NovelToon NovelToon
Jangan Harap Cintaku Lagi

Jangan Harap Cintaku Lagi

Status: tamat
Genre:Slice of Life / Mengubah Takdir / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Tamat
Popularitas:67.8k
Nilai: 5
Nama Author: 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒

Setelah mengorbankan kuliah, rumah warisan, dan masa mudanya demi membuat Daril sukses, Vira malah dibunuh oleh suami yang dicintainya itu.

Lebih menyakitkan lagi, sepupu yang ia tampung ternyata berselingkuh dengan suaminya. Hatinya makin hancur saat tahu, suami, sepupu dan ibu mertua yang selama ini ia rawat dengan baik, ternyata sudah lama menantikan kematiannya.

Takdir memberinya kesempatan kedua: kembali ke masa lalu. Ia bertekad tidak akan pernah menikahi Daril.

Namun saat ia mengubah satu keputusan untuk selamat, rahasia demi rahasia keluarga terbuka. Rahasia yang mengubah arti cinta dan memaksa Vira memilih antara balas dendam atau memaafkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

18. Api Fitnah Kian Membesar

Malam itu, Daril pergi ke warung kopi yang tak jauh dari rumahnya. Dari kejauhan ia melihat beberapa pria duduk melingkari meja sambil merokok. Saat semakin dekat, aroma kopi panas dan asap rokok mulai menyapa indera penciumannya.

Daril tinggal beberapa langkah lagi dari warung itu ketika sebuah suara memanggilnya.

"Ril." Seorang pemuda melambaikan tangan. "Duduk sini."

Daril menarik kursi lalu duduk di antara mereka.

"Katanya Vira mau dilamar Hartato, ya?"

Daril hanya mengangkat bahu.

"Iya, tapi sekarang malah muncul gosip baru." Pemuda lain merendahkan suaranya. "Katanya Vira sudah gak perawan."

Daril pura-pura terkejut. "Hah? Dari mana dengarnya?"

"Gak tahu siapa yang mulai. Yang jelas seharian ini orang-orang ngomongin itu."

Semua mata kini beralih kepada Daril.

"Kamu mantannya. Masa gak tahu apa-apa?"

Daril terdiam sejenak. Ia mengambil sebatang rokok, menyalakan dan menghisapnya, lalu mengembuskan asapnya pelan.

"Aku..." Ia menggantung ucapannya.

Beberapa orang makin penasaran.

"Gimana, Ril?"

Daril mengusap tengkuknya. "Namanya juga kami pacaran hampir empat tahun."

Tak ada penjelasan lagi darinya. Namun justru kalimat itu yang membuat mereka saling berpandangan.

"Sampai empat tahun, lho."

"Iya," sahut Daril singkat.

Seseorang menyenggol lengan Daril. "Jangan-jangan gosip itu benar?"

Daril menghela napas panjang. "Maaf." Ia menundukkan kepala. "Aku gak enak kalau harus ngomongin mantan. Tapi..."

Daril tersenyum tipis. "Aku cuma bisa bilang... hubungan kami memang jauh lebih dekat daripada yang orang-orang kira."

Lagi-lagi ia berhenti. Tak ada pengakuan atau bantahan. Namun kalimat itu sudah cukup membuat imajinasi mereka bekerja sendiri.

"Wah..."

"Pantes aja."

"Kalau gitu berarti..."

Daril buru-buru mengangkat tangan. "Sudahlah. Jangan bahas itu lagi. Apa pun yang terjadi, aku tetap gak mau jelek-jelekin Vira."

Ucapan yang terdengar seperti membela itu justru menjadi pemantik terbesar.

Beberapa pria langsung mengangguk seolah telah menemukan jawabannya.

"Iya, iya... kami paham."

"Namanya juga laki-laki."

Daril menunduk, menyembunyikan senyum tipis yang nyaris terbit di sudut bibirnya.

Ia tidak perlu menyebarkan fitnah. Ia hanya membiarkan orang lain menyimpulkan sendiri.

"Mendengar kata-kataku mereka pasti bakal berimajinasi. Lalu membuat kesimpulan dari kebohonganku. Siapa suruh Vira mutusin aku," batin Daril merasa menang.

***

Keesokan paginya, Vira membuka tokonya seperti biasanya. Lima menit kemudian, beberapa ibu yang sepertinya sedang jalan pagi mampir.

"Ra, beli telur sekilo."

"Ibu beli beras dua liter."

"Aku mau beli mie instan."

Yang lain memilih dan mengambil barang belanjaan masing-masing.

"Silakan pilih, Bu," ujar Vira sambil mulai menakar beras.

"Eh, Vira," ucap ibu-ibu yang membeli beras. Namun tatapannya diam-diam berhenti di leher Vira.

"Iya, Bu?"

