Sinopsis
Putri viona Isabella berangkat menuju Kerajaan Timur untuk menikahi putra mahkota sesuai perjodohan antar kerajaan. Namun, di tengah perjalanan rombongannya diserang perampok hingga seluruh pengawal tewas.
Dengan tubuh penuh luka, viona melarikan diri ke dalam hutan dan diselamatkan oleh Derek Henrick, pria misterius yang memilih hidup mengasingkan diri. Seiring waktu, cinta tumbuh di antara mereka.
Saat identitas Fiona akhirnya terungkap, ia harus memilih antara memenuhi takdirnya sebagai seorang putri atau mempertahankan cinta yang telah menyelamatkan hidupnya. Namun, Derek ternyata menyimpan rahasia besar yang dapat mengubah nasib kedua kerajaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2: Diselamatkan oleh Pria Misterius
Air sungai yang sedingin es menghantam tubuh Viona dengan keras. Arus deras menggulungnya, memutarnya berkali-kali hingga ia kehilangan arah atas dan bawah. Dalam gelapnya malam, bulan purnama hanya sesekali terlihat saat tubuhnya terombang-ambing ke permukaan. Darah dari luka di lengannya terus mengalir, bercampur dengan air dingin yang membuat seluruh indranya mati rasa.
"Jangan menyerah..." bisik Viona dalam hati, sembari terus mengayunkan tangan dan kakinya dengan sisa tenaga. "Aku harus hidup. Aku harus bertemu Neil."
Namun, tubuhnya tak lagi mendengar perintah otaknya. Kegelapan mulai merayap di sudut matanya. Suara deru air perlahan menghilang. Dan untuk beberapa saat, Viona hanya merasakan keheningan yang mencekam.
Saat ia membuka mata kembali, semburat sinar pagi yang redup menyinari wajahnya. Rasa sakit menjalar di sekujur tubuh, tetapi ia menyadari bahwa ia tidak lagi berada di dalam air. Ia terbaring di atas hamparan rumput tebal di tepi sungai. Nafasnya masih tersengal, dan pandangannya kabur.
Siapa yang membawaku ke sini?
Viona berusaha mengangkat kepalanya. Saat ia menoleh ke samping, ia melihat seorang pria sedang berjongkok di dekatnya. Pria itu mengenakan pakaian berwarna gelap yang sudah lusuh, dengan jubah tebal berwarna cokelat tua. Rambutnya yang sedikit panjang tergerai di bahu, dan wajahnya—dengan dagu berjanggut tipis—menyimpan sorot mata yang sangat tajam. Tatapan matanya adalah warna abu-abu yang dalam, seperti langit mendung sebelum badai.
Mereka beradu pandang beberapa detik, sebelum pria itu angkat bicara dengan suara berat dan tenang.
"Kau hampir mati." Ucapnya singkat. "Lukamu parah, dan kau sudah kehilangan banyak darah. Aku harus membawamu ke kabinku, atau kau akan mati di sini."
Viona berusaha bicara, tetapi suaranya hanya keluar sebagai bisikan pelan. "Siapa... kau?"
Pria itu tidak menjawab. Ia hanya membungkuk, mengangkat tubuh Viona dengan hati-hati—seolah membawa barang yang sangat rapuh—lalu mulai melangkah masuk ke dalam hutan. Tubuh Viona terasa sangat lemah hingga ia tidak bisa menolak. Ia hanya bisa melihat dedaunan hijau di atasnya bergerak-gerak, angin malam yang dingin menusuk kulitnya yang basah, dan aroma pinus serta tanah basah yang memenuhi penciumannya. Sebelum sadarnya kembali menghilang, Viona sempat mendengar suara pria itu berbisik pelan.
"Beruntung aku menemukanmu."
---
Viona terbangun untuk kedua kalinya dengan rasa hangat yang menyelimuti kakinya. Kali ini, ia bukan lagi di tepi sungai. Ia terbaring di atas sebuah ranjang kayu yang dilapisi selimut tebal dari bulu domba. Sebuah perapian menyala di sudut ruangan kecil, menerangi seluruh isi kabin kayu yang terlihat sangat sederhana. Ada rak-rak kayu berisi botol-botol herbal, beberapa senjata berburu yang tersandar di dinding, dan tumpukan buku tua di meja kayu di dekat jendela.
Pria itu sedang duduk di kursi di dekat perapian, menyalakan pipa tembakau kecil. Asap tipis mengepul di sekeliling wajahnya. Ia menatap Viona dengan tatapan yang tak bisa diartikan.
"Kau sudah sadar. Syukurlah." Pria itu meletakkan pipanya. "Lukamu sudah kubalut. Herbal di dalamnya akan mencegah infeksi."
Viona mencoba duduk, tapi tangannya masih terasa lemas. "Kau... kau menyelamatkanku?"
"Sepertinya begitu."
"Siapa namamu?" Viona menatapnya. "Dan di mana ini?"
Pria itu menghela nafas panjang. "Namaku Derek Henrick. Kabin ini adalah tempat tinggalku. Hutan ini bernama Lindenfell—tidak ada desa di sekitar sini. Jarak dari sini ke Kerajaan Timur sekitar dua minggu perjalanan kaki."
