Demi membiayai operasi ayahnya, Natalie nekat menjual keperawanannya pada seorang pria yang tidak ia kenal. Namun pria yang datang ternyata seorang dokter berhati baik yang justru ingin menyelamatkannya dari jalan buntu itu.
Setelah melewati malam yang penuh gairah, Drake malah kecanduan dengan tubuh Natalie, padahal dia tahu kalau wanita itu hanya mengejar uang.
Saat rahasia tergelap mereka terbongkar, mampukah hubungan rapuh dan terlarang ini tetap bertahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4
Keesokan paginya, sinar matahari pagi menyusup lembut melalui tirai tipis jendela suite hotel. Nathalie terbangun dengan tubuh polos yang masih terasa lengket dan lelah. Selimut tebal sutra hitam hanya menutupi separuh tubuhnya, memperlihatkan bahu polos, lekukan payudara, dan kulit paha yang dipenuhi jejak merah samar bekas ciuman dan remasan semalam.
Ia menoleh ke samping. Drake masih tidur dengan tenang, satu lengannya memeluk pinggang Nathalie posesif, seolah tak ingin melepaskan miliknya, bahkan dalam tidurnya. Wajah pria itu terlihat tampan di bawah cahaya pagi. Rahang tegas, alis tebal, bibir yang semalam begitu rakus mencumbunya. Hidung mancung dan rambut acak-acakan membuatnya terlihat semakin maskulin dan menggoda.
Nathalie menatap wajah itu dengan perasaan yang campur aduk. Bagian hatinya yang lemah sempat terpesona. Dia benar-benar tampan, tapi seketika itu juga rasa jijik yang luar biasa menyeruak. Jijik pada dirinya sendiri. Semalam ia telah menyerahkan kesuciannya, tubuhnya, dan harga dirinya hanya demi uang. Air mata hangat kembali menggenang di pelupuk matanya. Apa yang telah aku lakukan? batinnya hancur.
Drake yang merasa di perhatikan perlahan membuka matanya. Dua pasang mata bertemu dalam jarak sangat dekat. Sesaat keheningan pagi yang intim menyelimuti mereka. Tapi tatapan Nathalie yang sendu dan tubuh polosnya yang terbaring di samping justru membangkitkan gairah Drake dengan cepat.
Senyum nakal dan penuh nafsu muncul di bibir pria itu. Tanpa kata, ia menindih tubuh Nathalie dengan cepat, tubuh tegap dan berototnya menekan tubuh perempuan itu ke kasur. Selimut tebal tersingkap, memperlihatkan seluruh tubuh polos mereka berdua.
“Pagi yang indah,” bisik Drake serak, suaranya masih parau karena bangun tidur. Ia langsung mencium Nathalie dengan rakus, lidahnya menyusup masuk tanpa ampun, menari liar di dalam mulut perempuan itu. Tangan besarnya meremas payudara kencang Nathalie, jempolnya memainkan puting yang langsung mengeras.
“Ahh...” erangan kecil lolos dari bibir Nathalie. Tubuhnya masih sensitif akibat malam tadi, tapi Drake tak memberi kesempatan untuk menolak. Ia menurunkan ciumannya ke leher, menghisap kuat hingga meninggalkan kissmark baru, lalu turun ke payudara. Mulutnya menyambar salah satu puncak dada, mengisap dan menggigit pelan sementara tangan satunya meremas yang lain dengan kasar penuh gairah.
Nathalie menggeliat di bawah tubuh Drake. Tangannya mencengkeram bahu pria itu, tak tahu apakah ingin mendorong atau menarik. Drake membuka paha Nathalie lebar-lebar dengan lututnya, jari-jarinya langsung turun ke inti tubuh perempuan itu yang masih sedikit bengkak dan lembab sisa malam sebelumnya.
“Kamu masih basah...” desah Drake puas. Dua jarinya masuk dengan mudah, bergerak keluar-masuk dengan ritme cepat sambil ibu jarinya memutar di klitoris Nathalie. Tubuh perempuan itu mengejang, pinggulnya tanpa sadar terangkat menyambut sentuhan itu.
“Tuan.. ahh... pelan...” pinta Nathalie dengan suara gemetar, tapi Drake malah tersenyum semakin lebar.
Ia menarik tangannya, mengganti dengan kejantanannya yang sudah keras menganga dan berdenyut. Dengan satu dorongan kuat, ia masuk sepenuhnya hingga pangkal. Nathalie menjerit kecil, punggungnya melengkung hebat. Sensasi penuh dan sakit bercampur nikmat membuat kepalanya pusing.