"Leher kamu kenapa itu?"

Vira refleks menyentuh lehernya.

"Oh, ini?" Ia tertawa kecil. "Tadi subuh kena tomcat. Bangun-bangun langsung perih. Kayaknya pas tidur nempel di bantal."

"Oh..."

Beberapa ibu mengangguk pelan. Namun, entah siapa yang memulai, salah seorang berbisik lirih.

"Kok merahnya mirip..."

"Maksudmu..."

"Bekas cupang?"

Suara itu memang pelan, tetapi cukup terdengar oleh beberapa orang di sekitar.

Vira tidak terlalu memedulikannya. Ia melanjutkan menakar beras.

Di depan warung, Yanti yang hendak menyapu halaman langsung menghentikan langkahnya.

Tatapannya tertuju pada bercak merah di leher Vira. Jantungnya berdegup kencang.

"Bercak merah..." Sudut bibirnya nyaris terangkat. "Tuhan pun membantuku."

Ia buru-buru mulai menyapu agar tak ada yang melihat senyum puasnya.

Salah seorang ibu kembali berbisik. "Kemarin Yanti juga bilang pernah lihat leher Vira merah-merah."

"Iya..."

"Terus katanya sering dengar suara laki-laki dari kamar Vira."

"Jangan-jangan..."

Tak ada yang berani menyelesaikan kalimat itu.

Namun tatapan mereka kepada Vira mulai berubah. Penuh tanda tanya dan prasangka.

Yanti pura-pura mendesah pelan sambil menyapu.

"Saya sebenarnya berharap semua itu cuma salah paham," ucapnya lirih, cukup keras agar beberapa ibu mendengarnya.

"Tapi... saya juga bingung harus bilang apa."

Ucapan singkat itu justru membuat keraguan di hati mereka semakin membesar.

Sementara itu, Vira yang sibuk melayani pembeli sama sekali tidak menyadari bahwa bercak merah akibat tomcat di lehernya telah berubah menjadi "bukti" yang menguatkan fitnah yang sengaja ditebar Yanti.

Dalam hitungan menit, bisik-bisik kembali menyebar dari satu orang ke orang lain.

Dan seperti biasa, gosip berkembang jauh lebih cepat daripada api yang menjalar di sekam.

***

Menjelang sore, Mirna pulang dari warung dengan langkah tergesa-gesa. Begitu masuk rumah, wajahnya tampak berseri-seri.

"Ril!"

Daril yang sedang duduk di ruang tengah menoleh. "Ada apa, Bu?"

"Kamu tahu gak? Sekarang satu kampung lagi ngomongin Vira."

Daril mengernyit. "Ngomongin apa?"

"Katanya Vira sering bawa laki-laki masuk ke kamarnya. Bahkan ada yang bilang dia berzina di rumahnya sendiri."

Mata Daril langsung membulat. "Apa?"

Ia mengenal Vira cukup lama. Seburuk apa pun hubungan mereka sekarang, ia sulit mempercayai tuduhan itu.

"Itu gak mungkin," gumamnya pelan.

Mirna hanya mengangkat bahu. "Entah benar apa gak. Yang jelas, sekarang orang-orang lagi ramai membahasnya."

Daril terdiam. Ada keinginan untuk membantah, tetapi bibirnya tetap terkatup rapat.

Mirna memerhatikan perubahan raut wajah putranya, lalu tersenyum tipis. "Justru ini kabar bagus."

Daril menoleh.

"Semakin rusak nama Vira. Mirna tersenyum licik. "semakin kecil kemungkinan ada laki-laki yang mau mendekatinya."

"Tapi..."

"Kamu tahu kabar itu awalnya dari mana?" potong Mirna.

Daril menggeleng.

"Ibu yang lebih dulu menggiring orang-orang supaya berpikir hubunganmu sama Vira dulu sudah kelewatan."

Daril membelalak. "Ibu?"

"Iya." Mirna tersenyum puas. "Tapi soal gosip dia berzina di rumah, itu bukan dari Ibu."

"Lalu dari siapa?"

"Gak tahu." Mirna mengangkat bahu. "Mungkin ada orang lain yang juga gak suka sama dia."

Mirna menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Ya syukurlah. Jadi Ibu gak perlu capek-capek lagi."

Daril mengusap wajahnya pelan. "Bu... apa Ibu yakin orang-orang bakal percaya?"

Mirna terkekeh kecil. "Gosip itu gak perlu dipercaya semua orang."

"Maksudnya?"

"Selalu ada yang percaya, ada yang ragu, dan ada yang gak percaya." Mirna menatap putranya lekat. "Tapi itu gak penting."

"Yang penting?"

"Nama Vira sudah terlanjur rusak."

Daril terdiam. Entah kenapa, dadanya terasa sesak. Ia tidak percaya Vira melakukan semua itu.