Viona terkejut. "Kau tahu aku akan ke Kerajaan Timur?"
Derek menyipitkan mata. "Aku tidak tahu siapa dirimu. Tetapi pakaian yang kau kenakan tadi malam—kain sutra dengan sulaman bunga mawar. Itu bukan pakaian orang biasa. Kau berasal dari kalangan bangsawan." Suaranya datar, tidak terdengar tertarik, hanya sekadar fakta.
Viona menunduk. Ia tidak punya pilihan selain jujur. "Aku Putri Fiona Isabella dari Kerajaan Barat. Aku dalam perjalanan menuju Kerajaan Timur untuk menikah dengan Pangeran Neil Minos. Tetapi rombonganku diserang... semua pengawalku tewas."
Derek tidak menunjukkan reaksi kaget. Ia hanya mengangguk pelan. "Aku sudah melihat jejak pertempuran di jalanan. Banyak mayat berserakan. Pasukan desa sudah datang untuk membersihkannya, tapi itu sudah terjadi beberapa jam sebelum aku menemukanmu."
"Kau tahu siapa yang melakukannya?" tanya Viona dengan nada bergetar.
Derek menatap api unggun, matanya sedikit sayu. "Aku tidak tahu. Tapi aku tahu satu hal: Kerajaan Timur dan Barat sedang dalam masa transisi kekuasaan. Pangeran Neil bukanlah putra mahkota pertama—kakaknya, Pangeran Aiden, meninggal dalam kecelakaan berburu lima tahun lalu. Sejak saat itu, kekuasaan di Kerajaan Timur dipegang oleh Dewan Raja, dan banyak yang tidak setuju dengan perjodohan ini."
Viona mengerutkan kening. "Aku tidak pernah mendengar itu. Aku hanya tahu Neil adalah putra kedua yang baik hati."
"Baik hati?" Derek tertawa kecil, tawa yang terasa sinis. "Neil memang baik. Itu sebabnya Dewan Raja ingin kau menikah dengannya. Kau akan menjadi perisainya dari tekanan politik. Dan ada pihak yang ingin mencegah itu."
"Jadi... mereka ingin membunuhku?"
Derek mengangguk. "Sepertinya begitu."
Viona menggigit bibirnya, menahan air mata yang menggenang. Membayangkan Ivy—pelayan setianya yang sudah seperti kakak baginya—tergeletak dengan dada tertusuk pedang membuat dadanya sesak. "Aku tidak bisa tinggal di sini. Aku harus pergi ke Kerajaan Timur dan memberi tahu Neil soal ini."
"Kau bisa mencoba pergi melalui jalan utama," kata Derek datar. "Tapi kau tidak akan sampai. Mata-mata musuh pasti sudah menunggu di setiap pos jaga."
"Lalu, apa yang harus aku lakukan?" Viona menatap Derek dengan tatapan putus asa.
Derek diam sejenak. Lalu ia berdiri, mengambil sebuah peta tua yang terlipat dari dalam laci meja. Ia membentangkannya di hadapan Viona. Peta itu menunjukkan jalur pegunungan berliku yang membentang di utara hutan Lindenfell.
"Ada jalan lain," ucap Derek. "Jalur pegunungan ini tidak dikenal banyak orang. Aku sering menggunakannya untuk berburu. Jika kita berjalan cepat, dua minggu lagi kau sudah bisa menginjakkan kaki di istana Kerajaan Timur."
Kata "kita" membuat Viona terbelalak. "Kau... kau mau menemaniku?"
Derek menatapnya dengan tatapan tajam. "Aku hidup menyendiri di hutan ini selama bertahun-tahun. Aku tidak suka keramaian. Aku tidak suka politik. Dan aku tidak suka membantu bangsawan."
"Tapi?"
"Tapi aku tidak suka melihat orang baik mati sia-sia." Derek melipat peta itu dan memasukkannya ke dalam saku. "Kau akan menyamar. Tidak ada putri, tidak ada permaisuri. Kau akan menjadi Elena, adik iparku yang tersesat dalam perjalanan. Dan selama dua minggu ke depan, kau hanya akan mematuhi ucapanku. Tidak ada tawar-menawar."
Viona merasakan dadanya berdegup kencang. Ada sesuatu di wajah Derek Henrick—sesuatu yang tua, yang sudah dia lalui, yang membuat tatapan matanya memiliki kedalaman yang sulit dimengerti. Siapa sebenarnya pria ini? Mengapa dia bisa sangat tahu tentang politik kerajaan, padahal dia tinggal di tengah hutan belantara?
"Aku setuju," bisik Viona akhirnya. "Aku akan jadi Elena."
Derek mengangguk pelan. Lalu ia menunjuk ke tumpukan pakaian kasar di sudut kabin. "Kau akan memakai itu. Tidak ada sutra, tidak ada perhiasan. Sebelum matahari terbenam, kita berangkat."
Saat Derek berbalik menuju dapur untuk menyiapkan perbekalan, Viona memandangi punggung pria itu. Ada banyak pertanyaan yang menggelantung di kepalanya. Namun satu hal yang ia yakini: Derek Henrick mungkin lebih dari sekadar pemburu biasa.
Dan di balik kabut kabin kayu itu, kisahnya baru saja dimulai.