Ethan, seorang Assassin paling mematikan di Neo-Veridia, memilih akhir tak terduga di hidupnya. Tanpa dia sadari, takdir membawanya ke sebuah tempat yang jauh berbeda dari sebelumnya. petualangan yang seru dan menegangkan pun tak bisa dia hindari untuk menemukan jawaban bagaimana dirinya bisa terseret ke tempat misterius ini. Apa yang sebenarnya yang terjadi pada Ethan? Bisakah dia menemukan jawaban dari semua ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yann_Story, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kalkulasi di Ujung Pedang
Tekanan Qi dari Lin Hao berembus kencang, membuat tirai-tirai sutra di aula utama berkibar kasar. Para pelayan di sudut ruangan tertunduk, tak kuat menahan beban energi dari seorang murid inti Sekte Pedang Awan. Namun, Ethan tetap berdiri kokoh. Pendar sirkuit biru di baju besinya justru semakin stabil, seolah badai energi di depannya hanyalah embusan angin malam biasa.
"Lin Hao, hentikan!" Mu Rong melangkah maju, memposisikan dirinya di antara Ethan dan Lin Hao. "Tuan ini adalah penyelamat nyawaku! Jika kau menghinanya, itu sama saja dengan menghina Keluarga Mu!"
"Rong'er, kau terlalu naif dan mudah ditipu!" Lin Hao mendengus, meski akhirnya ia menurunkan sedikit tekanan energinya demi menjaga perasaan gadis itu. Namun, pandangannya pada Ethan tetap dipenuhi kilat permusuhan. "Pria ini bahkan tidak berani menunjukkan wajahnya. Sikapnya yang mencurigakan ini sudah cukup menjadi alasan bagiku untuk mengujinya atas nama keselamatan Keluarga Mu!"
Mu Tianbah, sang Kepala Keluarga, hanya diam mengamati. Sebagai seorang pemimpin yang rubah, ia sengaja membiarkan Lin Hao maju. Ia ingin melihat sejauh mana kemampuan pria misterius berbaju besi cyber ini. Jika Ethan mati atau terluka, artinya dia memang tidak berharga. Namun jika sebaliknya...
Ethan menatap Lin Hao dari balik visor birunya. Di sudut pandang visualnya, Sistem terus memperbarui data taktis pertarungan.
[ Analisis Efisiensi Pertarungan: ]
[ Gaya Bertarung Target: Teknik Pedang Awan Mengalir. Kecepatan: Sedang. Daya Rusak: Cukup Tinggi untuk armor standar. ]
[ Rekomendasi Strategi: Gunakan Teknik Langkah Bayangan terintegrasi untuk mengabaikan serangan pertama, lalu serang titik lemah di meridian dada. ]
[ Estimasi Waktu Penyelesaian: 4 detik. ]
"Kau ingin mengujiku?" Ethan melangkah maju, melewati Mu Rong dengan tenang. Suara langkah sepatunya yang berat berdentam di lantai kayu aula. "Kalian para kultivator selalu banyak bicara sebelum bertarung. Di tempat asalku, detik yang kau buang untuk menggonggong adalah detik di mana nyawamu melayang."
"Cari mati!"
Lin Hao tidak bisa lagi menahan harga dirinya yang diinjak-injak. Dengan raungan rendah, ia menarik pedang tipisnya. Cahaya Qi putih berkumpul di mata bilahnya, membentuk replika awan tajam yang berputar. Dalam satu lompatan, ia menerjang maju. Teknik pedangnya membentuk tiga bayangan tusukan yang mengarah vital ke leher, dada, dan jantung Ethan secara bersamaan.
"Jurus Pedang Awan Membelah Langit!" teriak beberapa tetua Keluarga Mu yang mengenali teknik tingkat tinggi tersebut.
Mu Rong memekik kecil, menutup mulutnya dengan tangan.
Namun, tepat ketika mata pedang Lin Hao berjarak satu inci dari dada Ethan, sirkuit di sepanjang kaki Exo-Suit Ethan menyala terang dalam warna ungu redup. Energi Qi tingkat 1 yang baru saja ia kuasai dialirkan secara instan menuju generator motorik baju besinya.
Bzzzt—Srrr!
Tubuh Ethan tampak buram selama sepersekian detik. Ketika pedang Lin Hao menusuk, bilah logam itu hanya menembus udara kosong—sebuah bayangan semu yang tertinggal akibat kecepatan yang melampaui batas tangkapan mata. Teknik Langkah Bayangan yang terintegrasi dengan teknologi masa depan telah mengecoh kalkulasi sang kultivator.
"Apa?!" Lin Hao terkejut, merasakan tusukannya menghantam ruang hampa. Keseimbangan tubuhnya seketika goyah ke arah kiri—tepat seperti yang diprediksi oleh Sistem.
