Demi membiayai operasi ayahnya, Natalie nekat menjual keperawanannya pada seorang pria yang tidak ia kenal. Namun pria yang datang ternyata seorang dokter berhati baik yang justru ingin menyelamatkannya dari jalan buntu itu.
Setelah melewati malam yang penuh gairah, Drake malah kecanduan dengan tubuh Natalie, padahal dia tahu kalau wanita itu hanya mengejar uang.
Saat rahasia tergelap mereka terbongkar, mampukah hubungan rapuh dan terlarang ini tetap bertahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18
Plak!
Satu tamparan keras melayang ke pipi kiri Nathalie. Suara tamparan itu terdengar nyaring di tengah kesibukan Unit Gawat Darurat. Pipi gadis itu langsung memerah, bekas lima jari ibunya tercetak jelas di kulit putihnya. Rasa perih yang menyengat langsung menjalar, tapi itu bukan apa-apa dibandingkan sakit yang menikam dadanya.
"Anak tidak tahu diri! Sudah tahu ayahmu sakit parah, malah pergi kelayapan entah ke mana!" maki Dyah dengan suara tinggi penuh amarah.
Nathalie menatap ibunya dengan pandangan nanar sambil memegangi pipinya yang terasa panas. Air matanya mengalir tanpa bisa ditahan lagi.
"Aku tidak kelayapan, Bu... Aku kuliah," ucap Nathalie lirih, suaranya hampir hilang, bergetar menahan isak.
Dyah tidak percaya sepatah kata pun. Emosinya sudah meledak-ledak setelah berjam-jam menunggu suaminya yang sedang kritis.
Dengan kasar, Dyah menarik rambut Nathalie di depan banyak orang, termasuk Drake yang berdiri tak jauh dari sana bersama dua perawat lain.
"Tidak usah bohong kamu! Aku tahu kamu ini sering keluyuran ke klub malam! Sudah berani pulang malam, sudah berani bohong-bohong! Ayahmu sekarat di sini, kamu malah enak-enakan di luar!"
Tarikan tangan Dyah membuat kepala Nathalie tertarik ke belakang. Rasa perih di kulit kepalanya membuatnya meringis. Beberapa perawat yang melihat kejadian itu saling berbisik, tapi tak ada yang berani ikut campur.
Drake berdiri tegang di samping brangkar ayah Nathalie. Matanya menyipit, rahangnya mengeras. Ia ingin sekali maju, menarik tangan Dyah, dan melindungi Nathalie. Tapi saat ia melangkah setengah langkah, Nathalie cepat-cepat menggelengkan kepalanya pelan, memberikan kode tegas agar Drake tidak ikut campur.
Matanya yang berkaca-kaca memohon. Drake akhirnya urung, tapi kedua tangannya mengepal kuat di sisi tubuhnya.
Nathalie merasa dunia semakin sempit. Tamparan ibunya, tarikan rambut, tuduhan yang menyakitkan, dan tatapan orang-orang di sekitar membuatnya ingin lenyap saja. Ia tahu ibunya sedang dalam tekanan berat, tapi tetap saja setiap kata yang keluar dari mulut Dyah seperti pisau yang menusuk berulang kali.
"Bu, aku benar-benar kuliah hari ini," bisik Nathalie lagi, suaranya pecah. "Aku buru-buru ke sini setelah dapat telepon darimu, bu."
Dyah melepaskan rambut anaknya dengan kasar, tapi tatapannya masih penuh kecurigaan. "Kalau kamu memang kuliah, kenapa lehermu ada tanda merah begitu? Jangan pikir Ibu buta! Kamu sudah berubah, Nathalie. Dulu kamu anak yang penurut, sekarang ibu tidak tahu lagi siapa kamu."
Nathalie hanya bisa menunduk. Air matanya menetes ke lantai UGD yang dingin. Ia tidak berani membantah lagi. Rasa lelah fisik dan mental membuat tubuhnya gemetar. Drake yang berdiri tak jauh darinya merasa dadanya sesak. Ia ingat betul bagaimana semalam ia meninggalkan tanda di leher gadis itu. Kini tanda itu menjadi bukti yang digunakan untuk menghakimi Nathalie. Rasa bersalah yang jarang ia rasakan mulai muncul, tapi ia tetap diam sesuai permintaan Nathalie.
Di tengah hiruk-pikuk UGD, suasana di sekitar brangkar ayah Nathalie terasa semakin berat. Monitor jantung terus berbunyi tidak beraturan. Perawat sesekali melirik ke arah keluarga yang sedang bertengkar itu dengan iba. Nathalie berdiri di samping ibunya, pipinya masih terasa panas, rambutnya acak-acakan, dan hatinya hancur berkeping-keping.
Ia ingin menjelaskan semuanya tentang uang yang ia dapatkan untuk biaya pengobatan ayahnya, tentang Drake, tentang Andreas yang mengancamnya di kampus. Tapi lidahnya kelu. Mengatakan kebenaran hanya akan membuat segalanya semakin runyam. Jadi ia memilih diam, menelan semua rasa sakit itu sendirian.