Drake mulai bergerak ganas. Setiap hantaman dalam dan kuat, suara benturan kulit memenuhi kamar suite. Ia menindih tubuh Nathalie sepenuhnya, mencium bibirnya liar sambil terus mendesak pinggulnya ke depan. Ritme semakin cepat, semakin brutal. Tangan Drake meraih kedua pergelangan tangan Nathalie, menekannya ke atas kepala agar perempuan itu tak bisa bergerak.
“Kamu begitu sempit. Rasanya nikmat sekali,” erang Drake di antara desahan. Keringatnya menetes ke dada Nathalie. Ia mengangkat satu kaki perempuan itu ke bahunya, memperdalam penetrasi hingga ujung kejantanannya menyentuh titik paling dalam.
Nathalie tak kuasa menahan erangan. Suaranya semakin nyaring, campuran antara tangis dan kenikmatan yang tak diinginkan. Tubuhnya bergetar hebat setiap kali Drake menghantam kuat. Payudaranya bergoyang mengikuti irama liar pria itu.
Drake membalik posisi mereka tanpa keluar dari tubuh Nathalie. Kini ia duduk di tepi tempat tidur, Nathalie berada di pangkuannya, menghadapnya. Kedua tangan Drake memegang pinggul perempuan itu, menggerakkannya naik-turun dengan kuat. Setiap kali pinggul Nathalie turun, kejantanan Drake menembus dalam hingga ke rahim.
“Ride me, baby...” perintah Drake dengan suara berat. Nathalie tak punya pilihan selain mengikuti. Tubuhnya naik-turun, payudaranya bergoyang indah di depan wajah Drake. Pria itu menyambar salah satunya dengan mulut, mengisap kuat sambil tangannya menampar pelan bokong Nathalie.
Gerakan semakin cepat. Kamar dipenuhi suara erangan, desahan, dan benturan basah yang mesum. Drake akhirnya mencapai klimaks lebih dulu, menyemburkan cairannya yang panas dan banyak ke dalam tubuh Nathalie sambil mendesah panjang. Tubuhnya menegang, tangannya mencengkeram pinggul perempuan itu kuat-kuat.
Nathalie menyusul tak lama kemudian. Tubuhnya kejang hebat, intinya berdenyut-denyut di sekeliling kejantanan Drake. Ia menjerit kecil, kepalanya terkulai di bahu pria itu, napasnya tersengal-sengal.
Mereka berdua ambruk ke kasur dalam pelukan yang lengket oleh keringat. Drake masih berada di dalam tubuh Nathalie, sesekali menggerakkan pinggulnya pelan sambil menikmati sisa getaran.
Ia mengecup kening Nathalie yang basah, tersenyum puas.
“Milikmu selalu membuatku ingin lagi dan lagi"
Nathalie hanya diam, menatap langit-langit kamar dengan mata kosong. Tubuhnya puas secara fisik, tapi hatinya hancur lebur. Rasa jijik pada dirinya sendiri semakin dalam. Namun demi ayahnya, ia tahu ia harus menahan semua ini.
*
*
Drake Arthur, pria berusia tiga puluh tahun yang kini menindih tubuh Nathalie dengan penuh nafsu, bukanlah sembarang orang. Ia adalah dokter sekaligus pemilik tunggal dari Arthur Medical Center, salah satu rumah sakit swasta terbesar dan termewah di kota ini. Dengan wajah tampan, kecerdasan yang luar biasa, dan kekayaan yang melimpah, Drake adalah impian banyak perempuan. Namun di balik citra suksesnya sebagai dokter yang sering muncul di majalah kesehatan dan acara televisi, ia menyimpan sisi gelap yang haus akan kesenangan sesaat.
Pagi itu, setelah percintaan panas yang kedua kalinya, Drake membersihkan tubuhnya dan memakai pakaiannya. Setelah selesai dia menghampiri Nathalie yang masih terbaring lemah di atas ranjang.
Tring.....
Ponsel Nathalie berdering, menandakan pesan masuk.
"Sudah aku transfer. Kalau kamu membutuhkan uang lagi kamu bisa menghubungiku" ucap Drake, dan setelah itu dia meninggalkan Nathalie seorang diri di dalam kamar itu.
Nathalie menatap punggung Drake yang menghilang di balik pintu kamar tersebut. Dia di tinggalkan seorang diri setelah memuaskannya.
Perlahan tangan Nathalie terulur mengambil ponselnya yang berada di atas nakas. Dia melihat notifikasi uang masuk dari Drake.
"Banyak sekali" gumam Nathalie melihat nominal yang di transfer oleh Drake. Pria itu mengirim uang dua ratus juta ke rekeningnya.