengan sedikit membungkukkan tubuhnya. Dia mengambil tongkat yang sudah disiapkan untuk membantunya berjalan.
Setelah siap, keduanya keluar dari kamar. Sambil memeluk lengan Kael, Arsela berjalan di sampingnya. Langkah keduanya terlihat lambat, menyesuaikan dengan usia mereka yang sudah lansia.
Saat berada di lift, mereka tetap berakting seperti orang tua walau tidak ada siapa pun di sana.
Lift yang mereka tumpangi langsung membawa mereka ke basement. Di sana Jay sudah menunggu. Pria itu segera membawa keduanya di bandara.
Selama dalam perjalanan, Kael melarang Arsela untuk berbicara.
Sepuluh menit kemudian mereka sudah sampai di bandara. Jay menurunkan keduanya tepat di depan pintu masuk bandara.
Dengan langkah pelan, keduanya berjalan mendekati konter check-in maskapai. Setelah menyelesaikan semua pemeriksaan, keduanya berjalan menuju boarding gate.
Saat hendak melewati boarding gate, mata Kael melihat pada sepasang pria dan wanita berjalan ke arah mereka. Sang wanita mengenakan mantel berwarna merah sesuai instruksi Kael.
Tak jauh dari mereka, tampak tiga orang dengan sikap mencurigakan. Pandangan mereka terus tertuju pada pasangan yang dilihat Kael.
Kericuhan terjadi ketika pasangan tersebut tiba-tiba berlari menjauh dari boarding gate. Tiga pria yang mengintai mereka pun langsung mengejar. Suasana di dalam bandara seketika menjadi kacau.
Memanfaatkan kekacauan yang terjadi, Kael menarik Arsela melewati boarding gate. Keduanya langsung diarahkan menuju pesawat yang akan langsung menuju Hamtramck, Michigan.
Untuk penerbangan kali ini, Kael sengaja mengambil kelas ekonomi, agar tidak terlalu mencolok. Beberapa agen juga sudah ditempatkan di sana untuk menjaga Arsela.
***
Setelah melayang-layang di udara selama kurang lebih sembilan jam, akhirnya mereka tiba di bandara Detroit DTW. Seorang agen yang bertugas sudah menunggu mereka dan langsung membawa keduanya menuju safe house.
Hanya dalam waktu setengah jam, mereka sudah tiba di safe house. Arsela dipersilakan beristirahat di kamar yang ada di lantai atas. Seorang agen wanita sudah berjaga di sana.
Kael baru saja melepas semua atribut penyamaran ketika ponselnya berdering. Sederet nomor tidak dikenal tertera di layar. Kael sengaja tidak menjawab panggilan, hingga deringan berakhir. Selang beberapa detik kemudian sebuah pesan masuk.
[Angkat teleponnya kalau kamu mau tahu apa alasan penculikan Arsela.]
***
Mohon maaf, Alvin libur dulu ya🤗
huhah huhah huhahhhhhh🫣