Namun... Ia juga tidak berniat meluruskan fitnah yang kini semakin membesar.

Daril mengepalkan tangannya. "Selama gosip itu membuat laki-laki lain menjauh dari Vira... maka peluangku buat dapetin Vira akan tetep ada."

 

...✨"Kebohongan menjadi semakin kuat ketika orang yang mengetahui kebenaran memilih diam."...

..."Tak semua yang menghancurkanmu melempar batu. Ada yang hanya melempar kata, lalu membiarkan orang lain menyelesaikan sisanya."...

..."Prasangka adalah pengadilan paling kejam. Vonis yang dijatuhkan sebelum kebenaran diberi kesempatan berbicara."...

..."Lidah yang menebar fitnah mungkin berhenti berbicara, tetapi luka yang ditinggalkannya bisa bertahan sangat lama."✨...

.

To be continued

1
fii 🤩
👍👍👍
anonim
Arvin setia mendampingi Ibunya yang mentalnya terganggu. Masa lalunya menjadikan Arvin tulus dalam merawat Ibunya.

Ayahnya sebagai penyebab dari penderitaan yang mereka alami.

Sebagai suami selingkuh, sebagai seorang Ayah perlakuannya sangat biadap.

Mereka diusir. Menghina Ibunya. Ayahnya membawa perempuan yang katanya istri barunya.

Ibunya kena mentalnya. Arvin menjadi pincang.

Arvin akan menjaga Ibunya, yang menjadi tameng hidup baginya ketika angkara murka merasuki Ayahnya.

Arvin pergi ke warung untuk membeli obat flu. Tiba di warung langkahnya terhenti ketika ia mendengar pembicaraan di dalam warung.

Lagi-lagi gosip tentang Vira ??
anonim
Pak Kades dan istrinya sudah mendengar gosip tentang Vira.

Hartato juga sudah mendengar. Dia tidak percaya. Vira bukan perempuan seperti yang digosipkan.

Pak Kades juga belum tentu percaya.

Mengingat Bapaknya Hartato masih menjabat sebagai kepala desa, setiap keputusan yang di ambil pasti menjadi perhatian banyak orang.

Kebenaran dari gosip itu belum terbukti. Niat lamaran di tunda.

Hartato hanya bisa berdoa, semoga gosip tentang Vira hanya fitnah. Dia lebih baik menunggu daripada mempercayai gosip tanpa bukti.
anonim
Dasar Ibu dan anak sama-sama bejatnya. Keduanya masih menginginkan Vira tapi dengan cara yang salah.
anonim
Kebetulan sekali leher Vira di gigit tomcat. Jadi semakin meyakinkan ibu-ibu dengan apa yang telah dikatakan Tari.

Sembarangan Tari bicara dengan mengatakan Tuhan pun membantuku. Mana ada Tuhan membatu orang jahat.

Jadi orang jahat itu pilihanmu, Tari. Tuhan itu memberi pilihan - mau menjadi orang baik atau menjadi orang jahat. Nantinya tinggal menunggu mau mendapat karma baik atau karma buruk.

Jangan senang dulu Tari. Ditunggu saja karma menjemputmu.
anonim
Daril ini lekaki pecundang. Menambah omongan yang sudah gak benar, dengan bicara bohong.

Memang Daril ini tidak pantas menjadi suami Vira. Hidupnya seperti benalu, juga pengkhianat.

Di kesempatan kehidupan kedua Vira, jangan sampai menjalin hubungan dengan Daril lagi.
A.R
mau bangun usaha kok minta dana sama org lainn,,, gadaikan saja tuhh rmh ibu mu
Anitha
Alhamdulillah akhir bahagia Vira dan Arvin...

Terimakasih kak Nana...semoga sehat selalu
𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒: Aamiin. Kembali kasih KK 🤗🙏🙏🙏
total 1 replies
fii 🤩
mampir kk
𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒: Makasih, Kak 🤗🙏🙏
total 1 replies
abimasta
terimakasih thor
𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒: Sama-sama KK 🤗🙏🙏🙏
total 1 replies
anonim
Saatnya Vira menanyakan skincare yang hilang.

Yanti langsung tersedak mendengarnya.

Dia mengelak, tidak tahu.

Begitu Vira mau lapor polisi, Tari melarang. Vira tanya kenapa. Salah taruh katanya.

Tari mengelak tidak mengambil. Melarang Vira melihat lemarinya. Tetap kekeh tidak mengambil.

Tari langsung panik ketika Vira mau panggil Ketua RT. Baru mempersilahkan Vira mencari di lemarinya.

Vira nenemukan empat kotak skibcare miliknya.

Tari mengaku itu miliknya.

Ditanya beli di mana, harganya berapa.

