NovelToon NovelToon
Disty Milik Javeno (Aku Pelacur Milik Javeno)

Disty Milik Javeno (Aku Pelacur Milik Javeno)

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Penyelamat
Popularitas:924
Nilai: 5
Nama Author: S.Lintang

⚠️⚠️

Bukan Cinta Yang Memiliki.
Tapi Obsesi Yang Menjerat.

⚠️⚠️

~•~

Aku bukan milikmu
tapi kamu tidak pernah melepaskanku.
- Disty -

Kamu milikku, dan tidak ada
yang berhak memilikimu selain aku.
- Javeno -

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S.Lintang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5

Javeno membuka matanya saat mendengar rintihan perut yang berbunyi seakan meminta diisi.

Disty juga langsung memejamkan matanya, pura-pura tidur.

Krukkk

Javeno mengangkat tubuh ringan Disty hingga sekarang berada di atas tubuhnya. Membuat Disty membuka matanya, menatap mata tajam yang baru saja terbangun dari tidurnya.

"Lapar?" tanya Javeno serak dan dingin.

Disty mengangguk kecil. "Maaf buat kamu kebangun karena denger suara perut aku," cicitnya pelan.

"Nggak tidur?" tanya Javeno sambil merapikan rambut Disty yang menghalangi wajah cantik gadis itu.

"Tadi juga ikut tidur kok, tapi kebangun karena lapar," jawab Disty cepat. "Mau keluar buat makan tadi, tapi kamu kuat banget peluknya, susah lepas," lanjutnya pelan dan merebahkan kepalanya di atas dada bidang Javeno.

"Kamu nggak lapar emang?" tanya Disty bersuara lagi karena Javeno malah diam.

"Aku ngantuk," jawab Javeno memejamkan mata.

"Tapi aku lapar," kata Disty.

"Makan."

"Lepasin pelukan kamu biar aku bisa keluar buat makan."

Javeno menurut, melepaskan pelukannya dan membiarkan Disty yang bergerak turun dari atas tubuhnya.

Sebelum keluar, Disty menatap Javeno yang sudah memejamkan mata lagi.

"Kamu beneran nggak lapar? Ayo makan ba...."

"Ck!"

Disty langsung mengunci rapat mulutnya saat Javeno berdecak kesal. Tanpa bersuara lagi, Disty segera keluar dari kamar dan melangkah ke dapur.

"Ingin makan apa Nona? Saya buatkan nasi goreng?" tanya kepala pelayan yang bekerja di mansion besar milik Javeno ini.

Disty hanya memberi anggukan kecil saja lalu duduk selagi menunggu.

Di rumah ini, Disty tidak di larang untuk bersuara dan bisa memerintah semua pekerja kalau dia mau. Hanya saja Disty juga terlalu takut untuk bicara, jadi dia lebih banyak diam.

"Nasi goreng nya Nona."

15 menit menunggu, akhirnya menu makan malam nya sudah jadi.

Disty tidak langsung makan, ia malah menatap gadis yang seumuran dengannya. Memakai seragam pelayan seperti yang lainnya. Terlihat baru di sini.

"Dia keponakan saya, Non. Baru datang tadi. Sebelumnya saya sudah izin pada Tuan untuk membawanya datang dan bekerja juga di sini," ucap Amel, kepala pelayan di mansion ini.

"Anggun, Nona," ucap Anggun memperkenalkan dirinya.

Disty mengangguk dan memakan nasi goreng nya.

"Bibi, apa dia bisu?" bisik Anggun bertanya pada Amel yang segera mencubit tangan Anggun.

"Aw," pekik Anggun.

"Jaga mulut kamu atau Tuan bisa robek mulut kamu yang baru saja menghina gadisnya," ujar Amel memperingati.

"Aku kan cuma tanya," ucap Anggun cemberut.

"Saya nggak bisu," celetuk Disty yang mendengar semuanya. Membuat Bibi dan keponakan itu terdiam.

"Kamu nggak sekolah?" tanya Disty menatap Anggun sebentar.

"Enggak Nona, sekolah itu capek. Otak saya nggak mampu. Atau Nona mau tukar otak sama saya biar saya bisa sekolah lagi?" tanya Anggun asal bicara yang membuat Disty berhenti, tidak jadi memasukkan sesendok nasi goreng ke dalam mulutnya.

Semua pelayan yang berdiri menemani Disty makan malam itu menahan napas mereka. Ikut merasa terancam kalau saja Disty akan mengadu pada Javeno perihal perkataan Anggun yang kurang sopan.

Sayangnya Disty bukan orang yang suka mengadu.

"Maaf Nona, mulutnya memang sembrono kalau bicara," ucap Amel segera meminta maaf.

"Saya selesai," kata Disty meletakkan sendok, padahal ia baru makan dua suap saja.

"Tapi Nona..."

Disty berdiri dan segera melangkah lagi kembali ke kamar. Nafsu makan nya hilang.

Bukan karena tersinggung oleh perkataan Anggun tadi, tapi...

"Kalau bisa aku malah ingin tukar kehidupan denganmu, bukan cuma tukar otak saja, supaya aku terbebas dari sini," batin Disty dan masuk ke dalam kamar.

Menutup pintu kamar lagi dan kembali merebahkan tubuhnya di samping Javeno yang langsung memeluk.

Krukkk

Disty memejamkan matanya geram. "Perut sialan, nggak bisa di ajak kerja sama," batinnya.

Karena pasti itu bisa membuat Javeno terbangun. Dan benar_

Javeno membuka mata dan kali ini ia duduk. "Kamu berbohong dan mengatakan ingin makan, padahal tidak?" tanyanya dingin.

Disty duduk juga dan segera menggeleng. "Enggak. Aku makan kok," ucapnya cepat.

Javeno semakin menajamkan matanya mengintimidasi tanpa suara.

"Kamu mulai memberontak hm?" tanya Javeno menusuk.

Disty menggeleng dan menunduk sambil meremat kuat selimut.

"Aku makan," cicitnya. "Tapi nggak habis," lanjutnya.

"Kenapa?" tanya Javeno dingin.

"Kalau aku jujur, gadis itu nggak akan selamat. Tapi kalau aku yang bohong, justru aku yang nggak selamat," batin Disty semakin kuat meremat selimutnya.

Javeno segera turun dari ranjang dan keluar dari kamar saat tidak mendapat jawaban dari mulut gadisnya. Membuat Disty segera mengikuti dengan panik.

"Jav sebentar," kata Disty dan berhenti di ruang makan karena Javeno juga berhenti di sana.

Semua pelayan berdiri tegap dengan kaki gemetar. "Tu-tuan."

Disty iba pada mereka yang ketakutan, lalu ia menggenggam tangan Javeno. Berdiri di hadapannya, membelai lembut wajah tampan yang sering marah ini.

"Aku cuma nggak selera buat makan, mungkin kalau kamu yang duduk dan nemenin sambil ikut makan juga, aku bisa makan lebih banyak," ucap Disty lembut untuk menyelamatkan mereka dari amarah Javeno.

Berbohong dengan cara seperti ini bisa menyelamatkan mereka dan juga dirinya tentunya.

Javeno menunduk, menatap mata bulat itu. "Makan apa?" tanyanya sambil membawa Disty untuk duduk.

"Tumis buncis telur aja," jawab Disty dan menatap Amel yang mengangguk.

Beberapa orang segera memasak dan menghidangkan nya di meja setelah selesai.

Disty melanjutkan makan malam dengan menu yang berbeda lagi, sambil menyuapi Javeno yang amarahnya berhasil ia tahan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!