"Terlalu lambat," bisik sebuah suara dingin tepat di samping telinganya.
Sebelum Lin Hao sempat menarik kembali pedangnya, Ethan sudah berada di sisi kirinya. Tanpa mengeluarkan pisau siber, Ethan hanya mengepalkan tangan kanannya yang dibalut sarung tangan titanium. Dengan akurasi matematis, ia menghantamkan tinjunya tepat ke titik meridian dada Lin Hao yang tersumbat.
BUM!
Pemicu kinetik di sarung tangan Ethan melepaskan gelombang kejut yang terkonsentrasi. Lin Hao memekik kesakitan saat aliran Qi di dalam tubuhnya mendadak berbalik arah dan mengamuk. Tubuhnya terpental ke belakang, meluncur di atas lantai aula sebelum akhirnya menghantam pilar kayu besar hingga retak.
Uhuk!
Lin Hao berlutut, memuntahkan seteguk darah segar. Kipas lipatnya patah menjadi dua, dan wajah tampannya kini dipenuhi oleh keterkejutan dan rasa malu yang luar biasa. Hanya dalam satu gebrakan, tanpa menggunakan senjata tajam, ia telah dikalahkan secara mutlak di depan wanita yang ingin ia pikat.
Aula utama seketika hening mencekam. Para tetua Keluarga Mu berdiri dari kursi mereka dengan mata melotot. Mereka semua tahu Lin Hao adalah seorang jenius di Ranah Pengumpulan Qi Tingkat 8, namun ia dikalahkan oleh seorang pemuda tanpa fluktuasi Qi yang jelas hanya dalam satu gerakan fana.
---
Mu Tianbah perlahan berdiri dari kursi utamanya. Tatapannya pada Ethan kini tidak lagi dipenuhi keraguan, melainkan rasa waspada yang amat dalam sekaligus ketertarikan yang besar. Pria berbaju besi ini terlalu misterius, pintar, dan berbahaya untuk dijadikan musuh.
"Langkah kaki yang luar biasa. Gerakan yang sangat bersih," Mu Tianbah bertepuk tangan perlahan, memecah kesunyian. "Lin Hao, mundurlah. Kau telah kalah dalam taruhan ini. Tuan ini memang memiliki kualifikasi untuk menjadi tamu agung di kediamanku."
Lin Hao menggertakkan giginya hingga berdarah, menatap Ethan dengan dendam yang mendalam sebelum akhirnya dibantu berdiri oleh beberapa pelayan dan meninggalkan aula tanpa sepatah kata pun. Ethan mencatat ekspresi itu di memori taktisnya—satu lagi musuh yang harus ia bersihkan di masa depan jika waktunya tiba.
"Tuan yang terhormat," Mu Tianbah berjalan mendekati Ethan, sikapnya kini jauh lebih ramah. "Kemampuanmu telah membuktikan asal-usulmu yang luar biasa. Karena kau tidak memiliki sekte di Benua Longyuan ini, bagaimana jika kau tinggal di kediaman kami sebagai Tetua Tamu? Keluarga Mu tidak akan kekurangan sumber daya, batu spiritual, ataupun pil kultivasi untuk membantumu."
Mu Rong menatap Ethan dengan penuh harap. Ia sangat ingin pemuda misterius ini tetap tinggal, bukan hanya karena rasa terima kasih, melainkan ada percikan rasa penasaran—dan mungkin sesuatu yang lebih dalam—yang mulai tumbuh di hatinya sejak melihat wajah tampan Ethan di pinggir hutan.
Ethan diam sejenak. Sistem di kepalanya memberikan notifikasi baru.
[ Misi Sampingan Terbuka: Terima tawaran Keluarga Mu. ]
[ Hadiah: 500 Poin Sistem, Akses ke Ruang Buku Keluarga Mu, dan Pembukaan Toko Sistem Tingkat 1. ]
"Aku menerima tawaranmu, Kepala Keluarga Mu," jawab Ethan dengan suara mekanisnya yang tenang. "Namun, aku memiliki dua syarat."
"Sebutkan saja, Tuan," ujar Mu Tianbah cepat.
"Pertama, jangan pernah mencampuri urusanku, atau mencoba menyelidiki apa yang ada di balik pakaian besiku ini," Ethan menatap tajam ke arah Mu Tianbah, membuat sang Kepala Keluarga merasa seolah-olah sebilah pisau tak terlihat sedang menempel di lehernya. "Kedua, aku membutuhkan akses penuh ke seluruh catatan sejarah dan buku tentang geografi benua ini."
"Hahaha, syarat yang sangat mudah! Kamar terbaik dan Ruang Paviliun Buku akan segera disiapkan untukmu," Mu Tianbah tertawa lega.