Kebohongannya sudah tak ada obatnya ini Tari.
anonim
Tari semakin parah kebohongannya. Ia sekaligus memfitnah Vira.

Tari menolak usulan salah satu ibu-ibu untuk melaporkan ke polisi. Ya jelas menolak. Orang dia berkata bohong.

Baru mendengar sepihak, semoga ibu-ibu itu ada yang bertanya baik-baik pada Vira kebenaran yang sesungguhnya. Benar menurut cerita bohong Tari atau benar Tari bohong 😄.

Es kelapa muda sudah di tangan masing-masing satu.
anonim
Yanti baru memarkirkan motornya di tempat penjual buah. Iya mendengar suara beberapa ibu sedang membicarakan Vira yang sudah tidak perawan lagi.

Bukannya merasa prihatin mendengar sepupunya di gibahin, ini bocah malah punya ide licik.

Waduuuuuh...Tari malah bikin fitnah, mengarang bebas tentang Vira. Berapa laki-laki yang tidur sama Vira, Tari ? Kok bisa ngomong suara laki-lakinya tidak sama. Fitnah yang sungguh amat kejam. Pakai nangis segala untuk meyakinkan kebohongannya.

Ibu-ibu, cari bukti dulu ya. Jangan percaya begitu saja.
anonim
Vira masih mau memberikan kesempatan sekali lagi.

Ucapan terima kasih cuma di bibir. Hatinya tetap busuk.

Naah ketahuan Tari telah mencuri krim siang, krim malam, pelembap, juga serum milik Vira.

Vira tidak sembarangan menuduh Tari yang mencuri. Dia butuh bukti.

Disuruhnya Tari membeli dua es kelapa muda.

Yanti pergi naik motor.

Vira masuk ke kamar Yanti. Ia menemukan barang-barang yang telah raib dari meja rias di kamarnya. Beberapa kotak skincare tersusun rapi di laci paling bawah lemari pakaian.

Vira masih bersabar untuk tidak menuduh Tari. Masih butuh bukti yang tidak bisa dibantah.
mery harwati
Terimakasih karyanya yang sudah menghibur readers yang author 🙏
Sehat selalu untuk author, lancar rejekinya juga 😘🤲
Semangat selalu bikin karya² yang baru 💪
𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒: Aamiin. Masih KK 🤗🙏🙏🙏
total 1 replies
anonim
Nah bingung kan Yanti mau tinggal di mana kalau Vira benar-benar mengusirnya.

Ujung-ujungnya Yanti minta diberi kesempatan. Dia bakal belajar masak yang benar.

Di depan Vira memelas pasti wajahnya. Coba nanti di belakangnya Vira. Ngedumel.
anonim
Yanti banyak akalnya untuk bisa menjaga tokonya Vira. Tapi Vira juga bisa mematahkan setiap omongan Yanti yang akal-akalan kekeh menjaga toko biar bisa ngutil uangnya Vira.

Yanti dasar perempuan tidak tahu diri. Setiap masak disengaja tidak enak supaya Vira tidak menyuruhnya masak lagi.

Vira jadi curiga dengan Yanti yang tidak pernah ikut makan. Alasannya sudah makan lebih dulu.

Sukurin gajinya dipotong. Kalau tidak sanggup masak yang benar, berhenti kerja sama Vira. Dan pergi dari rumah Vira.

Sepupu mau enak numpang tanpa bekerja. Maunya jaga toko biar bisa ngutil uang. Itu maunya Yanti.

Vira tidak membiarkan Yanti hidup gratis di rumahnya.
LibraGirls
Selalu suka sama karya author Nana banyak pelajaran tentang kehidpan yg baik bisa di ambil yang tidak baik jagan di ambil ⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️😍😍😍😍😍😍
𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒: Terima kasih KK 🤗🤗🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
LibraGirls
Makasih Nana yang selalu menyuguhkan cerita² bagusnya 🤩 sukses selalu menciptkan karya² bagus yang lainya 🤩🤩🤩🤩🙏🙏🙏
𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒: Aamiin. Terima kasih kembali KK 🤗🙏🙏
total 1 replies
anonim
Gosip Hartato mau melamar Vira cepat sekali diketahui Ibu-ibu. Di warung tempat paling pas untuk ngerumpi sambil berbelanja.

Mirna langkahnya terhenti ketika mendengar dari dalam warung beberapa ibu sedang mengobrol tentang Hartato yang mau melamar Vira.

Dia mendengar semua pembicaraan ibu-ibu itu. Pikiran liciknya timbul demi kepentingan pribadi.

Mirna mulai beraksi dengan bicara bohong bahkan cenderung memfitnah Vira.

Mirna mengatakan Vira sudah tidak perawan. Itu terjadi sebelum pacaran sama Daril.

Gawat nih Mirna, cari masalah. Perlu di lakban sama Vira nih mulutnya.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!