"Tolong, jangan buat keributan di sini, nyonya. Suara anda bisa mengganggu pasien. Kalau mau berantem lebih baik keluar saja" tegur Drake akhirnya
Dyah akhirnya duduk kembali di kursi samping brangkar suaminya, tangannya mengepal kuat berusaha menetralkan emosinya.
Nathalie berdiri di belakangnya, tangannya gemetar ingin menyentuh bahu ibunya, tapi ia ragu. Jarak di antara mereka terasa semakin lebar, meski secara fisik mereka berdiri berdampingan.
"Kondisi pasien cukup parah, dia harus segera dioperasi. Beliau mengalami patah panggul yang cukup kompleks. Jika tidak ditangani cepat, bisa menimbulkan komplikasi serius." ucap Drake dengan suara tenang namun tegas, berdiri di samping brangkar ayah Nathalie sambil memegang catatan medis.
Nathalie yang sedang berdiri di samping ibunya langsung mendongak. Wajahnya pucat, matanya masih sembab karena tangis dan tamparan tadi. Ia menghela napas panjang, berusaha mengumpulkan sisa-sisa kekuatan yang tersisa.
"Apa tidak ada cara lain, Dok?" tanya Nathalie, suaranya penuh harap.
Drake menggelengkan kepalanya pelan, tatapannya serius. "Tidak ada. Operasi ini sudah tidak bisa ditunda lagi."
Nathalie memejamkan matanya sejenak. Dunia terasa berputar. Setelah semua yang ia korbankan, kini tantangan yang lebih berat datang lagi. Ia membuka mata, menatap Drake dengan pandangan lelah. "Berapa biayanya?" tanyanya lirih, hampir tak terdengar.
"Dua ratus juta," jawab Drake datar.
Nathalie terkejut. Tubuhnya sedikit limbung. Dua ratus juta? Angka itu terasa sangat besar, seperti gunung yang mustahil ia daki. Uang dari Drake tadi pagi sudah dia kirim semua ke ibunya, kini ia harus mencari dua ratus juta lagi dalam waktu singkat. Tidak mungkin ia menjual tubuhnya lagi.
"Beri saya waktu, saya akan berusaha mencari uangnya" ucap Nathalie dengan suara bergetar.
Drake menatapnya dalam-dalam sebelum menjawab, "Kamu hanya memiliki waktu tiga hari. Kalau lebih dari itu, kondisinya akan semakin parah. Risiko infeksi dan kerusakan permanen bisa terjadi."
Belum sempat Nathalie menjawab, Dyah yang duduk di kursi langsung menyahut dengan nada ketus. "Sana cepat kamu cari uangnya! Kamu harus tanggung jawab dengan kondisi ayahmu. Ini semua karena kamu terlambat datang tadi!"
Lagi-lagi kata-kata yang sama. Tanggung jawab. Seolah-olah seluruh beban keluarga ini hanya dipikul oleh Nathalie seorang. Tanpa sepatah kata pun, Nathalie menunduk dalam, memutar tubuhnya, lalu melangkahkan kakinya keluar dari ruangan ayahnya.
Tak lama kemudian, Drake juga keluar dari UGD. Ia menyusul Nathalie.
"Ikut aku," ucap Drake tegas sambil menarik tangan Nathalie dengan lembut namun penuh kuasa.
Nathalie menoleh kaget. "Dokter, nanti ada yang melihat," bisiknya panik sambil berusaha melepaskan tangan Drake. Ia melirik ke kiri dan kanan, khawatir ada perawat atau kenalan yang melihat mereka.
Drake tidak mendengarkan protesnya. Ia terus menarik Nathalie menyusuri lorong menuju ruangannya di lantai atas. Nathalie menoleh berkali-kali ke belakang, memastikan tidak ada yang mengikuti atau melihat mereka berdua. Jantungnya berdegup kencang. Tangan Drake yang hangat terasa kontras dengan dinginnya hatinya saat ini.
Klek...
Drake cepat membuka pintu, menarik Nathalie masuk, lalu menutup pintunya kembali. Ruangan itu sepi, hanya diterangi lampu meja dan aroma kopi yang masih tersisa dari pagi tadi. Nathalie mundur selangkah, memeluk tubuhnya sendiri.
"Kenapa Dokter menarik saya ke sini?" tanya Nathalie pelan, suaranya lelah.
Drake menatapnya lama, ada sesuatu yang sulit dibaca di matanya. "Kamu butuh tempat untuk bernapas. Dan aku, ingin bicara denganmu."
Di luar ruangan, suara langkah perawat dan panggilan intercom rumah sakit masih terdengar samar. Sementara di dalam, Nathalie berdiri gelisah, tidak tahu lagi harus berbuat apa. Tiga hari, dua ratus juta. Dan kini Drake kembali hadir di depannya. Tapi dia ragu jika pria itu memiliki uang sebanyak itu.